|
[Artikel - Th. I - No.
6
-
Agustus 2002]
Mubyarto
INVESTASI JEBLOK = EKONOMI MEROSOT,
BENARKAH?
“Ekonomi
Indonesia tidak mungkin pulih dari krisis jika pemerintah dan masyarakat
tidak berusaha keras mengadakan investasi atau meningkatkan kembali nilai
investasi yang merosot terus sejak krisis tahun 1997/98”. Inilah
diagnosis ekonomi khas ekonomi Neoklasik. Sifat khas diagnosis
mereka adalah menganggap dunia ekonomi adalah otonom, dianggap lepas (atau
bisa dilepas) dari dunia politik, sosial, hukum, dan moral. Memang
diagnosis yang lengkap pasti disertai asumsi: jika politik stabil, kondisi
sosial pulih, hukum dipatuhi, dan moral bangsa Indonesia kembali baik,
maka diagnosis dan prognosis ekonomi ekonomi Indonesia akan demikian itu.
Namun masalahnya
para ekonom Neoklasik ini tidak merasa perlu menyatakan
asumsi-asumsi tersebut, karena diagnosis dan prognosis ekonom selalu
disertai asumsi ceteris paribus, yang menurut mereka tidak perlu
dikatakan, mestinya orang sudah tahu. Inilah arogansi ilmu ekonomi
yang menganggap semua orang sudah tahu metode berpikir para ekonom
sehingga tidak dianggap perlu menerangkannya.
Saya
sangat prihatin Kompas tanggal 25 Juli tidak menyadari adanya
kelemahan mendasar dari paradigma ekonomi Neoklasik yang dipakai dalam
pelaporan dan penulisan tajuk-tajuk rencana tentang ekonomi Indonesia.
Paradigma yang dipakai adalah persaingan bebas liberal seperti dalam
textbook Neoklasik Amerika yang kemudian diterapkan secara deduktif atas
ekonomi Indonesia dengan asumsi kondisi ekonomi dan budaya Indonesia tidak
berbeda dengan kondisi ekonomi dan budaya Amerika.
Kita
kutip sebagian Tajuk Rencana Kompas 25 Juli:
Hadirnya
pedagang kaki lima baru, penjual warung tegal baru, selalu diikuti dengan
hilangnya pedagang lama. Kehadiran pengojek yang baru ditandai dengan
berhentinya pengojek yang lain.
Itulah
kehidupan para pedagang kecil, keseharian dari ekonomi rakyat. Masuk dan
keluar dalam bisnis mereka bukan hanya terjadi dengan mudahnya, tetapi
tinggi intensitasnya.
Untung
dan rugi, mendapatkan modal baru dan kehabisan modal, begitu cepat
terjadi. Sama cepatnya dengan berjualan di satu tempat, untuk kemudian
berpindah ke tempat lain, hanya untuk berharap pendapatan yang lebih baik.
Pernyataan-pernyataan
demikian tentang ekonomi rakyat Indonesia diragukan berasal dari hasil
penelitian empirik, tetapi disimpulkan secara deduktif karena sistem
persaingan bebas liberal di Barat (Amerika) kondisinya memang demikian.
Perusahaan-perusahaan bangkrut dan muncul secara silih berganti tanpa
ampun, dan mestinya di sinipun di sektor ekonomi rakyat juga begitu.
Inilah anggapan yang keliru. Sebenarnya kesimpulan itu tidak konsisten
dengan gambaran sesudahnya tentang ekonomi rakyat yang bersifat “tolong
menolong di antara keluarga besar”. Benarkah ekonomi rakyat bisa
digambarkan seperti keluarga besar? Kiranya ini sekedar “sindiran”
atas bunyi pasal 33 UUD 1945 bahwa perekonomian disusun sebagai usaha
bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
Perlu
dicatat bahwa asas kekeluargaan tidak berarti perekonomian
Indonesia secara keseluruhan merupakan keluarga besar. Kerjasama
dalam usaha seperti koperasi tidak perlu bersifat tolong menolong
tetapi bekerja bersama untuk mencapai hasil yang bermanfaat bagi
semua. Yang sering dikelirukan juga adalah bahwa di kalangan ekonomi
rakyat tidak ada persaingan. Sebaliknya persaingan keras sering terjadi
antara usaha-usaha mikro dan kecil namun persaingan yang tidak saling
mematikan. Justru dalam kenyataan hanya di antara perusahaan-perusahaan
besar terjadi pengelompokan-pengelompokan usaha (grup-grup) kadang-kadang
secara sembunyi-sembunyi dalam bentuk persekongkolan untuk memenangkan
persaingan yang melawan kepentingan umum (Adam Smith, 1776), sedangkan
dalam usaha-usaha kecil dan mikro persekongkolan seperti ini tidak ada.
Satu
kesalahan fatal terjadi jika angka-angka persetujuan investai (PMDN dan
PMA) yang merosot dianggap sebagai satu-satunya indikasi kemunduran
ekonomi Indonesia. Mengapa pernyataan dalam berita utama Kompas
tanggal 24 Juli bahwa angka persetujuan investasi itu sendiri tidak
memasukkan investasi di sektor minyak dan gas bumi, perbankan, lembaga
keuangan non-bank, asuransi, dan sewa guna usaha tidak dijadikan
peringatan untuk mengoreksi kesimpulan penulis tajuk rencana.
Mengesampingkan angka-angka investasi di luar angka BKPM jelas fatal,
karena sejak krisis peranan lembaga keuangan non-bank seperti asuransi,
koperasi, pegadaian, dan lembaga-lembaga informal termasuk
investasi-investasi pribadi dunia usaha yang tidak terdaftar besar sekali,
yang angkanya dapat dicari jika penulis tajuk mau sedikit menggali melalui
penelitian sederhana. Memang inilah perbedaan besar cara kerja ekonom dan
anthropolog. Anthropolog menggunakan data primer dan sekunder, sedangkan
ekonom menggunakan data tersier dan sekunder. Jika ekonom Indonesia ingin
analisis-analisis ekonominya lebih realistis dan relevan untuk Indonesia,
sebaiknya menggunakan pendekatan ekonomi-anthropologi, tidak hanya
menggunakan metode deduktif dan data sekunder dan tersier. Memang ada
kecenderungan penulis tajuk secara a priori menunjuk krismon
sebagai penyebab utama anjlognya investasi sehingga kurang waspada melihat
bahwa penurunan PMDN sudah dimulai tahun 1996 dan PMA tahun 1997 padahal
pada tahun-tahun itu pertumbuhan ekonomi masih positif tinggi. Artinya,
tidak benar bahwa investasi sebagaimana tercermin dari angka-angka
persetujuan PMDN dan PMA merupakan kunci pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab
itu cukup menyesatkan pesan yang ingin diberikan oleh berita utama Kompas,
24 Juli, yang berjudul: Persetujuan PMA turun 42 persen. Jelas bahwa
penurunan ini bisa tidak berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi
nasional, lebih-lebih bila diingat di Malaysia dan Filipina investasi juga
anjlog masing-masing 69 persen dan 39 persen untuk periode yang sama.
Kesimpulan
saya, analisis Tajuk Rencana Kompas 25 Juli dan berita utama Kompas
24 Juli menyesatkan, karena merupakan analisis di belakang meja/komputer
berdasar teori ekonomi textbook Neoklasik. Bahwa pertumbuhan ekonomi 3,85
persen tidak dianggap cukup untuk membuka lapangan kerja ini merupakan
hasil hitungan dengan rumus-rumus berdasar asumsi-asumsi teori ekonomi
textbook, yang belum tentu cocok dengan pasar tenaga kerja Indonesia. Jika
kita ingin menjelaskan kondisi riil ekonomi Indonesia, hendaknya kita
bersedia mengadakan penelitian empirik langsung ke lapangan, tidak hanya
mengotak-atik angka-angka statistik makro dengan menggunakan rumus-rumus
buku teks Amerika. Kami baru saja ikut serta melakukan penelitian lapangan
tentang aspek kehidupan rumah tangga (SAKERTI) di 13 propinsi dengan
mewawancara 10.400 keluarga (43.600 individu) Juni – Desember 2000.
Hasilnya antara lain kesempatan kerja 1997-2000 tidak menurun, tetapi
meningkat 4,2% dari 79,4% menjadi 83,6%. Data ini berarti menolak
kesimpulan Tajuk Kompas bahwa pengangguran di Indonesia makin parah. Juga
ditemukan bahwa 75% dari keluarga yang diwawancara melaporkan tidak adanya
penurunan kesejahteraan, dan lebih dari 70% mengatakan standar hidup
mereka memadai.
Demikian
data-data empirik dari lapangan menunjukkan bahwa skenario kiamat akibat
krismon sama sekali keliru, sehingga juga tidak ada bukti-bukti untuk
bersikukuh bahwa krisis ekonomi di Indonesia masih berlangsung dan tidak
ada tanda-tanda pemulihan. Bahkan masalah besar yang masih harus
diselesaikan BPPN tidak tepat lagi disebut krisis perbankan. Bank-bank
yang ada dalam “perawatan” BPPN sebagian besar tidak akan hidup lagi
atau akan mati. Jadi masa krisis “pasien” sudah lewat, tidak untuk
sehat kembali tetapi akan bangkrut.
Masyarakat
yang semakin cerdas kiranya makin paham akan kekeliruan analisis para
pakar dan pengamat ekonomi,
bahkan termasuk pakar-pakar asing, yang bernada menakut-nakuti karena
semata-mata mengacu pada teori ekonomi Neoklasik Amerika yang keliru jika
diterapkan di Indonesia. Globalisasi dan liberalisasi ekonomi bukanlah tak
terhindarkan (inevitable) apabila kita bertekad menyiasatinya
dengan semangat nasionalisme ekonomi yang tinggi seperti saat menjelang
dan awal kemerdekaan bangsa Indonesia.
Prof. Dr. Mubyarto: Guru Besar FE - UGM
>>
Tulis komentar anda.....
|