|
[Artikel - Th. I - No. 7 - September
2002]
Mubyarto
LSM SEBAGAI ELIT DESA HARUS MEMBELA
KAUM MISKIN
Kombinasi
antara membaca tulisan Hans Antlov (Ford Foundation) dalam LESUNG No. I/II/Juli 2002
(Romantisme Desa dan Kepastian Hukum) dan keikutsertaan dalam diskusi
kelompok Lokakarya Pengkajian dan Pemaduan Modul-modul Panduan dan Bahan
Acuan Demokratisasi Desa tanggal 21 Agustus (pk 8.30 – 17.00) terasa
cukup mengagetkan. Aktivis-aktivis LSM termasuk yang bergiat
di Lokakarya FPPM rupanya justru sudah menjadi “Elit” desa
baru, dan “elit” ini dalam pengertian negatif yaitu merupakan kelompok
baru yang tidak menyatu dengan penduduk pedesaan yang miskin dan perlu
dilindungi dan dibela, tetapi tanpa disadari, menjadi kelompok kepentingan
baru, yang kepentingan-kepentingannya supaya berkelanjutan harus
dilindungi. Upaya melindungi kepentingan-kepentingan elit baru ini dicapai
melalui “hubungan baik” dengan elit baru pemimpin desa termasuk di
dalamnya anggota BPD (Badan Perwakilan Desa).
Yang
patut dicatat, LSM dan tokoh-tokoh pembela kaum miskin yang baru ini tanpa
mereka sadari, telah terperangkap dalam kelompok elit baru, karena mereka
tidak rajin turun ke desa dan tidak terlibat langsung dan memahami serta
menghayati masalah-masalah yang dihadapi kaum miskin. Yang lebih banyak
mereka lakukan adalah berdebat di antara mereka dengan mengedepankan
teori-teori sosial dan politik dari negara-negara Barat terutama dari
Amerika. Jika kekeliruan atau ketidakcocokan teori-teori Amerika ini
sangat menyolok dalam ilmu ekonomi Neoklasik, saya kawatir dalam ilmu-ilmu
sosial lain, yang mencakup ilmu sosiologi, anthropologi, politik, dan
hukum tidak berbeda, karena mereka lebih menekankan pada metode deduktif
dan bukan induktif-empirik. Misalnya demokratisasi desa lebih
terarah pada penonjolan “suara terbanyak” bukan pada “musyawarah
mencapai mufakat” yang memerlukan semangat “kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. Contoh
terbaru adalah putusan MPR memilih sistem pemilihan Presiden langsung yang
“diharapkan” mampu menghasilkan presiden yang lebih baik karena
merupakan pilihan rakyat langsung (bukan hanya pilihan wakil rakyat, yaitu
MPR), yang sejak Pemilu yang “paling demokratis” tahun 1999, ternyata
tidak menghasilkan Presiden yang dapat memenuhi keinginan rakyat banyak.
Bahwa
Pemilu yang demokratis tahun 1999 belum menghasilkan wakil-wakil yang
memperjuangkan kepentingan rakyat, tentunya harus dijadikan pelajaran
penting bahwa pemilihan demokratis itu sendiri tidak menjamin pelindungan
dan pembelaan rakyat miskin. Dan jika memang demikian, mengapa kita
(LSM-LSM yang tergabung dalam lokakarya FPPM) tetap saja bersemangat
mendorong “demokratisasi desa”? Apabila pemerintahan dan masyarakat
desa termasuk BPD sudah “demokratis” menurut “teori” kita, apakah
ada jaminan kaum miskin di perdesaan terlindungi dan terbantu
kepentingannya yaitu bebas dari kemiskinan? Kiranya pengalaman rekan-rekan
aktivis LSM dalam lokakarya ini tidak demikian. BPD dan birokrasi desa
telah menjadi elit desa baru yang tetap saja menekan kaum miskin.
Kepada
para aktivis LSM saya mengharapkan mengubah metoda kerja yang selama ini
dipakai. Teori-teori boleh dipakai, tetapi yang lebih penting mungkin
seperti metode penelitian anthropologi, tinggalkan teori-teori dengan
langsung “ajur-ajer” pada budaya masyarakat yang sedang kita teliti
dan yang ingin kita bantu untuk melepaskan diri dari “lubang
kemiskinan”. Teman-teman, sadarlah pada kekeliruan metode kerja yang
selama ini Anda pakai.
23-8-2002
Prof. Dr. Mubyarto: Guru Besar FE - UGM, Anggota Steering Commitee
Forum Pengembangan Partisipasi Masyarakat (FPPM)
Disampaikan
Lokakarya Pengkajian dan Pemaduan Modul-modul Panduan dan Bahan
Acuan Demokratisasi Desa, diselenggarakan oleh Forum Pengembangan dan
Partisipasi Masyarakat (FPPM), Kaliurang, 24-26 Agustus 2002.
>>
Tulis komentar anda.....
|