|
|
 |
[652] Budi Hartono [Denpasar] | Tanpa Moralitas Ekonomi Pasar Akan Rusak
Sebagai contoh bagaimana pentingnya faktor moral mempengaruhi bekerjanya mekanisme pasar adalah masalah kepercayaan (trust). Seperti yang kita lihat di film-film mafia, pada saat bandar narkotika melakukan transaksi pertukaran antara barang dengan uang, sering kali terdapat perselisihan, uang lebih dahulu diserahkan atau narkotika. Saat bertransaksi masing-masing pihak membawa senjata dan pengawal karena kuatir pihak penjual atau pembeli berkhianat dengan tidak menyerahkan barang atau uangnnya. Walaupun pada akhirnya transaksi tersebut terjadi penukaran, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk memastikan transaksi tersebut terjadi dan secara adil dilaksanakan, misalnya berapa uang yang dikeluarkan untuk membayar pengawalnya, untuk membeli senjata dan akomodasinya. Pertukaran diantara penjahat, masing-masing tidak percaya satu sama lain. Transaksi dapat terjadi tetapi dengan biaya yang tidak murah, pasar yang terbentuk diantara penjahat menjadi tidak efisien. Bagaimana bila situasi tersebut terjadi pada saat kita membeli barang di supermarket, kita mendapatkan barang yang kita inginkan, dengan harga yang lebih mahal karena biaya keamanan akan dibebankan pada pembeli dan ongkos mental kita melalui transaksi yang melelahkan. Pada skala ekonomi yang lebih besar, tanpa ada kepercayaan diantara pelaku ekonomi, akan membuat ekonomi tidak berjalan atau sangat tidak efisien -- posting: 2012-01-30 03:47:00 114.79.28.15 |
[651] Prihono [BDP Mataram] | YANG TERLUPAKAN DALAM PENGEMBANGAN KELOMPOK TANI
YANG TERLUPAKAN DALAM PENGEMBANGAN KELOMPOK TANI.
Oleh Prihono)*
Dalam program pembangunan pertanian dan pengembangan masyarakat perdesaan selama ini, hampir setiap program mengintroduksikan satu kelembagaan baru ke perdesaan. Kelembagaan telah dijadikan alat yang penting untuk menjalankan program tersebut. Namun demikian, penggunaan strategi pengembangan kelembagaan banyak mengalami ketidaktepatan dan kekeliruan
Berdasarkan UndangUndang nomor 16 tahun 2001 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, serta peraturan menteri pertanian nomor 273/Kpts/OT.160/4/2007, tentang pedoman pembinaan kelembagaan petani tersirat bahwa pemberdayaan petani dilaksanakan dengan pendekatan sistem kelompok.
Perkembangan kebijakan pemerintah, khususnya departemen pertanian bahwa kelompok-kelompok tani yang ada dalam satu desa diharapkan untuk bergabung untuk menjadi gabungan kelompoktani (Gapoktan). Target akhir adalah aktifnya 66.000 Gapoktan hingga tahun 2009. Ini artinya, seluruh desa di Indonesia akan memiliki sebuah Gapoktan. Tujuan utama pembentukan dan penguatan Gapoktan adalah untuk memperkuat kelembagaan petani yang ada, sehingga pembinaan pemerintah kepada petani akan terfokus dengan sasaran yang jelas.
Gapoktan tersebut akan senantiasa dibina dan dikawal hingga menjadi lembaga usaha yang mandiri, profesional dan memiliki jaringan kerja luas.
Gapoktan dibangun dalam upaya untuk memperkuat posisi daya tawar petani berhadapan dengan pihak luar (external institutions).
Gapoktan menjadi lembaga gerbang (gateway institution) yang menjalankan fungsi representatif bagi seluruh petani dan kelembagaankelembagaan lain yang levelnya lebih rendah
Terlihat dan terkesan bahwa, pembentukan Gapoktan bias kepada kepentingan “atas”, yaitu sebagai “kendaraan” untuk menyalurkan dan menjalankan berbagai kebijakan dari luar desa. Pembentukan Gapoktan, meskipun nanti dapat saja menjadi lembaga yang mewakili kebutuhan petani sebagai representative institution, namun awal terbentuknya bukan dari kebutuhan internal secara mengakar. Ini merupakan gejala yang berulang sebagaimana dulu sering terjadi, yaitu hanya mementingkan kuantitas belaka, namun tidak berakar di masyarakat setempat. Dari gambaran ini dapat dibuat klasifikasi untuk istilah kelompok/gapoktan yang ada, yaitu:
1) Kelompok/Gapoktan Merpati, yaitu kelompok yang muncul dan bertebaran bila ada pemberian bantuan. Kelompok ini akan bubar atau pergi apa bila bantuan telah habis.
2) Kelompok/Gapoktan Pedati, yaitu kelompok yang hanya beroperasi/berfungsi apabila mendapatkan “deraan/cambuk” atau iming-iming hadiah
3) Kelompok/Gapoktan Sejati, yaitu kelompok yang tumbuh, berkembang dan mandiri atas dasar dari, oleh dan untuk anggotanya sendiri. Kelompok sejati ini adalah kelompok yang mengakar dimasyarakat.
Berbagai permasalahan dalam pengembangan kelembagaan, khususnya bagi kelembagaan yang tergolong ke dalam kelembagaan yang sengaja diciptakan (enacted institution), agar dapat dihindari (Syahyuti, 2003):
1. Kelembagaan-kelembagaan yang dibangun terbatas hanya untuk memperkuat ikatan-ikatan horizontal, bukan ikatan vertikal. Anggota suatu kelembagaan terdiri atas orang-orang dengan jenis aktivitas yang sama. Tujuannya adalah agar terjalin kerjasama yang pada tahap selanjutnya diharapkan daya tawar mereka dapat meningkat. Untuk ikatan vertikal diserahkan kepada mekanisme pasar, dimana otoritas pemerintah sulit menjangkaunya.
2. Sebagian besar kelembagaan dibentuk lebih untuk tujuan distribusi bantuan dan memudahkan tugas kontrol bagi pelaksana program, bukan untuk peningkatan social capital masyarakat secara nyata. Adalah hal yang lazim, setiap program membuat satu organisasi baru, dengan nama yang khas. Jarang sekali suatu program dari dinas tertentu menggunakan kelompok-kelompok yang sudah ada.
3. Menerapkan pola generalisasi, sehingga struktur keorganisasian yang dibangun relatif seragam, meniru bentuk kelembagaan usahatani padi sawah irigasi teknis di wilayah yang telah berhasil. Pembentukan kelembagaan kurang memperdulikan komplek hal-hal abstrak yang ada di masyarakat bersangkutan, yaitu berupa harapan, keinginan, tujuan, prioritas, norma, kebutuhan, dan lain-lain yang sering kali tidak sesuai dengan program yang diintroduksikan.
4. Meskipun kelembagaan sudah dibentuk, namun pembinaan yang dijalankan cenderung individual, yaitu hanya kepada pengurus. Pembinaan kepada kontak-kontak tani memang lebih murah, namun pendekatan ini tidak mengajarkan bagaimana meningkatkan kinerja kelompok misalnya, karena tidak ada social learning approach.
5. Pengembangan kelembagaan selalu menggunakan jalur struktural, dan lemah dari dengembangan aspek kulturalnya. Struktur organisasi dibangun lebih dahulu, namun tidak diikuti oleh pengembangan aspek kulturalnya.
6. Pengembangan kelembagaan diyakini akan terjadi jika dukungan material cukup.; bukan bagaimana mengelolanya dengan manajemen yang baik.
Dan memang yang terjadi dalam pembentukan dan pengembangan kelompok sejauh ini seperti enam hal tersebut di atas........sehingga yang banyak bahkan sebagian besar adalah kelompok kelompok Merpati, sementara itu kelompok Sejati jumlahnya terlalu sedikit. Apakah ini merupakan kegagalan...... rasanya juga tidak, tapi lebih kepada keberhasilan yang tertunda.
Bagaimana menjadikan kelompok merpati dan kelompok pedati menjadi kelompok sejati........yang berkembang dan mandiri mandiri
Banyak upaya dan strategi untuk menjawab pertanyaan tersebut....paling tidak ada tiga aspek pendekatan yang satu dengan lainnya saling terkait yaitu 1) aspek usaha kelompok, 2) aspek kelembagaan/organisasi dan 3)aspek sumberdaya manusia (SDM). Ke tiga aspek tersebut banyak dan sering sudah dilakukan oleh dinas/instansi/lembaga yang berkepeningan. Namun demikian SERINGKALI TERLUPAKAN adalah aspek SDM dari unsur PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN KELOMPOK TANI. Keadaan ini, pada akhirnya dewasa ini muncul istilah Krisis Kepemimpinan Petani.
Seperti telah diketahui bahwa secara culture bangsa Indnesia pada umumnya menganut sistem culture Paternalistis. Hal ini berarti keberadaan seorang pemimpin khususnya pemimpin informal adalah sangat sentral bagi kelompoknya. Keberadaan pemimpin itu sebagai panutan, pembimbing(pendidik) bagi anggotanya. Keberadaan pemimpin kelompok ini adalah tumbuh, berkembang dan dipilih dari, oleh dan untuk kelompok itu sendiri, sehingga keberadaan pemimpin ini mempunyai andil yang besar dan menentukan di dalam mengembangkan kelompok tani.
Pengembangan kepemimpinan kelompok tani ini terlupakan untuk dilakukan pembinaan oleh petugas dari dinas/instansi/lembaga terkait, utamanya oleh penyuluh pertanian lapangan..
Ahli manajemen mengatakan bahwa ada tiga teori tentang timbulnya pemimpin, yaitu teori genetik, teori sosial dan teori ekologi. Berdasarkan teori ekologi, seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik apabila pada waktu lahirnya telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, bakat mana kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pangalaman-pengalaman yang memungkinkannya untuk mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang memang telah dimilikinya itu.
Diyakini bahwa dalam setiap gapoktan yang berada disetiap desa di Indonesia ini dipastikan ada beberapa individu yang merupakan kader-kader yang dapat ditumbuhkembangkan kepemimpinannya. Berdasarkan teori ekologi tersebut maka kader-kader tersebut merupakan sasaran pembinaan lebih lanjut baik dalam bentuk penyuluhan oleh para penyuluh pertanian lapangan maupun melalui pelatihan oleh lembaga diklat pertanian.
Belum terlambat........dan memang waktunya ......... apabila kedepan untuk mewujutkan kemandirian gapoktan yang mengakar di masyarakat diupayakan dengan pendekatan kepada pengembangkan kepemimpinan kelompok tani melalui pembinaan melekat di lapangan oleh penyuluh pertanian dan melaui pelaksanaan pelatihan yang menjadi tanggungjawab lembaga diklat pertanian.
Semoga,......
*) widyaiswara Balai Diklat Pertanian Mataram, NTB
-- posting: 2012-01-26 03:02:32 114.79.28.42 |
[650] murni khuarizmi [Arsitek-Jakarta] | Tanggapan thd Pasar Bebas
Sejujurnya, setelah membaca sekian banyak buku ekonomi,sejarah dan politik, maka saya berkesimpulan peran institusi Negara&aparaturnya didalam mengontrol dan mengembangkan kemampuan nasional termasuk meraih kemakmuran, sangatlah aktif dan teratur. USA yang dipikirkan telah menjalankan pasar bebas dengan baik, ternyata penuh dengan strategi yang diatur oleh FED (Gubernur Bank Sentral USA)-Gedung Putih-Capitol Hill. Merosotnya ekonomi USSR yg menjalankan 'Perencanaan Terpusat' katanya, lebih disebabkan oleh tidak berjalannya sistem keterbukaan politik yang merongrong komunikasi ekonomi&perdagangan. Coba sebutkan negeri mana yang menjalankan teori Adam Smith All Out!! Dan kalau dibaca betul-betul juga Adam Smith tidak menafikan peran regulasi untuk mengatur kepemilikan pribadi swasta. Jadi yang diperlukan selain instrumen pengaturan adalah kecerdasaan masyarakat dan juga Hukum untuk mengantisipasi penipu transaksi. -- posting: 2012-01-25 02:50:35 114.79.0.192 |
[649] Aris Ahmad Risadi [Perkumpulan Studi dan Pembangunan Indonesia (PSPI)] | Siapa yang harus bergerak ?
Kebangkrutan seluruh konsep hasil pemikiran manusia bangkrut. Bagaimana keluar dari situasi sekarang ? Bisakah kita berharap pada birokrat dan politisi ? -- posting: 2012-01-21 09:16:58 111.95.167.131 |
[648] Bayu [Wakil Rakyat] | Bagus sekali
Bagus yaaaa websitenyaaaaa... Bisa comment2.... :D -- posting: 2012-01-20 09:54:36 110.138.74.217 |
[647] ihanimm.iham@yahoo.com [surabaya] |
koq gak ada sistem yang di anut di indonesia se -- posting: 2012-01-16 12:32:43 114.79.63.223 |
[646] lalu alan imamuddin [sumbawa] | rakyat ku tercinta
kita rakyat hanya butuh ke adilan dan butuh ke indahan dari bapak pimpinan yang adil dan yang membawa kami ke jalur yang adil dan sejahtera........
-- posting: 2012-01-15 01:35:17 125.167.180.109 |
[645] IRWAN [BREBES] | JURNAL EKONOMI RAKYAT
APA SUB SUB BAB DARI MAKALAH TERSEBUT? -- posting: 2012-01-02 06:11:46 118.96.135.26 |
[644] yaudi santos [purwokerto] | Mungkinkah mendapat bantuan dalam pengolahan lahan?
Di kantor tempat saya bekerja, ada memiliki lahan kosong sekitar 6.500m persegi. saya ingin mengelola halan tersebut menjadi lahan pertanian (menanam sayur-mayur). Bisakah saya mengajukan bantuan? trims. -- posting: 2011-12-30 04:17:14 180.254.71.29 |
[643] danang [ja] | micro banking itu apa ya?
jika microfinance lekat dengan LKM dan microbanking lekat dengan perbankan. letak perbedaan yang mendetail antara microfinance dan microbanking itu dimana ya? -- posting: 2011-12-29 07:29:15 118.96.123.238 |
|
|
|