EDITORIAL (Edisi 2011-01-10)

POLITIK PERTANIAN YANG MENSEJAHTERAKAN PETANI

 

Kita semua mengetahui, bahwa kegiatan pertanian memiliki ciri yang khas, unik, dan berbeda dengan kegiatan manusia lainnya. Pertanian dasarnya adalah iklim, tanah, air, dengan tanaman atau hewan yang membentuk jejaring ekologi yang sangat kompleks dimana manusia berada di dalamnya. Ditambah kekhasan lain, seperti struktur kepulauan Indonesia, heterogenitas sumberdaya alam, plasma nutfah dan lingkungan menjadi ciri diversitas pertanian, merupakan bagian keunikan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dunia dengan jumlah penduduk urutan keempat terbesar dunia.

Ke depan, masalah utama yang kita hadapi adalah bagaimana mengatasi kemiskinan, pengangguran, kesenjangan, dan kerusakan lingkungan hidup yang semakin hari tampaknya semakin parah. Petani sebagai subyek terbesar dalam masyarakat pertanian, dalam banyak hal berusaha dengan sifat small scale, penuh keterbatasan aset, teknologi dan ketrampilan. Meski mereka telah membuktikan sebagai real investor dalam pembangunan pertanian selama ini, tetap dibutuhkan jaminan untuk mengatasi resiko dan ketidakpastian (risk and uncertainty) usahanya. Jaminan terhadap struktur pasar produknya yang oligopolistik dalam wujud perusahaan multinasional, jaminan terhadap teknologi dan nilai tambah kegiatan produktifnya. Potret saat ini mencerminkan kondisi bahwa disain pembangunan pertanian kita belum mampu mengintegrasikan antara kegiatan ekonomi primer dengan kegiatan industri pengolahan dalam suatu integrasi yang solid dan padu, sehingga nilai tambah yang terjadi senantiasa seringkali bukan dinikmati oleh mereka.

Sebenarnya, banyak pelajaran telah kita peroleh. Bukti empiris menunjukkan bahwa kemajuan negara-negara umumnya sangat ditentukan oleh kemajuan pertaniannya. Kemajuan pertanian bukan hanya diperlihatkan oleh peningkatan produktivitas, efisiensi dan daya saing produk-produk pertaniannya semata, tetapi lebih kepada kemajuan dan kesejahteraan masyarakat petani dan perdesaan, dalam suatu proses transformasi ekonomi yang terjadi secara berkelanjutan apabila pertanian tumbuh menjadi sektor yang kuat dan sehat. Akar dari berkembangnya proses tersebut dicirikan oleh berkembangnya industri-industri berbasis pertanian sebagai landasan kokoh dari perkembangan perekonomian suatu negara maju. Kemajuan-kemajuan yang dicapai Jepang, Korea Selatan, Malaysia dan Thailand dapat dijadikan cermin bagi Indonesia.

Mungkin kekeliruan kita selama ini adalah menempatkan ideologi pertanian terbatas hanya dalam konteks fisik dan kapital semata. Peningkatan produksi, produktivitas, ketahanan dan keamanan pangan, agribisnis, devisa adalah parameter-parameter penting, akan tetapi terkesan mengesampingkan aspek terpenting lain dari pertanian itu sendiri, yaitu petani dan kesejahteraannya. Ideologi semacam itu lebih bersifat hedonistik, meski memang sering menuai berbagai kisah sukses seperti tercapainya swasembada, akan tetapi sekaligus terlihat tanda-tanda ‘peminggiran’ subyek petani dan kesejahteraannya. Sejauh ini kita bahkan seringkali masih dihadapkan pada keprihatinan petani-petani di perdesaan, yang merupakan bagian terbesar masyarakat yang masih berada di “barisan belakang” dalam stratum kesejahteraan penduduk umumnya.

Mestinya, ideologi yang harus kita bangun adalah mendorong agar petani-petani di Indonesia memiliki hak-hak khusus seperti yang dapat dilihat berlaku di negara-negara maju. Hak-hak khusus ini diperlukan mengingat karakter dari pertanian itu sendiri, yaitu sebagai landasan berkembangnya peradaban yang lebih maju di satu pihak, tetapi di pihak lain petani akan selalu berada pada posisi yang lemah sebagai akibat dari karakter produk yang dihasilkannya. Tidak mungkin suatu masyarakat berkembang apabila kekurangan pangan, bahkan mengalami food-traps seperti saat ini. Tetapi di pihak lain, pangan ini memiliki nilai tukar yang rendah, bahkan nilai tambahnya tidak dinikmati oleh para petani sebagai produsennya. Oleh karena itu, menjadi hal yang ideal apabila kepentingan petani dan kepentingan negara menjadi satu tanpa meniadakan kepentingan yang satu dengan yang lainnya. Tanpa adanya ideologi semacam ini, program swasembada pangan, misalnya, dapat bermanfaat secara nasional tetapi dapat saja merugikan petani, apabila pendapatan petani tidak dijamin.

Saat ini, lebih-lebih di tahun 2011 yang masih berada di bawah ketidakpastian perubahan iklim dan suasana global yang sangat dinamis, kita sangat membutuhkan bangunan modal sosial pertanian yang lebih kokoh, dengan menumbuhkan semangat dan motivasi menuju peningkatan kesejahteraan petani sebagai subyek. Politik ini pada dasarnya adalah bagaimana melindungi petani dari ketidakadilan pasar (input, lahan, modal, output, dan lainnya). Politik tersebut sebagai bagian penting untuk memberdayakan petani, yang pada dasarnya dapat diimplementasikan melalui berbagai strategi pengelolaan pasar sebagai upaya ‘menjamin’ kesejahteraan petani dari ketidakadilan dan resiko, kebijakan harga input pertanian, kebijakan penyediaan lahan pertanian, permodalan, pengendalian hama dan penyakit, dan kebijakan penanganan dampak bencana alam. Sikap dasar pembangunan pertanian seperti itu harus ditumbuhkan untuk meningkatkan semangat dan motivasi serta keadilan bagi petani sebagai human capital di perdesaan, untuk menghadapi era global yang tidak pernah menjamin terwujudnya keadilan pasar.

Politik kedua adalah bagaimana mengembangkan nilai tambah, yang pada dasarnya berfokus pada bagaimana mengimplementasikan strategi umum dalam memberikan arah bagi pengembangan industrialisasi pertanian. Strategi ini meliputi bagaimana upaya menetapkan berbagai fokus dan prioritas pengembangan industri pertanian berbasis pada sumber bahan baku yang dihasilkan di dalam negeri, bagaimana upaya pengembangan produk-produk antara sebagai bahan dasar untuk berbagai penggunaan (diversifikasi horisontal maupun vertikal) untuk membangun ketahanan dan kemandirian pangan yang kuat dan berkelanjutan, misalnya bagaimana strategi untuk mengembangkan jaringan distribusi dan transportasi pertanian yang terutama berbasis wilayah kepulauan (pelabuhan dan terminal produk pertanian sebagai unsur pokok, dsbnya), bagaimana strategi mengembangkan sistem informasi dan pemasaran pertanian, dan bagaimana strategi memanfaatkan limbah-limbah industri pertanian, serta berbagai strategi fiskal untuk memberikan insentif berkembangnya industri pertanian.

Kita tunggu langkah-langkah bijak dari para pemangku kebijakan.

 

Rudi Wibowo

 

 


  
   
Editorial - 2011-01-10 : POLITIK PERTANIAN YANG MENSEJAHTERAKAN PETANI
Editorial - 2010-11-10 : Konsentrasi Perdagangan Pangan Global dan Kita
Editorial - 2010-09-10 : Peningkatan Nilai Tambah di Pedesaan
Editorial - 2010-06-10 : PETANI DALAM ERA BIO-AGE
Editorial - 2010-05-10 : Benarkah Bank Dunia semakin Menyayangi Pertanian?
Editorial - Mei 2005 : KEPAKARAN DAN KOMPETENSI
Editorial - April 2005 : EKONOMI RAKYAT DAN EKONOMI PANCASILA
Editorial - Maret 2005 : Ekonomi Rakyat dan Kenaikan BBM
Editorial - Pebruari 2005 : Komisi Konstitusi, MPR dan Ekonomi Pancasila
Editorial - Januari 2005 : Ekonomi Populis di Tahun 2005
Editorial - Desember 2004 : BBM dan Ekonomi Rakyat
Editorial - November 2004 : Ekonomi Rakyat (Tetap) dalam Bahaya
Editorial - Oktober 2004 : Perubahan
Editorial - September 2004 : Keberpihakan dan Keadilan
Editorial - Agustus 2004 : Kualitas Manusia Indonesia
Editorial - Juli 2004 : Populis adalah Pro Rakyat
Editorial - Mei 2004 : Pendidikan Rakyat
Editorial - April 2004 : Ekonomi Rakyat Pasca Pemilu
Editorial - Maret 2004 : Belajar Mengatasi Kemiskinan dari Negara Miskin Bangladesh
Editorial - Januari 2004 : Ekonomi Rakyat dan WTO
Editorial - November 2003 : Liberalisasi dan Globalisasi Melemahkan Daya Juang Ekonomi Rakyat
Editorial - Oktober 2003 : Ekonomi Kerakyatan
Editorial - September 2003 : Moral Berekonomi Bangsa
Editorial - Agustus 2003 : Ekonomi Rakyat Makin Kuat
Editorial - Juli 2003 : Yusuf Kalla Menghimbau Keadilan dani Para Elit Bisnis
Editorial - Mei 2003 : Ekonomi Percaya Diri
Editorial - April 2003 : Partisipasi Rakyat
Editorial - Maret 2003 : Ekonomi Rakyat dan UKM
Editorial - Februari 2003 : Satu Tahun Jurnal Ekonomi Rakyat (JER)
Editorial - Januari 2003 : Kilas Balik Ekonomi Rakyat Tahun 2002
Editorial - Desember 2002 : Menghamba Ilmu-Ilmu Barat
Editorial - November 2002 : Perkembangan JER Menggembirakan
Editorial - Oktober 2002 : Pembangunan Alternatif untuk Indonesia
Editorial - September 2002 : Ekonomi Rakyat dalam Era Globalisasi
Editorial - Agustus 2002 : Investasi Ekonomi Rakyat
Editorial - Juli 2002 : Manifesto Politik Ekonomi Pemberdayaan Ekonomi Rakyat
Editorial - Juni 2002 : Salam dari Wisconsin, AS (2)
Editorial - Mei 2002 : Salam dari Wisconsin, AS
Editorial - April 2002 : Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat
Editorial - Februari 2002 : SALAM perkenalan dari Jurnal Ekonomi Rakyat (JER)!

 

 

 


Copyright © 2003 www.ekonomirakyat.org
e-mail: redaksi@ekonomirakyat.org dan yae@indo.net.id
web-master: webmaster@ekonomirakyat.org