Pembicara:
-
Prof. Sri-Edi Swasono
-
Prof. Franz Magnis-Suseno
-
Prof. Achmad Syafii Maarif
-
Prof. Mubyarto
Dengan makalah masing-masing sebagai berikut:
-
Dengan
Keberhasilan Mempertahankan Pasal 33 UUD 1945 Kita Mengembangkan
Perekonomian Rakyat/ UKM Menuju Kemandirian Menghadapi Globalisasi
-
Budaya,
Agama, Masalahkah?
-
Sumpah
Pemuda di Tengah Kegalauan Masa Depan Bangsa
-
Ekonomi
Rakyat Indonesia Pasca Krismon
Meskipun segi pandang makalah para pembicara berbeda-beda,
namun semuanya diarahkan pada Sumpah Pemuda 74 tahun yang silam yang
bersumpah tanah air, bangsa, dan bahasa yang satu, Indonesia. Semangat
bersatu ini sebenarnya sudah dengan tegas dan berani dinyatakan dalam
Manifesto Politik Perhimpunan Indonesia (1925) yaitu (1) Pemerintahan yang
demokratis (dipilih oleh dan dari rakyat), (2) Perjuangan tidak memerlukan
bantuan dari siapapun, (3) Perjuangan hanya berhasil melalui persatuan.
Isu yang sangat relevan dan urgen dari lokakarya adalah
globalisasi yang nampak makin garang, sehingga pertanyaan “klise” yang
diajukan dan dijawab dengan baik oleh Prof Edi Swasono adalah tentang
kesiapan ekonomi rakyat menghadapi globalisasi. Pada tahun 1995 bertepatan
dengan 100 tahun Aliansi Koperasi Internasional (ICA), pertanyaan itu
telah dijawab dengan lugas. Koperasi adalah lembaga ekonomi modern, sesuai
dengan tuntutan global untuk memajukan world solidarity among peoples,
mutuality, and brotherhood. Koperasi bukan lembaga yang ketinggalan
zaman. Demikian pula perekonomian rakyat yang dikenal dengan istilah grassroot
economy, hampir di semua negara merupakan kekuatan ekonomi yang
mendukung keseluruhan ekonomi nasional, terutama di negara-negara yang
sedang berkembang.
Prof. Franz Magnis-Suseno menegaskan bahwa agama masa depan
harus bernafaskan perikemanusiaan. Berperikemanusiaan berarti
prinsip menghormati orang lain dan kelompok orang lain dalam keutuhannya.
Mengenai berbagai konflik di negara kita termasuk konflik agama
disimpulkannya bahwa “asal kita mau bersikap terbuka, bertekad untuk
selalu bertindak secara beradab, dan berperikemanusiaan, kemajemukan
budaya dan agama di seantero nusantara tidak mengancam persatuan bangsa,
melainkan merupakan aset yang amat berharga dalam usaha untuk bersama-sama
membangun kehidupan masyarakat yang solider, inklusif, toleran, adil dan
sejahtera.
Prof. Syafi’i Maarif yang mengulas Sumpah Pemuda dan relevansinya di masa sekarang menyatakan
keprihatinan atas perilaku menyimpang warga bangsa di hampir semua lapisan
masyarakat. Sumpah Pemuda tetap relevan tetapi substansi kesepakatannya
harus diperbaharui dengan mengikutsertakan semua komponen bangsa untuk
duduk bersama, mencari format baru tentang masa depan kita semua…
Pancasila harus mengalami proses revitalisasi yang fundamental agar ia
fungsional dalam membimbing perilaku kita semua.
Prof. Mubyarto yang berbicara paling akhir mengeluh bahwa
rekan-rekannya ekonom arus utama, tetap saja, 5 tahun sejak krismon tidak
mau melepaskan paradigma yang salah bahwa pertumbuhan ekonomi harus
dicapai at all cost atau at every price. Jika perekonomian
tumbuh 3-4% tetapi disumbang dan dinikmati oleh orang seorang (ekonomi
rakyat) maka pertumbuhan itu harus kita terima. Sebaliknya meskipun
pertumbuhan ekonomi tinggi (7,7%) tetapi hanya disumbang dan dinikmati
oleh segelintir orang, maka pertumbuhan jenis itu harus ditolak.
Pemerataan harus benar-benar ditingkatkan agar kesenjangan antar kita
tidak makin melebar.
Demikian lokakarya di hotel IBIS sungguh memuaskan banyak
orang termasuk Panitia karena mampu menggugah semangat Sumpah Pemuda 74
tahun yang lalu.
(*)