Jawaban “serupa
tapi tak sama” bagi pertanyaan di atas adalah agar mahasiswa terbiasa
mengobservasi langsung sehingga tidak terjebak pada diskusi di kelas yang
hanya didasarkan pada literatur yang ada, cenderung berfikir deduktif,
atau hanya menerima informasi dari dosen secara mentah-mentah tanpa
melihat realita secara langsung. Mahasiswa diharapkan sadar untuk
menggunakan cara berfikir empirik induktif, seperti yang dikatakan oleh
Marshall: “Observasi dan deskripsi, definisi dan klasifikasi adalah
kegiatan-kegiatan awal. Tetapi yang kita inginkan untuk dicapai adalah
pengetahuan tentang saling ketergantungan dari fenomena-fenomena ekonomi.
Induksi (dari hal-hal khusus ditarik kesimpulan umum) dan deduksi keduanya
dibutuhkan untuk pemikiran ilmiah sebagaimana kaki kanan dan kaki kiri
dibutuhkan untuk berjalan.”
Bagaimana reaksi mahasiswa atas
kunjungan ini? Macam-macam, ada yang antusias, banyak yang menerka-nerka
bagaimana situasi wawancara nanti, ada yang “takut” melakukan
wawancara karena tidak mengerti bahasa Jawa. Di benak kami sendiri ada
berbagai pertanyaan seperti “Kita mau ke desa mana?” atau “Kenapa
kuisionernya belum dibagi?”. Maklumlah, secara psikologis, rasanya lebih
tenang kalau kita tahu mau ke mana. Lagi pula kalau kami sudah tahu tujuan
dan pertanyaan yang diajukan , kami bisa mempersiapkan diri.
Akhirnya, setelah mendapatkan
pengarahan, kami bersama empat puluh dua rekan lainnya ditambah sejumlah
bapak dan ibu mahasiswa MEP, melakukan perjalanan ke Wonosari dipandu
langsung oleh Pak Mubyarto. Rombongan tiba di Bappeda Kabupaten Gunung
Kidul. Kami disambut dengan baik oleh pejabat teras dan staf Bappeda yang
kemudian memberi sedikit gambaran mengenai kondisi kabupaten tersebut.
Terus terang kami terkejut dan
bangga melihat semangat para pejabat tersebut dalam memajukan wilayahnya.
Apalagi ditambah dengan kemampuan manajerial yang dimiliki. Berbagai
program untuk menanggulangi kemiskinan dilakukan oleh Pemda yaitu: Inpres
Desa Tertinggal, Proyek Pembangunan Desa, Program Pengembangan Wilayah
Terpadu, Bantuan Program Prasarana Pendukung Desa Tertinggal, Program
Pemberdayaan Daerah Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi, Program Pengembangan
Kecamatan, Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan, Program JPS Bidang
Kesehatan, Takesra dan Kukesra.
Tidak heran kabupaten ini mengalami
berbagai kemajuan walaupun dihadapkan pada berbagai permasahan dan
perekonomian seperti: (1) Sumber daya alam yang kurang menguntungkan
(wilayahnya, yang merupakan47% dari total wilayah DIY, merupakan daerah
tandus; hanya 7.6% yang bisa dijadikan persawahan). Curah hujan yang
rendah, merupakan penyebab keringnya wilayah ini; (2) Keterbatasan
pendidikan. (Dapat seiring dengan naiknya level pendidikan. Tiga koma
tujuh puluh tujuh persen anak usia SD tidak bersekolah; sekitar 12% anak
usia SLTP juga tidak mendapat kesempatan sekolah; dan persentase ini naik
lagi menjadi 42% anak usia SMU tidak mengeyam pendidikan formal, padahal
pembekalan keterampilan baru diperoleh pada jenjang pendidikan sekolah
menengah atas.); (3) Keterbatasan pengelolaan pasar; (4) Keterkekangan
akan ketradisionalan inovasi dan motivasi.
Akan tetapi, Pemda tetap berfikir
positif dengan mempertimbangkan potensi lain seperti ketersediaan bahan
baku (terutama ketela pohon), cahaya matahari sebagai unsur industri
pengeringan,lahan untuk usaha, sarana distribusi transportasi yang baik,
dan sumber daya manusia yang tersedia (tenaga kerja dan pasar).
Perhatian Pemda pada peningkatan
kualitas sumber daya manusia dibuktikan dengan pembebasan uang sekolah
terhadap 23.000 murid sekolah dasar di lima wilayah. Hal ini mungkin
dilakukan karena Pemda merasa tertantang untuk semakin meningkatkan indeks
pendidikan yang telah mengalami kenaikan dari 54,4 (1996) menjadi 71,1
(1999). Keberhasilan pelaksanaan program Pemda juga dapat dilihat dari
kenaikan indeks harapan hidup dari 74,8 (1996) menjadi 75,2 (1999).
Untuk kedepan, walaupun sempat
ditertawakan forum, Pemda berencana “memanfaatkan” penduduk yang
merantau di Jakarta sebagai ujung tombak untu memasarkan makanan olahan
dari ubi kayu.
Usaha Pemda mengembangkan daerah
didukung sepenuhnya oleh masyarakat. Hal ini ditujukan dengan tingkat
kepatuhan masyarakat yang tinggi terhadap kebijakan Pemda. Misalnya saja,
para petani di daerah ini “OK-OK saja” jika diminta untuk menanam padi
varietas baru, sehingga – menurut pejabat Bappeda – dibandingkan
daerah tingkat II lain yang ada di DIY, petani di Kabupaten Gunung Kidul
menanam padi dengan varietas yang lebih banyak dari daerah lain, misalnya
padi varietas Batang Gadis. Program KB juga berhasil dilaksanakan berkat
kesadaran masyarakat yang tinggi, sehingga pertumbuhan penduduk di
kabupaten ini sangat rendah.
Berbeda dengan mayarakat yang
tinggal di daerah industri (yang sangat merasakan dampak krisis), krisis
ekonomi yang melanda Indonesia sejak Juli 1997 tidak terlalu dirasakan
oleh masyarakat Gunung Kidul. Hal ini terjadi karena 80% masyarakat
bergerak di sektor pertanian dan hanya sebagiaan kecil yang bergerak di
bidang jasa atau bekerja sebagai pegawai negeri. Ekonomi rakyat langsung
beradaptasi dengan kondisi perekonomian Indonesia dan hanya mengalami
“kekagetan” sesaat. Buktinya, PDRB kabupaten ini telah mengalami
kenaikan kembali setelah mengalami kontraksi sebesar –7,14% (1998), dari
7% dan 3,88% (1996 dan 1997), menjadi masing-masing 1,57%, 2,75% dan 2,45%
pada tahun 1999, 2000, dan 2001. Jadi, dapat dilihat bahwa pertumbuhan
yang positif ini merupkan hasil dari ekonomi rakyat.
Ekonomi Rakyat
adalah kancah kegiatan ekonomi orang kecil (wong cilik) yang karena
merupakan kegiatan keluarga, tidak merupakan usaha formal berbadan hukum,
dan tidak secara resmi diakui sebagai sektor ekonomi yang berperan penting
dalam perekonomian nasional. Dalam literatur ekonomi pembangunan ia
disebut sektor informal, “underground economy”, atau “ekstralegal
sector”.
Kabupaten Gunung Kidul (KGK)
terdiri dari 144 desa, tujuh puluh tiga di antaranya merupakan desa IDT.
Inpres Desa Tertinggal (IDT) merupakan program penanggulangan kemiskinan
yang diluncurkan pemerintah berupa hibah bergulir sebesar Rp. 20 juta per
desa per tahunyang diberikan 3 tahun berturut-turut. Di DIY tingkat
keberhasilan program ini mencapai 90 persen. Dari 192.655 KK yang ada di
KGK, 29.659 KK tergolong miskin dan tersebar di 18 kecamatan.
Kami bersama rekan-rekan S1 lainnya
mendapat “jatah” mengunjungi salah satu dari lima desa IDT di
Kecamatan Tanjung Sari, yaitu Desa Kemadang. Di Tanjung Sari sendiri
terdapat 108 Kelompok Masyarakat (Pokmas ) IDT yang beraggotakan 2.995 KK
dari 7.747 KK miskin. Dari jumlah keluarga miskin tersebut, sebanyak 240
KK bertempat tinggal di Kemadang.
Sepanjang perjalanan, sesuai dengan
keterangan dari bapak-bapak Bappeda, kami hanya melihat tanaman ubi kayu
yang ditumpangsarikan dengan kacang-kacangan dan sedikit jagung. Amat
berbeda dengan apa yang kami lihat sepanjang perjalanan Jogja-Wonosari
dimana kami masih bisa melihat areal persawahan.
Kami tiba di Desa Kemadang
menjelang tengah hari. Pak Ngatno (41 thn), kepala desa tersebut menyambut
kami di balai desa. Beliau, yang kelahiran Gunung Kidul ini, memberikan
kata sambutan sekaligus mengetengahkan sedikit profil desa itu.
Kemadang, yangdulu merupakan
wilayah Kecamatan Tepus, memiliki wilayah seluas 1.928 ha terdiri antara
lain dari 1.583 areal pertanian, 1,5 ha hutan, dan 195 ha areal lainnya
adalah pemukiman, jalan, dan lain-lain.
Penduduk desa ini berjumlah 6.169
orang (1.248 KK) dengan komposisi penduduk usia 0-15 tahun sejumlah 1.745
orang, yang berumur 16-60 tahun sebanyak 3.495, dan terdapat 934 lansia.
Dapat dilihat bahwa kelompok usia peroduktif mendominasi jumlah penduduk.
Sebagaian besar penduduk bermata pencaharian di sektor pertanian, dan
sebagian lagi bergerak di bidang industri rumah tangga seperti kece,
tempe, kerajinan bambu, bmmebel / kayu, dan rotan.
Batas-batas wilayahnya adalah di
sebelah utara berbatasan dengan Desa Kemiri, di sebelah selatan dengan
Samudera Indonesia, di sebelah barat dengan Desa Planjan, dan sebelah
timur dengan desa Banjarejo. Desa ini terletak 300 meter di atas permukaan
laut dengan suhu rata-rata 23o - 33 o. Jarak ke
ibukota kabupaten adalah 17 km. Jarak dari Yogyakarta ke desa ini adalah
57 km.
Menurut keterangan, jalan raya
dibangun di desa ini pada tahun 1980-an. Pembangunan desa ini selain
ditujukan untuk memudahkan aktivitas warga, juga ditujukan untuk
merangsang kedatangan wisatawan. Kemadang merupakan pintu gerbang memasuki
daerah wisata pantai (Krakal). Penerimaan desa ini dari pendapatan
pariwisata Gunung Kidul di daerah (retribusi) tersebut berjumlah 3,75%,
atau 11 juta rupiah per tahun.
Desa ini terdiri dari tujuh belas
dusun yaitu: Ngedung, Rejosari, Sumuran, Watu Belah, Kemadang Kulon, Suru,
karang Lor I, Karang Lor II, Kayubimo, Ngelo, Ngasem, Nglaos, Pucung,
Tenggang, Kanigoro, Kelor Lor dan Kelor Kidul.
Pokmas IDT di desa ini berjumlah 20
karena ada beberapa dusun yang memiliki lebih dari satu Pokmas. Dana
bantuan sebesar Rp. 60 juta telah berkembang sebesar lebih dari 24 juta
rupiah (40,4%) dalam jangka waktu tujuh tahun (1994-2001).
Dari ketujuh belas dusun tersebut,
setelah diambil random sampling, oleh Mas Putut Indroyono (asisten
Mubyarto), kami bersama dua orang rekan lainnya ditugasi mewawawancarai
responden yang berada di dusun Ngasem. Kami sendiri mendapat bagian untuk
mewawancarai keluarga Tris Diran.
Awalnya, kami beramai-ramai
(rencananya) akan diantar oleh Pak Carik satu-persatu ke beberapa dusun
dengan menumpangi bus. Akan tetapi, ada rintangan di jalan sehinga Pak
Carik mengantar rekan-rekan lain dengan berjalan kaki, sementara kelompok
untuk Dusun Ngasem dan Nglaos diminta menunggu sampai beliau kembali. Akan
tetapi, setelah menunggu lama kami berinisiatif untuk pergi sendiri ke
dusun-dusun tersebut. Kebetulan seorang bakul (penjual) kuali lewat
di dekat kami. Dan kebetulan pula jalan yang ia tuju dekat dengan jalan
menuju kedua dusun tersebut.
Di tengah jalan kami berpapasan dengan Pak Kepala Desa. Beliulah yang
akhirnya mengantarkan kami sampai tujuan. (terima kasih ya, Pak!).
Rumah pertama yang kami datangi
adalah rumah anggota BPD (Badan Perwakilan Desa). Beliau memberi banyak
keterangan. Kami bertanya tentang proses sosialisasi dan pemilihan anggota
BPD, antusiasme masyarakat terhadap pemilihan itu sendiri, penerimaan
masyarakat atas konsep BPD, dan bagaimana hubungan BPD dengan perangkat
desa lainnya.
Badan perwakilan Desa ini
beranggotakan 13 orang, dua diantaranya perempuan. Koordinasi antara
pemerintah desa dengan BPD bejalan baik. Program pembangunan desa disusun
bersama, setelah disetujui hasilnya disosialisasikan kepada masyarakat
melalui kepala dukuh dan tokoh-tokoh masyarakat. Jadi, prosesnya berjalan
secara terbuka. Untuk anggaran rapat sendiri, BPD memperoleh dana sebesar
1 juta per tahun.
Disinggung mengenai kesiapan
masyarakat desa berotonomi, dengan cukup tegas dijawab “Saya optimis
bisa”. Menurut beliau, masyarakat bisa membangun desanya walau hanya
mendapat sedikit bantuan dari pemerintah. Sering masyarakat
bergotong-royong membangun fasilitas fisik. Ketika berjalan memasuki Dusun
Ngasem, kami melihat bahwa jalan di dusun itu baru dirapikan dan disemen.
Jalan itu ternyata hasil swadaya masyarakat. Dananya berasal dari
sumbangan individu warga dan sumbangan dari bebagai organisasi yang ada di
dusun itu, seperti PKK, Karang Taruna, dan Kelompok Bandes. Masyarakat
pula yang secara bergotong royong mengerjakan pembangunannya.
Berbicara mengenai organisasi
masyarakat, ada baiknya jika kita mengetengahkan sedikit profil
Pokmas IDT. Setiap Pokmas di Kemadang memiliki 30 KK sebagai anggota
demikian juga dengan yang di Ngasem. Pokmas di Ngasem bernama “Murih
Raharjo”.
Struktur pengurusnya terdiri dari
penangung jawab, ketua, dua orang sekretaris dan dua orang bendahara. Pada
awalnya, dana IDT dibelikan sapi dan digulirkan dalam bentuk ternak. Akan
tetapi, karena dinilai kurang efisien dana ini selanjutnya digulirkan
dalam bentuk uang. Pengembalian pinjaman dapat dilakukan sepuluh kali
dalam setahun dan hanya dikenai bunga sebesar 1%. Tidak hanya meminjam,
anggota juga bisa menyimpan di sini.
Banyaknya orgnasiasi di dusun ini
membuat kami geleng-geleng kepala. Dan semua organisasi ini terus berjalan
karena tingkat paritisipasi masyarakat yang sangat tinggi. (Melihat hal
ini kami meminta saran bagaimana caranya merangsang animo yang sedemikian
besar karena sebagai mahasiswa yang concern terhadap organisasi
intra kampus, kami menilai bahwa interest mahasiswa untuk mengikuti
organisasi tidak besar).
Dengan setengah tertawa, Pak BPD
mengatakan, dari 30 hari yang ada dalam sebulah hanya 10 hari yang
dilewati warga tanpa pertemuan organisasi (belum lagi wiridan bapak-bapak
dan ibu-ibu dengan hari yang berbeda). Di setiap pertemuan itu biasanya
warga menabung atau membayar simpanan, nominal setiap iuran tersebut tidak
lebih dari seribu rupiah.
Satu hal yang sempat membuat kami
bingung adalah peran lembaga ini pada umumya sama. Selain melaksanakan
fungsi utamanya, organisasi yang ada juga berfungsi sebagai tempat arisan
atau simpan pinjam. Menurut beliau kesamaan fungsi ini tidak mengaburkan
fungsi utama lembaga. Masyarakat juga tidak keberatan dengan berbagai
iuran karena nominalnya sangat kecil.
Dengan demikian banyaknya lembaga
keuangan mikro yang ada, jumlah rentenir di dusun ini menipis. Di lain
sisi, warga Ngasem tidak mau lagi pergi ke BRI seperti sebelumnya. Banyak
manfaat yang diperoleh warga, antara lain: (1) Dekatnya tempat pinjaman
yang hanya berada di wilayah dusun sehingga warga tidak perlu menghabiskan
waktu, energi, dan biaya untuk sampai ke BRI yang paling dekat (Tepus);
(2) Mudahnya syarat peminjaman dibandingkan dengan bank. Selama seorang
warga mempunyai kualifikasi yang baik (selalu membayar pinjaman
sebelumnya), ia tidak akan dihalang-halangi atau dipersulit memperoleh
pinjaman.
Setelah berbincang beberapa lama,
Kepala Dusun Ngasem, Pak Sumardi datang. Beliau mengatakan bahwa ia telah
menunggu lama di balai desa guna menjemput mahasiswa yang akan berkunjung
ke dusunnya. (Maaf ya, Pak. Makan siangnya jadi tertunda lama). Pak
Sumardi (52 thn) merupakan tamatan SD. Beliau yang memiliki seorang cucu
ini, telah menjadi Kadus sejak tahun 1973.
Kemudian bersama-sama Pak Kadus dan
anggota BPD, kami mendatangi rumah keluarga Tris Diran yang berada pada
wilayah RT 2 RW 4. Karena Pak Diran tidak dirumah, kami lantas
berbincang-bincang dengan istrinya, Bu Tumirah. Saat itu, beberapa tukang
yang bertugas membangun bangunan rumah tambahan keluarga itu tengah
mengaso. “ Ada rezeki, Mbak” begitu tanggapan Bu Tumirah saat kami
menyinggung tentang pembangunan rumahnya. Di rumah permanen tersebut, Bu
Tumirah tinggal bersama suami, seorang putri, menantu, serta cucu semata
wayang yang masih pra sekolah. Dari awal, saat pertama kami melihat
bangunan fisik rumahnya, kami dapat menilai bahwa keluarga ini bukan
termasuk keluarga miskin.
Pak Diran, yang tamatan SD, bermata
pencaharian sebagai petani. Sementara Bu Tumirah, yang juga lulusan SD,
telah membuka usaha jahit sejak anaknya berusia satu tahun. Usaha
jahitannya itu akan mencapai puncak saat masuk tahun ajaran baru karena
beliau sering mendapat order menjahit pakaian seragam. Sementara itu,
anak-menantunya berjualan di pantai yang hanya berjarak 5 km dari rumah.
Bu Tumirah menaksir, pendapatan keluarga beliau
sebulannya sebesar Rp. 450 ribu. Beliau mengaku pengeluarannya
sebulan berkisar Rp. 400 ribu. Akan tetapi ketika ditanya memiliki
tabungan atau tidak dengan malu-mali beliau menjawab. “Wah ya ndak bisa
nabung, Mbak. Wong dapatnya pas-pasan”. Melihat hal ini kami berpendapat
bahwa saldo pendapatan Bu Tumirah “didistribusikannya” ke
berbagai iuran arisan. Organisasi yang diikutinya, salah satunya kelompok
Sedyo Rukun.
Peran lembaga masyarakat yang
diikutinya amat dirasakan oleh Bu
Tumirah. Saat ditanya tempat-tempat yang bisa dipinjaminnya jika
keluarganya mengalami kesulitan keuangan, Bu Tumirah langsung menjawab “
Ya kelompo-kelompok itu, Mbak”. Beliau bahkan menempatkan
kelompok-kelompok tersebut di urutan teratas jika ia harus meminjam uang,
baru kemudian menyebutkan keluarga atau tetatangga. Yang agak mengherankan
kami, beliau tidak meminjam uang untuk usaha tetapi untuk konsumsi atau
kepentingan lain.
Ketika diminta menggomongkan
keluarga beliau masuk golongan mana dari range 1 (paling miskin)
sampai 5 (paling kaya), Bu Tumiran menjawab ia masuk golongan 3
(sedang-sedang saja). Tapi, mengingat pendapatan keluarga, serta
kepemilikan asset (selain lahan pertanian) seperti rumah permanen, 1 unit
sepeda motor, TV, radio, tiga mesin jahit dan obras (1 manual, 2 memakai
listrik), serta tiga ekor sapi, kami “protes” dengan mengatakan bahwa
keluarga beliau termasuk kaya di dusunnya (menurut bapak anggota BPD,
hanya beberapa KK di dusun itu yang memiliki sepeda motor), Bu Tumirah
yang berpembawaan ceria ini hanya tertawa renyah. Sementara itu, krisis
tidak berdampak apa-apa bagi keluarga ini, sehinga jenjang perekonomiannya
tidak berubah baik sebelum maupun sesudah krisis.
Beliau sangat bersyukur dan dengan
yakin menyatakan bahwa kesejahteraan keluarganya sekarang lebih baik dari
kesejahteraan orang tuanya. Beliau juga mengatakan bawa kesehatan
keluarganya terawat baik sekali. Selain berupaya mencegah datangnya
penyakit, beliau tidak kesulitan berobat jika sakit.
Putri Bu Tumirah sempat mengenyam
pendidikan sampai SLTP. Ketika ditanya kenapa anaknya tidak melanjutkan ke
SMU, beliau mengatakan tidak mampu walaupun ia sebenarnya ingin
menyekolahkan anaknya. “Ketidakmampuan” inilah yang menurutnya juga
dirasakan oleh penduduk Ngasem yang lain sehingga hanya bisa menyekolahkan
anak-anak mereka sampai tingkat SLTP.
Akan tetapi pernyataan Bu Tumirah
ini kontradiktif dengan keterangan yang kami peroleh dari bapak anggota
BPD. Beliau mengatakan bahwa semua anak usia SD dan SLTP bersekolah. Akan
tetapi, anak usia SMU dan kuliah, banyak yang tidak mau melanjutkan
sekolah. Bukan karena orang tuanya tidak mampu atau tidak ingin
menyekolahkan anak setinggi-tingginya, tetapi karena anak-anak itu sendiri
yang tidak mau. “Katanya mereka nggak mampu mikir, Mbak”, begitu ujar
beliau. Kami mengejar dengan menanyakan apakah mereka memang tidak mampu
atau malas melanjutkan sekolah karena berfikir bahwa sekolah tidak memberi
manfaat bagi pekerjaan yang nanti mereka geluti (petani dan nelayan).
Beliau hanya mengatakan mungkin. Dikatakannya lagi, ada tiga orang warga
Ngasem yang menjadi mahasiswa yaitu di IAIN dan APMD.
Berbicara mengenai kemiskinan di
desa, terutama di dusunnya, Bu Tumirah mengatakan bahwa di desa Kemadang
masih ada orang miskin. Khusus di Ngasem, dari 78 KK yang ada, beliau
berpendapat bahwa hanya ada 5 KK yang dianggapnya miskin. Menurutnya,
mereka hidup miskin karena tidak ada yang menafkahi (orang yang
dianggapnya miskin itu adalah para janda tua).
Dari sekian banyak penduduk Ngasem,
sebelas orang merantau ke Jakarta, Semarang, dan Jogja. Biasanya mereka
pulang saat lebaran. Bu Tumirah tidak tahu berapa sering dan berapa banyak
ini mengirim uang kepada keluarganya di desa. Tapi, Pak Kadus mengatakan
bahwa paling tidak sebulan sekali para perantau mengirim uang kepada
keluarganya.
Sosialisasi mengenai BPD pada bulan
Oktober 2001 sampai juga kepada Bu Tumirah. Beliau berpendapat bahwa
pembentukan BPD akan membuat rakyat lebih makmur karena masyarakat dapat
menyuarakan aspirasi terkait dengan pembangunan di desanya. Beliau
mengatakan bahwa masyarakat desa dapat mandiri tanpa bantuan pemerintah.
Misalnya saja mengenai cara menanggulangi
kemiskinan di desanya, dapat dilakukan melalui kerjasama warga lewat
organisasi masayarakat yang ada. Namun, beliau tidak menafikkan pentingnya
juga program bantuan pemerintah seperti IDT dan program bantuan desa.
Akhirnya, karena waktu sudah
menunjukkan hampir pukul tiga (sesuai dengan kesepakatan dengan
rekan-rekan lain bahwa kami akan berkumpul kembali apda pukul tiga), kami
pamit.
Kalau saat kami memasuki Dusun
Ngasem matahari tengah bersinar dengan garangnya, waktu meninggalkan dusun
itu tirai hujan mengiringi langkah kami ke balai desa.
Setelah berkumpul, kami kembali ke
Jogja dengan berbagai pemikiran. Ada beberapa hal yang menarik perhatian
kami dari kunjungan, yaitu:
Pertama, ekonomi rakyat,
sebagaimana telah disebutkan sebelumnya seringkali tidak diakui sebagai
sektor yang berperan penting dalam perekonomian nasional, bahkan para
pakar ekonomi sekarang berkeberatan terhadap istilah ini. Pada sektor
ekonomi rakyat telah menggerakkan 75% ekonomi nasional dan berperan
sebagai penyangga ekonomi Indonesia yang terpuruk. Saat perusahaan dan
bank-bank masih terpuruk akibat krismon, ekonomi rakyat telah menjadi
positif karena sektor ini tidak terpengaruh dampak krismon secara
signifikan. Saat berkunjung ke Gunung Kidul, kami melihat sendiri
buktinya.
Kedua, faktor-faktor non-ekonomi
– seperti budaya gotong-royong, kekeluargaan, keterbukaan, pengawasan
masyarakat atas lembaga yang ada – telah memberikan kontribusi besar
bagi keberhasilan program ekonomi. Hal ini sejalan dengan ekonomi
kelembagaan (institutional economics) yang dicetuskan olehJohn R.
commons yang menekankan kerjasama (cooperation) dan tindakan
bersama (collective action) dalam pemecahan masalah pertarungan
kepentingan-kepentingan ekonomi (conflict of interest) ketimbang
persaingan (competition) atas kelangkaan (scarsity) dan
efisiensi.
Keterbukaan dan pengawasan
masyarakat diperlukan agar para pengurus lembaga atau pejabat tidak
melakukan tindakan menyimpang, dan mempertahankan aparat yang kinerjanya
dianggap sudah baik. Contohnya Pak Kades Kemadang yang anggota Polri
tersebut, sempat beberapa tahun tidak menjabat sebagai kepala desa, akan
tetapi beliau dipilih lagi karena dianggap memiliki kinerja yang baik.
(Pak Bakul Kuali yang mengantar kami, beliau tidak mau menyebut namanya,
mengatakan bahwa Pak Kades dapat bersosialisasi dengan baik kepada
masyarakat, dan menurutnya telah bekerja baik). Kasus berbeda di Ngasem,
di mana koperasi tidak berjalan lagi hampir setahun belakangan ini, karena
pengurusnya merasa ‘gerah’ mendengar gunjingan masyarakat. Terlepas
benar-tidaknya kecurigaan warga mengenai ketidaktransparanan manajemen
koperasi, pengawasan sosial seperti ini sangat efektif mencegah tindakan
penyelewengan.
Beberapa tahun lalu, saya bertanya
pada seorang rekan mengenai apa hubungan antara Ekonomi Islam dengan
Ekonomi Pancasila. Saya bingung, bagaimana menentukan hubungan kedua
sistem ekonomi tersebut. Bagi saya, keduanya sama saja. Sama-sama
menawarkan suatu perkonomian yang beretika. Terkait dengan pelaksanaan
otonomi yang mengacu pada sila pertama, saya berfikir bahwa ekonomi itu
harus sesuai dengan hukum Tuhan, yang dalam hal ini menekankan pada moral
(bukankah dalam Islam puncak perjuangan Rasul adalah memperbaiki Akhlak?).
Apakah di situ letak Ekonomi islami? Tapi bukankah Ekonomi Islam itu juga
mengandung pengaplikasian empat sila yang lain?
Kemudian rekan ini mengajak saya
untuk meninjau sejarah (terima kasih ya Henry Aspan). Menurutnya ada
distorsi sejarah dan pemikiran. Kebanyakan kita berfikir bahwa
Soekarno-lah yang ”menemukan” Pancasila, tapi kenyataannya hal
tersebut tidak sepenuhnya benar. Memang Bung Karno mengemukakan konsep
Pancasila. Tapi bukankah pengembangannya dilakukan oleh orang lain. Dalam
hal ini suatu badan pekerja yang kesemuanya beragama islam. (Penekanan
Bung karno sendiri adalah Internasionalisasi, beliau berkata bahwa
Pancasila bisa “dipadatkan” menjadi Trisila, Inti Trisila adalah
Ekasila yaitu Internasionalisasi). Kita bisa melihat sendiri, yang
mendorong pejuang-pejuang bangsa ini melawan penjajah adalah kesadaran
beragama yang kuat (baca:Islam). Maka saat mereka harus membuat ideologi
negara, apa yang menghalangi mereka untuk menggalinya dari nilai-nilai
Islam? Kita bisa melihat sendiri sila mana dari Pancasila yag tidak sesuai
dengan Al-Qur’an? Sila pertama mengalami perubahan narasi karena
mendapat tantangan dari peserta forum yang non-muslim ketika isi sila-sila
ini di-floor-kan. Tapi apakah hal ini menjadikan Pancasila tidak
Islami? Idak bukan? Karena dalam Islam juga ada aturan mengenai hubungan
toleransi antar umat beragama. Perubahan dilakukan untuk menunjukkan
kompromi umat Islam agar Pancasila lebih diterima dan tidak memicu
percecokan akibat sentimen agama. Yang penting esensi dan bukan hanya apa
yang ada di atas kertas. Jadi biarkan “Ketuhana Yang Maha Esa” itu
diartikan sebagai allahu Ahad. Kosekwensinya umat Islam tetap harus
melaksanakan isi sila pertama. Menurut kami tidak masalah narasi itu
rubah, karena toh setiap agama mengajarkan kebaikan.
Yang terjadi kemudian, dan ini
merupakan salah satu kesalahan orde Baru adalah pensakaralan Pancasila.
Pancasila dianggap seperti “benda keramat” dan hanya dihafalkan
sila-silanya, dibaca penjelasannya (P4) sehingga masyarakat malah tidak ngeh
untuk bertindak sesuai dengan Pancasila karena menganggapnya hanya sebagai
kumpulan nilai!
Belajar dari sejarah dan melihat
kondisi sosial-budaya bangsa Indonesia, kami semakin yakin bahwa dari
berbagai sistem yang ada, sistem ekonomi yang paling memungkinkan
diaplikaskan di Indonesia adalah yang sesuai dengan kepribadian dan
kondisi bangsa kita.
Ira Nawang Wulan : Mahasiswa Jurusan
IESP Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Peserta
Kuliah Ekonomi Indonesia yang diasuh Prof. Dr. Mubyarto
PUSTAKA
Arsyad, Lincohn., Memahami Masalah Kemiskinan di Indonesia:
Suatu Pengantar, Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Indonesia, No. 1 Tahun
VII, 1992, p.95-116.
Bank Indonesia, Kajian Ekonomi Regional DIY, Triwulan
H, 2001,
Mubyarto, Membangun Sistem Ekonomi, BPFE Yogyakarta,
2000.
Mubyarto, Prospek Otonomi Daerah dan Perekonomian
Indonesia Pasca Krisis Ekonomi, BPFE Yogyakarta, 2001.
Singarimbun, Masri., Perubahan-Perubahan Sosial-Ekonoini di
Miri Sriharjo, Kemiskinan Peranan Sistem Pasar, David H. Penny, Ul
Press, 1990.
>>
Tulis komentar anda.....