Liputan Kegiatan
Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di
Provinsi NTT, tgl. 26 Nopember 2002, di Hotel Kristal, Kupang. ---
Keprihatinan
Profesor Mubyarto
Oleh:
Puthut Indroyono
Dalam
seminar yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Propinsi Nusa Tenggara
Timur tanggal 26 Nopember 2002, Profesor Mubyarto mengemukakan
keprihatinannya yang mendalam tentang prospek penanggulangan kemiskinan di
propinsi itu. Di forum yang dihadiri oleh para pejabat di lingkungan
pemerintahan baik propinsi maupun kabupaten dan kota se propinsi NTT, para
akademisi dari perguruan tinggi, pers, dan aktivis LSM, ekonom senior dari
UGM ini mengungkapkan hasil pengamatan singkat (rapid study) di dua
desa IDT yaitu Oeletsala dan Noelbaki, di wilayah kecamatan
Kupang Tengah, tak jauh dari Kupang ibukota propinsi NTT. Meskipun oleh
pemda desa pertama dinyatakan sebagai desa berhasil dan desa kedua gagal,
namun Prof. Mubyarto tetap berkesimpulan bila kedua desa tersebut telah
gagal melaksanakan program IDT dan desa kedua mengalami kegagalan yang
lebih parah.
Ketika
seminar hari itu menginjak pada sesi tanya jawab, muncul percakapan kecil
dari moderator yang memimpin sidang yang kebetulan berasal dari pejabat di
lingkungan pemda propinsi. Ia mengharapkan semoga dua desa IDT yang
diungkapkan Prof. Mubyarto dalam forum itu tidak mewakili pelaksanaan
program IDT untuk seluruh desa-desa di NTT, yang saat dimulainya program
berjumlah 1892 desa. Seorang penanya menimpali ungkapan moderator dengan
menolak apabila dua desa dimaksud untuk mewakili keseluruhan desa dan
berharap sidang tidak membahas dan menyebarluaskannya. Peserta lain dari
kabupaten Flotim (Flores Timur) ketika diberi kesempatan bertanya
sebaliknya justru ingin menegaskan kemungkinan kebenaran bahwa dua desa
sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Mubyarto merupakan fenomena umum
desa-desa di wilayahnya dan kemungkinan juga di seluruh NTT. Meskipun
survei pemda melaporkan bahwa program IDT masih berlangsung hingga kini,
namun menurut penanya tersebut program IDT telah gagal dan tiada berbekas
saat ini.
Selanjutnya
sambil menegaskan tidak ingin berpretensi untuk menyamaratakan kegagalan
ini untuk seluruh desa-desa di NTT, Prof. Mubyarto mengemukakan kegagalan
program IDT di dua desa tersebut terutama di desa kedua (Noelbaki)
disebabkan antara lain oleh kegagalan pelaksana program mencapai sasaran
penduduk miskin yang ditetapkan dan kegagalan pendampingan. Dengan
mengutip laporan dari kecamatan Kupang Tengah, Mubyarto mengatakan bahwa
“dana IDT di kecamatan Kupang Tengah berjumlah Rp 700 juta untuk 12
desa, namun hanya Rp 157 juta (22%) yang bergulir di 6 desa, diterima oleh
215 KK dari seluruhnya 3263 KK miskin (7%). Dari seluruh KK miskin
dilaporkan baru 1030 KK (32%) yang sudah menerima bantuan IDT”.
Lanjutnya, “hanya ada satu desa (Kuaklalo) yang 100% penduduk
miskinnya sudah menerima dana IDT. Yang paling buruk adalah di dua desa Oelnasi
dan Bokong yang menerima dana IDT 3 kali dalam 3 tahun (Rp 60 juta)
tetapi hanya dinikmati oleh masing-masing 48 KK (12%) dan 40 KK (10%)”.
Mubyarto merasa sulit untuk bisa mengerti bagaimana hal itu bisa terjadi,
suatu hal yang hampir mustahil terjadi di daerah lain seperti Yogyakarta.
Hal
lain yang menjadi keprihatinan dari pakar ekonomi rakyat yang diungkap
dalam seminar yang dihadiri dan dibuka oleh Gubernur Piet A Tallo adalah
masalah otonomi daerah. Otonomi daerah yang pada mula dicanangkan
pelaksanaannya tahun 2001 dianggap memberi harapan bagi kesejahteraan
masyarakat, kini malahan menimbulkan masalah-masalah baru di propinsi
“miskin” NTT. Kurang berfungsinya peran koordinatif pemerintah
propinsi atas kabupaten dan kota, pemda kabupaten/kota menjadi tidak makin
dekat dengan rakyat, dan tidak berkembangnya kerjasama di antara
kabupaten/kota tetapi menjadi semacam persaingan, adalah tiga hal yang
diprihatinkan oleh Mubyarto. Dalam kondisi seperti ini, maka sangat tidak
memungkinkan berkembangnya program-program penanggulangan kemiskinan
menjadi lebih baik ketimbang program-program terdahulu. Kalau semula
otonomi daerah diharapkan akan menghasilkan program penanggulangan
kemiskinan yang lebih baik dan sempurna karena dirancang di tingkat
pemerintahan yang lebih dekat dengan rakyatnya (kabupaten), namun dengan
kondisi tersebut di atas yang masih berlangsung hingga saat ini, maka
sebagaimana dikeluhkan oleh Mubyarto “kemungkinan pengembangan
program-program Penanggulangan Kemiskinan seperti diharapkan sungguh
sangat kecil”.
Drs. Puthut Indroyono,
Asisten Peneliti Pusat Studi Ekonomi Pancasila
(PUSTEP-UGM)
|