Liputan Kegiatan

Surabaya, 29 Oktober 2002. ---

Lokakarya Nasional "Indonesia Bersatu Menyongsong Era Global"

Oleh: Mubyarto

 

Pembicara:

  1. Prof. Sri-Edi Swasono

  2. Prof. Franz Magnis-Suseno

  3. Prof. Achmad Syafii Maarif

  4. Prof. Mubyarto

Dengan makalah masing-masing sebagai berikut:

  1. Dengan Keberhasilan Mempertahankan Pasal 33 UUD 1945 Kita Mengembangkan Perekonomian Rakyat/ UKM Menuju Kemandirian Menghadapi Globalisasi

  2. Budaya, Agama, Masalahkah?

  3. Sumpah Pemuda di Tengah Kegalauan Masa Depan Bangsa

  4. Ekonomi Rakyat Indonesia Pasca Krismon

Meskipun segi pandang makalah para pembicara berbeda-beda, namun semuanya diarahkan pada Sumpah Pemuda 74 tahun yang silam yang bersumpah tanah air, bangsa, dan bahasa yang satu, Indonesia. Semangat bersatu ini sebenarnya sudah dengan tegas dan berani dinyatakan dalam Manifesto Politik Perhimpunan Indonesia (1925) yaitu (1) Pemerintahan yang demokratis (dipilih oleh dan dari rakyat), (2) Perjuangan tidak memerlukan bantuan dari siapapun, (3) Perjuangan hanya berhasil melalui persatuan.

Isu yang sangat relevan dan urgen dari lokakarya adalah globalisasi yang nampak makin garang, sehingga pertanyaan “klise” yang diajukan dan dijawab dengan baik oleh Prof Edi Swasono adalah tentang kesiapan ekonomi rakyat menghadapi globalisasi. Pada tahun 1995 bertepatan dengan 100 tahun Aliansi Koperasi Internasional (ICA), pertanyaan itu telah dijawab dengan lugas. Koperasi adalah lembaga ekonomi modern, sesuai dengan tuntutan global untuk memajukan world solidarity among peoples, mutuality, and brotherhood. Koperasi bukan lembaga yang ketinggalan zaman. Demikian pula perekonomian rakyat yang dikenal dengan istilah grassroot economy, hampir di semua negara merupakan kekuatan ekonomi yang mendukung keseluruhan ekonomi nasional, terutama di negara-negara yang sedang berkembang.

Prof. Franz Magnis-Suseno menegaskan bahwa agama masa depan harus bernafaskan perikemanusiaan. Berperikemanusiaan berarti prinsip menghormati orang lain dan kelompok orang lain dalam keutuhannya. Mengenai berbagai konflik di negara kita termasuk konflik agama disimpulkannya bahwa “asal kita mau bersikap terbuka, bertekad untuk selalu bertindak secara beradab, dan berperikemanusiaan, kemajemukan budaya dan agama di seantero nusantara tidak mengancam persatuan bangsa, melainkan merupakan aset yang amat berharga dalam usaha untuk bersama-sama membangun kehidupan masyarakat yang solider, inklusif, toleran, adil dan sejahtera.

Prof. Syafi’i Maarif yang mengulas  Sumpah Pemuda dan relevansinya di masa sekarang menyatakan keprihatinan atas perilaku menyimpang warga bangsa di hampir semua lapisan masyarakat. Sumpah Pemuda tetap relevan tetapi substansi kesepakatannya harus diperbaharui dengan mengikutsertakan semua komponen bangsa untuk duduk bersama, mencari format baru tentang masa depan kita semua… Pancasila harus mengalami proses revitalisasi yang fundamental agar ia fungsional dalam membimbing perilaku kita semua.

Prof. Mubyarto yang berbicara paling akhir mengeluh bahwa rekan-rekannya ekonom arus utama, tetap saja, 5 tahun sejak krismon tidak mau melepaskan paradigma yang salah bahwa pertumbuhan ekonomi harus dicapai at all cost atau at every price. Jika perekonomian tumbuh 3-4% tetapi disumbang dan dinikmati oleh orang seorang (ekonomi rakyat) maka pertumbuhan itu harus kita terima. Sebaliknya meskipun pertumbuhan ekonomi tinggi (7,7%) tetapi hanya disumbang dan dinikmati oleh segelintir orang, maka pertumbuhan jenis itu harus ditolak. Pemerataan harus benar-benar ditingkatkan agar kesenjangan antar kita tidak makin melebar.

Demikian lokakarya di hotel IBIS sungguh memuaskan banyak orang termasuk Panitia karena mampu menggugah semangat Sumpah Pemuda 74 tahun yang lalu.

(*)


Prof. Dr. Mubyarto, Guru Besar FE-UGM

 

 

 


Copyright © 2002 www.ekonomirakyat.org
e-mail: redaksi@ekonomirakyat.org dan yae@indo.net.id
web-master: webmaster@ekonomirakyat.org