|
[Artikel - Th. I - No. 3
-
Mei 2002]
Hery Nugroho
PERJALANAN PANJANG EKONOMI INDONESIA:
DARI ISU GLOBALISASI HINGGA KRISIS EKONOMI
Bila tidak menarik pelajaran dari
kesalahan-kesalahannya, maka negara yang bersangkutan akan terkutuk
untuk mengulangi kembali sejarah tersebut.
1)
1)
George Santayana, seperti dikutip oleh Humala M.T. Oppusunggu dalam Berhentilah
Bicara!: Seruan bagi Ekonom Indonesia, Penerbit Djambatan, Jakarta
2000, halaman vii.
PENDAHULUAN
Penulis sengaja mengutip kata-kata bijak yang
dilontarkan oleh seorang sastrawan dan filsuf termasyhur Amerika
berdarah Hispanik, George Santayana, semata-mata karena kalimat bijak
itu sangat tepat (precise) untuk menjadi sebuah
"peringatan" (warning) bagi bangsa yang tengah berada
dalam kesulitan ini.
Bangsa Indonesia, sepanjang sejarahnya telah melalui
berbagai pembabakan. Mulai dari era kejayaan Nusantara lama (Sriwijaya
dan Majapahit), yang tak lama setelah keruntuhannya segera disambut oleh
era kolonialisme yang menyakitkan, sampai dengan era kemerdekaan yang di
dalamnya juga telah terisi dengan lembaran-lembaran sejarah perekonomian
yang kelam. Sesungguhnya, sejarah telah memberikan pelajaran yang sangat
berharga bagi kita semua.
Jika suatu bangsa dengan sengaja berani melupakan
catatan faktual sejarah, maka bangsa itu tidak akan pernah mencapai
kemakmuran dan kecerdasan. Bahkan sangat mungkin akan menjadi sebuah blunder,
yang dapat menjerumuskan bangsa itu ke tataran yang lebih hina dari
seekor keledai. Bukankah seekor keledai yang bodoh sekalipun tidak
pernah terantuk batu yang sama?
SEPINTAS
PEMBABAKAN EKONOMI INDONESIA
Berdasarkan pengalaman sejarah, sistem ekonomi pasar
selalu mengalami pasang surut yang dapat digambarkan dalam sebuah kurva
konjungtur ekonomi. Kurva tersebut terdiri dari beberapa bagian, antara
lain: masa pertumbuhan, masa puncak kemakmuran (peak of wealth),
masa kemunduran, masa keterpurukan (peak of crises). Setelah
krisis dapat teratasi, maka akan disambung dengan masa pemulihan (recovery),
pertumbuhan, dan seterusnya hingga membentuk seperti gelombang sinus.
Ditinjau dari periode waktunya, masing-masing babak
memiliki durasi yang hampir konsisten, yaitu membentuk siklus waktu yang
relatif tidak jauh berbeda antara gelombang satu dengan lainnya. Oleh
karena itu, gabungan dari gelombang-gelombang siklus ekonomi tersebut
dapat ditarik menjadi kesimpulan yang dikenal dengan konjungtur
perekonomian.
Berdasarkan pengalaman sejarah Indonesia sejak era
kemerdekaan sampai sekarang, panjang gelombang tersebut dapat
dikategorikan dalam gelombang jangka pendek (tujuh tahunan) dan
gelombang jangka panjang (35 tahunan). Gelombang jangka pendek tujuh
tahunan dapat diringkas sebagai berikut.
2)
1945
- 1952 Ekonomi Perang
1952
- 1959 Pembangunan Ekonomi Nasional
1959
- 1966 Ekonomi Komando
1966
- 1973 Demokrasi Ekonomi
1973
- 1980 Ekonomi Minyak
1980
- 1987 Ekonomi Keprihatinan
1987
- 1994 Ekonomi Konglomerasi
1994
- 2001 Ekonomi Kerakyatan
2)
Mubyarto, "Siklus Tujuh Tahunan Ekonomi Indonesia
(1931-1966-2001-2036)", dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Indonesia, Vol. 16 No. 3, Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta, 2000, halaman 246.
Masing-masing
tahap dalam siklus tersebut telah ditandai dengan ciri-ciri khusus yang
tidak terdapat pada periode sebelum dan sesudahnya. Misalnya, pada
periode Ekonomi Konglomerasi, periode ini dipicu oleh liberalisasi
sektor perbankan, yang disusul dengan tumbuhnya imperium usaha
konglomerasi yang bermunculan seperti cendawan di musim hujan.
Pada
periode tersebut ditandai dengan pembangunan ekonomi bersifat
sentralistis, rezim penguasa yang otoriter, serta birokrasi yang korup.
Pembangunan yang "kebablasan" tersebut akhirnya mengantar
bangsa besar ini ke arah periode krisis yang menyakitkan. Salah satu
dampak positif yang ditimbulkan dari krisis ekonomi adalah tumbuhnya
kesadaran akan kekeliruan strategi pembangunan yang dilakukan selama
ini. Oleh karena itu, periode ini segera disambung dengan babak baru
yang lebih membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan
ekonominya secara mandiri, dengan didukung oleh iklim dan perhatian
negara yang memadai. Era ini dikenal dengan era ekonomi kerakyatan.
Paper
pendek ini tidak akan menyorot pembabakan tersebut secara keseluruhan,
tetapi hanya akan difokuskan pada dua isu besar yang pernah mengemuka,
yaitu isu globalisasi ekonomi dan pembahasan pada periode krisis
ekonomi. Dua isu besar ini sangat relevan untuk diangkat, sehubungan
dengan besarnya pengaruh yang ditimbulkan bagi kehidupan ekonomi bangsa
Indonesia. Isu globalisasi telah membuat "kalang kabut"
negara-negara berkembang yang tidak memiliki infrastruktur ekonomi yang
memadai. Di lain pihak, isu globalisasi ini menjadi semacam "bahan
bakar" bagi negara-negara maju untuk meningkatkan ekselerasi
pertumbuhan ekonomi dan penetrasi ke pasar internasional.
ISU
GLOBALISASI
Salah
satu refleksi dari kegagapan bangsa Indonesia dalam menyikapi sejarah
ekonominya adalah ketika dihadapkan pada isu santer yang dikenal dengan globalisasi,
yang di dalamnya terkandung sejumlah obsesi, tantangan, konsekuensi,
dan harapan akan kehidupan di masa depan. Globalisasi ekonomi hanya
membuat makmur sebagian kecil orang (atau negara) di dunia ini, tetapi
lebih banyak orang (bangsa/negara) yang dibuat susah, repot dan capek.
Melelahkan.
3)
3)
Mubyarto, Membangun Sistem Ekonomi, PT BPFE Yogyakarta, 2000,
halaman 42.
Jika
kita mau belajar dari sejarah, globalisasi sebenarnya bukanlah fenomena
baru dalam kancah panjang ekonomi Indonesia. Jauh hari sebelum muncul nation
state, arus perdagangan dan migrasi lintas benua telah berlangsung
sejak lama. Jauh hari sebelumnya, perdagangan regional juga telah
membuat interaksi antarsuku bangsa terjadi secara alamiah, natural.
Dua
dekade menjelang Perang Dunia I, arus uang internasional telah
mempererat ikatan antara negara-negara Eropa dengan Amerika Serikat,
Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Pasar modal mengalami booming di
kedua sisi Atlantik. Sementara itu, bank dan investor-investor swasta
sibuk mendiversifikasikan portofolionya, dari Argentina terus melingkar
Pasifik hingga ke Singapura.
Namun demikian, sejalan dengan siklus ekonomi dan politik dunia,
gelombang globalisasi pun juga mengalami pasang surut. Salah satu
kekuatan yang melatarbelakangi adalah adanya tarik-menarik antara paham
internasionalisme dengan paham nasionalisme atau bahkan dengan
isolasionisme.
Dicermati
dari segi intensitas dan cakupannya, sebenarnya gelombang globalisasi
yang melanda seluruh dunia sejak dekade 1980-an telah jauh berbeda dari
gelombang yang sama pada periode sebelumnya. Proses konvergensi akibat
dari globalisasi dewasa ini praktis telah menyentuh hampir seluruh sendi
kehidupan, yang tidak saja merambah di segala bidang (ekonomi, sosial,
budaya, politik, dan ideologi), melainkan juga telah menjamah ke dalam
tataran sistem, proses, pelaku, dan events. Sekalipun demikian,
tidak berarti bahwa prosesnya selalu berjalan dengan mulus. Ada
kecenderungan bahwa gelombang globalisasi yang dahsyat menerpa itu
ternyata juga disertai dengan fragmentasi.
4)
4)
Clark, Ian (1997). Globalization and Fragmentation: International
Relations in the Twentieth Century. Oxford & London: Oxford
University Press, halaman 1-2.
Dewasa
ini, banyak ekonom dan kritisi yang memandang bahwa globalisasi
merupakan keniscayaan sejarah, oleh karena itu terjangan arusnya tak
mungkin dapat dibendung lagi. Pandangan semacam ini muncul sebagai
reaksi atas pendapat sebagian ekonom yang justru prihatin terhadap
kecenderungan perkembangan ekonomi dunia yang kian tak menentu dan
sangat rentan dengan gejolak. Terutama akibat dari arus finansial global
yang semakin "liar". Padahal, kita semua tahu bahwa tidak
semua negara memiliki daya saing (dan daya tahan) yang cukup untuk
terlibat langsung dalam kancah lalu-lintas finansial global, yang tak
lagi mengenal batas-batas teritorial negara, dan cenderung semakin sulit
untuk dikontrol oleh pemerintah sebuah negara yang berdaulat.
Globalisasi
juga dikhawatirkan akan memunculkan suatu bentuk eksploitasi baru, yaitu
eksploitasi oleh financial-driven economies terhadap good-producing
economies. Kelompok pertama memiliki keleluasaan yang sangat besar
dalam merekayasa bentuk-bentuk transaksi keuangan yang sifatnya
"semu". Artinya, transaksi yang mereka lakukan sebenarnya
tidak memberikan kontribusi produktif bagi peningkatan kesejahteraan
riil masyarakat. Ini semua terjadi karena "uang" dan
"aset finansial" lainnya saling diperdagangkan sebagaimana
halnya sebuah komoditas.
5)
5)
Michel Chossudovsky, The Globalisation of Poverty: Impacts of IMF and
World Bank Reforms. London & New Jersey: Zed Books., 1997,
halaman 332
Bagaimanapun juga, sektor
finansial tidak pernah terlepas kaitannya dengan sektor riil. Keberadaan
sektor finansial, dengan segala bentuk kerumitan instrumen dan berbagai
lembaga keuangan yang menopangnya, tidak mungkin bisa berdiri sendiri.
Sehebat dan secanggih apa pun sektor finansial itu, pada intinya mereka
tetap merupakan fasilitator bagi eksistensi sektor riil.
Jika
dalam kenyataan kini makin nampak bahwa kedua sektor ini telah mengalami
lepas kaitan (decoupling), maka masyarakat tinggal menunggu waktu
akan datangnya kehancuran peradaban. Atau (minimal) bersiap-siap untuk
hidup dalam kegemerlapan artifisial dengan segala konsekuensinya. Oleh
karena itu, tidak ada cara lain bagi kita untuk sungguh-sungguh
mengupayakan terbentuknya suatu tatanan baru, yang menempatkan kembali
sektor finansial pada fungsinya yang hakiki. Sayangnya, dewasa ini kita
hidup dalam alam realitas yang sudah terlanjur menempatkan uang dan
perangkat finansial lainnya sebagai suatu komoditas. Telah banyak negara
yang tersungkur dan terseret oleh arus permainan kapitalisme finansial
yang
berperilaku semakin "buas". Suatu perekonomian yang menapaki
tahap demi tahap perkembangan, yang telah ditumbuhkan oleh peluh
keringat berjuta-juta rakyatnya, tiba-tiba saja bisa diluluh-lantakkan
dalam sekejap dengan cara mengguncang nilai mata uangnya (Lenin=s
dictum) hingga tersungkur tanpa kekuatan untuk membela diri.
6)
6)
Milton Friedman, Capitalism and Freedom: The Classic statement of
Milton Friedman=s Economic Philosophy, The University of Chicago
Press, Chicago and London, 1982, halaman 39.
Sebetulnya,
kesadaran akan bahaya kapitalisme dengan sosok seperti sekarang ini
sudah mulai tumbuh. Di antaranya justru datang dari kalangan pemikir
Barat sendiri, termasuk para pemikir di lembaga-lembaga keuangan
internasional seperti IMF dan Bank Dunia.
7)
Anehnya, justru kesadaran seperti itulah yang saat ini kurang muncul di
negara kita (dan negara berkembang pada umumnya) sehingga secara
"sukarela" mereka mau menerjunkan diri ke dalam ajang
permainan yang sangat "buas" ini.
7)
Jeffrey E. Garten,"Why the Global Economy is Here to Stay." Business
Week, March 23, Washington, 1998, halaman 9.
Pemikiran-pemikiran
alternatif sebagaimana sudah sangat sering dilontarkan oleh ekonom
seperti Prof. Dr. Mubyarto atau juga oleh para "ekonom
kontemporer" lain seperti Hartojo Wignjowijoto, atau Prof. Dr.
Sritua Arief, nampaknya perlu diwartakan dan ditawarkan kepada
masyarakat dunia, untuk benar-benar menciptakan tatanan ekonomi yang
lebih sehat. Tentu saja, gagasan bagi terbentuknya tatanan baru itu
membutuhkan waktu dan pengkajian yang cermat. Target awal yang paling
penting dari semua itu adalah memunculnya kesadaran masyarakat akan
rapuh dan rentannya sistem yang berlaku sekarang ini.
Sistem
ekonomi yang berlaku sekarang ini nyata-nyata telah mendorong perilaku
konsumtif masyarakat dan telah menyeret begitu jauh perekonomian
nasional untuk tumbuh secara instant. Hanya negara-negara kaya
dengan perangkat kelembagaan ekonomi politik yang mantaplah yang bisa
mengeliminasikan dampak-dampak negatif dari gelombang pergerakan
finansial global ini.
Negara-negara
yang kuat tidak perlu lagi bergelimangan peluh untuk menghasilkan barang
dan jasa guna memenuhi kebutuhan rakyatnya. Mereka cukup melakukan
rekayasa finansial yang menghasilkan kemelimpahan dana untuk membeli
berbagai macam kebutuhan fisiknya. Sebaliknya, negara-negara yang
menghasilkan produk riil (barang) tidak pernah bisa menikmati hasil yang
layak. Sebelum peluh mereka mengering, nilai uang riil yang dihasilkan
itu telah disedot oleh gejolak kurs dan tercekik oleh tingginya suku
bunga. Bukankah hidup di dunia seperti ini sungguh sangat berisiko bagi
peradaban umat manusia itu sendiri?
Perilaku
ekonomi yang "tidak wajar" seperti itu tidak hanya dilakukan
oleh para aktor pasar finansial internasional seperti George Soros,
tetapi juga telah meracuni para pelaku bisnis di Indonesia. Hampir semua
imperium bisnis di Indonesia telah melakukan beragam rekayasa finansial,
sehingga memungkinkan mereka menjelma dalam bentuk gurita konglomerasi
secara instant. Langkah mereka semakin mulus setelah disangga
oleh sistem politik yang otoriter dan birokrasi yang korup.
KRISIS
EKONOMI
Di
tengah dinamika ekonomi global yang terus-menerus berubah dengan
akselerasi yang semakin tinggi sebagaimana digambarkan di atas,
Indonesia mengalami terpaan badai krisis yang intensitasnya telah sampai
pada keadaan yang nyaris menuju kebangkrutan ekonomi.
Krisis
ekonomi - yang dipicu oleh krisis moneter - beberapa waktu yang lalu,
paling tidak telah memberikan indikasi yang kuat terhadap tiga hal. Pertama,
kredibilitas pemerintah telah sampai pada titik nadir. Penyebab utamanya
adalah karena langkah-langkah yang ditempuh pemerintah dalam merenspons
krisis selama ini lebih bersifat "tambal-sulam", ad-hoc,
dan cenderung menempuh jalan yang berputar-putar.
Selain
itu, seluruh sumber daya yang dimiliki negeri ini dicurahkan sepenuhnya
untuk menyelamatkan sektor modern dari titik kehancuran. Sementara itu,
sektor tradisional, sektor informal, dan ekonomi rakyat, yang juga
memiliki eksistensi di negeri ini seakan-akan dilupakan dari wacana
penyelamatan perekonomian yang tengah menggema.
Kedua,
rezim Orde Baru yang selalu mengedepankan pertumbuhan (growth)
ekonomi telah menghasilkan crony capitalism yang telah membuat
struktur perekonomian menjadi sangat rapuh terhadap gejolak-gejolak
eksternal. Industri manufaktur yang sempat dibanggakan itu ternyata
sangat bergantung pada bahan baku impor dan tak memiliki daya tahan.
Sementara itu, akibat "dianak-tirikan", sektor pertanian pun
juga tak kunjung mature sebagai penopang laju industrialisasi.
Yang saat itu terjadi adalah derap industrialisasi melalui serangkaian
kebijakan yang cenderung merugikan sektor pertanian. Akibatnya, sektor
pertanian tak mampu berkembang secara sehat dalam merespons perubahan
pola konsumsi masyarakat dan memperkuat competitive advantage
produk-produk ekspor Indonesia.
Salah
satu faktor terpenting yang bisa menjelaskan kecenderungan di atas
adalah karena proses penyesuaian ekonomi dan politik (economic and
political adjustment) tidak berlangsung secara mulus dan alamiah. Soeharto-style
state-assisted capitalism nyata-nyata telah merusak dan merapuhkan
tatanan perekonomian. Memang di satu sisi pertumbuhan ekonomi yang telah
dihasilkan cukup tinggi, namun mengakibatkan ekses yang ujung-ujungnya
justru counter productive bagi pertumbuhan yang berkelanjutan.
Ketiga,
rezim yang sangat korup telah membuat sendi-sendi perekonomian mengalami
kerapuhan. Secara umum, segala bentuk korupsi akan mengakibatkan arah
alokasi sumber daya perekonomian menjurus pada kegiatan-kegiatan yang
tidak produktif dan tidak memberikan hasil optimum. Dalam kondisi
seperti ini pertumbuhan ekonomi memang sangat mungkin terus berlangsung,
bahkan pada intensitas yang relatif tinggi. Namun demikian, sampai pada
batas tertentu pasti akan mengakibatkan melemahnya basis pertumbuhan.
Selanjutnya,
praktik-praktik korupsi secara perlahan C tapi pasti C telah merusak
tatanan ekonomi dan pembusukan politik yang disebabkan oleh perilaku
penguasa, elit politik, dan jajaran birokrasi. Keadaan semakin parah
ketika jajaran angkatan bersenjata dan aparat penegak hukum pun ternyata
juga turut terseret ke dalam jaringan praktik-praktik korupsi itu.
Hancurnya
kredibilitas pemerintah yang dibarengi dengan tingginya ketidakpastian
itu telah menyebabkan terkikisnya kepercayaan (trust). Yang
terjadi dewasa ini tidak hanya sekadar pudarnya trust masyarakat
terhadap pemerintah dan sebaliknya, melainkan juga antara pihak luar
negeri dengan pemerintah, serta di antara sesama kelompok masyarakat.
Yang terakhir disebutkan itu tercermin dengan sangat jelas dari
keberingasan massa terhadap simbol-simbol kekuasaan serta kemewahan dan
terhadap kelompok etnis Cina, seperti yang dikenal dengan peristiwa Mei
1998.
Sementara
itu, krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dapat dilihat
dari respons masyarakat yang kerap kali berlawanan dengan tujuan
kebijakan yang ditempuh pemerintah. Misalnya, kebijakan pemerintah yang
seharusnya berupaya menggiring ekspektasi masyarakat ke arah kanan,
justru telah menimbulkan respons masyarakat menuju ke arah kiri, dan
sebaliknya. Faktor lainnya adalah semakin timpangnya distribusi
pendapatan dan kekayaan, sehingga mengakibatkan lunturnya solidaritas
sosial.
PENUTUP
Tumbangnya
imperium konglomerasi membuat indikasi di atas semakin kuat. Bahwa sosok
kerajaan bisnis yang dibangun di atas fondasi semu dan tumpukan utang,
menjadi tidak berdaya menghadapi krisis ekonomi. Sampai titik ini pun,
pemerintah nampaknya belum juga bangkit kesadarannya, bahwa
menyelamatkan sektor modern dengan cara "habis-habisan" (all
out dan at all cost) seperti yang terus dilakukan selama ini
mengandung konsekuensi yang teramat riskan. Pemerintah masih terobsesi
dan selalu disugesti seakan-akan hanya dengan sektor modern itulah
bangsa berdaulat ini dapat kembali bangkit dari keterpurukannya.
Di
luar semua itu, sesungguhnya terdapat kekuatan yang luar biasa yang
justru telah menyelamatkan negeri ini dari kebangkrutannya, yaitu ekonomi
rakyat. Di atas kertas, perekonomian bangsa ini seharusnya sudah
"gulung tikar" sejak angka-angka statistik ekonomi pada
periode krisis (1997-1999) menunjukkan kecenderungan yang terus
memburuk. Nyatanya, kondisi "sekarat" itu hanya terjadi pada
sektor-sektor yang memang mampu tercatat dan terefleksikan dalam
angka-angka statistik itu. Di luar angka-angka itu, yang tidak mampu
dicatat oleh sistem statistik yang ada, sesungguhnya masih menyimpan
potensi, kekuatan, dan daya tahan yang sangat besar.
Akankah
pemerintah masih terus-menerus menutup mata terhadap eksistensi ekonomi
rakyat? Atau akan terus-menerus meyakini wacana yang selalu
digembar-gemborkan oleh para ekonom Neo Klasik bahwa pertumbuhan yang
terjadi saat ini adalah karena sumbangan konsumsi (driven
consumption) orang-orang berduit? Kiranya sejarah telah membuktikan,
bahwa memuja dan memanjakan sektor modern secara
"membabi-buta" hanya akan menghasilkan konklusi akhir yang
menyedihkan, yang rasa pahitnya tidak hanya dikecap oleh sekelompok
orang, tetapi seluruh komponen bangsa ini akan turut merasakannya.
Bila
bangsa ini cukup cerdas untuk menterjemahkan hikmah krisis ekonomi,
secara tidak langsung (blessing in disguise) seharusnya peristiwa
menyakitkan ini justru dapat menjadi pelajaran yang dipetik hikmahnya.
Kesimpulannya, pengabaian (ignoring) eksistensi ekonomi rakyat
dan sektor tradisional sudah tiba saatnya untuk segera dihentikan.
Percayalah.
Hery
Nugroho, SE : adalah
mahasiswa Program Magister Ekonomika Pembangunan UGM Angkatan XVI,
konsentrasi Pembangunan Daerah. Sejak 1992 bekerja sebagai staf Peneliti
pada Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (d/h PAU Studi Ekonomi),
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Paper
ini ditulis untuk memenuhi tugas dalam rangka mata kuliah Kebijakan
Pembangunan Daerah/Ekonomi Indonesia oleh Prof. Dr. Mubyarto
DAFTAR
PUSTAKA
Boyer, Robert, and Daniel Drache, eds. (1996). States
Against Market: The Limits of Globalization. London & New York:
Routledge.
Chossudovsky, Michel (1997). The Globalisation of Poverty:
Impacts of IMF and World Bank Reforms. London & New Jersey: Zed
Books.
Clark, Ian (1997). Globalization and Fragmentation:
International Relations in the Twentieth Century. Oxford & London:
Oxford University Press.
Cox, Robert W., ed. (1997). The New Realism: Perspectives
on Multilateralism and World Order. London: MacMillan Press Ltd for
The United Nations University.
Dicken, Peter (1992). Global Shift: The
Internationalization of Economic Activity. Socond edition. London:
Paul Chapman Publishing Ltd.
Friedman, Milton, (1982), Capitalism and Freedom: The
Classic statement of Milton Friedman=s Economic Philosophy, The
University of Chicago Press, Chicago.
Garten, Jeffrey E. (1998). "Why the Global Economy is
Here to Stay." Business Week, March 23, Washington.
Hanggi, Heiner (1997). "ASEM and the Construction of the
New Triad." Paper, presented to the ASEASUK Conference Asia
and Europe, organized by School of Oriental and African Studies,
University of London, London, April 2-3, 1998.
Heywood, Paul, ed. (1997). Political Corruption.
Oxford, U.K.: Blackwell Publishers for The Political Studies Association.
Holm, Hans-Henrik, and George Sorensen, eds. (1995). Whose
World Order? Uneven Globalization and the End of The Cold War."
Boulder, Col.: Westview Press.
Hopkins, Terence K., et.al. (1996). The Age of Transition:
Trajectory of the World-System, 1945-2025. London & New Jersey:
Zed Books.
Lindsey, Lawrence B. (1998). "The Real Economic
Globalists." Far Eastern Economic Review, March 26, Hongkong.
Martin, Hans-Peter, and Harald Schumann (1998). The Global
Trap: Globalization and the Assault on Prosperity and Democracy.
London & New York: Zed Books Ltd.
Mubyarto, (1998). Reformasi Sistem Ekonomi, Aditya
Media, Yogyakarta.
----, (2000). Membangun Sistem Ekonomi, Penerbit PT
BPFE Yogyakarta.
----, (2001). Prospek Otonomi Daerah dan Perekonomian
Indonesia Pasca Krisis Ekonomi, Penerbit PT BPFE, Yogyakarta.
----, (2001). Amandemen Konstitusi dan Pergulatan Pakar,
Aditya Media, Yogyakarta.
----, (2001).
"Pemulihan Ekonomi Nasional Menuju Demokrasi Ekonomi", dalam Jurnal
Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 16 No. 1, Fakultas Ekonomi
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
----, (2001).
"Mengatasi Krisis Moneter Melalui Penguatan Ekonomi Rakyat",
dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 16 No. 2, Fakultas
Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
----, (2001).
"Siklus Tujuh Tahunan Ekonomi Indonesia (1931-1966-2001-2036)",
dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 16 No. 3, Fakultas
Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
----, (2001). "Survey Ekonomi Jawa Timur: Kasus
Kabupaten Pacitan dan Lamongan", dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Indonesia, Vol. 16 No. 4, Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.
----, (2002). Pemberdayaan Ekonomi Rakyat dan Peranan
Ilmu-ilmu Sosial, Yogyakarta.
Oppusunggu, H.M.T, (2000). Berhentilah Bicara!: Seruan
bagi Ekonom Indonesia, Penerbit Djambatan, Jakarta.
Ruigrok, Winfried, and Rob van Tulder (1995). The Logic of
International Restructuring. London & New York: Routledge.
>>
Tulis komentar anda.....
|