[Artikel - Th. I - No.
2
-
April 2002]
Yulius Setiawan Bulo
KRISIS MONETER DAN KEMISKINAN DI SRIHARJO
ABSTRAKSI
Ketika Krisis
Moneter (Krismon) 1998-1998 terjadi maka secara statistik jumlah penduduk
Indonesia yang termiskinkan mengalami peningkatan. Angka kemiskinan
absolut dan relatif penduduk Indonesia meningkat. Tetapi yang perlu
dicatat adalah bahwa ternyata dampak krismon di perdesaan tidaklah separah
yang dirasakan di perkotaan Indonesia. Kenyataan di lapangan menunjukan
bahwa penduduk desa-desa yang disebut atau dikategorikan sebagai desa
miskin seperti dusun Mojohuto, desa Sriharjo, tidaklah begitu terpengaruh.
Setidaknya adalah bahwa mereka tidak mengalami shock sebesar yang dialami
oleh penduduk kaya dan miskin yang hidup di perkotaan.
Adanya
kemampuan untuk mengidupkan secara mandiri sektor perekonomian desa
Sriharjo secara swadaya merupakan bukti nyata peran kelompok-kelompok
lembaga keuangan mikro yang turut berperan sebagai mediator pengembangan
aktivitas perekonomian di pedesaan.
Keywords:
Krismon, LKM (lembaga keuangan mokro).
DUSUN
MOJOHURO, SRIHARJO
Menurut
pendataan penduduk terakhir yang dilakukan oleh aparat dusun Mojohuro,
desa Sriharjo, yaitu sampai dengan Oktober 2001, terdapat 194 KK dengan
jumlah warga 884 jiwa. Adapun kelompok pekerjaan atau mata pencaharian
mereka bisa dibagi menjadi beberapa kelompok utama, yaitu: tani atau buruh
tani, buruh bangunan, wiraswasta (toko kelontong), PNS, dan ada juga 23
orang yang menjadi TKI ke luar negeri. Adapun fasilitas pendidikan yang
terdapat di dusun Sriharjo adalah TK (2 buah), SD (3 buah), SMP di dusun
Jati, dan SMU di Imogiri. Selain diuntungkan karena lokasi dusun Mojohuro
yang terletak di pusat desa, kemajuan dusun ini juga karena beberapa
keuntungan misalnya adanya pasar desa, fasilitas kesehatan desa Sriharjo,
dan saluran utama pengairan irigasi teknis untuk desa Sriharjo.
Untuk
pembangunan dusun, desa Sriharjo mengalokasikan anggaran pembangunan untuk
dusun Mojohuro (setara dengan dusun lainnya) sebesar Rp.250.000,00 per
tahun untuk memancing swadaya masyarakat setempat. Uniknya, dengan
anggaran tersebut, secara swadana masyarakat dusun Mojohuro bisa membangun
jalan kampung, dan memenuhi kebutuhan dusunnya selama setahun. Menurut
observasi dan tanya jawab yang dilakukan terhadap salah satu warga yaitu
Mbah Wiryo Rejo, beliau mengatakan bahwa sebenarnya kalau dikatakan
pendapatan rata-rata warga tidak mencukupi untuk membayar kewajiban
kampung selain kebutuhan pribadi sih, memang iya. Tetapi pada prinsipnya,
warga masih mampu dan mau mengusahakan dana untuk memenuhi kebutuhannya
dengan berbagai macam cara, bahkan juga kebutuhan desa. Walaupun jika
dibuat perhitungan normal, sepertinya mustahil penduduk yang tidak
memiliki pendapatan tetap tersebut bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya
sekaligus juga kewajiban pada kampung.
Sekedar
perhitungan analogi yang diberikan oleh aparat desa, yaitu Bapak Samun
Kaur Pemerintahan desa Sriharjo yang menjabat sebagai PJS Kepala Dusun
Mojohuro. Warga yang bekerja sebagai tukang bangunan mendapatkan
penghasilan Rp.66.000,00 per minggu atau sekitar Rp. 264.000,00 per bulan
adalah cukup untuk menghidupi satu KK yang terdiri dari 5 jiwa. Pendapatan
sebesar itu termasuk kelompok menengah dalam penghasilan bagi warga
Mojohuro. Untuk penduduk yang bekerja sebagai buruh tani tentunya lebih
kecil lagi. Sedangkan yang digolongkan sebagai petani (pemilik sawah),
sebenarnya sebagian besar tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai
petani karena luas lahan yang sangat minim. Namun buktinya adalah bahwa
penduduk dusun Mojohuro berhasil survive pada periode krisis
moneter yang lalu, bahkan mereka mengatakan seolah-olah tidak terasa
dampaknya bagi kehidupan mereka. Mbah Wiryo Rejo mengungkapkan bahwa
kondisi krisis moneter atau bukan adalah sama saja. Hanya yang membedakan
adalah ketika sebelum krisis jumlah uang rata-rata yang dimiliki warga
sedikit, tetapi harga-harga barang kebutuhan rendah, sedangkan setelah
terjadi krisis jumlah uang yang dipegang bertambah, namun harga-harga
meningkat seiring dengan pertambahan tersebut. Sungguh merupakan
pernyataan yang mengejutkan karena tidak seperti bayangan awal peneliti
bahwa warga dusun Mojohuro sangat terpuruk karena krisis moneter atau
ekonomi ini.
LEMBAGA
KEUANGAN MIKRO
Desa
Sriharjo yang hampir 90% lahannya diusahakan sebagai sawah dan ladang
dengan perbandingan 45% sawah ditanami padi dan 45% ladang ditanami
palawija, atau ketela, mengalami kemajuan dalam pemberdayaan pertanian dan
kegiatan perekonomiannya berkat adanya kelompok-kelompok keuangan mikro
yang beroperasi. Masri Singarimbun dan David H. Penny (1989) melakukan
penelitian di desa Sriharjo dan obyek utamanya adalah dusun Miri.
Penelitian itu bisa digunakan sebagai pembanding dalam melihat bagaimana
penduduk desa menanggulangi kemiskinan mereka. Dalam penelitian tersebut
dikatakan bahwa terlihat adanya hubungan yang positif antara pasarisasi
dengan peningkatan taraf hidup penduduk Sriharjo.
Pada
tahun 1993 oleh pemerintah pusat, Desa Sriharjo tidak dinyatakan sebagai
desa miskin, justru desa tetangga, yaitu desa Selo Pamioro-lah yang
termasuk dalam kategori desa miskin dan memperoleh dana Inpres Desa
Tertinggal (IDT). Padahal menurut evaluasi BKKBN 40% penduduk desa
Sriharjo masih miskin. Pernyataan ini diutarakan oleh Bapak Ashari, Kaur
Kesra desa Sriharjo. Dari pernyataan itu, kami menangkap kesan bahwa
pengelompokan miskin dan tidak miskin itu sesungguhnya cukup bias atau
bisa dikatakan “terlalu longgar”. Hal ini terbukti bahwa sejak tahun
1973 walaupun desa Sriharjo di beri predikat miskin, namun tidak
mendapatkan dana IDT dari pemerintah pusat, dan mampu bertahan bahkan pada
bulan Nopember 2001 saat pengamatan lapangan kondisi rata-rata desa
Sriharjo lebih baik dibandingkan dengan kesejahteraan rata-rata desa Selo
Pamioro yang menjadi patokan kita.
Di
desa Sriharjo terdapat beberapa kelompok tani, kelompok arisan, koperasi,
dan juga kelompok-kelompok keuangan mikro yang menjadi lembaga keuangan
intemal yang menghidupkan perekonomian dan aktivitas perputaran uang di
desa Sriharjo. Pada tahun 1988 Yayasan AgroEkonomika, yang diketuai Prof.
Mubyarto, setelah mempelajari dan
memperbandingkan kondisi kemajuan desa itu sejak tahun 1975 hingga tahun
1988, memberikan dana grant / hibah sebesar Rp. 20 juta untuk
kemudian dikelola seperti dana IDT untuk modal kerja dan untuk dipinjamkan
kepada anggota yang miskin sebagai modal kegiatan yang memberi nilai
tambah ekonomis bagi warga desa tersebut. Penyalurannya melalui kelompok
Pokmas kepada anggota dalam bentuk pinjaman lunak dengan bunga 2% per
bulannya. Kelompok ini cukup efektif meningkatkan kehidupan ekonomi
penduduknya. Ibu Sri, yang diperkenalkan oleh aparat desa setempat
berhasil mengembangkan dana yang dipinjamnya Rp. 1 juta rupiah, menjadi
Rp. 6 juta rupiah. Suatu prestasi yang luar biasa di masa krisis seperti
ini.
Di
desa Sriharjo juga terdapat sebuah koperasi, yaitu Koperasi Lestari yang
kini telah memiliki aset bergerak (modal) senilai Rp. 24 juta dan bergerak
di bidang simpan pinjam dan pengadaan barang bagi warga desa Sriharjo.
Penduduk yang menggunakan jasa koperasi ini berasal dari dusun-dusun yang
terletak di sekitaran pusat desa, termasuk dusun Mojohuro. Selain koperasi
tersebut, lembaga keuangan mikro yang mendukung kehidupan warga desa
tersebut adalah kelompok-kelompok arisan Dasawisma yang lebih dekat secara
emosional dan langsung kepada rakyat. Kelompok ini bekerja dengan sistem
pinjaman variatif yang menentukan bunga 10% per pinjaman. Jadi pada
awalnya seorang warga yang mengajukan permohonan pinjaman dinilai
kelayakannya oleh pengurus dasawisma yang bersangkutan, kemudian diproses
pinjamannya, dan warga tersebut berkewajiban mengangsur pinjamannya
sebesar 10% dari pinjamannya sebanyak 11 kali, sehingga lama kelamaan uang
berputar semakin besar. Semenjak sistem ini diterapkan, menurut laporan
warga dusun Mojohuro, yaitu Mbah Wiryo Rejo yang menjadi responden kami,
tidak terdapat lagi praktik rentenir dan ijon yang dilakukan atau
dipergunakan oleh masyarakat.
Sebenarnya
ada juga beberapa bank seperti misalnya BRI dan BPD yang terletak di pusat
kota kecamatan Imogiri, namun warga setempat enggan memanfaatkan jasa
lembaga keuangan makro tersebut karena prosedur yang rumit, kebutuhan
pinjaman yang relatif kecil, atau juga karena warga lebih menyukai lembaga
keuangan mikro karena kedekatan secara emosional.
KESEJAHTERAAN
Dapat
dikatakan bahwa sesudah tahun 1975 perubahan-perubahan dalam hal
kesejahteraan desa Sriharjo berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan
periode sebelumnya, dan ini berkaitan dengan kemajuan ekonomi dan
perbaikan prasarana di Indonesia pada umumnya (M Singarimbun,1989). Dalam
hal kemajuan ekonomi yang dialami oleh penduduk miskin diyakini bahwa
terdapat banyak kemajuan yang berarti. Beberapa diantaranya adalah
kebiasaan makan gaplek atau tiwul di musim paceklik telah
berganti menjadi nasi sebagai makanan pokok. Indikator lain adalah bahwa
mobilitas penduduk desa Sriharjo sudah lebih tinggi. Jika dulu para tenaga
penganggur di Sriharjo lebih suka bekerja sebagai buruh tani, kini, berkat
kemajuan pembangunan, banyak penduduk lebih suka merantau keluar desa
bekerja sebagai tukang bangunan, tukang kayu di industri mebel, atau
sebagai TKI ke Malaysia dan beberapa negara lainnya (tercatat 23 orang s/d
bulan November 2001). Selain itu yang perlu dicatat adalah bahwa untuk
dusun Mojohuro sendiri terdapat sekitar 56 orang adalah pegawai negeri
sipil. Hal ini mempengaruhi perhitungan tingkat kesejahteraan rata-rata
penduduk dusun Mojohuro. Untuk itu maka kami mengacu pada hasil wawancara
langsung dengan scorang responden warga dusun Mojohuro, Sriharjo, yaitu
Mbah Wiryo Rejo.
Mbah
Wiryo Rejo berusia sekitar 60 tahun memiliki anggota keluarga sebanyak 6
jiwa. Pekerjaan utamanya adalah buruh tani. Dengan perkiraan pengeluaran
rata-rata sebesar Rp.10.000,00 sahari, Mbah Wiryo hanya memperoleh
pendapatan rata-rata Rp.6.000,00 perhari, itupun jika ia mendapatkan panggilan
untuk bekerja sebagai buruh tani. Jika dilihat sepintas dari kebutuhan itu
tidaklah terpenuhi secara cukup. Namun, yang cukup mengagumkan adalah
bahwa keluarga Mbah Wiryo bisa bertahan hingga saat ini dan juga di masa
krisis tidak mengalami kemunduran. Dari informasi yang diperoleh, terdapat
temuan yang menarik yaitu bahwa selain menjadi buruh tani Mbah Wiryo Rejo
juga memelihara ayam dan bebek yang dibiarkan tumbuh secara liar tanpa
perawatan. Ayam tersebut dibiarkan bertengger di pohon-pohon di
pekarangannya. Selain itu juga Mbah Wiryo memelihara kambing tetangganya
sejumlah tiga ekor dengan sistem bagi anakan, jika kambing beranak,
maka saparo akan menjadi milik dari Mbah Wiryo Rejo.
Hal
yang penting dari praktek ini adalah adanya motif berjaga-jaga menghadapi
situasi tidak menentu karena pendapatan dan pengeluaran yang serba tidak
pasti. Ketika sehat dan mampu bekerja borongan, Mbah Wiryo menyediakan
cadangan simpanan untuk pengeluaran sewaktu-waktu, sedangkan untuk belanja
sehari-hari, Mbah Wiryo hanya berbelanja lauk dan bahan bakar saja. Untuk
sayurnya, ia memanfaatkan lingkungan pekarangan secara maksimal, misalnya
daun singkong, daun simbukan, dan sebagainya. Selain itu saat-saat
ia harus memenuhi kebutuhan mendadak yang cukup besar, maka ia menjual
ayam atau bebek ke pasar. Inilah kunci kemampuan bertahan rata-rata
penduduk desa Sriharjo. Bahkan seperti yang dikemukakan diatas, ia juga
menyatakan tidak ada perbedaan yang mencolok antara periode sebelum
terjadinya krismon dengan saat ini. Baginya selama ini sebagai penduduk
dusun Mojohuro-Sriharjo, dirinya hidup nrimo dan mau berusaha serta
menyesuaikan pola belanja dengan pendapatannya yang selalu pas-pasan.
Perihal menabung, karena pola masyarakatnya cenderung bersifat semi
subsisten, kebutuhan untuk menabung dalam bentuk tunai tidaklah
mendesak. Mereka mengalihkan pola menabung atau berjaga-jaga dalam bentuk
ternak atau bentuk lainnya. Selain itu keberadaan lembaga keuangan mikro
seperti kelompok arisan dasawisma sangat membantu mengatasi kebutuhan yang
mendesak.
KESIMPULAN
Yang
bisa disimpulkan dari pengamatan fenomena kemiskinan yang selama krisis
moneter yang dimulai 1997 di dusun Mojohuro - Sriharjo, adalah sebagai
berikut:
1.
Perihal definisi miskin untuk menilai masyarakat desa Mojohuro - Sriharjo
masih terlalu kasar. Jika yang dimaksud miskin mengacu pada pemenuhan
standar kebutuhan hidup normal dan layak --yaitu kondisi pemenuhan
kebutuhan primer, sekunder, dan tertier -- maka penduduk desa Sriharjo
masih bisa dikategorikan miskin.
2.
Dampak krisis moneter beberapa waktu lalu memang terasa hingga di desa
Mojohuro - Sriharjo, namun tidaklah separah yang dirasakan masyarakat
perkotaan. Dampak krismon terasa sekali dalam hal tingkat inflasi. Namun
hal tersebut tidak begitu menjadi masalah karena sebenarnya perekonomian
perdesaan tidak secara langsung terkait dengan luar negeri. Analoginya
adalah jika sebelum krismon pendapatan perhari rata-rata adalah Rp
3.000,00 dan habis dibelikan beras dan gula masing-masing 1 kilo, maka
pada periode krismon pendapatan perhari rata-rata mengalami peningkatan
menjadi Rp 7.000,00 dan jumlah tersebut juga habis untuk jenis konsumsi
yang jumlalmya sama dengan periode sebelurn krismon
3.
Kecenderungan pola ekonomi pedesaan adalah semi subsisten, dan hal
ini merupakan kekuatan bagi masyarakat perdesaan dalam bertahan di saat
krisis moneter.
Yusuf Setiawan Bulo : Mahasiswa Jurusan
Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Angkatan 1998, Peserta
Kuliah Ekonomi Indonesia yang diasuh Prof. Dr. Mubyarto
PUSTAKA
Arsyad, Lincohn., Memahami Masalah Kemiskinan di Indonesia:
Suatu Pengantar, Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Indonesia, No. 1 Tahun
VII, 1992, p.95-116.
Bank Indonesia, Kajian Ekonomi Regional DIY, Triwulan
H, 2001,
Mubyarto, Membangun Sistem Ekonomi, BPFE Yogyakarta,
2000.
Mubyarto, Prospek Otonomi Daerah dan Perekonomian
Indonesia Pasca Krisis Ekonomi, BPFE Yogyakarta, 2001.
Singarimbun, Masri., Perubahan-Perubahan Sosial-Ekonoini di
Miri Sriharjo, Kemiskinan Peranan Sistem Pasar, David H. Penny, Ul
Press, 1990.
>>
Tulis komentar anda.....