Liputan Kegiatan
Diskusi Kelompok Fokus tentang Kajian Strategis Indikator
Kemiskinan, Balitbang Propinsi Jawa Tengah,
28 Oktober 2002. ---
Mana Indikator Kemiskinan yang Paling Benar?
Oleh: Puthut Indroyono
Pada tanggal 28 Oktober 2002
Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Propinsi Jawa Tengah
mengadakan kajian atau diskusi kelompok terfokus tentang indikator
kemiskinan baik di tingkat kabupaten/kota, maupun di tingkat propinsi Jawa
Tengah. Pada kajian itu tampil sebagai pembicara utama Prof. Dr. Mubyarto,
2 orang pembicara dari BPS dan BKKBN, termasuk juga pimpinan balitbang,
Ir. Padri H Aksah, MSc., yang memimpin langsung jalannya sidang. Para
peserta berasal dari instansi di lingkungan pemerintah propinsi,
kabupaten, dan kota utamanya yang membidangi masalah penanggulangan
kemiskinan dari hampir semua kabupaten dan kota di Jawa Tengah.
Salah satu maksud dibahasnya tema
indikator kemiskinan adalah bahwa saat ini di lingkungan dinas-dinas di
Pemda khususnya di Jawa Tengah sangat dirasakan terdapatnya keragu-raguan
“mana yang benar” kriteria penduduk miskin baik dari BPS maupun BKKBN.
Keragu-raguan tersebut berkait dengan pembuatan program oleh
instansi-instansi pemerintah dan karena itu penentuan kriteria menjadi
sangat dibutuhkan. Selain itu, pada masa otonomi daerah saat ini,
pemerintah daerah juga mengalami kebingungan yang sama tentang bagaimana
menyusun program penanggulangan kemiskinan. Program penanggulangan
kemiskinan yang mereka kenal hampir semuanya berasal dari pusat dan
disertai dengan kriteria dari pusat pula.
Pada kesempatan tersebut, Prof
Mubyarto mempertanyakan hal yang lebih mendasar “Apakah kriteria
kemiskinan diperlukan pemerintah, dan apakah perlu indikator
tertentu bagi keluarga miskin? Apa gunanya indikator atau kriteria
kemiskinan? Apakah agar program-program penanggulangan kemiskinan lebih
mengena sasaran? Jika kebijakan-kebijakan, strategi dan program-program
penanggulangan kemiskinan selama ini ternyata tidak efektif mencapai
sasaran, apakah berarti kriteria kemiskinan yang dipakai tidak
tepat atau indikatornya keliru?
Setelah terlebih dahulu menguraikan
beberapa kriteria ataupun indikator kemiskinan yang dipakai oleh BPS dan
BKKBN, maupun yang dipakai lembaga-lembaga lain seperti Bank Dunia, serta
menjelaskan pula kelebihan dan kelemahan dari masing-masing indikator
tersebut, selanjutnya Prof. Mubyarto mengajak kepada peserta sidang untuk
tidak terlalu merisaukan indikator kemiskinan dan tidak perlu
menetapkan kriteria-kriteria yang ketat dengan harapan dapat menyampaikan
program/proyek yang tepat bagi orang/penduduk miskin. Di samping itu, ia
juga mengingatkan bahwa dalam era otonomi daerah bahwa program
penanggulangan kemiskinan yang telah dilaksanakan pada masa-masa yang
telah lalu banyak yang berhasil dan masih berlangsung kegiatannya hingga
saat ini.
Khusus untuk data BPS dan BKKBN, data kemiskinan
BPS adalah data makro yang diperoleh dengan penetapan garis
kemiskinan tertentu untuk memperoleh taksiran angka-angka kemiskinan
nasional atau paling rendah pada tingkar propinsi. Angka ini makin
diturunkan makin tidak relevan. Sebaliknya data BKKBN adalah data mikro
sebagai ancar-ancar (perkiraan) untuk melaksanakan program-program
tertentu dengan sasaran orang-orang miskin. Data mikro ini makin dibawa ke
atas makin tidak relevan. Program-program penanggulangan kemiskinan dengan
sasaran penduduk miskin sebaiknya diserahkan kepada masyarakat setempat.
(*)
Drs. Puthut Indroyono,
Asisten Peneliti Pusat Studi Ekonomi Pancasila
(PUSTEP-UGM)
|