|
[Artikel - Th. I - No. 1 1
-
Januari 2003]
Sri Widowati Sugih Hastuti
MISKIN PERILAKU
Bukan sulap bukan sihir,
ada sebuah fenomena, sebuah fakta kenyataan bahwa menjadi orang miskin itu
menyenangkan. “Ah masa? Teori dari mana?" Hasil kajian pemberdayaan
masyarakat miskin di era otonomi daerah dalam hal ini di Propinsi
DIYogyakarta tepatnya di sebuah desa di Kabupaten Kulonprogo, memberikan
sebuah cerita bahwa di jaman reformasi (diplesetkan orang repot-nasii)
ternyata ketika sebuah proyek, program atau apapun namanya yang berkaitan
dengan datangnya sebuah bantuan, “masyarakat” (yang tidak menyadari
siapa dirinya) berlomba-lomba mendaftarkan
diri menjadi orang miskin atau dengan kata lain me-miskin-kan diri.
Gejala apa ini? Justru itulah tulisan ini saya buat untuk minta
bantuan dari para pembaca JER , meng-analisa-nya menurut bidang ilmu
masing-masing.
Tulisan ini dalam bentuk
wawancara dimana peneliti sebagai orang luar (OL) menanyakan kondisi
wilayah kepada orang dalam (OD) dalam hal ini diwakili oleh pihak camat
dan kepala desa
|
OL
|
:
|
Bagaimana kondisi wilayah ini
|
|
OD
|
:
|
Kami
hidup di wilayah kecamatan dengan masalah-masalah sebagai berikut
yaitu pendapatan perkapita rendah, produktivitas dan ketrampilan
masyarakat yang rendah, rawan bencana longsor hingga sampai menelan
korban, kekurangan air bersih pada saat musim kemarau, adanya
gangguan penyakit malaria yang endemik dimana kurang lebih pertahun
sekitar 3000 warga mengalaminya, jumlah KK miskin di kecamatan ini
sekitar 8000-an. Bisa
anda bayangkan bukan keadaan kami?
|
|
OL
|
:
|
Siapa orang miskin di desa ini?
|
|
OD
|
:
|
Seseorang
disebut miskin dengan ciri-ciri sebagai berikut yaitu dalam sehari
makan < 3x, penghasilan tidak tetap, tidak mempunyai sawah atau
tegalan, rumah sederhana dari gedeg
(bilik bambu) ukuran 6 x 4 meter persegi dan berlantai tanah.
Oh ya termasuk dalam kriteria itu para jompo, manula dan
para janda ditinggal mati suaminya.
|
|
OL
|
:
|
Sepertinya kriteria orang miskin desa ini
mengingatkan pada kriteria miskin sebuah program dari luar, benarkah
demikian?
|
|
OD
|
:
|
Benar!
Kriteria miskin diatas mengacu pada kriteria miskin dari BKKBN yang
biasa melakukan pendataan setiap tahun.
|
|
OL
|
:
|
Kriteria miskin menurut ukuran desa ini
apakah benar demikian?
|
|
OD
|
:
|
Sebenarnya
sih tidak. Kriteria
miskin di atas itu agar
masyarakat bisa mendapatkan bantuan, misalnya dalam program beras
miskin (raskin).
|
|
OL
|
:
|
Jika program raskin dihentikan, apakah
mereka para penerima raskin benar-benar tidak bisa membeli beras?
|
|
OD
|
:
|
Seandainya
program raskin dihentikan, di stop, ya nggak apa-apa.
Mereka para penerima raskin masih bisa hidup dan masih
sanggup membeli beras bahkan mereka juga sanggup membayar zakat
fitrah lho mbak. Dari
889 KK miskin penerima raskin hanya 2 orang saja bahkan paling
banter 5 orang saja yang benar-benar tidak sanggup mengeluarkan
zakat fitrah. Ini aneh tapi
nyata lho mbak, saya juga heran sendiri, tapi apa boleh buat.
|
|
OL
|
:
|
Bagaimana cerita yang melatarbelakangi
sehingga terjadi hal demikian?
|
|
OD
|
:
|
Saat
ini, sekarang ini mbak, kalau ada bantuan datang masuk desa entah
darimana asalnya, entah untuk golongan siapa penerimanya, masyarakat
cepat-cepat mendaftarkan diri sebagai penerima bantuan.
Pengalaman masa lalu di jamannya program IDT desa kami tidak
tergolong desa tertinggal karena kami malu disebut desa tertinggal.
Tetapi setelah melihat desa tetangga yang menerima Rp. 20
juta per tahun selama 3 tahun berturut-turut, kemudian disusul ada
bantuan pembangunan sarana fisik, masyarakat kami menjadi
“meri”. Akhirnya
kami hanya bisa berkata “enak sekali ya menjadi desa tertinggal”.
“Seandainya dan seandainya dulu....”
|
|
OL
|
:
|
Apa hikmah dari pengalaman itu?
|
|
OD
|
:
|
Belajar
dari pengalaman masa lalu, kami atau desa kami sekarang tidak malu
lagi disebut entah apa namanya, yang penting desa kami, masyarakat
kami mendapat bantuan meskipun masuk dalam daftar kelompok orang
miskin atau desa miskin. Sekali lagi yang penting mendapat bantuan.
|
|
OL
|
:
|
Gejala apa itu pak?
|
|
OD
|
:
|
Entahlah....
saya juga tidak tahu mbak, yang penting warga saya sejahtera.
|
Sri Widowati Sugih Hastuti
(Widowati) –
Staf Peneliti pada Pusat Pengkajian dan
Pengembangan Perekonomian Rakyat (Pusat P3R, Bogor)
>>
Tulis komentar anda.....
|