[Artikel - Th. I - No. 1
1
-
Januari 2003]
Sajogyo
DUA JENIS PERTEMUAN, APAKAH BERSAMBUNGAN?
(1)
Dari
membaca Surat Kabar Warta Kota (kelompok Surat Kabar Kompas), Jakarta,
yang tersebar di wilayah JaBoDeTaBek)—yang bersemboyan “Informasi
pasti masyarakat kota—diterbitkan Minggu, tanggal 22 Desember 2002 lalu
(hal.3) tersajikan dua tulisan pewawancara Sugiyanto, kami kutip
“ramalan tahun 2003”. Siapa sumber peramalan itu?
Pertama Ny. Lauren Pasaribu (“Banjir masih mengancam
Jakarta”, judul pilihan pewawancara) dan kedua, dari Tn.Kang Hong Kian,
judul pilihan pewawancara “2003, tahun penuh fatamorgana”.
Disini
disajikan kutipan selektif, sebagian ramalan Ny. L. Pasaribu: …(menjawab
pertanyaan “bagaimana dengan prediksi situasi ekonomi?”, setelah
menyoroti “prediksi situasi politik”). (inilah dia) “Akan ada
serangan angin, hujan dan panas yang merusak tanaman. Juga terjangkitnya
penyakit pada hewan. Selain ada yang mental karena tandukan. (Di sisi
lain, masih banyak juga yang menikmati keuntungan-keuntungan besar dari
pelambang se-tanduk emas tadi, seperti penambang pasir, kebun buah-buahan
juga tanaman obat (maaf, perlu diseling catatan penjelasan: peramalan
ini berdasar petunjuk horoskopi berdasar perhitungan budaya Cina yang
membagi tahun-tahun atas “tanda binatang”. Misal; tahun ini masih
tahun kuda, tahun depan tahun kambing. Nasib anda di suatu tahun
terpengaruh oleh tahun kelahiran anda: tahun binatang mana?)
(lanjutannya...) pengusaha kecil dan menengah harus banyak mendapat perhatian. Karena
akan ada gerakan pemberdayaan diri secara besar-besaran. Pemerintah harus
mencermati ekonomi yang dikendalikan oleh kalangan usaha kecil dan
menengah ini. Karena kenyataannya, mereka ini yang tetap bertahan ditengah
badai krisis dan menjadi penyelamat ekonomi nasional dengan perputaran
roda perekonomian rakyat. Tahun kuda (2002) masih besar pengaruhnya hingga
bulan April 2003”.
Dan
apa yang diramalkan oleh Tuan Tan Hong Kian atas pertanyaan pewawancara
“ekonomi 2003 diprediksi akan lebih terbuka, bagaimana anda menghadapi
hal ini?” (jawabannya) “Ya, peluang-peluang lebih terbuka. Tapi,
jangan lupa, yang palsu juga meningkat. Di depan mata dilihat itu sebagai
peluang, tapi kenyataannya hanya “fatamorgana" (artinya: bayangan, bukan
kenyataan). (lanjutannya...) Kita jangan terlena oleh jebakan-jebakan
manis. Jangan cepat bertanya oleh bujuk rayu mitra kerja kita. Yang
dilihat di permukaan bagus belum tentu yang sebenarnya. Bisa jadi
sebaliknya. Kalau
kita bicara tentang bisnis secara global, diramalkan tidak akan sebaik
tahun lalu. Peluangnya semakin menipis. Ini tentu saja akan meningkatkan
persaingan yang lebih ketat lagi. Terlebih Indonesia terlahir di tahun
ayam (1945) yang artinya punya ikatan yang sangat erat dengan Cina yang
lahir di tahun sapi. Tentu kita tak berharap bahwa kita selalu punya
ketergantungan dengan negara lain.
Saya
yakin kita bisa mandiri. Maka kita harus menyelami diri kita, introspeksi,
mencari peluang-peluang yang cocok diterapkan disini, adalah bidang yang
cocok untuk kita lakukan, bidang yang kita telah kita miliki selama
bertahun-tahun. Yang saya maksudkan adalah bahwa agroindustri, agrobisnis
merupakan tulang punggung pilar ekonomi kita." (selesai kutipan selektif
ini)
Pelajaran
apa bagi kita yang suka menyebut diri lebih mementingkan akal pikiran
dalam berilmu dan beramal? Peramalpun ternyata tak berhenti melaporkan isi
ramalan, tetapi juga sampai pada anjuran kita mampu bertindak demi
pemecahan masalah yang kita hadapi!
Beberapa
hari kemudian, tanggal 26 Desember 2002, di Surat Kabar Pikiran Rakyat
(Bandung) di dalam seri tulisan “laporan akhir tahun” kami baca
artikel berjudul “2003 ujian baji pembangunan agro bisnis daerah” dari
Dr. Bayu Krisnamurthi (dari IPB, Bogor, juga redaksi JER).
Disini
dikutip penutup tulisan itu: “….masih tetap diperlukan beberapa
langkah agar pembangunan system agro bisnis dapat menghadapi ujian
desentralisasi.”
Pertama,
diperlukan usaha sungguh-sungguh dan komprehensif untuk meningkatkan
pemahaman dan penyamaan persepsi konsepsi agrobisnis. Agrobisnis tidak
dapat lagi hanya sebagai pandangan yang diformulasikan oleh pihak tertentu
(“formulated vision”) tapi harus mencari pandangan yang diterima oleh
semua kalangan (“shared vision”). Untuk itu perlu dipergunakan
“bahasa” yang sesuai dengan kondisi masyarakat…..Mengubah prinsip
“menjual apa yang bisa dihasilkan” menjadi “menghasilkan apa yang
bisa dijual” merupakan salah satu langkah awal membagi visi agrobisnis
itu.
Kedua,
diperlukan langkah yang jelas untuk menyeimbangkan antara mengedepankan
“potensi” daerah dan “prospek pasar”. Banyak daerah terjebak untuk
hanya mengedepankan besarnya potensi yang dimiliki (seperti luas dan
suburnya lahan, buah yang memiliki rasa segar dan enak, atau bunga yang
indah) tetapi lupa mengkaji apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh
konsumen…Untuk itu analisis pasar merupakan hal yang tidak dapat ditunda
lagi.
Ketiga,
mulailah dengan sesuatu yang konkret, jelas dan dapat segera dilihat dan
dirasakan oleh masyarakat. Masyarakat membutuhkan contoh, “……..acuan
yang konkret. Oleh sebab itu
visi dan strategi perlu segera diwujudkan secara operasional walaupun
masih dalam bentuk beberapa contoh yang masih terbatas………….”
Nah,
inilah satu contoh jenis “pertemuan” (antara “peramalan” dan
“ilmiah”). Apakah
bersambungan satu sama lain? (terserah pembaca menilai…..!)
(2)
Sebelum
membaca hal ramalan dua tokoh peramal itu di Warta Kota.
Sebelumnya (beda beberapa hari) kami baca di SK Kedaukatan Rakyat
(terbit di Yogyakarta, kalau tak salah tanggal 19 Agustus ’02) suatu
artikel dari Gus Dur yang kami kenal sejak menjadi mitra Sekretariat Bina
Desa. Karena tak sempat membuat kliping (guntingan) karangan tersebut, di
sini pelaporan kami terbatas pada dua hal saja. Judul tulisan itu pun tak ingat lagi!
Pertama
di dalam mengemukakan pendapat hal-hal pokok apa yang perlu kita cermati
dan laksanakan Gus Dur menyebut lima hal. Dalam pada itu sempat
diungkapkan suatu perkiraan (= ramalan) bahwa masa krisis kita ini “akan
berjalan selama tujuh tahun”, yaitu dari 1997 sampai
2003. (catatan: memang angka siklus tujuh tahunan ini sesuatu yang
suka dipakai orang kita dalam mencermati zaman yang beredar !).
Salah
satu hal penting menurut Gus Dur adalah bahwa kita perlu membuka peluang
untuk meningkatkan, bahkan melipatgandakan tingkat gaji pegawai negeri,
misalnya dalam waktu beberapa (tiga?) tahun menjadi lipat menjadi sepuluh
kalinya yang sekarang, barulah kendala korupsi pada aparat birokrasi
negara dapat diatasi! Tapi itulah: sulit meng-andai-kan bahwa kita
memperoleh suatu moratorium dalam hal jangka waktu melunasi hutang kita!
(tak disertai data, angka-angka). Atas hal perkiraan (“peng-andaian”)
itu saja perhatian kami sebagai pembaca-pencatat menjadi kurang, karena
menilai itu tak bakal terjadi di dalam suasana iklim budaya kapitalisme
sedunia dewasa ini. Indonesia juga tak tergolong negeri SMS (Sangat Miskin
Sekali) untuk memperoleh penghapusan hutang!
Tapi
di bulan Desember ini terbit majalah edisi khusus Newsweek, mingguan yang
terbit di New York, Amerika Serikat.
Tema edisi khusus Newsweek adalah “Issues 2003”, dengan jumlah
halaman hampir dua kali lipat biasanya. Sejumlah 34 tulisan dibagi atas lima rubrik, yang terpanjang soal
“American Power”. Di sampul muka majalah ada foto seorang berpakaian
“Uncle Sam” (berjenggot putih) yang berusaha menahan beban “dunia”
(sebuah bola besar, bentuk globe, bumi kita). Rubrik lain dalam “Issues
2003” berjudul “Islamic World”, dibagian ini ada peta “Dunia
Arab” di Timur Tengah di tiap negara tercantum susunan penduduk menurut
golongan bangsa dan mazhab agama Islam. Peta ini sumber pengetahuan cepat
ringkas bagi siapa yang belum kenal siapa itu “Bangsa Arab”. Tiga
rubrik lain adalah rubrik “Business”, “Society” dan Technology”.
Di rubrik “Business” itulah kita dapat baca tulisan George Soros
berjudul “ A Broken Pipeline”. Soros di situ diperkenalkan sebagai
Ketua Soros Management Fund dan pendiri Open Society Insitute. Mungkin
sebagian pembaca JER, dari kalangan sebagian LSM mengenal kegiatan kita
yang juga didanai oleh lembaga yang menyalurkan dana asal dari Soros,
dalam rangka membuka peluang reformasi di Indonesia.
Menurut
Soros di edisi Newsweek itu dunia kini menghadapi suatu krisis yang
umumnya tak dikenali orang yaitu bahwa aliran modal ke negara-negara
miskin dalam keadaan terputus (“break down”).
Apa yang mesti kita lakukan?
Jika
di masa perekonomian dunia (kapitalis) sedang “baik” (“bull
market”) Amerika Serikat mampu menjadi “motor” perekonomian global.
Tapi sejak 1997 tidak lagi demikian. Lebih baik dikutip saja:
“The
global economy is hovering on the brink of deflation and depresson.
….there is an urgent need for a new motor. I have proposed (Soros tulis)
an annual issue of Special Drawing Rights (SDRs), an interest-bearing
asset that would be issued by the IMF.
Under my proposal (lanjutnya) rich countries would donate their
allocations of SDRs to finance international assistance to fund
development projects in poor nations. This is an idea whose time has
come”. (“donate”=hibah!)
Menurut
Soros (terjemahan)…..hal itu akan mengaktifkan sumberdaya yang kini tak
terpakai. Hal itu akan memperkecil jurang yang melebar antara pusat
(negara kaya) dan pinggiran (negara miskin). Hal itu peluang bagi dunia
memperjuangkan tujuan PBB dalam mengatasi kemiskinan ekstrim, dengan
menyediakan pendidikan dasar secara menyeluruh dan mendukung perbaikan
pelayanan kesehatan agar tujuan mengurangi kemiskinan sasaran tahun 2015
terjangkau.
Soros
mengakhiri tulisan singkat (satu halaman : hal. 59 di edisi khusus
Newsweek itu) dengan nada pesimis. Para pengelola lembaga-lembaga keuangan
internasional tak akan mempertimbangkan usulanya karena tak menerima
sinyalemen Soros bahwa “system dunia itu telah rusak dan memerlukan
perbaikan”. Soros menuduh “mereka itu – yang punya wewenang –
tertidur di tempat mereka bekerja, padahal merekalah yang pegang kuncinya!"
Apa
kesimpulan kita (sementara) dari membanding gagasan Gus Dur yang
mencita-citakan suatu “moratorium” dalam pembayaran hutang-hutang
Indonesia dan gagasan Soros, pihak pemain aktif pasaran ulang global di
negeri kaya raya : perlu membuat aturan main baru, demi mengatasi krisis
global ! (judul tulisan Soros : “A Broken World Pipeline”).
Jika aturan main yang lama tidak lagi memberi harapan kita dapat
mengatasinya, lebih baik kita membuat aturan main yang baru ! Maksud
Indonesia menyapih diri dari ikatan aturan main yang dibuat IMF, itu baru
satu langkah. Kalau pun jadi kenyataan tahun depan, apakah itu mencukupi
dalam upaya kita membuka peluang lebih baik dalam mnegatasi krisis kita?
Inilah
contoh kedua jenis “pertemuan” lain yang kami jumpai di akhir tahun;
ada satu gagasan di pihak “nasionalis” (kasus Gus Dur, dari PKB)
di lain pihak seorang pelaku
(siapa bilang “setan” ?) dari kubu kapitalisme global.
Pertemuan masih susah diharapkan walau “maknanya” se-arah !
Perhatikan
bahwa di lingkungan Asia, dua negara berpenduduk besar yaitu China dan
India, tergolong perkecualian: tetap mampu menarik investasi dari luar
dan dari dalam negeri sendiri.
Sebenarnya
dalam urusan hutang bagi Indonesia beban hutang dalam negeri sama beratnya
dengan hutang luar negeri. Apa
lagi jika kini ada maksud “memberi ampun” pada konglomerat padahal tak
ada permintaan maaf dari mereka disertai pengakuan telah berbuat salah di
waktu lalu! Inikah model “konsiliasi” ala Indonesia?
Prof. Dr. Sajogyo
–
Guru Besar Sosiologi Pedesaan IPB, Bogor
>>
Tulis komentar anda.....