Liputan Kegiatan
Indonesia Unik karena Ketahanan Ekonomi Rakyatnya
(Laporan Pertemuan dengan Presiden Megawati, 18 Maret 2002)
Oleh: Mubyarto
PENDAHULUAN
Indonesia
tidak pernah dan tidak akan mungkin mengalami krisis berkepanjangan karena
ekonomi masyarakat atau ekonomi rakyatnya mempunyai kemampuan menguatkan
kembali segala sesuatu yang tercerai-berai, laksana merajut kembali baju
yang bolong-bolong. Dengan pancingan berita mingguan ”Newsweek”
11 Maret berjudul ”Boom
in the Gloom : fires, rebels, debts. The dramatic headlines mask a
surprising economic story in Indonesia”,
ibu Megawati telah menunjukkan ”rahasia” simpatinya pada nasib ekonomi rakyat. Presiden mengerti apa itu
ekonomi rakyat dan ekonomi kerakyatan yang ”dipertanyakannya”
pada pidato kenegaraan 16 Agustus 2001. Presiden paham benar
ada sekelompok ”elit” bangsa yang tidak pernah bertemu rakyat kecil di
daerah-daerah, dan yang tidak mau mengerti ekonomi rakyat. Maka diajukan
masalah ekonomi rakyat dan (sistem) ekonomi kerakyatan
dengan bahasa ”bertanya” dalam forum terhormat DPR-RI agar
masyarakat luas termasuk para elit menanggapinya. Jika Presiden tidak
mempertanyakannya dapat dipastikan konsep ekonomi kerakyatan dan ekonomi
rakyat juga tidak akan merangsang masyarakat khususnya para pakar dan elit
untuk membahasnya. Demikian perdebatan yang cukup luas tentang
masalah-masalah ekonomi rakyat dan ekonomi kerakyatan merupakan hasil
positif dari ”pertanyaan”
Presiden
MEGAWATI DAN KONGLOMERAT
Menanggapi
pertanyaan apakah pemerintah dewasa ini tersandera eks konglomerat, Ibu
Megawati secara tidak langsung mengiyakan termasuk pendapatnya bahwa tidak
seperti Presiden Soekarno yang berani menyatakan go to hell with your aid, kita
sekarang jelas tidak berani karena utang kita telah menumpuk. Jadi IMF
tidak mungkin kita minta meninggalkan Indonesia. Namun demikian tidak
seharusnya konglomerat kita biarkan ”merajalela”
menguasai usaha dari hulu sampai ke hilir. Seharusnya konglomerat yang
kuat modalnya hanya menguasai usaha-usaha hulu yang membutuhkan
modal besar, dan menyerahkan usaha-usaha hilir pada ekonomi rakyat
atau UKM. Dengan perkataan lain tidak boleh konglomerat menguasai
usaha-usaha dari hulu sampai ke hilir.
Khusus
tentang masalah UKM yang merupakan terjemahan dari small
and medium enterprises (SME),
mengapa tidak disebut saja ekonomi rakyat sehingga MenegKop
& UKM seharusnya disebut Meneg Perekonomian rakyat? Presiden
menyatakan tidak ingin sejak sangat awal sudah punya banyak musuh, karena
seperti sudah disebut diatas, ada sekelompok “elit” yang sulit diajak bicara benar tentang masalah-masalah
penting yang dihadapi bangsa Indonesia. Kelak akan tiba saatnya ekonomi
rakyat atau perekonomian rakyat diterima sebagai istilah yang tepat untuk
dipakai.
MENGAPA EKONOMI RAKYAT MASIH SELALU DIPANDANG RENDAH?
Sejak
awal tanggapannya tentang hasil-hasil seminar/lokakarya Ekonomi kerakyatan
bulan September 2001 yang disampaikan MenegKop & UKM, Ibu Mega memang
mengakui adanya adanya kelompok elit yang tidak pernah mau ketemu rakyat
di daerah lebih-lebih di desa-desa miskin. Karena yang biasa mereka lihat
adalah suasana masyarakat dan dunia bisnis modern di kota-kota besar
terutama Jakarta, maka kondisi ekonomi rakyat yang serba miskin tidak
pernah dilihat. Dan Ibu Mega merasa ”belum siap” menghadapi mereka,
”karena
saya bukan pakar”. Disini jelas Ibu Mega sangat berharap
MenegKop & UKM dapat lebih agresif menyuarakan pemihakan pemerintah
pada ekonomi rakyat yang selama 3 dekade ini telah dikerdilkan oleh pelaku
ekonomi konglomerat. Tanggapan Ibu Mega secara positif adalah
mempersilahkan para simpatisan dan pembela ekonomi rakyat dengan pimpinan
MenegKop & UKM untuk terus memperkuat barisan dan mensosialisasikan
aneka perikehidupan ekonomi rakyat yang selama ini dilihat sebelah mata.
But there’s another Indonesia …
For
him, few market hold more promise than the archipelago of 216 million
people … Rosenkranz (President of Grey global Group of the advertising
multinational) sums up business in Indonesia as “phenomenal” … A
Cheap rupiah economy is not enough in a globalized world. But it has
bought Indonesia some time, and more domestic peace than most outsiders
realize (Newsweek, 11 March 2002 p: 31)
SAMPAI
KAPAN KONDISI EKONOMI DUALISTIK BERTAHAN?
Seorang
pakar ekonomi Indonesia terkemuka (Prof. M. Sadli) yang sangat kritis atas
teori dualisme ekonomi Boeke, menyatakan teori itu “didisain” untuk
melanggengkan kebijakan penjajahan Belanda atas Indonesia, dan pembangunan
ekonomi yang berhasil pasti mampu menghilangkan sifat dualistik ekonomi
Indonesia. Bahkan pembangunan ekonomi memang harus mempunyai misi
menghilangkan dualisme.
Bahwa
kini, 92 tahun setelah teori dualisme ditemukan, ekonomi Indonesia masih
tetap dan bahkan lebih dualistik lagi, membuktikan kekeliruan teori
pembangunan konvensional. Teori yang kiranya lebih benar adalah bahwa
pembangunan ekonomi konvensional yang berorientasi pertumbuhan tidak saja
terbukti tidak mampu menghilangkan dualisme tetapi malahan memperkuatnya.
Jurang kaya miskin tidak makin menciut tetapi bahkan makin menganga lebar.
Ketidakmerataan pembagian kekayaan dan pendapatan makin terlihat dalam
proses pembangunan ekonomi. Maka tidak ada jalan lain, program-program
pembangunan harus mampu mengangkat derajat kesejahteraan rakyat yang
termiskin yang menggambarkan terwujudnya keadilan sosial. Keadilan ekonomi adalah aturan main
hubungan-hubungan ekonomi berdasar prinsip-prinsip etik, sedangkan
keadilan sosial adalah hasil dipatuhinya aturan main keadilan ekonomi.
APAKAH EKONOMI INDONESIA TELAH PULIH DARI KRISIS?
Jika
Ibu Mega berkali-kali menyatakan kepercayaannya pada ketangguhan atau daya
tahan ekonomi rakyat Indonesia, bisa disimpulkan bahwa dewasa ini ekonomi
nasional yang telah tumbuh positif 4% selama 2000 – 2001 ”telah
pulih” kembali dari krisis. Dan jika benar ekonomi telah pulih tentunya
kebijaksanaan-kebijaksanaan/dan program-program pembangunan yang tepat
untuk pengembangannya lebih lanjut harus berbeda dengan yang berjalan
selama krismon.
Dalam
pada itu pakar-pakar ekonomi Neoklasik ortodok yang sangat mengandalkan
pada ukuran pertumbuhan ekonomi menegaskan bahwa ekonomi nasional belum
pulih jika nilai PDB riil belum kembali pada tingkat sebelum krismon, atau
pertumbuhan ekonomi belum mencapai tingkat rata-rata sebelum krismon,
yaitu 6-7% per tahun. Menurut mereka ukuran-ukuran pertumbuhan ekonomi dan
PDB riil ini harus dipakai jika tidak dikehendaki terjadinya pengangguran
yang makin meluas, karena pertumbuhan penduduk masih sebesar 1,3% per
tahun.
Terhadap
pemikiran yang demikian dapat diajukan argumentasi kontra bahwa menunjuk
ukuran pertumbuhan ekonomi dan nilai PDB sebelum krisis harus disertai pembagiannya
pada waktu itu yang sangat tidak adil dan tidak merata. Jika dewasa ini
pertumbuhan ekonomi baru mencapai 4% tetapi lebih banyak disumbang dan
dinikmati oleh ekonomi rakyat, maka berarti kualitasnya sudah lebih baik
dan lebih adil ketimbang pertumbuhan 7% tetapi (sektor) ekonomi rakyat
tidak menikmatinya. Oleh sebab itu kriteria telah pulihnya ekonomi tidak
seharusnya dengan menggunakan indeks PDB nasional tanpa memperhatikan
distribusinya. Singkat kata pakar-pakar ekonomi Neoklasik ortodok
seharusnya memperhatikan kritik-kritik serius terhadap kelemahan
analisis-analisis makro ekonomi. Dan khusus tentang ini pendapat Ibu Mega
sangat tepat yaitu para elit, dan pakar-pakar yang elit, seharusnya
bersedia datang ke daerah dan desa-desa sebelum memberikan penilaian
tentang sudah atau belum pulihnya ekonomi Indonesia dari krisis, jangan
hanya melihat angka-angka makro di Jakarta. Bagi kami sendiri kunjungan ke
5 desa di empat kecamatan di DIY yaitu
desa Binomartani, Ngaglik (Mei 200), Purwoharjo dan Gerbosari,
Samigaluh (Oktober 2000), Gadingsari, Sanden (Mei 2001), dan Sriharjo,
Imogiri (November 2001) sangat meyakinkan bahwa krisis moneter yang
dianggap telah menghancurleburkan ekonomi Indonesia telah selesai, dan
ekonomi rakyat dewasa ini telah pulih bahkan lebih berkembang dibanding
sebelum krisis.
PENUTUP
Pertemuan
dan diskusi 50 menit dengan Presiden Megawati bersama Menegkop dan UKM
sangat melegakan karena Presiden benar-benar memahami masalah-masalah
ekonomi yang dihadapi bangsa Indonesia. Meskipun masyarakat umum tidak
terkesan mengetahuinya, Presiden Megawati tegas memihak ekonomi rakyat,
dan tidak menyetujui kemanjaan dan keserakahan para pengusaha besar yang
selama 30 tahun telah menikmati kemudahan-kemudahan dari pemerintah.
Satu-satunya alasan Presiden tidak secara terbuka menyatakan memihak pada
ekonomi rakyat adalah keengganan bertabrakan dengan kelompok elit bangsa
yang rupanya tidak ingin kehilangan kedudukan dan hak-hak istimewa yang
selama 30 tahun dinikmatinya. Bahwa pakar-pakar ekonomi tidak suka datang
ke daerah dan desa-desa di Indonesia, mudah sekali dipahami karena metode
kerja dan pendekatan deduktif jauh lebih mudah dibanding metode dan pendekatan induktif.
Teori ekonomi Neoklasik (ortodok) memang telah dengan yakin memilih metode
deduktif sebagai pendekatan utamanya, meskipun Alfred Marshall, bapak
ekonomi Neoklasik, mengibaratkan metode induktif dan deduktif laksana kaki
kiri dan kaki kanan untuk berjalan. Alangkah aneh jika pakar-pakar elit
memilih berjalan terpincang-pincang dengan satu kaki saja.
Demikian
para pendekar dan simpatisan ekonomi rakyat tidak boleh berkecil hati dan
harus meningkatkan perjuangannya membela ekonomi
rakyat demi pengakuan eksistensi dan kemajuannya. Istilah ekonomi
rakyat yang sengaja dipertanyakan Presiden Megawati dalam pidato
kenegaraan tanggal 16 Agustus 2001 adalah istilah yang lebih kena (lebih
tepat) ketimbang istilah UKM (Usaha Kecil dan
Menengah) yang memang sekedar merupakan terjemahan SME (Small and Medium
Enterprises) yang merupakan istilah standar dalam literatur internasional.
Jika Indonesia merasa memiliki kepribadian nasional maka akan lebih baik
menggunakan istilah ekonomi rakyat dan Kementerian Koperasi dan UKM dapat diganti
menjadi Kementerian Perekonomian Rakyat.
(*)
|