Liputan Kegiatan (Bangkok, 6-8 Maret 2002)

Pertemuan Konferensi Tentang Microfinance Policy & Governance

Oleh: Bambang Ismawan dan Riza Primahendra

 

KONFERENSI ini merupakan hasil kolaborasi dari empat lembaga, yaitu: UN-ESCAP (UN Economic and Social Commission for Asia and the Pacific), APDC (Asian and Pacific Development Centre (APDC), AACCU (Association of the Asian Confederation of Credit Unions), APRACA (Asia Pacific Rural and Agricultural Credit Association).

Tujuan dari konferensi ini seperti yang dinyatakan oleh organizer adalah: 1) mengembangkan jejaring kerjasama yang akan mendokumentasikan berbagai hasil interaksi keuangan mikro dan pelayanan pembangunan lainnya, serta yang akan mempromosikan pengembangan alternatif lain untuk melakukan pembiayaan lembaga keuangan mikro  (LKM) di kawasan Asia dan Pasifik, 2) identifikasi, rasionalisasi, dan promosi bersama dari program-program pengembangan kapasitas, khususnya yang diarahkan pada pembangunan kompetensi governance dari jejaring nasional lembaga keuangan mikro (LKM), 3) pengembangan system informasi tingkat regional tentang pengaturan dan kebijakan keuangan mikro dan contoh-contoh terbaik dalam  pengaturan LKM di kawasan Asia Pasifik

Materi yang dibahas dalam konferensi ini terdiri dari beberapa isu yang dikelompokkan menjadi: 1) Kerangka pengaturan, kebijakan dan dukungan lain bagi keuangan mikro, 2) transformasi kelembagaan dalam keuangan mikro, 3) mekanisme penghantaran yang efektif, produk dan pelayanan keuangan bagi keuangan mikro, 4) keterkaitan keuangan mikro dengan pengembangan usaha, pasar, dan resiko, 5) Pengembangan respon yang efektif dari LKM terhadap HIV/AIDS, 5) Pengaturan dan kebijakan keuangan mikro: pelajaran dari Microcredit Summit

Peserta yang hadir dalam pertemuan ini sangat beragam dan berasal dari berbagai negara. Dalam batasan kelembagaan, maka hadir wakil-wakil dari Bank Sentral, bank komersial yang menyediakan pelayanan keuangan mikro, wakil dari pemerintah, koperasi kredit, lembagakeuangan mikro non bank dan non koperasi, wakil dari jejaring regional seperti Inasia, dsb. Dalam batasan negara, pertemuan ini tidak hanya dihadiri peserta dari Asia saja, wakil-wakil dari Eropa dan Amerika Latin juga turut berpartisipasi.

Acara pada hari pertama dan kedua dipenuhi oleh presentasi dari 16 narasumber, sementara hari ketiga berisi diskusi kelompok yang mengkritisi berbagai isu yang ada. Pada akhir hari ketiga dibahas draft deklarasi Bangkok yang akan diadopsi oleh konferensi.

Beberapa isu yang patut dijadikan catatan adalah tentang peranan keuangan mikro dalam penanggulangan kemiskinan. Isu yang diangkat oleh Sunimal Fernando dari Inasia adalah keuangan mikro bukanlah panacea melainkan salah satu instrumen dalam penanggulangan kemiskinan yang untuk dapat efektif harus disertai dengan faktor-faktor lain seperti pemberdayaan dan penciptaan lingkungan dan pengaturan makro yang lebih fair dan adil. Terdapat kecenderungan bahwa keuangan mikro dijadikan sebagai bisnis yang lebih menguntungkan pemodal sementara dampak dan implikasi terhadap orang miskin secara keseluruhan seperti aspek gender kurang dipertimbangkan.

Isu lain yang juga diangkat oleh Prof. Joe Remenyi adalah penekanan yang berlebihan terhadap kredit sementara masih sangat kurang fasilitas keuangan yang lain seperti simpanan. Padahal simpanan dan pinjaman menurut Prof. Remenyi adalah dua sisi dari satu keping uang yang sama. Keduanya pada dasarnya bermaksud untuk mendapatkan alokasi dana sejumlah besar dengan jalan penyisihan secara kontinyu selama periode waktu tertentu. Dalam perspektif ini, kredit memiliki biaya yang lebih tinggi dibandingkan simpanan.

Wacana lain yang berkembang didalam pertemuan tersebut adalah pengaturan baik diluar maupun didalam LKM. Pengaturan diluar LKM menurut FAO dapat dilakukan sejauh memberikan keleluasaan bagi LKM untuk melaksanakan tiga hal, yaitu: mengembangkan branching system, melaksanakan mobilisasi tabungan, dan berhubungan dengan pihak ketiga termasuk investor luar negeri. Pengaturan didalam bagi LKM mempersyaratkan penerapan prinsip-prinsip profesionalisme dan good corporate governance yang memungkinkan mencapai efisiensi dan efektifitas pelayanan.

Konferensi ini pada akhirnya ditutup dengan mengadopsi satu deklarasi yang menegaskan akan arti penting keuangan mikro dalam menanggulangi kemiskinan, komitmen untuk mengembangkannya dan keragaman dari keuangan mikro di kawasan Asia.

(*)

 

 

 


Copyright © 2002 www.ekonomirakyat.org
e-mail: redaksi@ekonomirakyat.org dan yae@indo.net.id
web-master: webmaster@ekonomirakyat.org