JIKA
di media masa setiap
hari diberitakan ”ekonomi Indonesia semakin terpuruk”, dan ”tidak
ada tanda-tanda akan mengalami pemulihan pada tahun 2002”, maka data
yang kami peroleh dari kantor daerah BRI Yogyakarta 1997-2001 menarik
untuk disimak. Data penabung dan nilai tabungan masyarakat pada cabang BRI
di seluruh DIY selama 5 tahun (1997-2001) menunjukkan kenaikan terus
menerus, rata-rata 18,5 % dan 31,2 % (tabel 1)

Dari kenaikan jumlah
penabung dan nilai tabungan setiap tahun yang cukup besar tersebut (lebih
besar dari laju inflasi tahunan (+ 20%) kiranya sulit untuk
menyimpulkan telah terjadi resesi atau keterpurukan ekonomi berkepanjangan
yang selalu dilaporkan media masa. Memang laju kenaikan jumlah penabung
dan nilai tabungan menurun pada tahun 2000 (masing-masing 6% dan 7,1%)
tetapi tahun 2001 meningkat kembali menjadi masing-masing 32,8 % dan
30,1%. Bahwa nilai tabungan meningkat ”luar biasa” yaitu 65,7% pada
puncak krisis moneter tahun 1998, juga menunjukkan bahwa krismon ”berdampak
positif” pada ekonomi rakyat di Yogyakarta antara lain karena
harga-harga hasil-hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan, mengalami
kenaikan lebih tinggi dari komoditi yang dibeli petani/pekebun/nelayan
sehingga ”surplus” pendapatan mereka kemudian ditabung.
PERANAN EKONOMI RAKYAT
Buku Mystery of Capital
karangan ekonom Peru Hernando de Soto yang terbit tahun 2000,
selama tahun 2000-2001 diulas secara luas di kalangan internasional tetapi
rupanya tidak cukup mendapat perhatian di Indonesia. Buku ini menyingkap
”rahasia” kemiskinan di negara-negara berkembang, dan menerangkan
mengapa (sistem ekonomi) kapitalisme yang memenangkan perang melawan
sosialisme di dunia Barat, ”membangkrutkan” Soviet UNI tahun 1991,
tidak berkembang atau akan selalu gagal berkembang di negara-negara miskin
seperti Peru atau Indonesia.
Adapun alasan utama
kapitalisme (akan) gagal di dunia ketiga adalah bahwa sistem ekonomi
modern ini baru menyentuh sebagian kecil perekonomian, sedangkan sebagian
besar yang merupakan sektor ekonomi (perekonomian) rakyat
berjalan dengan, pola kerja dan mekanisme sendiri terlepas dari apa yang
terjadi pada sebagian kecil sektor industri modern di kota-kota besar.
Sektor ekonomi rakyat ini dalam literatur disebut sektor informal,
”underground economy”, atau ”extra legal economy”,
yang tak pernah diperhitungkan peranannya. Bahkan jika pemerintah
Indonesia kini menggunakan istilah ”UKM”(Usaha Kecil dan Menengah),
sektor ekonomi rakyat yang sebagian besar tidak dapat dikategorikan
sebagai ”usaha” tidak masuk dalam kelompok UKM.
PERBANKAN DAN EKONOMI RAKYAT
Jika dalam tabel 1
diperlihatkan hampir 30% penduduk propinsi DIY menjadi penabung di BRI
dapat diduga bahwa sebagian besar keluarga di DIY sudah menggunakan jasa
perbankan dalam kehidupan ekonominya, karena disamping BRI ada juga Bank
BNI, BPD, dan sejumlah Bank Swasta yang beroperasi di Yogyakarta sampai di
ibukota kabupaten.
Kondisi yang amat berbeda
ditemukan di kabupaten Lamongan propinsi Jawa Timur, yang hanya 45 km dari
Surabaya. Di desa Pucangro, kecamatan Kalitengah, 4 Kelompok Simpan Pinjam
(KSP) dengan anggota 255 anggota (232 wanita) mampu menyerap atau kredit
sebesar Rp 238 juta, dan tidak menggunakan jasa perbankan, karena saldo
kasnya selalu dapat dibuat ”nol”. Krisis moneter 1997-1998 lebih
memperkecil lagi peranan Bank sehingga perhitungan PDRB kabupaten Lamongan
menunjukkkan sektor keuangan non-Bank menjadi 50 kali lebih besar
nilainya dibanding sektor keuangan Bank, masing-masing pada tahun
2000 mencapai Rp 9,9 milyar dan Rp 201 juta, sedangkan sebelum krismon
masing-masing Rp. 9,1 Milyar dan Rp. 729 juta untuk tahun 1997, dan Rp.
5,8 milyar serta Rp. 3,2 milyar pada tahun 1995 (harga konstan 1993).
Demikian kiranya jelas bahwa jika di DIY, Bank berperanan sangat penting
dalam ekonomi rakyat, di Lamongan sebaliknya, ekonomi rakyat ”menjauhi”
jasa pelayanan perbankan. Data empirik dari lapangan ini perlu memperoleh
perhatian besar dunia perbankan yang rupanya sedang menghadapi masalah
besar karena krismon. Krismon yang telah ”menghancurkan” sektor
perbankan, sehingga sebagian besar Bank Swasta dirawat di rumah sakit Bank
(BPPN), memang mengharuskan dunia perbankan mengoreksi diri. Barangkali
ada benarnya bahwa deregulasi atau liberalisasi perbankan tahun 1983 dan
1988 telah ”kebablasan” sehingga penciutan bank kembali ke tingkat
sebelum 1988 memang harus dilakukan. Perbankan sebagai ”urat nadi”
perekonomian (agent of development) sejak krismon telah berubah
menjadi ”beban” perekonomian nasional. Sektor perbankan telah menjadi
korban konglomerasi ekonomi yang terlalu menekankan pada pertumbuhan
sektor bisnis modern yang sangat kapitalistik, sekaligus dengan mendesak
peranan ekonomi rakyat. Sektor ekonomi rakyat sesungguhnya dapat dibantu
perkembangannya oleh sektor perbankan. Tetapi dalam kondisi krismon yang
melumpuhkan dunia perbankan, sektor ekonomi rakyat ternyata tidak ikut
mati melainkan menjadi lebih percaya diri, dan melalui daya tahan yang
kuat kini justru lebih tumbuh dan berkembang.
PERBANKAN ETIK
Ace Partadiredja dalam
pidato pengukuhan Guru Besar di UGM tahun 1981 yang berjudul Ekonomika
Etik mendambakan lahirnya ilmu ekonomi (ekonomika) yang tidak
serakah dengan terlalu mementingkan alam benda. Artinya ajaran Adam Smith
tentang manusia yang ”homo ekonomikus” (Wealth of Nations,
1776) perlu ”dikoreksi” dengan ajaran sebelumnya (Theory of Moral
Sentiments, 1759) yang menekankan kecintaan manusia pada masyarakat
tempat ia hidup. Itulah semangat ”tepa selira” yang cukup dikenal dan
dihayati di Indonesia.
Salah satu pertimbangan
etik yang penting dari perbankan di Indonesia mestinya diarahkan pada
upaya mengurangi kemiskinan sebagaimana sudah cukup lama dikumandangkan
Bank Dunia (sejak 1975). Meskipun dalam kenyataan slogan penanggulangan
kemiskinan ini tidak mudah mewujudkannya, namun perbankan di Indonesia
perlu sungguh-sungguh menerapkannya dalam upaya pengembangan perbankan
etik.
Pengembangan Bank Syariah
di Indonesia jelas bertujuan menerapkan perbankan etik yaitu tidak sekedar
menjual jasa atau produk perbankan dengan mengenakan bunga, tetapi ”bekerjasama
dengan klien” untuk memperbaiki kesejahteraan atau meningkatkan
kehidupan ekonomi klien. Di Indonesia Bank-bank desa seperti BKK di Jawa
Tengah atau Lumbung Piteh Nagari di Sumatera Barat, yang dibentuk dari
bawah besama klien, adalah Bank-bank etik yang dimaksud. Namun sayangnya
sejak liberalisasi perbankan 1983, 1988, dan 1992, Bank-bank yang demikian
telah ”dimatikan” atau “dikerdilkan”. Pengalaman krisis perbankan
1997/1998 yang sampai kini belum teratasi telah memberikan pelajaran pahit,
mudah-mudahan berharga, bagi dunia perbankan Indonesia. Pelajaran berharga
itu adalah tidak lagi mengembangkan sistem perbankan kapitalistik yang
mendahulukan kepentingan bisnis pemilik Bank, bukan kepetingan klien dan
masyarakat luas.
PENUTUP
David Cole yang bersama
Betty Slate menulis buku ”Building A Modern Financial System: The
Indonesia Experience" (1996, 1998) pernah berkata bahwa di
Indonesia sejak liberalisasi perbankan memang tidak sekedar terlalu banyak
Bank, tetapi ”terlalu banyak bank yang tidak dapat diawasi
perkembangannya”. Meskipun mungkin artinya sama tetapi tidak dapat
diawasinya perkembangan Bank secara baik jelas mengakibatkan otoritas
moneter kehilangan wibawa mengawasi kondisi dan praktek kegiatan
ekonomi keuangan secara keseluruhan. Jika ketelanjuran ini disadari
kiranya tidak ada jalan lain pemerintah bersama Bank Indonesia yang kini
sudah ”independen” harus mampu ”mengatur” kembali. Artinya suasana
persaingan ”liberal” dengan pemihakan pemerintah pada
kelompok-kelompok konglomerat tertentu harus di hentikan dan diganti
pemihakan penuh pada ekonomi rakyat yang telah terbukti tahan banting.
Perbankan harus menyadari kekeliruannya yang selama ini telah tidak
menomorsatukan perkembangan ekonomi rakyat yang justru berakibat
ditinggalkan oleh perlaku-pelaku ekonomi rakyat itu sendiri (kasus
Lamongan). Memang perubahan misi dan orientasi ini tidak akan mudah, namun
harus dilakukan.
Prof. Dr. Mubyarto : Guru
Besar Fakultas Ekonomi UGM dan Ketua Yayasan Agro Ekonomika