Liputan Kegiatan
Bogor, tgl. 26 Agustus 2003 ---
MENUJU
KEBANGKITAN CIVIL SOCIETY DI BIDANG PANGAN DAN PERTANIAN
Liputan
kegiatan : Sarasehan Asosiasi dan Organisasi Profesi, Pangan dan Pertanian
Bisakah rakyat memiliki tempat
terhormat di negeri ini, usai sekian lama sekedar diatasnamakan dan selalu
dipelintir ? Dapatkah rakyat
benar-benar sebagai subyek, menjadi penentu arah menuju kesejahteraan umum
? Mungkinkah vox populi vox Dei
(suara rakyat adalah suara Tuhan) termaterialkan dalam praksis ? Dan,
apakah pertanyaan-pertanyaan itu terlalu utopis, normatif, dan naïf,
sebab terlalu lama (dan terbiasa) kita mencecap getirnya sejarah yang
kontras berkebalikan dengan yang ideal.
Di Bogor, kerasnya karang sejarah
sedang dipahat. Embrio kebangkitan rakyat, dalam hal ini yang bergerak di
bidang pangan dan pertanian, sedang ditumbuhkan. Tanggal 26 Agustus 2003,
di kota hujan itu berkumpul berbagai asosiasi dan organisasi profesi di
bidang pangan dan pertanian. Pendeknya, para stakeholder
pangan dan pertanian (entah bidang peternakan, pertanian, perikanan,
holtikultura, pengolahan, perkebunan, kehutanan, dll) yang terdiri dari
berbagai unsur (swasta, pemerintah, akademisi, NGO, dll), mencoba
merumuskan dan mengkristalkan persoalan bersama.
Kalau selama ini berbagai
konferensi atau pertemuan diadakan untuk menuntut pemerintah memberikan
berbagai uluran tangan kepada masyarakat, pertemuan kali ini jauh dari itu.
Pertemuan ini merupakan kebersamaan yang berkemampuan tidak hanya
mengidentifikasi masalah, tetapi juga mencari cara mengatasinya. Memang
tidak semua masalah perlu diatasi, karena banyak yang banyak diatasi
sendiri oleh asosiasi maupun organisasi profesi. Pertemuan ini hanya
berkonsentrasi pada hal-hal yang ditingkat asosiasi dan organisasi tidak
bisa diatasi dan membutuhkan forum yang lebih luas.
Acara ini dibuka Rektor IPB Ahmad
Ansori Mattjik, dilanjutkan oleh Bambang Ismawan (Ketua SC), dan terasa
makin bersemangat terlebih ketika dalam sambutannya Siswono Yudho Husodo (Ketua
Umum HKTI) memaparkan situasi (terpuruknya) sektor pertanian Indonesia.
Lalu, difasilitasi Bayu Krisnamurthi (PSP IPB) dan Tony Kristianto (Agri
Business Club), sarasehan itu dibagi dalam komisi-komisi (holtikultura dan
tanaman pangan, perkebunan dan kehutanan, industri, holtikultura non
tanaman pangan, perikanan dan peternakan, serta organisasi).
Hasil dari komisi-komisi, lalu
dirangkai dan diplenokan SC kepada forum. Berbagai persoalan yang dihadapi
bersama, lalu dikedepankan antara lain : persoalan birokrasi, pajak,
peraturan, perpajakan, infrastruktur, standarisasi produk, permodalan,
informasi bisnis yang terbatas, marketing
intelligence, dll. Untuk mengatasi masalah bersama tersebut, dirasakan
bersama pentingnya penyelenggaraan Kongres Masyarakat Pangan dan Pertanian,
yang merupakan kelanjutan dari acara sarasehan.
Tentu saja, skala kegiatan
penyelenggaraan Kongres akan jauh lebih besar dari sarasehan yang pada
saat itu hadir sekitar 100 orang. Ditargetkan Kongres akan dihadiri 1.000
peserta yang berasal dari beragam kalangan, representasi stakeholder
pangan dan pertanian. Sarasehan tersebut, merupakan langkah awal yang
mencoba merumuskan berbagai masalah untuk dibawa ke Kongres. Memang
disadari, dalam memperjuangkan persoalan pangan dan pertanian diperlukan
adanya kebersamaan, sekaligus bargaining
position yang lebih besar.
Akhirnya setelah sekian lama
dipandang sebelah mata dan menjadi “tumbal” berbagai sektor lain,
meski merupakan sektor yang menghidupi dan dihidupi rakyat Indonesia, kini
pertanyaannya, benarkah kebangkitan civil
society dalam bidang pangan dan pertanian akan bisa terjadi ? Akankah
sektor yang digumuli mayoritas rakyat ini, mampu berkembang lebih baik
dalam situasi yang kondusif (enabling
environment), setelah selama ini terhambat ? Tampaknya,
pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab dalam penyelenggaraan Kongres
Masyarakat Pangan dan Pertanian yang diselenggarakan pada 15-16 Oktober
2003 mendatang.***
Setyo Budiantoro - Staf Ketua Bina Swadaya dan Direktur Kajian Ekonomi Centre for
Humanity and Civilization Studies (CHOICES)
|