
|
Th. II - No. 8 - Nopember 2003
Semangat Sumpah Pemuda, Menggugat
Budaya Neoliberal
Oleh: Mubyarto
--- Ketika bangsa Indonesia
memperingati 80 tahun BO, dan 60 tahun SP (Sumpah
Pemuda) tahun 1988,
banyak tulisan yang bernada “puas” dan “optimistik” tentang
hasil-
hasil pembangunan yang telah dicapai selama 4 Repelita (1969-1989)
yang telah mampu
membawa pembangunan Indonesia sampai tahap
tinggal
landas. Namun,
"Kunci
maknanya
terletak pada naik mengangkasa dengan kekuatan sendiri....
"
Mengembangkan Ekonomi Rakyat
sebagai Landasan Ekonomi Pancasila
Oleh: Mubyarto
--- Pierre Van der Eng, seorang sejarawan Belanda menulis tentang strata ekonomi
penduduk di jaman penjajahan. Pada tahun 1930, dua tahun setelah Sumpah
Pemuda,
51,1 juta
penduduk pribumi (Indonesia) yang merupakan 97,4% dari seluruh penduduk yang
berjumlah 60,7 juta hanya menerima 3,6 juta gulden (0,54%) dari
pendapatan “nasional”
Hindia Belanda, penduduk Asia lain yang
berjumlah 1,3 juta (2,2%) menerima 0,4 juta
gulden (0,06%) sedangkan
241.000 orang Eropa (kebanyakan Belanda) menerima 665 juta
gulden (99,4%)...
Kegagalan Perundingan Pertanian
WTO di Cancun: Peluang atau Ancanan buat
Ekonomi Rakyat?
Oleh: M. Hussein Sawit
--- Pada
tanggal 10-14 September 2003 di Cancun Mexico telah diadakan Konferensi
Tingkat Menteri (KTM) V WTO. Salah satu isu terpenting yang dibahas adalah
aspek
pertanian, sektor penting Indonesia dan sejumlah besar negara
berkembang (NB) lain di
dunia. Pertemuan itu ternyata gagal,
karena negara berkembang bersatu dan tidak
berhasil dipecah
belahkan oleh negara maju (NM). Ini jauh berbeda dengan KTM ke IV di
Doha,
dimana NM dapat memaksakan kehendak, dengan menciptakan berbagai tipu
muslihat.
RUU Lembaga Keuangan Mikro, Jangan
Jauhkan Lembaga Keuangan dari
Masyarakat
Oleh: Setyo Budiantoro
--- Keuangan mikro merupakan hal yang
sangat strategis bagi pengembangan ekonomi
rakyat. Sekitar 39 juta usaha mikro, artinya 98% dari seluruh entitas usaha di Indonesia,
masih menunggu
akses keuangan mikro (Tambunan, 2002). Anggaplah bila kebutuhan
kredit
usaha mikro berkisar Rp 1 juta, maka kebutuhan dana bagi keuangan mikro
sebesar Rp 39 trilyun. Tentu, sebuah jumlah yang tidak
kecil.
Perhatian terhadap Kondisi
Persekolahan di Daerah Terpencil: Bukan Sekedar
Reformasi, Harus Revolusi
Oleh: Mubyarto
--- Rusnawati (47 tahun) yang guru SD Kampung Sambung,
Kecamatan Bentian Besar,
Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur,
bertahun-tahun berjuang “sendirian”, dan kini
bertanggungjawab atas
pendidikan 25 anak yang terbagi atas 6 kelas yaitu kelas I: 8
murid, kelas
II: 3 murid, kelas III: 3 murid, kelas IV: 1 murid, kelas V: 2 murid, dan
kelas
VI: 8 murid, sehingga total 25 murid.
Distribusi Spasial UKM di Masa
Krisis Ekonomi
Oleh: Aloysius Gunadi Brata
--- Usaha
kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dari
perekonomian suatu negara ataupun daerah,
tidak terkecuali di Indonesia.
Sebagai
gambaran, kendati sumbangannya
dalam output nasional (PDRB) hanya 56,7 persen dan
dalam ekspor nonmigas
hanya 15 persen, namun UKM memberi kontribusi sekitar 99
persen dalam jumlah badan usaha di
Indonesia serta mempunyai andil 99,6 persen
dalam
penyerapan tenaga kerja (Kompas,
14/12/2001). Namun, dalam kenyataannya selama ini
UKM kurang
mendapatkan perhatian.
Menanggulangi Kemiskinan di Kota
Cilegon
Oleh: Mubyarto
--- Jika PDRB per kapita Kota Cilegon tahun 2001 mencapai
Rp 25,5 juta yang tumbuh
rata-rata 13,5% per tahun selama 1999-2001,
kiranya sukar dimengerti jika masih ada
penduduk yang hidup miskin. Jika
garis kemiskinan Kota Cilegon adalah kira-kira Rp
150.000 per bulan, maka
PDRB per kapita Rp 2,13 per bulan jelas sekali lebih tinggi
dibanding
garis kemiskinan.
Kinerja Pendapatan Ekonomi Rakyat
dan Produktifitas Tenaga Kerja di Provinsi
Nusa Tenggara Timur
Oleh: Vincent Gaspersz dan
Esthon Foenay
--- Strategi pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) dilakukan berdasarkan
pertumbuhan melalui pemerataan dengan prinsip membangun dari apa yang
dimiliki rakyat
dan apa yang ada pada rakyat, dengan titik berat
pembangunan yang berlandaskan pada
pembangunan ekonomi rakyat, pendidikan
rakyat, dan kesehatan rakyat. Strategi
pembangunan yang menjadi pilihan tersebut memerlukan
langkah-langkah operasional
yang terukur dan disesuaikan dengan paradigma
baru pembangunan.
|