[Artikel - Th. II - No.
8 - Nopember
2003]
Aloysius Gunadi Brata
DISTRIBUSI
SPASIAL UKM DI MASA KRISIS EKONOMI
PENDAHULUAN
Usaha
kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dari
perekonomian suatu negara ataupun daerah, tidak terkecuali di Indonesia.
Sebagai gambaran, kendati sumbangannya
dalam output nasional (PDRB) hanya 56,7 persen dan
dalam ekspor nonmigas
hanya 15 persen, namun UKM memberi kontribusi sekitar 99 persen dalam
jumlah badan usaha di Indonesia serta mempunyai andil 99,6 persen
dalam penyerapan tenaga kerja (Kompas, 14/12/2001). Namun,
dalam kenyataannya selama ini UKM kurang
mendapatkan perhatian. Dapat dikatakan bahwa kesadaran akan pentingnya UKM
dapat dikatakan barulah muncul belakangan ini saja.
Setidaknya
terdapat tiga alasan yang mendasari negara berkembang belakangan ini
memandang penting keberadaan
UKM (Berry, dkk, 2001).
Alasan pertama adalah karena kinerja UKM cenderung lebih
baik dalam hal menghasilkan tenaga kerja yang produktif. Kedua,
sebagai bagian dari dinamikanya, UKM sering mencapai peningkatan
produktivitasnya melalui investasi dan perubahan teknologi. Ketiga adalah
karena sering diyakini bahwa UKM memiliki keunggulan dalam hal
fleksibilitas ketimbang usaha besar.
Kuncoro (2000a) juga menyebutkan bahwa usaha kecil dan usaha rumah
tangga di Indonesia telah memainkan peran penting dalam menyerap tenaga
kerja, meningkatkan jumlah unit usaha dan mendukung pendapatan rumah
tangga.
Alasan
yang ketiga yang dikemukakan Berry dkk di atas
sangat relevan dalam
konteks Indonesia yang tengah mengalami krisis ekonomi. Aspek
fleksibilitas tersebut
menarik pula dihubungkan dengan hasil
studi Akatiga berdasarkan survei di Jawa Barat, Jawa Tengah,
Yogyakarta, Sulawesi Utara dan Sumatra Utara. Temuan
Akatiga tersebut seperti dikutip Berry dkk (2001) adalah
bahwa usaha kecil di Jawa lebih menderita akibat krisis daripada luar Jawa,
begitu pula yang di perkotaan
bila dibandingkan dengan yang di pedesaan.
Sementara itu, berdasarkan data PDRB,
krisis ekonomi telah menyebabkan propinsi-propinsi di Jawa
mengalami kontraksi ekonomi yang lebih besar ketimbang
daerah-daerah lain di Indonesia (lihat gambar berikut).
Lima propinsi di Jawa seluruhnya adalah lima besar propinsi di
Indonesia yang mengalami kemorosotan ekonomi terparah. Pada tahun 1998,
saat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi terparah,
hanya Papua saja yang
pertumbuhan ekonominya masih positif sedangkan propinsi-propinsi lainnya
mengalami kontraksi. Pada
tahun tersebut, seluruh
propinsi di pulau Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang jauh lebih parah
daripada propinsi-propinsi lainnya (lihat juga Akita dan Alisjahbana,
2002).

Demikianlah,
selain ekonominya mengalami
kontraksi terparah, usaha kecil di propinsi-propinsi di pulau Jawa juga
lebih menderita akibat krisis ekonomi.
Sementara itu, menurut
hasil analisis Watterberg, dkk (1999),
dampak sosial dari krisis ekonomi
amat terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan di Jawa, serta
sejumlah propinsi di Indonesia bagian Timur.
Dengan kata lain, terdapat indikasi adanya dimensi spasial dari
krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997.
Dalam
konteks UKM, salah satu pertanyaan yang menarik untuk dimunculkan adalah
apakah krisis ekonomi betul-betul membawa pengaruh pada dinamika spasial
UKM? Tulisan ini hanya mengamati salah satu aspek
saja dari dinamika spasial UKM, yakni distribusi spasialnya.
Dapat dikemukakan bahwa selama ini sejumlah studi sudah dilakukan
untuk mengamati distribusi
spasial industri manufaktur, khususnya yang berskala besar dan
menengah, misalnya Azis
(1994), Hill (1996), Kuncoro (2000a), Sjöberg
dan Sjöholm (2002). Namun, pengamatan serupa terhadap UKM tampaknya masih belum banyak dilakukan (Kuncoro, 2000b).
BERTAHAN
DENGAN UKM
Krisis
ekonomi, apalagi yang sangat parah, tentu telah menyulitkan masyarakat
dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam hal ini bukanlah hal yang
mengejutkan kalau
pengangguran, hilangnya penghasilan
serta kesulitan memenuhi kebutuhan pokok merupakan persoalan-persoalan
sosial yang sangat dirasakan masyarakat sebagai akibat dari krisis ekonomi.
Hasil survei yang
dilakukan Bank Dunia bekerjasama dengan Ford Foundation dan Badan Pusat
Statistik (September-Oktober 1998) menegaskan bahwa
ketiga persoalan itu oleh
masyarakat ditempatkan sebagai persoalan prioritas atau
harus segera mendapatkan penyelesaian (Watterberg dkk, 1999).
Dengan kata lain, ketiga hal itu merupakan persoalan sangat pelik
yang dihadapi masyarakat pada umumnya.
Kondisi ketenagakerjaan
pada masa krisis kiranya dapat memberikan gambaran dampak sosial
dari krisis ekonomi (Tabel 1).Tingkat
pengangguran mengalami kenaikan dari 4,9 persen pada tahun 1996 menjadi
6,1 persen pada tahun 2000. Krisis ekonomi juga telah membalikkan tren
formalisasi ekonomi sebagaimana tampak dari berkurangnya pangsa pekerja
sektor formal menjadi 35,1. Dengan
kata lain, peran sektor informal menjadi terasa penting dalam periode
krisis ekonomi. Sektor informal sendiri merupakan sektor dimana sebagian
besar tenaga kerja Indonesia berada.

Sementara itu, belakangan
ini banyak diungkapkan bahwa UKM memiliki peran penting bagi masyarakat di
tengah krisis ekonomi. Dengan
memupuk UKM diyakini pula akan dapat dicapai pemulihan ekonomi (Kompas.
14/12/2001).Hal serupa juga
berlaku bagi sektor informal. Usaha kecil sendiri pada dasarnya
sebagian besar bersifat informal dan karena itu relatif mudah untuk dimasuki
oleh pelaku-pelaku usaha yang baru. Pendapat
mengenai peran UKM atau sektor informal tersebut ada benarnya setidaknya
bila dikaitkan dengan perannya dalam
meminimalkan dampak sosial
dari krisis ekonomi khususnya persoalan
pengangguran dan hilangnya penghasilan masyarakat.
UKM boleh dikatakan
merupakan salah satu solusi masyarakat untuk tetap bertahan dalam
menghadapi krisis yakni dengan melibatkan diri dalam aktivitas usaha kecil
terutama yang berkarakteristik informal.
Dengan hal ini maka persoalan pengangguran sedikit banyak dapat
tertolong dan implikasinya adalah juga dalam hal pendapatan.
Bagaimana dengan anjloknya pendapatan masyarakat yang tentu saja
mengurangi daya beli masyarakat terhadap produk-produk yang sebelumnya
banyak disuplai oleh usaha berskala besar? Bukan tidak
mungkin produk-produk UKM
justru menjadi substitusi bagi produk-produk usaha besar yang mengalami
kebangkrutan atau setidaknya masa-masa sulit akibat krisis ekonomi. Jika
demikian halnya maka kecenderungan tersebut
sekaligus juga merupakan respon terhadap merosotnya daya beli
masyarakat.

Gambar
di atas—disusun berdasarkan Hasil Survei Usaha Terintegrasi yang
dilakukan BPS—kiranya dapat berguna untuk memberikan gambaran bagaimana
peranan UKM bagi masyarakat di masa krisis.
Survei tersebut terbatas hanya pada UKM
yang tidak berbadan hukum sehingga hasilnya dapat juga
merefleksikan sektor informal. Seluruh sektor ekonomi dicakup oleh survei
tersebut, kecuali sektor pertanian. Oleh karena tidak mencakup sektor
pertanian, maka hasil survei tersebut
akan lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian
sebagian besar berada di wilayah pedesaan. Hal ini menjadi penting
karena Watterberg dkk
(1999) juga menyimpulkan bahwa dampak sosial dari krisis ekonomi lebih
terkonsentrasi di wilayah perkotaan.
Data UKM tersebut bersumber dari publikasi BPS berjudul
Profil Usaha Kecil dan Menengah Tidak Berbadan Hukum Indonesia
tahun 1998 dan tahun 2000.Hasil survei tersebut hanya
mencakup
UKM non-pertanian yang tidak berbadan hukum sehingga secara
konseptual hasil survei tersebut
juga merefleksikan sektor informal kendati secara terbatas (www.bps.go.id).
Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian, maka data yang ada di sini
barangkali pula
lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian
sebagian besar berada di wilayah pedesaan. Perlu ditambahkan bahwa pada
tahun 1997 tidak ada survei.
Selain itu, untuk tahun 1999 dan 2000 tidak ada data untuk Propinsi
Maluku. Selanjutnya,
yang dimaksud dengan UKM dalam tulisan ini adalah sebagaimana definisi UKM
tersebut.
Secara umum, hasil survei
BPS di atas menunjukkan beberapa kecenderungan menarik. Dari gambar 1
tampak bahwa jumlah unit usaha UKM cenderung berkurang. Jumlah unit usaha
pada tahun 2000 masih tetap lebih sedikit dibandingkan sebelum krisis
ekonomi. Hal yang sama juga
terjadi pada jumlah tenaga kerja. Hanya saja, penurunan jumlah tenaga
kerja tidaklah setajam penurunan jumlah unit usaha.
Oleh karena itu, tenaga kerja yang diserap oleh masing-masing unit
usaha secara rata-rata justru mengalami kenaikan. Hal ini merupakan salah
satu indikasi bahwa UKM sebetulnya juga
mempunyai keunggulan dalam menyerap tenaga kerja di masa krisis
ekonomi. Krisis ekonomi rupanya telah mempertinggi kemampuan masing-masing
UKM untuk menyerap tenaga kerja. Dengan
kata lain, sektor tersebut
telah turut berperan dalam mengatasi persoalan pengangguran yang
diakibatkan oleh krisis ekonomi.
Data-data tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa UKM memiliki kemampuan
untuk menjadi pilar penting bagi perekonomian masyarakat dalam menghadapi
terpaan krisis ekonomi. Hal ini tidak lepas dari kemampuan UKM untuk merespon krisis ekonomi secara cepat dan
fleksibel dibandingkan
kemampuan usaha besar (Berry dkk, 2001). Namun demikian, ada pendapat
bahwa sektor informal tidaklah memberikan perbaikan secara berarti
terhadap taraf hidup para pekerjanya. Hidup di sektor informal hanyalah
hidup secara subsisten (Basri, 2002).
DISTRIBUSI SPASIAL UKM
Pertanyaan awal yang perlu diperjelas di sini adalah apa indikator UKM
yang digunakan. UKM pada dasarnya adalah aktivitas ekonomi sementara
aktivitas ekonomi sendiri secara umum dapat diindikasikan oleh
tenaga kerja maupun nilai tambahnya (Sjöberg
dan Sjöholm, 2002). Dalam tulisan ini, indikator yang akan digunakan
adalah tenaga kerja UKM disertai jumlah unit usahanya sebagai pelengkap.
Dalam konteks industri manufaktur, penggunaan tenaga kerja dan nilai
tambah secara bersama-sama sebagai indikator
aktivitas ekonomi dapat
mencegah terjadi kesimpulan yang bias oleh karena perbedaan distribusi
spasial dari industri-industri yang berbeda dimana ada yang bersifat padat
tenaga kerja dan ada yang padat modal (Sjöberg
dan Sjöholm, 2002). Namun dalam konteks UKM, bias itu mungkin tidak
terlalu besar mengingat sebagian besar lebih mengandalkan tenaga kerja,
termasuk yang tidak dibayar (lihat, Kuncoro, 2000a).
Seperti juga industri manufaktur besar dan menengah, distribusi spasial
UKM dalam kurun waktu 1996-2000 juga terpusat di Pulau Jawa.
Pada tahun 1996, sekitar 66
persen UKM Indonesia berada di Jawa (Tabel 2).Sejak terjadi krisis
ekonomi, UKM justru makin memusat di Jawa, yakni menjadi sekitar 68 persen
dari seluruh unit usaha UKM yang ada di Indonesia.
Dari lima propinsi di Jawa, hanya DKI Jakarta saja yang cenderung
mengalami penurunan andil, sedangkan Jawa Tengah mengalami peningkatan
secara sinambung. Selain propinsi-propinsi Jawa, hanya Sumatera Utara dan Sulawesi
Selatan saja yang andilnya dalam jumlah UKM cukup tinggi.
Selain dari jumlah unit usaha, distribusi spasial tersebut tentu perlu
pula dilihat dari sisi tenaga kerja. Tabel 2 juga menunjukkan bahwa
krisis ekonomi mulanya menurunkan pangsa pulau Jawa, namun mulai
tahun 1998 pangsa Jawa kembali meningkat sampai menjadi 66 persen pada
tahun 2000. Sedangkan Sumatera justru sebaliknya, yakni meningkat pada
tahun 1998 namun kemudian terus menurun sampai menjadi kurang dari 16
persen pada tahun 2000.

Untuk
mendapatkan kesimpulan yang lebih kuat, perkembangan penyebaran regional
dari UKM dapat dilihat dari konsentrasi spasialnya. Konsentrasi spasial di
sini menunjuk kepada terkonsentrasinya UKM pada beberapa daerah saja. Sebagai contoh, dalam studinya
yang mengukur trend konsentrasi spasial industri di Indonesia
1976-1995, Kuncoro menggunakan Indeks Entropi Theil (Kuncoro, 2000a).
Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996, Sjöberg
dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser.
Dari analisis dapat disimpulkan bahwa
sampai dengan tahun 2000, UKM
(non pertanian yang tidak berbadan hukum) masih tetap terkonsentrasi di
pulau Jawa, baik dilihat dari sisi jumlah usaha maupun jumlah
pekerjanya. Terdapat pula indikasi menguatnya
konsentrasi spasial UKM tersebut
sejak krisis ekonomi melanda
Indonesia. Indikasi tersebut kiranya
masih perlu dilengkapi dengan upaya mengidentifikasi faktor-faktor apa
saja yang mempengaruhi dinamika spasial UKM sebagaimana dilakukan dalam
studi-studi terhadap idustri manufaktur pada umumnya.***
Oleh: Aloysius Gunadi
Brata -- Lembaga
Penelitian Universitas Atmajaya, Yogyakarta (UAJY).
PUSTAKA
Akita, T dan A. Alisjahbana, 2002,
“Regional Income Inequality in Indonesia and the Initial Impact of the
Economic Crisis”. Bulletin of Indonesian Economic Studies 38 (2):
201-222.
Azis, I. J., 1994, Ilmu Ekonomi Regional Dan Beberapa Penerapannya di
Indonesia. Jakarta, LP-FEUI.
Basri, M. C., 2002, “Wajah Murung Ketenagakerjaan Kita”. Kompas,
25 November.
Berry,
A., E. Rodriquez, dan H. Sandeem, 2001,
“Small and Medium Enterprises Dynamics in Indonesia.” Bulletin of
Indonesian Economic Studies 37
(3): 363-384.
Hill,
H., 1996, Transformasi
Ekonomi Indonesia Sejak 1966: Sebuah Studi Kritis dan Komprehensif.
Yogyakarta, PAU-UGM dan Tiara Wacana.
Kompas,
2001, “Memupuk UKM, Menuai
Pemulihan Ekonomi”. 14 Desember 2001.
Kuncoro,
M., 2002a, Analisis
Spasial dan Regional: Studi Aglomerasi dan Kluster Industri Indonesia.
Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Kuncoro,
M., 2002b, “A Quest for Industrial Districts: An Empirical Study of
Manufacturing Industries in Java.” Makalah disajikan dalam lokakarya
Economic Growth and Institutional Change in Indonesia during the 19th
and 20th Centuries, Amsterdam 25-26 Februari.
Sjöberg,
Ö dan F. Sjöholm, 2002, “Trade Liberalization and the Geography of
Production: Agglomeration, Concentration and Dispersal in Indonesia’s
Manufacturing Industry. SSE/EFI Working Paper Series in Economic and
Finance No 488.
Suryahadi,
A., W. Widyanti, D. Perwira, S. Sumarto, 2003, “Minimum Wage Policy and
Its Impact on Employment in the Urban Formal Sector”, Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol 39 No 1, 29-50.
Watterberg,
A., S. Sumarto,
L. Prittchett. 1999. “A National Snapshot of the Social Impact of
Indonesia’s Crisis”. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol 35 No 3, 145-152.
>>
Tulis komentar anda.....