[Artikel - Th. II - No.
2 -
April
2003]
Awan Santosa, Dadit G. Hidayat, dan Puthut Indroyono
PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN BERSASARAN
DI PROPINSI DIY
Pendahuluan
Di
tengah upaya untuk semakin menajamkan program penanggulangan kemiskinan di
Indonesia perlu dicari metode evaluasi dan monitoring yang tepat agar
kualitas pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan menjadi semakin
baik di masa datang. Dengan indikator-indikator yang obyektif dan terukur
para pengambil keputusan menjadi lebih mudah melakukan perbaikan-perbaikan
dari berbagai segi agar program penanggulangan kemiskinan menjadi lebih
berkelanjutan (sustainable) dan tidak bersifat charity.
Dengan demikian kegagalan suatu program di masa lalu bukan berarti telah
gagal dalam segala aspeknya sehingga harus diganti dengan program baru.
Pengalaman selama ini menunjukkan kecenderungan bahwa jika program
dianggap telah gagal berarti program itu sudah tidak perlu diingat-ingat
lagi, dan perlu program baru untuk mengganti program lama.
Penelitian ini merupakan suatu evaluasi program penanggulangan kemiskinan di
Yogyakarta secara kuantitatif. Program penanggulangan kemiskinan yang
dievaluasi meliputi program Inpres Desa tertinggal (IDT), Program
Pengembangan Kecamatan (PPK), dan Proyek Penanggulangan Kemiskinan
Perkotaan (P2KP), yang dikategorikan sebagai Program Kerja Mandiri (Self
Employment Program), dan Proyek Pembangunana Fisik dalam program PPK
yang dikategorikan sebagai Program Padat Karya (Public Work Progam)
Metodologi Penelitian
Penelitian
ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak program IDT, PPK, dan P2KP serta
program padat karya dalam meningkatkan pendapatan penerima program dan
menurunkan tingkat kemiskinan penerima program, serta untuk mengevaluasi
tingkat efisiensi penyaluran dana setiap program dan tingkat kelangsungan
dana program yang dilaksanakan.
Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh melalui wawancara
langsung (in-depth Interview) dengan penerima program yang
dilakukan mulai September 2002 sampai dengan Januari 2003. Pengambilan
sampel dilakukan secara acak (random sampling). Jumlah responden
program kerja mandiri (PKM) dalam penelitian ini adalah 80 responden, yang
berasal dari 3 jenis program yaitu program IDT, program PPK, dan program
P2KP, masing-masing sebesar 38 responden, 32 responden, dan 10 responden.
Responden ini diambil dari 6 desa di 5 kabupaten/kota di wilayah propinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Empat lokasi pertama berada di
lingkungan perdesaan di empat kabupaten di propinsi DIY, yaitu desa
Karangawen di kabupaten Gunungkidul, desa Srikayangan di kabupaten
Kulonprogo, desa Selopamioro di kabupaten Bantul, dan desa Sambirejo di
kabupaten Sleman. Sedangkan dua lokasi terakhir adalah kelurahan
Purwokinanti dan kelurahan Mantrijeron yang berada di daerah perkotaan
Yogyak

Responden
program padat karya berjumlah 20 orang berasal dari 2 desa yaitu desa
Karangawen, sebuah desa di kabupaten Gunungkidul bagian selatan, di
sebelah tenggara ibukota Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dapat
ditempuh lewat jalan darat selama kurang lebih 2 jam. Desa kedua terletak
di kabupaten Kulonprogo atau satu jam perjalanan darat ke arah barat.
Jumlah responden desa
Srikayangan sebanyak 12 orang (60%) dan desa Karangawen 8 orang (40%)
(tabel 4). Sebagian besar responden adalah laki-laki (80%), sedangkan
jumlah responden wanita hanya sebesar 20%, kesemuanya berasal dari desa
Srikayangan. Mereka sebagian
besar terlibat sebagai tenaga kerja kasar (buruh kasar) yang tidak
memerlukan keahlian khusus. Proyek PPK (Program Pengembangan Kecamatan)
(PPK) yang mereka kerjakan adalah pembuatan saluran irigasi (saluran
pembuangan air) di desa Srikayangan, dan perbaikan jalan-jalan dusun
dengan menggunakan semen (cor-block) di desa Karangawen.

Analisis
dalam penelitian ini menggunakan alat yang telah dirumuskan dalam Manual
Evaluasi Program Penanggulangan Kemiskinan yang dibuat oleh ESCAP (Economic
and Social Commision For Asia and Pacific), yang terdiri dari 4
kategori, yaitu Income Indicator (A1), Poverty Reduction
(PR), Efficiency in Program Delivery (EP), dan Financial
Viability (FV). Untuk memudahkan pembahasan analisis dan evaluasi data
dibagi menjadi dua bagian sesuai dengan dua jenis program yang ada, yaitu
Program Kerja Mandiri (Self-employment Program) dan Program Padat
Karya (Public Works Program).
Program
Kerja Mandiri
Penelitian
ini menganalisis tiga jenis Program Kerja Mandiri (PKM) yaitu Inpres Desa
Tertinggal (IDT), Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dan Proyek
Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP). Analisis terhadap ketiga
program tersebut dilakukan secara komprehensif dengan mengacu pada
indikator yang telah disediakan. Analisis dimulai dari perhitungan
masing-masing program, sehingga dapat dilihat variasi hasil program kerja
mandiri beserta karakteristik masing-masing. Selanjutnya dilakukan
analisis keseluruhan (aggregate) sebagai indikator pembanding
program padat karya dan dasar penyimpulan umum.
1.
Peningkatan Pendapatan
Peningkatan pendapatan merupakan
indikator penting untuk menilai keberhasilan program bagi penduduk miskin.
Konsep yang digunakan adalah untuk mengukur pendapatan rumah tangga
peserta program setelah mengikuti program dengan pendapatan sebelum
program. Dalam perhitungan ini juga dimasukkan faktor perubahan harga
dengan menggunakan Indek Harga Konsumen untuk menilai pendapatan yang lalu
dengan nilai sekarang.

Program
Inpres Desa Tertinggal dapat meningkatkan pendapatan keluarga penduduk
miskin peserta program dengan nilai income indicatornya sebesar
0,364, yang berarti bahwa setelah pelaksanaan program IDT selama 8 tahun
pendapatan peserta IDT meningkat rata-rata sebesar 36,4%. Nilai ini
berkaitan dengan dua hal, pertama pendapatan peserta IDT meningkat karena
keberhasilan dalam usaha mereka (net income naik) dan yang kedua
berkaitan dengan sasaran program IDT yang lebih ditujukan pada penduduk
yang benar-benar miskin. Hal ini dapat dilihat pada nilai Coverage of
Target Group (TAR) sebesar 0,802, yang berarti bahwa
penduduk miskin yang menjadi sasaran program adalah sebesar 80,20%.
Nilai indikator peningkatan pendapatan yang besar menunjukan bahwa program
tersebut bermanfaat besar bagi penerima. Selain itu nilai ini juga
menunjukkan adanya ketepatan sasaran (target) dalam penyaluran program.
Perhitungan
data untuk Program Pengembangan Kecamatan (PPK) menghasilkan nilai income
indicator sebesar 0,11 yang menunjukkan adanya peningkatan pendapatan
peserta PPK sebesar 11%. Nilai coverage of target group sebesar
0,71 menunjukkan adanya peserta program yang dikategorikan tidak miskin
sebesar 0,29 (29%). Pengkategorian ini dilakukan dengan membandingkan
tingkat pendapatan peserta program dengan garis kemiskinan propinsi D.I.
Yogyakarta.
Perhitungan
data pelaksanaan program P2KP menghasilkan nilai income indicator
sebesar minus 0,11%. Hal ini menggambarkan adanya penurunan pendapatan
rumah tangga peserta program setelah mengikuti program sebesar 11%.
Berdasarkan analisis peserta program, kondisi ini karena ada pendapatan
yang hilang (pensiun), peralihan usaha yang menghasilkan pendapatan lebih
rendah atau berkurangnya pendapatan dari sumber lain (anggota rumah
tangga). Selain itu yang lebih penting adalah sasaran program P2KP yang
tidak hanya ditujukan untuk penduduk miskin. Dari data yang ditemukan
diketahui bahwa nilai coverage target groupnya hanya sebesar 0,20.
Artinya peserta program yang dikategorikan miskin hanya sebesar 20% (80%
tidak miskin). Dengan kata lain dari 10 peserta program yang sebelum ikut
program termasuk miskin hanyalah 2 orang. Dalam penelitian ini ditemukan
pendapatan peserta program P2KP sebelum mengikuti program di atas Rp 12
juta per tahun sebanyak 70%. Ada yang mempunyai pendapatan sebesar Rp 66
juta dan Rp 189 juta per tahun Data ini menggambarkan tidak adanya
ketegasan pengurus program (sense of priority dan sense of
poverty), karena keikutsertaan program lebih dititikberatkan
pada mereka yang berpotensi mengembalikan. Nilai income indicator
yang rendah, bahkan minus, juga menunjukkan bahwa program tersebut tidak
signifikan (berguna rendah) bagi penerima program.
Berdasarkan
perhitungan secara keseluruhan pelaksanaan program kerja mandiri (self-employment
programme) menghasilkan income indicator sebesar 0,3233. Nilai
ini menunjukkan terjadinya kenaikan pendapatan rumahtangga secara umum
dari responden sampel sebesar 32,33%. Secara agregat juga dapat
disampaikan bahwa sasaran program (coverage target group) dari
responden sampel adalah sebesar 0,571 (57,1%).
2.
Pengurangan Kemiskinan
Indikator
ini digunakan untuk mengukur persentase perubahan jumlah penduduk miskin
yang menjadi peserta program. Perhitungan dilakukan dengan membandingkan
jumlah penduduk miskin sebelum program dan jumlah penduduk miskin sesudah
program.
Berdasarkan
perhitungan responden sampel diperoleh data pengurangan kemiskinan sebagai
berikut :

Nilai
poverty reduction peserta program Inpres Desa Tertinggal adalah
sebesar 0,150, yang berarti ada penurunan jumlah penduduk miskin setelah
dilaksanakan program IDT sebesar 15%. Jumlah peserta program yang
tergolong miskin pada tahun dasar (1994) adalah sebesar 55,6%, nilai ini
turun menjadi sebesar 47,2% pada tahun sekarang (2002). Terjadinya krisis
moneter pada tahun 1997 telah menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk
miskin pada tahun tersebut, karena menurunnya pendapatan penduduk miskin
sehingga daya belinya menurun. Perhitungan data peserta program
Pengembangan Kecamatan menghasilkan penurunan jumlah penduduk miskin
peserta program sebesar 0,134 atau 13,4% setelah program PPK pada tahun
2001/2002.
Dari
sampel peserta program P2KP diperoleh data penurunan angka kemiskinan
sebesar 0,5 atau 50%. Penurunan yang cukup besar ini mempunyai dua arti, pertama,
terjadi peningkatan pendapatan setelah adanya program, kedua,
karena jumlah peserta program yang tergolong miskin kecil (program tidak
tepat sasaran). Sehingga ukuran ini bisa menyesatkan jika tidak dicermati
proporsi penduduk miskin yang mengikuti program. Dalam data sampel program
P2KP penurunan sebesar 50% terjadi karena jumlah penduduk miskin peserta
program kecil (20%) sehingga perubahannya (pengurangan) sangat signifikan.
Oleh karena itu keterkaitan antara pengurangan kemiskinan dan ketepatan
sasaran program perlu dilakukan supaya hasilnya lebih proporsional.
Secara
keseluruhan dihasilkan data pengurangan kemiskinan sebesar 0,261 atau
sebanyak 26,1%.
3.
I Efisiensi Penyaluran Program
Indikator
efisiensi penyaluran program digunakan untuk menjelaskan perbandingan
antara tingkat manfaat dan biaya yang diukur dengan tambahan pendapatan
bersih (net additional income) dan investasi kredit dalam
pengeluaran total.
Nilai
pendapatan bersih dari sampel peserta program Inpres Desa Tertinggal
adalah sebesar Rp 1.037.605,-, sementara untuk program Pengembangan
Kecamatan sebesar Rp 4.196.487,- dan pendapatan bersih peserta program
P2KP adalah sebesar Rp 8.421.883.,- Secara keseluruhan nilai pendapatan
bersih dari sample program kerja mandiri adalah sebesar Rp 4.551.992,-.
Nilai biaya transaksi dan biaya opportunity nol karena tidak ada
unsur biaya tersebut dalam kegiatan usaha peserta program. Data pendapatan
bersih dan rata-rata besar pinjaman dapat digunakan untuk menghitung
efisiensi program, sebagai berikut :

Data
tersebut menunjukkan bahwa tingkat efisiensi program IDT adalah sebesar
1,08 atau senilai 108%. Angka ini menunjukkan tingginya tingkat pendapatan
usaha bersih dalam program tersebu. Perhitungan data program PPK dan P2KP
menghasilkan nilai efisiensi penyaluran program masing-masing sebesar 2.20
dan 2,532. Hasil ini menunjukkan sangat tingginya nilai pendapatan usaha
bersih dari peserta kedua program tersebut. Ini karena jenis usaha yang
relatif menguntungkan dan skala usaha mereka yang relatif besar dan luas.
Ditemukan juga fakta bahwa nilai penjualan usaha (omset) peserta program
sangat besar dan nilai pinjaman usaha mereka menjadi tidak signifikan.
Selain itu ada kecenderungan dana pinjaman tidak digunakan untuk usaha,
selain karena digunakan untuk kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan
dan sebagainya, juga karena tingkat usaha mereka yang sudah besar,
sehingga pinjaman yang kecil tidak begitu berarti.
4.
Kelangsungan Dana
Kelangsungan
dana (financial viability) adalah indikator penting dari program
penanggulangan kemiskinan karena ketersediaan dana untuk membiayai program
terbatas. Jumlah pinjaman yang dikembalikan adalah variabel utama untuk
menunjang ketersediaan dana program. Pertimbangan lainnya adalah bahwa
pemerintah mendapatkan penerimaan dari peserta program tersebut. Peserta
program juga dikenai kewajiban untuk membayar pajak, baik secara langsung
maupun dari pajak pembelian barang yang mereka lakukan. Dalam penelitian
ini digunakan nilai perbandingan antara pajak tidak langsung dan produk
domestik bruto (GDP ) sebagai ukuran koefisien pajak.

Data
responden sampel peserta program Inpres Desa Tertinggal menunjukkan nilai financial
viability sebesar 0,814. Jumlah pinjaman yang telah dikembalikan
peserta program IDT adalah sebesar Rp 760.955 dari total pinjaman yang
direalisasikan sebesar Rp 959.827. Nilai pinjaman tersebut termasuk jumlah
pinjaman dari sumber lainnya, seperti Kredit tani, Kredit Pengusaha Kecil
dan lain-lain. Karena jangka pengembalian pinjaman lain lebih lama (1,5
– 2 tahun ) maka nilai pengembalian pada tahun 1994/1995 relatif kecil
(tidak termasuk dalam perhitungan). Selain itu ditemui juga pinjaman IDT
yang hanya perlu dibayar bunganya per bulan dengan nilai kecil, sehingga
pada akhir tahun perhitungan nilainya lebih kecil dari pinjaman awal.
Fakta yang ditemukan dari data sampel menunjukkan bahwa program IDT di
propinsi DIY sampai saat ini masih berjalan dengan baik. Kelompok
Masyarakat (pokmas) yang terbentuk masih beroperasi dengan jenis usaha
yang disepakati anggota kelompok, seperti simpan pinjam atau pemeliharaan
ternak kambing. Dana pemerintah sudah digulirkan untuk program lain
(seperti PPK) sehingga untuk program IDT sumber dananya berasal dari
anggota masing-masing kelompok masyarakat (pokmas).
Data
responden sampel peserta program PPK dan program P2KP menunjukkan hasil
yang lebih besar dibanding IDT, yaitu masing-masing program sebesar 0,851
dan 0,989. Hal ini terkait dengan kondisi ekonomi peserta program PPK dan
P2KP yang mempunyai pendapatan yang lebih besar dan tidak mempunyai
pinjaman dari sumber lain, sehingga persentase nilai pinjaman mereka
kecil. Karena jumlah pendapatan usaha bersih dari program P2KP lebih besar
maka nilai kelangsungan dana (financial viability) lebih tinggi. Fenomena
yang ditemukan dari sampel adalah adanya
pembiasan sasaran peserta program P2KP. Dari semula program ini
ditujukan bagi penduduk miskin, namun dengan pertimbangan agar terjadi
kesulitan dalam program, dana “dialihkan” pada penduduk yang
berpotensi mengembalikan, walaupun sebenarnya belum terbukti apakah
“etos ngemplang” penduduk miskin lebih tinggi dari penduduk tidak
miskin. Keadaan ini justru melemahkan
usaha pengelola program untuk berkonsentrasi pada upaya menanggulangi
kemiskinan di wilayahnya. Secara
keseluruhan hasil perhitungan data agregat menghasilkan nilai financial
viability untuk program kerja mandiri sebesar 0,884.
Hasil
perhitungan masing-masing indikator dapat digunakan .untuk menyusun skor
setiap indikator dari setiap program dan skor secara keseluruhan dari
program kerja mandiri. Perhitungan skor dilakukan dengan memberikan bobot
yang berbeda untuk masing-masing indicator.
Dari
hasil perhitungan diperoleh
nilai skor untuk program IDT sebesar 73,04, PPK sebesar 60,85, dan program
P2KP sebesar 71,13.

Program
Padat Karya
Indikator
yang digunakan dalam program padat karya sama dengan program kerja mandiri
yaitu, indikator peningkatan pendapatan (income indicator),
pengurangan kemiskinan (poverty reduction), efisiensi penyaluran
program (Efficiency in program delivery), dan indicator
kelangsungan dana (financial viability).
1.
Peningkatan Pendapatan
Metode perhitungan indikator ini sama dengan metode pada program kerja
mandiri. Dari data responden sample diperoleh nilai rata-rata pendapatan
rumah tangga sebelum program padat karya (Yo) sebesar Rp 3.603.725,-, dan
nilai pendapatan rumah tangga sesudah program (Yt) adalah sebesar Rp
4.416.711,-. Peserta program padat karya yang termasuk sasaran adalah
sebanyak 65%, yaitu peserta sebelum mengikuti program termasuk kategori
miskin. Dengan menggunakan indek harga sebesar 1,255 diperoleh hasil
perhitungan income indicator program padat karya sebesar –0,

Nilai ini menggambarkan terjadinya penurunan pendapatan rumah tangga peserta
program padat karya sebesar 2%. Ini
dapat disebabkan karena periode kerja program padat karya yang sangat
singkat (rata-rata 3 minggu) sehingga hasilnya tidak signifikan dalam
menaikkan tingkat pendapatan rumah tangga. Selain itu penurunan ini dapat
disebabkan adanya factor-faktor lain, seperti berkurangnya tingkat
penghasilan, peralihan pekerjaan. Dari hasil perhitungan ditemukan bahwa
tingkat kenaikan harga (Pt = 1,255) menurunkan nilai nominal pendapatan
tahun sekarang.
2.
Pengurangan Kemiskinan
Metode perhitungan sama dengan metode perhitungan dalam program kerja
mandiri, yaitu dengan membandingkan jumlah orang miskin peserta program
padat karya selama, sebelum, dan sesudah mengikuti program. Berdasarkan
perhitungan data responden sample diperoleh nilai Head Count Ratio
pada tahun dasar (2000/2001) sebesar 0,65 dan nilai Head Count Ratio
pada tahun 2001/2002 sama, yaitu senilai 0,65. Artinya tidak ada perubahan
jumlah peserta program padat karya yang dikategorikan miskin, tetap
sebesar 65%. Sehingga berdasarkan data tersebut ditemukan pengurangan
kemiskinan program padat karya adalah nol. Sesuai data sample program
padat karya tidak mengubah jumlah peserta program yang termasuk miskin,
seperti terlihat dalam table berikut :

3.
Efisiensi Penyaluran Program
Program
padat karya pada umumnya ditujukan untuk pembangunan proyek yang dapat
diakses langsung oleh masyarakat luas, seperti jalan, saluran air dan
sebagainya. Pengukuran efisiensi penyaluran program dilakukan dengan
membandingkan rencana biaya pembangunan proyek dengan realisasi dana
pembangunan proyek. Jika nilai realisasi dana lebih besar dari nilai
rencana biaya pembangunan proyek, maka dapat dikatakan proyek tersebut
tidak efisien. Selain itu juga digunakan nilai indek kualitas proyek, yang
merupakan persepsi peserta proyek terhadap kualitas hasil pembangunan
proyek.
Nilai rencana biaya pembangunan proyek pembangunan saluran drainase di desa
Srikayangan adalah sebesar Rp 45.525.750,-. Dengan nilai realisasi biaya
pembangunan proyek sebesar Rp 45.842.000,- dan indek kualitas proyek 0,80
diperoleh nilai efisiensi penyaluran program dalam pembangunan saluran
drainase di desa Srikayangan sebesar 0,79 (79%). Rencana biaya pembangunan
proyek pengecoran jalan (cor-block) di desa Karangawen adalah sebesar Rp
87.752.750,-. Dengan nilai realisasi biaya pembanguan proyek sebesar Rp
89.486.900,- dan indek kualitas proyek 0,80 diperoleh nilai efisiensi
penyaluran program dalam proyek pengecoran jalan sebesar 0,78 (78%).
Secara keseluruhan nilai rencana biaya pembangunan proyek di lokasi sampel
adalah sebesar Rp 133.278.500,-. Dengan nilai realisasi keseluruhan biaya
proyek sebesar Rp 135.328.900,- dan indek kualitas proyek 0,80 diperoleh
nilai efisiensi penyaluran program padat karya sebesar 0,789 atau senilai
78,9%..

4.
Kelangsungan Dana
Indikator kelangsungan dana dapat diukur dengan dua pendekatan. Pertama,
proporsi penerimaan proyek dari pembiayaan program dan tambahan pendapatan
pajak dari total pengeluaran program yang dipertimbangkan untuk
kelangsungan program. Kedua, Komitmen pemerintah untuk
menganggarkan dana proyek padat karya yang diukur dengan perbandingan
proporsi pengeluaran pemerintah untuk pembiayaan proyek dari tahun yang
lalu dengan tahun sekarang.
Dengan
nilai elastisitas pajak 0,02, dan jumlah peserta program 20 orang,
rata-rata pendapatan bersih Rp 120.675,- diperoleh nilai financial
viability proyek padat karya tersebut sebesar 0,0197
Perhitungan kedua menghasilkan proporsi minimum pengeluaran
pemerintah untuk pembiayaan proyek pada tahun lalu (2000/2001) sebesar
0,34 dan proporsi pembiayaan proyek pemerintah sekarang sebesar 0,32.
Sehingga dihasilkan nilai financial viability sebesar 1,02. Secara
keseluruhan indikator financial viability dari proyek padat karya
adalah sebesar 0,54. ((1,06 + 1,05)/2 ) atau senilai 54%.

Berdasarkan
nilai masing-masing indikator tersebut dilakukan skoring dengan
menggunakan metode yang sama dengan skoring program kerja mandiri. Dari
hasil skoring ditemukan bahwa nilai skor program padat karya adalah
sebesar 25,48.
Selain
beberapa indikator tersebut dalam penelitian ini juga diamati variabel
lain yang terkait dalam pelaksanaan proyek padat karya, yaitu :
keterlibatan dalam perencanaan proyek, kesesuaian dengan aspirasi,
kegotongroyongan / solidaritas sosial, pengetahuan dan sosialisasi proyek,
dan sumbangan peserta proyek Secara
keseluruhan dihasilkan nilai persentase dari masing-masing ukuran lain
tersebut, sebagai berikut :

Berdasarkan
hasil skoring program diperoleh nilai skor program kerja mandiri sebesar
68,34 dan skor program padat karya sebesar 20,38. Sesuai dengan prinsip
awal penanggulangan kemiskinan bersasaran, yaitu indikator yang merupakan
prioritas yaitu income indicator dan poverty reduction,
dapat dikatakan bahwa pelaksanaan program kerja mandiri lebih berhasil
dalam menanggulangi kemiskinan di wilayah sampel dibanding program padat
karya. Secara keseluruhan pelaksanaan program padat karya tidak dapat
digunakan sebagai alat untuk penanggulangan kemiskinan. Hasil penelitian
tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan dalam tingkat
pendapatan dan tingkat kemiskinan, Ini
karena lama waktu pelaksanaan program yang terlalu pendek dan orientasi
nilai masyarakat yang lebih mengedepankan solidaritas sosial, sehingga
nilai swadaya masyarakat juga besar, dan proyek dapat diselesaikan dengan
baik karena merupakan kebutuhan bersama anggota masyarakat.
Evaluasi dan Kesimpulan
Dalam
penelitian ini konsep manfaat program yang lebih dikedepankan adalah
manfaat yang diterima individu dari program penanggulangan kemiskinan. Di
Indonesia pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan selalu melibatkan
partisipasi masyarakat dengan pembentukan kelompok-kelompok. Hal ini
sesuai dengan misi pemberdayaan individu, kelompok dan masyarakat dan
sistem nilai yang berkembang di masyarakat, yaitu kebersamaan
(kolektivisme), solidaritas kelompok dan kegotongroyongan. Indikator yang
menunjukkan kemajuan dan prestasi kelompok dan masyarakat dalam kaitannya
dengan program penanggulangan kemiskinan perlu diperhatikan. Sejauh mana
kemajuan yang dirasakan kelompok dan masyarakat dapat dijadikan ukuran
pembanding dari manfaat yang diterima individu?. Kemajuan ini dapat dalam
bentuk pembangunan fisik, ekonomi, sosial, maupun budaya masyarakat lokal
Karena seringkali kepentingan masyarakat lebih diutamakan, seperti
halnya dalam program padat karya (pembangunan fasilitas umum), perlu
diperhatikan juga apakah kemajuan yang dirasakan kelompok dan masyarakat
sudah dirasakan juga oleh individu. Temuan dari penelitian juga
menunjukkan adanya sistem nilai masyarakat lokal yang terkait dalam
distribusi pinjaman. Pada umumnya karena kehidupan sosial ekonomi
masyarakat pedesaan cukup merata maka pinjaman dibagi secara merata dan
adil (dum-dil).
Dalam
penelitian proyek padat karya hanya
diamati manfaat yang diterima peserta program. Dalam kenyataannya hasil
proyek tersebut dirasakan oleh banyak warga masyarakat, sehingga perlu
diperhitungkan juga seberapa besar manfaat baik langsung maupun tidak
langsung dari proyek yang dibangun, termasuk juga biaya secara langsung
dan biaya tidak langsungnya. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan
evaluasi proyek secara lebih mendalam dengan memasukkan variabel terkait.
Sistem nilai sosial yang kondusif bagi pelaksanaan program padat karya
juga bisa dijadikan sebagai indikator keberhasilan program padat karya
dalam pembangunan masyarakat.
Kesimpulan Umum
Dari
hasil analisis data pelaksanaan program Inpres Desa tertinggal (IDT),
Program Pengembangan Kecamatan (PPK), dan Proyek Penanggulangan Kemiskinan
di Perkotaan (P2KP) yang termasuk sebagai Program Kerja Mandiri, serta
pelaksanaan proyek pembangunan saluran drainase dan pengerasan jalan yang
termasuk dalam Program Padat Karya, dihasilkan kesimpulan sebagai berikut
:
(1)
Pendapatan peserta Program Kerja Mandiri meningkat sebesar 32,33%
untuk rumahtangga atau 3,87% untuk individu penerima program. Sedangkan
pendapatan peserta Program Padat Karya menurun sebesar 2%. Jumlah peserta
program kerja mandiri yang miskin menurun sebesar 26,1%, sedangkan jumlah
peserta program padat karya yang miskin tetap (penurunan 0%). Nilai total
dari Program kerja Mandiri sebesar 68,34%, sedangkan nilai total Program
Padat Karya sebesar 20,38%.
(2)
Efisiensi penyaluran program dari Program kerja Mandiri lebih
tinggi dibanding efisiensi penyaluran program dari Program Padat Karya.
Tingkat efisiensi penyaluran program dari Program Kerja Mandiri adalah
sebesar 192,1%, sedangkan tingkat efisiensi penyaluran program dari
Program Padat Karya adalah sebesar 78,9%
(3)
Kelangsungan dana untuk pelaksanaan Program Kerja Mandiri lebih
tinggi dibanding kelangsungan dana untuk Program Padat Karya. Tingkat
kelangsungan dana Program Kerja Mandiri sebesar 88,4%, sedangkan
kelangsungan dana Program Padat Karya sebesar 54%.