(Puisi
ini ditulis acara Taufik Ismail, Alumni FKH-IPB, untuk
Temu Akbar Alumni IPB 200, Jakarta, 5 Juli 2003
)
Ketika menatap Indonesia di abad 21
ini
Tampaklah olehku ratusan ribu desa,
Jutaan hektar sawah, ladang,
perkebunan,
Peternakan, perikanan,
Di pedalaman, di pantai dan
lautan,
Terasa olehku denyut irigasi,
pergantian cuaca,
Kemarau dan banjir datang dan
pergi
Dan tanah airku yang
Digebrak krisis demi krisis,
seperti tak habis habis,
Terpincang-pincang dan
sempoyongan.
Berjuta wajahmu tampak olehku
Wahai saudaraku petani, dengan istri
dan anakmu,
Garis-garis wajahmu di abad 21
ini
Masih serupa dengan garis-garis
wajahmu abad yang lalu,
Garis-garis penderitaan
berkepanjangan,
Dan aku malu,
Aku malu kepadamu.
Aku malu kepadamu, wahai saudaraku
petani di pedesaan.
Hidup kami di kota disubsidi oleh
kalian petani.
Beras yang masuk ke perut kami
Harganya kalian subsidi
Sedangkan pakaian, rumah, dan
pendidikan anak kalian
Tak pernah kami orang kota
Kepada kalian petani, ganti
memberikan subsidi
Petani saudaraku
Aku terpaksa mengaku
Kalian selama ini kami jadikan
objek
Belum lagi jadi subjek
Berpulih-puluh tahun lamanya.
Aku malu.
Hasil cucuran keringat kalian
berbulan-bulan
Bulir-bulir indah, kuning
keemasan
Dipanen dengan hati-hati penuh
kesayangan
Dikumpulkan dan ke dalam karung
dimasukkan
Tetapi ketika sampai pada masalah
penjualan
Kami orang kota
Yang menentapkan harga
Aku malu mengatakan
Ini adalah suatu bentuk
penindasan
Dan aku tertegun menyaksikan
Gabah yang kalian bakar itu
Bau asapnya
Merebak ke seantero bangsa
Demikian siklus pengulangan dan
pengulangan
Hidup kami di kota disubsidi oleh
kalian petani
Karbohidrat yang setia kalian
sediakan
Harganya tak dapat kalian sendiri
menentukan
Sedangkan kami orang perkotaan
Bila kami memproduksi sesuatu
Dan bila tentang harga, ada yang
mencoba campur tangan
Kami orang kota akan berteriak
habis-habisan
Dan mengacungkan tinju, setinggi
awan
Kalian seperti bandul yang
diayun-ayunkan
Antara swasembada dan tidak
swasembada
Antara menghentikan impor beras
dengan mengimpor beras
Swasembada tidak swasembada
Menghentikan impor beras
mengimpor beras
Bandul yang bingung berayun-ayun
Bandul yang bingung
diayun-ayunkan
Petani saudaraku
Aku terpaksa mengaku
Kalian selama ini kami jadikan
objek
Belum jadi subjek
Berpuluh-puluh tahun lamanya
Aku malu
Didalam setiap pemilihan umum
dilangsungkan
Kepada kalian janji-janji
diumpankan
Tapi sekaligus ke arah kepala
kalian
Diacungkan pula tinju ancaman
Dulu oleh pemerintah, kini oleh
partai politik
Dan kalian hadapi ini
Antara kesabaran dan kemuakan
Menonton dari kejauhan
DPR yang turun, DPR yang naik
Presiden yang turun dan presiden
yang naik
Nasib yang beringsut sangat
lamban
Dan tak kudengar dari mulut
kalian
Sepatah katapun diucapkan
Saudaraku,
Ditengah krisis ini yang seperti
tak habis-habis
Di tengah azab demi azab menimpa
bangsa
Kami berdoa semoga yang selama
ini jadi objek
Dapatlah kiranya berubah menjadi
subjek
Jangka waktunya pastilah lama
Tapi semuanya kita pulangkan
Kepada Tuhan
Ya Tuhan
Tolonglah petani kami
Tolonglah bangsa kami
Amin.
Juli 2003