Kini, 3 dasawarsa kemudian, meskipun
Indonesia kembali menghadapi masalah ekonomi berat setelah krisis moneter
1997-1998, rakyat Yogyakarta termasuk salah termakmur di Indonesia. Indek
Pembangunan Manusia (Human Development Index) penduduk DIY tahun
1999 adalah nomor 2 terbaik sesudah DKI-Jakarta, sedangkan Indek Daya Beli
penduduk dan Indek Harapan Hidupnya tertinggi di Indonesia.
Perubahan dan kemajuan yang “dramatis”
dari kemakmuran dan kesejahteraan penduduk DIY selama periode 1966-1996
menimbulkan banyak pertanyaan. Propinsi yang miskin sumberdaya alam hanya
dapat berkembang jika memiliki sejumlah sektor strategis dan/atau sumber
daya manusianya berkualitas. Sektor-sektor strategis di DIY adalah
industri pariwisata dan industri pendidikan yang keduanya memang
membutuhkan sumberdaya manusia yang berkualitas baik untuk mendukungnya,
dan ini berkaitan erat dengan nilai-nilai budaya yang tinggi yang
diwariskan kerajaan-kerajaan Mataram kuno, Ngayogyokarto Hadiningrat.
Pada awal kemerdekaan Indonesia (1946-1949) Yogyakarta pernah menjadi
ibukota Republik Indonesia. Raja Mataram Sultan Hamengkubuwono IX adalah
pendukung paling awal proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, dan
pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia (1973-78).
PENDUDUK DAN KEMISKINAN
Ada argumentasi sederhana yang
datang dari negara-negara yang sudah maju bahwa suatu Negara menjadi
miskin jika membiarkan penduduknya tumbuh “menurut deret ukur”.
Penduduk yang tumbuh tak terkendali pasti cepat menurun kemakmurannya
karena produksi pangan tumbuh lambat ”mengikuti deret hitung”. Inilah
teori sedih (dismal) dari Thomas Robert Malthus (1817) yang
mengakibatkan ilmu ekonomi disebut sebagai ilmu yang memilukan (the
dismal science) oleh Thomas Carlyle (1849). Untuk tidak menyerah
begitu saja pada pandangan Carlyle, Mancur Olson dan Satu Kahkinen
menerbitkan buku A Not-So-Dismal Science (Oxford, 2000) yang
mengacu pada penelitian mendalam “dari bawah” yang meskipun mahal dan
memakan banyak energi, tokh dalam jangka panjang “jauh lebih murah”.
Penny dan Masri meskipun laporan
penelitiannya sangat pesimistik, tokh tidak menutup kemungkinan terhadap
peranan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya yang dikembangkan
masyarakat sendiri dari budaya setempat. Dalam masyarakat desa Sriharjo,
ditemukan praktek-praktek KB (keluarga berencana) asli berupa ”mboten
kempal” (tidak tidur bersama) yang dapat menjarangkan kelahiran anak.
”Jalan keluar” untuk mengatasi
kemiskinan yang disebabkan tekanan penduduk merupakan pertemuan antara
prakarsa asli penduduk dengan program pemerintah. Misalnya untuk data
Sriharjo, intensifikasi pertanian, industrialisasi perdesaan, migrasi, dan
keluarga berencana. Dari empat jalan keluar atau pemecahan ini, migrasi,
terutama yang bersifat sementara, rupanya paling berhasil, yaitu bekerja
di luar pertanian atau di luar desa, sehingga dapat membawa pulang uang
untuk belanja keluarga. Belakangan banyak anak-anak muda merantau ke
Jakarta atau luar Jawa, bahkan Malaysia atau Hongkong, untuk bekerja ”mencari
uang”. Anak-anak muda ini kebanyakan pulang ke desa (mudik) sekali
setahun pada hari raya Idul Fitri dan/atau mengirimkan uang secara rutin
untuk membantu belanja orang tua atau membantu biaya sekolah adik-adiknya.
Demikian tidak sepenuhnya benar jika
dikatakan bahwa kemiskinan disebabkan oleh kepadatan/kelebihan penduduk
semata-mata, karena: pertama, orang-orang desa sebenarnya cukup
sadar untuk tidak memiliki banyak anak dengan melaksanakan KB; dan kedua,
jika ada kesempatan penduduk desa selalu ”meninggalkan desa” untuk
mencari pekerjaan di mana saja. Sama sekali tidak benar jika dikatakan
orang-orang desa selalu ”nrimo” (menerima apa adanya), ”pasrah”
dan berfilsafat ”mangan ora mangan waton kumpul” (makan tidak
makan asal berkumpul). Pertumbuhan penduduk daerah miskin di DIY seperti
Gunungkidul dan Kulonprogo dewasa ini sudah rendah sekali dan bahkan
minus.
PEMBANGUNAN PERTANIAN
Indonesia yang mulai Repelita I
(1969-74) bekerja keras membangun perekonomiannya berhasil mengatasi
masalah pangan yang dihadapi dan mencapai swasembada beras tahun 1984.
Dengan keberhasilan ini Indonesia yang merupakan negara berkembang
terbesar no 3 di dunia, sesudah RRC dan India, tidak pernah tercatat dalam
sejarah mengalami tragedi kelaparan (starvation) seperti yang
pernah terjadi di India, Bangladesh, atau sejumlah negara di Afrika.
Memang tahun 1997 terjadi ”tragedi” kelaparan di kabupaten Jayawijaya
di Irian Jaya. Hal ini dapat terjadi karena musim kering berkepanjangan,
dan penduduknya tidak meninggalkan tempat untuk mencari bantuan karena
takut terlibat perang dengan suku-suku lain, dan takut terkena penyakit
malaria jika turun dari gunung.
Keberhasilan pembangunan pertanian
di propinsi DIY di samping diluncurkannya program BIMAS (bimbingan massal)
intensifikasi padi (bahkan juga palawija), juga terutama karena petani
memberikan tanggapan sangat positif terhadap program pemerintah ini.
Program Bimas mencakup 5 upaya (Panca Usaha) yaitu: (1) penggunaan bibit
unggul, (2) pemupukan dengan pupuk kimia, (3) pemberantasan hama dan
penyakit dengan obat-obatan; (4) pengairan, dan (5) cara bercocok tanam
yang baik dan benar.
Anne Booth dalam buku ”Agricultural
Development in Indonesia” (1988) melaporkan bahwa produksi padi per
hektar adalah tertinggi di Indonesia (49,7 kw) yang dapat diterangkan dari
pemupukan tertinggi (urea) 263 kg, dan rasio irigasi lahan yang tinggi
(61,4) (tabel 1).

Jelaslah bahwa petani Yogyakarta
memang menjadi contoh nasional yang mampu dengan cepat mengadopsi
teknologi baru yang memungkinkan peningkatan produksi padi secara
menyakinkan, sehingga propinsi ini meskipun luas sawahnya yang beririgasi
relatif sempit, dapat mengatasi masalah pangan penduduknya. Lima propinsi
menduduki tempat teratas dalam hal ini yaitu disamping DIY juga Jawa Timur,
Jawa Tengah, Bali, dan Jawa Barat. Bahkan dibandingkan dengan Jepang dan
Taiwan petani Yogyakarta dan Jawa mampu melipatduakan hasil per hektar
padi jauh lebih cepat yaitu 13 tahun, padahal petani Jepang memerlukan
waktu 65 tahun, dan petani Taiwan 32 tahun (tabel 2).

PEMBANGUNAN SDM
Sejumlah peneliti dari luar merasa
heran atas berbagai ”kontradiksi” tentang data-data masyarakat
Yogyakarta, terutama perubahan drastis dari salah satu daerah “termiskin”
menjadi salah satu daerah ”termakmur” di Indonesia. Yang jelas dewasa
ini Indek Pembangunan Manusia DIY adalah tertinggi di Indonesia di luar
DKI Jakarta dan Harapan Hidup orang Yogya telah mencapai 71 tahun (1999),
juga tertinggi di Indonesia.
Bahwa IPM yang baik menjadi kunci
yang dapat menerangkan berbagai kontradiksi tentang masyarakat DIY rupanya
masih sering kurang disadari. Kualitas manusia atau SDM yang diukur antara
lain dari indek harapan hidup, indek pendidikan, dan indek daya beli,
jelas dapat menjadi ukuran keberhasilan atau kegagalan program-program
pembangunan, baik yang datang dari pemerintah maupun yang dikembangkan
masyarakat sendiri. Misalnya program penanggulangan kemiskinan IDT (Inpres
Desa Tertinggal) yang diluncurkan pemerintah tahun 1993 berupa hibah
bergulir (revolving grant) sebesar Rp 20 juta per desa per tahun (diberikan
3 tahun berturut-turut), paling tinggi tingkat keberhasilannya di DIY
(90%), dan Bali (87%), dua propinsi kecil yang lembaga-lembaga adatnya
sangat kuat. Artinya faktor-faktor non-ekonomi telah memberikan sumbangan
besar bagi keberhasilan program ekonomi. Inilah ekonomi kelembagaan (institutional
economics) ajaran ekonomi John R Commons yang lebih menekankan
kerjasama (cooperation) dan tindakan bersama (collective action)
dalam pemecahan masalah pertarungan kepentingan-kepentingan ekonomi (conflict
of interest) ketimbang persaingan (competition). Suatu
masyarakat kecil seperti masyarakat Yogyakarta yang ”budaya”nya
relatif tinggi termasuk budaya gotong-royongnya, dapat menciptakan suasana
mendukung (conducive) bagi program-program pembangunan masyarakat
terutama program-program penanggulangan kemiskinan. Dalam masyarakat ”beradat”
seperti Yogya dan Bali ini, sudah terbentuk dan berkembang sistem
pengawasan masyarakat antarmanusia maupun oleh perorangan warga masyarakat
terhadap lembaga-lembaga/instansi-instansi pemerintah dan masyarakat,
sehingga lembaga-lembaga masyarakat cenderung lebih berhati-hati dan tidak
”sembrono” atau ”neka-neka” dalam melaksanakan pekerjaan pelayanan
pada masyarakat. Akibatnya lebih lanjut, penyimpangan-penyimpangan
perilaku pejabat pemerintah atau pemimpin-pemimpin masyarakat juga dapat
sangat berkurang/ dibatasi.
Demikian (pembangunan) SDM di DIY
berhasil bukan semata-mata sebagai hasil kebijakan/program pemerintah
tetapi sebagai hasil bekerjanya secara normal/alami lembaga-lembaga masyarakat/adat yang terkait
erat dengan budaya setempat.
PENUTUP
Jika peninjau dari luar negeri ingin
belajar dari Indonesia tentang cara-cara menyusun kebijaksanaan dan
program-program penanggulangan kemiskinan, maka DIY dapat dijadikan kasus
menarik. Propinsi ini, sebagai ”Daerah Istimewa” memang mampu
mengetengahkan fakta dan data empirik bagaimana kemiskinan materiil tidak
perlu dijadikan alasan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM).
Peningkatan SDM di Yogyakarta tidak menunggu setelah pembangunan ekonomi
berhasil. Justru sebaliknya pembangunan sosial melalui tindakan bersama (collective
action) dan melalui pembangunan pendidikan dan kesehatan, telah
berhasil menjadikan orang Yogya ”berumur panjang” dan bertenaga beli
tertinggi di Indonesia. Tenaga beli yang tinggi tidak harus berarti orang
Yogya berpendapatan tinggi, tetapi yang justru lebih tangguh, orang Yogya
mampu memproduksi barang dan jasa dengan biaya produksi lebih rendah. Dan
biaya produksi rendah (low cost economy) bertolak belakang dengan
“ekonomi biaya tinggi” (high cost economy), cap yang diberikan
pada kota Jakarta. Di Jakarta segala sesuatu serba mahal, yang kini makin
sering dikeluhkan para investor dari luar negeri, yang membandingkannya
dengan sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara.
Pelajaran lain yang dapat ditarik
dari masyarakat Yogyakarta adalah pengembangan (sistem) ekonomi moral
(moral economy) yaitu aturan main hidup berekonomi yang tidak
semata-mata efisien, tetapi efisien dan sekaligus adil.
Inilah keadilan ekonomi yaitu aturan main hubungan-hubungan ekonomi
yang didasarkan pada etika, yang pada gilirannya bersumber pada
hukum-hukum alam, hukum Tuhan, dan sifat-sifat Sosial manusia. John Rawls
dalam The Theory of Justice menegaskan bahwa sistem ekonomi yang
adil adalah yang dapat menjamin hasil paling besar bagi mereka yang paling
miskin atau tertinggal. Jadi untuk masyarakat Yogyakarta, berkembangnya ekonomi
rakyat berkat kebijakan pemerintah yang memihak pada rakyat atau orang
miskin membuktikan telah berkembangnya (sistem) ekonomi moral yang
dimaksud.
Dengan demikian “"kontradiksi”
telah terjawab, dan kontradiksi sebenarnya tidak ada. Rakyat atau penduduk
Yogyakarta sebenarnya tidak pernah merasa miskin. Orang Yogya yang tidak
terlalu mementingkan atau tidak menomorsatukan kehidupan materi atau
pemupukan harta, menempatkan pendidikan dan kesehatan pada urutan teratas
pengeluarannya. Hasilnya kualitas SDM-nya tinggi.
Dalam kaitan thesis Hernando De Soto
tentang modal yang mati (dead capital) dalam bukunya yang
sedang laris The Mystery of Capital, modal orang Yogya tidak mati,
tetapi orang Yogya mampu memanfaatkan modal mati ini menjadi modal
sosial yang hidup karena ditanamkan pada diri anak-anak sebagai
investasi manusia (human investment). Pembangunan sosial adalah
pembangunan ekonomi, kata Nancy Birdsall dari Bank Dunia. Di Yogyakarta
pembangunan sosial dinomorsatukan, terbukti keberhasilan pembangunan
sosial inilah yang kelak menjadikan pembangunan ekonomi lebih berhasil.
Prof. Dr. Mubyarto : Guru
Besar Fakultas Ekonomi UGM dan Ketua Yayasan Agro Ekonomika
DAFTAR PUSTAKA:
Booth, Anne, Agricultural
Development In Indonesia, Allen and Unwin, 1988
Budi Suradji & Mubyarto (Peny), Gerakan
Penanggulangan Kemiskinan: Laporan Penelitian di Daerah-daerah,
Aditya Media, 1988
Mubyarto (Peny), Pemberdayaan
Ekonomi Rakyat: Laporan Kaji Tindak Program IDT, Aditya Media,
1988
Mubyarto, Pemberdayaan Ekonomi
Rakyat dan Peranan Ilmu-ilmu Sosial, Aditya Media, 2002
Penny D.H., Masri Singarimbun, Population
and Poverty in Rural Java: An Economic Arithmatic from Sriharjo,
Cornell University Monograph, 1973
Penny, D.H., Starvation: The
Role of The Market System, ANU, Canberra, 1986
Olson, Mancur & Satu Kahkonen,
A Not-So-Dismal Science, Oxford UP, 2000
Rawls, John, The Theory of
Justice, Harvard UP, Cambridge, 1977, 1999