Liputan Kegiatan

Krismon Sudah Usai 
(Catatan Kunjungan dan Kuliah Lapangan Mahasiswa S1 dan S2 FE-UGM 
di 2 Desa di Gunung Kidul)

Oleh: Mubyarto

 

JIKA setiap hari koran-koran masih setia memberitakan keterpurukan ekonomi Indonesia yang tidak ada tanda-tanda ”pemulihan”, maka kunjungan bersama 78 mahasiswa S1 dan S2 FE-UGM hari Sabtu, 30 Maret 2002, ke 2 desa di kabupaten Gunung Kidul sungguh melegakan. Untuk ke sekian kalinya dapat diperoleh bukti-bukti kongkrit dari lapangan bahwa ekonomi rakyat “sudah pulih dari krisis moneter” (krismon) atau “krisis ekonomi” yang di koran-koran hampir selalu dilaporkan justru ”makin parah”. Itulah bukti bahwa ekonomi Indonesia yang oleh J.H. Boeke disebut (bersifat) dualistik pada tahun 1910, dan ditolak oleh banyak pakar ekonomi arus utama ternyata benar dan tetap bertahan setelah hampir 100 tahun. Ekonomi Rakyat yang tahan banting ini oleh Presiden Megawati Soekarnoputri di tegaskan sebagai selalu mampu ”merajut kembali”  karena ada kekuatan internal yang tangguh.

Setelah pertumbuhan ekonomi negatif –7,14% tahun 1998, ekonomi Gunung Kidul telah kembali tumbuh positif 1,57% (1999), 2,75% (2000), dan 2,45% (2001), dan tingkat PDRB riil (harga konstan 1993) pada tahun 2000 sudah hampir ”pulih” menyamai tingkat PDRB 1997 sebesar Rp 953 milyar. Yang menarik, PDRB sektor pertanian tahun 2001 telah pada tingkat 28% diatas PDRB 1997. Artinya pendapatan riil petani tidak saja telah pulih kembali tetapi telah melampaui tingkatnya sebelum krisis.

Dalam pada itu program-program anti-kemiskinan atau penanggulangan kemiskinan sejak sebelum maupun selama krismon (IDT/Takesra/Kukesra/JPS) berjalan baik. Di seluruh 73 desa (18 kecamatan) kemajuannya sangat menyakinkan. Dana IDT Rp. 4,38 milyar selama 7 tahun (1994-2001) telah menjadi Rp. 6.0 milyar (naik 37%), dan di dua kecamatan Semanu dann Ponjong, meningkat masing-masing 98% dan 92%, yang berarti tiap tahun meningkat masing-masing 14% dan 13%. Angka-angka peningkatan ini adalah peningkatan dana bergulir pada Pokmas-pokmas IDT yang berarti belum termasuk peningkatan pendapatan riil keluarga miskin anggota Pokmas yang telah meminjam dana IDT.

Tentang dampak krismon pada kesehatan dan pendidikan anak yang juga sering dibesar-besarkan sehingga mengakibatkan hilangnya satu generasi (lost generation), data-data dari lapangan juga membantah hal ini. Di desa Kemadang Kecamatan Tanjungsari, hanya ada 6 anak SMP yang kesulitan membayar SPP dan mereka dapat ditolong pemerintah Desa sehingga tidak DO (Drop Out). Di desa Piyaman Kecamatan Wonosari sama sekali tidak ada anak sekolah yang DO karena krismon.

Demikian para pakar atau pengamat ekonomi serta media massa dihimbau untuk tidak terus menerus membesar-besarkan berita masih  terpuruknya ekonomi Indonesia. Ekonomi Nasional Indonesia yang sebagian besar merupakan ekonomi rakyat benar-benar sudah pulih kembali, sehingga tidak perlu dijadikan alasan perlunya pemerintah menyediakan anggaran besar untuk ”memulihkan kembali” ekonomi Indonesia ke kondisi sebelum krismon. Defisit APBN dewasa ini disebabkan pengeluaran yang sangat besar untuk membayar bunga obligasi dan menalangi utang-utang besar yang macet dari para eks-konglomerat. Pemerintah hendaknya sadar dijadikan semacam “sandera” para eks-konglomerat yang terpukul krismon yang katanya bukan kesalahanan mereka. Jika krismon sebenarnya disebabkan ulah para eks-kongomerat ini sendiri, tidak seharusnya pemerintah menghabiskan dana dan energi untuk terus menerus memikirkan mereka. Pemerintah sekarang lebih tepat memberikan perhatian besar pada ekonomi rakyat yang telah terbukti tahan banting dan benar-benar menjadi landasan dan sekaligus penyelamat perekonomian nasional dari kehancuran.

 

 

(*)

 

 

 


Copyright © 2002 www.ekonomirakyat.org
e-mail: redaksi@ekonomirakyat.org dan yae@indo.net.id
web-master: webmaster@ekonomirakyat.org