Liputan Kegiatan
Jakarta, tgl. 4 Juli 2003 ---
EKONOMI
PANCASILA UNTUK MENEBUS DOSA-DOSA EKONOMI INDONESIA
(Catatan
Seminar Bulanan PUSTEP UGM)
Seminar bulanan kali ini mengangkat
topik yang sangat mendasar dengan berbagai pandangan dilontarkan. Prof.
Mubyarto mengatakan bahwa Ekonomi Pancasila bukan merupakan suatu impian
maupun wacana belaka, tetapi benar-benar merupakan kebutuhan yang mendesak
untuk “menyelamatkan” perekonomian Bangsa Indonesia. Krisis ekonomi
yang telah melanda bangsa ini selama lebih dari 5 tahun belum menunjukkan
tanda-tanda akan berakhir, karena para ekonom kita tidak mampu memberikan
pemecahan-pemecahan konkrit. Mereka menggunakan teori-teori ekonomi
liberal secara berlebihan yang tidak sesuai dengan kondisi dan
karakteristik perekonomian bangsa sendiri. Padahal di negara-negara barat
sendiri, ekonomi liberal semakin banyak digugat oleh tokoh-tokoh ekonomi
dunia. Para ekonom “arus utama” dan
pemerintah secara “membabibuta” terus melakukan privatisasi berbagai
BUMN, memanjakan para konglomerat dan eks konglomerat, dan investor asing.
Para ekonom seringkali melihat
perekonomian Indonesia hanya dari sudut pandang makro dengan menggunakan
perhitungan model matematia agar terlihat lebih canggih (sophisticated).
Kekeliruan-kekeliruan tersebut terjadi karena mereka sebenarnya “tidak
tahu” dan “tidak mau tahu” karakteristik khas kehidupan ekonomi
Indonesia. Jelaslah mengapa “keterpurukan” Bangsa Indonesia terus
berlanjut dan hanya berputar-putar dalam lingkaran yang sama. Drs.
Dumairy, MA mengemukakan bahwa dampak terburuk dari masalah ekonomi yang
berkepanjangan ini adalah rakyat kebanyakan yang harus menanggung akibat
dari “dosa-dosa” ini dan mengakibatkan timbulnya rasa saling tidak
percaya (distrust) antar elemen-elemen bangsa yang semakin meluas
sehingga menghambat perbaikan kehidupan bangsa dalam berbagai segi serta
menghambat kemajuan bangsa secara keseluruhan.
Prof. Mubyarto dan Prof. Sri-Edi
Swasono menegaskan bahwa yang diperlukan saat ini adalah kehidupan ekonomi
yang digerakkan oleh seluruh lapisan masyarakat, yang mencerminkan
karakter Bangsa Indonesia, yaitu Ekonomi Pancasila yaitu ekonomi pasar
yang mengacu pada ideologi Pancasila. Didalam sistem ekonomi Pancasila,
manusia Indonesia merupakan homo socius, homo ethicus,
sekaligus homo economicus. Jika dilihat dari sudut pandang mikro,
perekonomian Indonesia memiliki nilai
moral dan etika luhur yang dapat membentengi manusia dari nafsu serakah (greedy).
Namun yang banyak terjadi adalah bahwa moral dan etika tersebut telah
pudar dalam kehidupan perekonomian Indonesia dimana pasar lebih
mengagungkan kompetisi (winner vs loser) dan semangat keserakahan
individualisme dan bukan ekonomi kekeluargaan yang kooperatif (win-win).
Yang lebih menyedihkan lagi adalah yang kalah dalam pasar lebih banyak dan
hanya sebagai penonton setia dari perilaku pemenang. Keprihatinan juga
mencuat karena sistem kompetisi inilah yang selalu ditekankan dan
diajarkan disekolah-sekolah dan perguruan tinggi.
Mengapa Ekonomi Pancasila? Karena
sistem ekonomi ini menjamin tatanan ekonomi yang dapat memperkecil
kesenjangan (gap) yang sangat lebar di dalam masyarakat Indonesia.
Contoh nyata dari penerapan Ekonomi Pancasila sebenarnya sudah lama ada
dan masih bias ditemukan, yaitu kehidupan di pedesaan yang kooperatif
berdasarkan asas kekeluargaan. Mengingat pentingnya kembali kepada
karakteristik bangsa untuk memulihkan kembali perekonomian Indonesia dan
menjawab pertanyaan dari seorang mahasiswa Fakultas Hukum UGM, Prof.
Mubyarto menjelaskan bahwa Ekonomi Pancasila perlu dikaji secara
induktif-empirik dan deduktif-logis sebagai satu kesatuan yang menyeluruh
(holistik). Tujuannya adalah agar sistem Ekonomi Pancasila tidak
hanya sebagai teori dan konsep dalam buku teks saja tetapi juga berapa
penerapan yang relevan dengan realita kehidupan ekonomi Bangsa Indonesia.
Septi Yulianti Laela
-
Asisten Peneliti PUSTEP
UGM
|