Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat
Notulensi Seminar Seri I: Pengertian Dasar Ekonomi Rakyat
Oleh: Anton Nomba
Tanggal:
22 Januari 2002
Pembicara: Prof. Mubyarto dan Drs. Bambang Ismawan, MS
Moderator: Prof. Mubyarto
SEMINAR Pendalaman Ekonomi Rakyat dilaksanakan di
Financial Club. Seminar ini terlaksana
atas kerjasama Pusat
P3R-YAE, Komisi Ilmu-Ilmu Sosial – AIPI, Bina Swadaya, Perhepi, ISI, dan
Gema PKM. Pertemuan pertama
dilaksanakan pada tanggal 22 Januari 2002 menampilkan pembicara
Prof. Mubyarto dan Drs. Bambang Ismawan, MS., dan merupakan pertemuan pertama dari 12 kali seminar selama 6
bulan.
Seminar
dilaksanakan pada jam 14.00 s/d 16.00 WIB. Sebagai pembicara pertama Pak
Mubyarto dan dilanjutkan oleh pembicara kedua Pak Bambang Ismawan. Kedua
pembicara membacakan makalahnya masing-masing, Pak Mubyarto menyampaikan 3
makalah yang berjudul: (1) "Definisi Ekonomi Rakyat"; (2)
"Ekonomi Rakyat sebagai Aset Nasional"; (3) "Ekonomi Rakyat
di Mata Teknokrat". Sedangkan Pak Bambang Ismawan
membacakan makalah yang berjudul: “Ekonomi Rakyat: Sebuah Pengantar”.
Setelah kedua pembicara membacakan makalahnya masing-masing kemudian
dilanjutkan sesi diskusi.
Bapak
Mubyarto dalam pembukaan
seminar terlebih dulu memperkenalkan pengurus YAE, beberapa pembicara
Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat yang hadir, dan panitia seminar pada
peserta lainnya. Selanjutnya, Pak Mubyarto juga meminta wartawan agar pada
sesi diskusi nanti tidak mengajukan pertanyaan karena
tersedia waktu dan tempat khusus untuk konferensi pers di Lt 27
setelah acara selesai. Pertemuan ini dianggap penting karena membicarakan
orang kecil yang “tidak laku untuk dijual.”
Pak Mubyarto mengharapkan peserta menciptakan suasana
ilmiah. Apa yang disampaikan belum tentu semuanya benar. Jadi tujuan
selama 6 bulan pertemuan ini adalah saling asah, asuh, dan asih. “Saya
tidak berpretensi apa yang saya katakan itu benar, tapi ibu-ibu dan
bapak-bapak yang mempunyai pengalaman lain dipersilahkan mengkritisi dan
mempersoalkan apa yang kita lakukan, sehingga tercipta saling belajar satu
dengan lainnya”. Selanjutnya Pak Mubyarto menceriterakan pengalaman
membantu ekora melalui YAUMY (Yayasan Amal dan Usaha Muslim Yogyakarta)
yaitu membantu pedagang pasar
di Koppas Beringharjo. Yayasan ini berdiri
10 tahun yang lalu. Sedangkan
Pak Bambang mempunyai Guswil (Gugus wilayah) Bina Swadaya yang langsung
berhubungan dengan ekonomi rakyat. Setelah pembicara selesai membacakan
makalahnya selanjutnya dilakukan acara Tanya-jawab.
Makalah
Prof. Dr. Mubyarto
Makalah Drs. Bambang Ismawan, MS
PERTANYAAN
SESI I
Sismadi (Tj. Priok)
Pertanyaan ditujukan pada Pak Bambang tentang hasil
pertemuan dengan pengusaha dan lembaga perkreditan yang lalu. Tadi saya
mendengar dari Pak Bambang Ismawan yang menceriterakan bahwa bankir-bankir
yang hadir katanya mempertanyakan soal keamanan dana, apakah uang yang
diberikan/ dipinjamkan kembali atau tidak, itu kan normal saja Pak. Jadi
saya keberatan kalau Bapak merasa heran, tentu dia kan pengin uangnya
kembali toh, sehingga kita saling mengharapkan antara pemberi pinjaman dan
peminjam saling menguntungkan, bukan yang diuntungkan yang di bawah saja
tapi yang di atas pun butuh diuntungkan juga. Terima kasih.
Evi Ganis (JKPM)
Sebenarnya pertanyaan ini atas ketidak-tahuan saja.
Sebenarnya saya ikut menyoroti seminar, talkshow, dan apa yang dibicarakan
di universitas. Tapi mengapa antar pakar-pakar ekonomi yang pro
globalisasi dan pakar-pakar ekonomi yang pro dengan ekonomi rakyat itu
tidak duduk bareng, apapun hasilnya. Karena sepertinya pakar-pakar ekonomi
itu hanya berbicara di seminar tapi tidak pernah ada satu acara resmi yang
diliput media. Semua pakar ekonomi datang untuk bikin blue print,
hasilnya di compile dengan teori pakar-pakar ekonomi, terus blue
print itu yang akan menentukan sistem yang cocok untuk negara seperti
Indonesia dengan kondisi alamnya, budayanya, sosialnya, dst.
Hasil pembicaraan itu apapun hasilnya adalah resmi dan dievaluasi 5
atau 10 tahun. Jadi antara pakar tidak saling menyalahkan. Pakar-pakar itu
tidak melontarkan teorinya hanya sekedar untuk komersialisasi atau benefit
bagi dirinya sebagai pembicara di seminar, tapi betul-betul untuk mencari
solusi dan data base permasalahan ekonomi yang ada di Indonesia.
Kusumo (CARE)
Saya kira sudah sering kita mendengar pembicaraan
ekonomi kerakyatan, yaitu ekonomi rakyat berdasarkan Pancasila. Saya kira
Pak Muby sudah mulai 21 tahun yang lalu. Namun saya melihat banyak ahli
setelah masuk dalam birokrasi pengambil posisi decision maker juga
tidak berdaya. Jadi yang menjadi pertanyaan adalah apa yang menyebabkan
demikian. Apakah konsepnya ini susah dicerna para birokrat, atau mungkin
ada invisible hand yang kita tidak mengerti. Mengapa pakar ekonomi
rakyat ini tidak beranjak dari daerah-daerah kumuh.
Mohon dijelaskan
Bayu Krisnamurthi (IPB)
Terima
kasih Pak Muby. Kalau orang bertanya apa definisi uang maka salah satu
textbook mengatakan money is money. Sementara itu ekonomi
rakyat tidak perlu didefinisikan tapi dapat dirasakan. Ada beberapa hal yang perlu
ditambahkan, ekonomi rakyat tidak selalu informal, contoh, pegawai negeri
kecil adalah bagian dari ekora, demikian juga buruh kecil dari pabrik yang
formal, koperasi yang punya badan hukum. Jadi mendikotomikan ekora formal
dan informal mungkin mengena pada ekora itu tapi tidak sepenuhnya betul.
Kemudian kedua, banyak yang menanyakan ekora versus pasar. Justru yang paling menghormati ekonomi pasar
adalah ekora itu. Perdagangan
yang berkaitan dengan ekonomi pasar adalah ekora. Mereka tidak pernah
minta diproteksi apapun untuk berdagang atau berusaha. Contoh, ekonomi para
pengrajin, mereka jauh lebih menghormati mekanisme pasar daripada industri
otomotif atau industri BBM yang mengaku harganya sama dengan harga pasar,
tapi memonopoli pasar di Indonesia, itu sangat berbahaya. Jadi kalau kita berbicara
ekonomi pasar, sebenarnya kekuatan
mekanisme pasar di Indonesia itu ada di ekonomi rakyat. Kemudian
ada
lagi yang bicara mengenai ekora versus globalisasi. Lho justru yang
paling bisa bersaing adalah sebagian besar ekora, yang paling bisa
bersaing di pasar global adalah ekora. Kerajinan kita itu tidak pernah mendapat apa-apa atas kreativitas,
efisiensi dan inovasinya mampu menembus pasar dunia manapun. Jadi kalau
kita lihat dari sudut itu sebenarnya ekora tidak anti globalisasi, mungkin
“anti globalism”. Yah globalism yang dikatakan Pak Muby “sudahlah
kapitalisme ini sudah berjaya kita menyerah saja”,
kalau itu saya setuju. Mereka punya karakter sendiri yang tidak
menganut itu. Salah satu teknologi canggih yang dimiliki Indonesia
dikeluarkan oleh ekora. Marilah kita datangkan seluruh teknologi yang ada.
Pengakuan arsitek dari Amerika yang mengatakan bahwa tidak ada
arsitektur di negara barat yang dapat membuat sawah seperti di masyarakat
Bali. Dengan teknologi mekanisasi apa pun yang mereka miliki itu tidak
mungkin membuat terasering yang begitu indah dan begitu mengikuti kontur,
itu sangat sulit. Dan banyak lagi cerita lainnya. Jadi kalau demikian
mereka tidak seluruhnya informal, mereka tidak seluruhnya anti global.
Mereka justru banyak mengikuti mekanisme pasar, mereka banyak menggunakan
teknologi canggih. Mungkin masalahnya sama dengan Pak Bambang dan Pak Muby,
bahwa ada masalah ketidak-adilan, disitu kuncinya. Seperti kita
memperjuangkan ekora. Seperti disebutkan di buku de Soto, kuncinya adalah
ketidak-adilan. Bayangkan
Indonesia katanya mengaku negara demokrasi, kalau dari datanya Pak Bambang,
136 juta hidup dari ekonomi rakyat. Artinya katakanlah jika diambil 60% orang dewasa pemilu,
berarti terdapat 60 juta orang tidak terwakilkan karena mereka memilih
orang yang tidak mewakili mereka, dan wakil-wakil tersebut memilih
pengambil keputusan ekonomi yang tidak memihak pada mereka. Jadi masalah
utamanya keadilan. Dimana 1%
dari pengusaha (99 % yang lain ekora) itu menguasai 60% asset dan
menguasai 40-50% perputaran uang. Kalau kita bicara ekora kita perlu
memberi fokus pada ketidak-adilan, karena disitu sebenarnya fokusnya arah
perjuangan. Menyambung pertanyaan mbak tadi mengapa susah sekali, yah karena
timbul masalah di pengambil keputusan, dan di situlah masalah politik timbul. Mengapa terjadi seperti itu. Kita perlu membuat pemahaman
yang lebih pas kalau kita membuat defenisi ekora itu.
JAWABAN:
Bambang
Ismawan
Sebelum menjawab pertanyaan Pak Sismadi, Pak Bambang
Ismawan mengusulkan agar Pak Titus diperkenankan juga menceritakan
pengalamannya pada pertemuan kemarin (24 jam yang lalu).
Mungkin pernyataan aman disini tidak seperti apa yang dikatakan
Pak Sismadi, bahwa kenyataan bankir kita tidak seperti enterpreneur. Pada
pertemuan itu kita membuka peluang pada peserta tapi mereka menutup diri.
Itu seperti saya katakana tadi 99% kembali kreditnya. Ada banyak contoh
yang dilakukan bank dengan kelompok, dimana 96,12% selama 12 kali kembali
pada waktunya. Dan mungkin begitu menghadapi kekecewaan sekian banyak
kredit tidak kembali dari usaha-usaha besar sebenarnya mereka menutup
mata. Karena mereka melayani ekora tidak mendapat traktiran. Kalau saya
melayani kredit beberapa ratus milyar saya mendapat traktiran ini mungkin
mekanisme lain yang kita lihat bukan teori. Jadi, kita menghadapi sesuatu
agak konkrit dan kita menghadapi sesuatu yang Pak Muby lebih banyak
membicarakan persepsi dasar yang menjadi penyebab mengapa ekora kurang
mendapat pelayanan karena ekora tidak mendapat traktiran, berbeda dengan
melayani pengusaha.
Setuju dengan pernyataan Pak Bayu tentang ekonomi tidak
perlu didikotomikan formal dan informal.
Mubyarto
Dari pertanyaan penanya no.2 dan pertanyaan no.3,
dijawab dari bab I buku yang disusun Pak Muby.
Dari hasil diskusi Pak Muby di Yogyakarta, Pak Boediono (Menkeu) mengaku bahwa sesungguhnya pikiran jernih yang
datang dari luar tetapi setelah masuk dalam lingkungan sidang kabinet
menjadi netral, menjadi sulit untuk dilaksanakan, karena ada berbagai ewuh
pakewuh. Juga pengalaman
ketika mengikuti rapat di Fakultas Ekonomi UGM.
Pak Muby mengutarakan kecewa dengan fakultas-nya. Pak Muby
menceriterakan perdebatannya dengan Adiningsih, Bambang S, dan Sjahrir
ketika mereka ingin menggusur asas kekeluargaan, “kok fakultas saya diam
saja,
bahkan tanya tentang duduk permasalahannya saja nggak. Jawaban mereka, kami
itu ewuh pakewuh Pak”.
Ini kata-kata yang sulit diterangkan . Kalau sudah duduk di pemerintahan
sepertinya yah begitu juga. Namun dari pengalaman
Pak Muby di Bappenas rasanya tidak sepenuhnya seperti itu, karena ketika
itu bisa betul-betul
memperjuangkan ekora. Contoh, IDT sekarang masih ada di DIY, di Gunung
Kidul pengurus IDT masih aktif membukukan kegiatannya. Uangnya masih ada
untuk simpan-pinjam, jadi betul-betul langsung untuk menolong si miskin.
Itu perjuangan luar biasa. Sekarang pemerintah tidak memihak pada ekora,
DPR juga disoroti tidak mampu membela rakyat, malah pemimpinnya juga tidak
mau mendengar rakyatnya juga. Kalau dianjurkan agar pakar ekonomi bertemu,
sangat setuju. Seperti anjuran Karl Marx para pakar ekonomi bersatulah…
Mengenai
usulan penanya pertemuan
beberapa pakar ekonomi, Pak Muby menyetujui hal ini. Pak Muby pernah
menegur Dr. Sjahrir di Hotel Sabang. Kemudian
memberi contoh pakar ekonomi Sjahrir yang mengatakan kapitalisme sudah
menang, hal ini sangat kontras dengan demo yang dilakukannya pada tahun
1966 pada saat seminar Widjojo Nitisastro (tentang koperasi). Selanjutnya
mengatakan bahwa Sjahrir pikirannya sudah berubah dari sosialistik ke
kapitalistik dan bahwa ekonomi kapitalistik sudah menang dan pasal 33
adalah ekonomi yang sosialistik. Tapi dia susah diberi tahu, tapi itulah
yang sekarang disenangi di koran-koran. Itulah alasannya mengapa seminar
dilakukan di Financial Club agar laku. Caranya bagaimana supaya kita
dikenal. Pak Muby sering ditanya wartawan mengenai perbankan, PKPS,
dijawab no comment. Selalu hanya masalah konglomerat yang
dibicarakan, ekora tidak pernah diperhatikan. Jadi pemerintah kita sudah
disandera. Yah, karena traktiran itu tadi…
Titus
Kurniadi
Menanggapi beberapa pertanyaan peserta, bahwa ekora
adalah yang dikatakan Pak Muby dan Pak Bambang, tidak ada yang
terbantahkan. Itu semuanya benar, tetapi mengapa orang tidak mau, karena
mengurusi ekora tidak dapat apa-apa.
Apa itu birokrasinya, pemerintah pusat atau daerah, tidak dapat
apa-apa. Tapi kalau ngurus konglomerat itu ada, apa traktir ke restoran,
lapangan golf… kalau ngurus ekora paling-paling dapat pisang goreng.
Pejabat-pejabat pusat maupun daerah, eksekutif dan legislatif, tidak akan
mendapat apa-apa. Perbankan juga tidak dapat apa-apa. Apa dapatnya
ngurusin ekora. Tapi kalau ngurus konglomerat atau usaha kecil dan
menengah, kredit 5 juta, 100 juta, masih bisa dapat sesuatu. Lalu para
professional, angkutan, pengacara, itu semua tidak ada pekerjaan kalau
ekonominya pro pada ekora sama sekali. Kapan bikin aktenya, tidak ada yang
bikin aktenya. Yang perlu nasehat dukun juga tidak ada. Jadi memang nggak
populer. Selain itu demikian
juga pakar-pakar, pakar-pakar kalau ramai dapat sesuatu, apalagi kalau
vokal, itu honornya besar. Kenapa ekora kalau diperjuangkan itu tidak
jadi, masalahnya ada suatu pamrih yang begitu rupa menariknya. Uang kalau
1000-2000 kurang menarik, kalau sudah 1 milyar menarik. Itu kapan dapatnya
1 milyar. Berkaitan permintaan Pak Bambang mengenai pertemuan dengan
perbankan kemarin, terjadi perdebatan mengenai permasalahan keuangan mikro
sebagai salah satu alat penanggulangan kemiskinan yang sulit sekali
ketemunya. Kembali lagi pada perbankan yang merasa sulit, melayani UKM itu
lebih menarik daripada melayani usaha mikro. Melayani usaha ekora itu transaction
cost nya terlalu tinggi, apalagi kalau pendekatannya individual, kalau
memakai pendekatan kelompok itu lain lagi ceritanya. Itulah sebabnya
rentenir pakai bunga tinggi karena pendekatannya individual. Jika transaction
cost terlalu tinggi, rasanya rentenir yang terlalu kaya itu tidak ada.
Selain itu prudent, perbankan menerapkan prinsip prudent,
oleh karena itu harus ada jaminan, dan kalau bisa jaminannya lebih
besar daripada pinjamannya. Rumahnya harga 100 juta, sementara kreditnya
hanya 60-70 juta. Pendekatan seperti ini tidak mungkin diterapkan untuk
kredit mikro. Jadi kita ini sudah keliru semua tatanannya. Tapi kalau
ditata kembali kelirunya, cuma satu itu, yaitu: traktiran. Kalau ini jalan
keluarnya kita tidak usah ketemu dan seminar-seminar lagi, langsung beres.
Ekonomi Indonesia juga langsung beres. Bayangkan 136 juta jiwa tergantung
pada usaha mikro, kalau itu beres kan semuanya beres.
PERTANYAAN SESI II
Dr. Rohadi
Sebetulnya, kami menginginkan semacam indikator
pengembangan ekora. Usaha pembelaan ekora adalah suatu proses yang
akhirnya harus mengarah ke usaha-usaha yang menghasilkan suatu pembelaan
ekonomi rakyat kecil. Sehingga saya mengusulkan akan adanya indikator.
Jadi dengan adanya indikator kita tahu apakah kita menuju ke arah membela
ekora atau membela konglomerat. Misalnya, melihat berapa jumlah kredit
yang diberikan untuk ekonomi lemah. Jika hal itu diamati dari tahun ke
tahun kita bisa mengetahui apakah arah kebijakan kita membela ekora atau
tidak. Perlu dirumuskan satu persatu indikator ekora. Diharapkan Pak Muby
bisa menjelaskan hal ini. Apakah jumlah pengusaha kecil merupakan suatu
indikator? Menurut saya kurang tepat karena yang kecil juga akan menjadi
besar. Untuk advokasi kita bisa mengekspose data-data itu, prosesnya sudah
betul.
Revrisond Baswir (UGM)
Terima kasih. Mungkin
saya tidak mengajukan pertanyaan pada Pak Muby atau Pak Bambang.
Saya hanya urun rembug untuk forum kita ini. Begini, baru-baru ini saya
menemukan artikel. Dalam artikel Ludwiz van Huysenn (ekonom Austria yang
berimigran ke Amerika Serikat) dikatakan bahwa dalam ilmu ekonomi jangan
sekali-kali berbicara soal keadilan. Economy has nothing to do with
Justice! Kenapa begitu, berbicara keadilan sepertinya tidak ada ujung.
Jadi hapuskanlah terminologi keadilan itu dalam ilmu ekonomi. Saya setuju
dengan Pak Bayu bahwa pokok masalahnya adalah keadilan. Tapi apa yang
disaksikan di sekitar kita, krisis, kontraksi, langsung dianggap sebagai
masalah nasional, sibuk semua, bank
krisis lalu bikin BPPN. Masalahnya begitu banyak institusi yang dibentuk
dan merasa sangat peduli pada kemakmuran, tapi kalau sudah berbicara
keadilan semua tutup mulut.
Ekonomi rakyat ingin mengangkat subyek yang
terpinggirkan, sesuatu yang terabaikan diangkat menjadi lebih baik. Saya
kira bicara apa pun yang tidak dipedulikan, tetap saja tidak peduli.
Masalah perbankan, mereka mau aman, yah wajar dong.
Kenapa kita tidak berbicara pelanggaran BMPK. Masalahnya kita semuanya
orang sekolahan, dan pasti dari kaum elit. Kita bukan bagian langsung dari
masyarakat terpinggirkan, dan orang cenderung bias pada kelompoknya. Kalau
kita berkumpul disini maka kita mbalelo terhadap klas interes. Jadi
mengkhianati kaumnya. Makanya orang-orang tidak senang pada kita karena
berkumpul disini.
Manakala kita kumpul-kumpul disini bersikap menentang,
tapi setelah ditawari jabatan di birokrasi kita lupa. Persoalannya
kadang-kadang kita juga tidak tahan kalau ditawari jabatan di
pemerintahan. Perlu ada komitmen penuh sebelum kita menjawab tawaran. Saya
pernah beberapa kali ditawari jabatan jadi staf di pemerintahan. Bukan
berarti kita tidak boleh mendapat jabatan. Boleh-boleh saja, tapi
betul-betul harus digunakan untuk memperjuangkan. Kalau tidak bermanfaat
untuk rakyat ya tidak usah. Saya kira intinya itu.
Kusno
Kita semua mempunyai komitmen yang sama dengan konsep
ekora untuk bisa dijual pada pengambil keputusan, tapi mengurangi
implikasi dari hal traktiran tadi. Karena root of problem-nya
adalah itu dan harus kita garap. Sekarang kita lihat kalau semua menangani
sesuatu pada masalah utamanya, yach akan kita lakukan. Berapa ribu LSM itu
telah menangani ekora dari dulu sampai sekarang.
Secara struktural memang kita tidak bisa maju ke depan karena ada root
of problem yang sangat besar yang perlu kita tangani bersama. Saya
mengusulkan kalau bisa forum seperti ini adalah forum yang lebih insten,
untuk membahas pengalaman berbagai bidang yang akan kita rangkum menjadi
satu konsep yang sangat kuat dan solid yang menyentuh root of problem yang
kita gali bersama. Kalau melihat dari sekuen karena permasalahannya konsep
itu harus clear, seperti yang dikemukakan Pak Bayu sebelumnya. Konsepnya
belum bisa dijual, maka itu menjadi tugas kita semua.
Sumantoro
Saya
ingin menjembatani adanya friksi dari sektor keuangan mikro dan perbankan.
Karena saya cukup tahu permasalahan dari kedua belah pihak. Jadi memang
benar bahwa perbankan beresiko melayani sektor mikro karena tidak efisien.
Masalahnya adalah tidak padannya sektor yang dibiayai dan lembaganya.
Mungkin kalau kita meminta bank umum, seperti Bank Mandiri, untuk
membiayai sektor mikro itu tidak match. Saya kira untuk masalah
tertentu ada padanannya lembaga tertentu. Jadi sektor mikro harus dibiayai
oleh lembaga keuangan mikro. Pertama, tidak match masalah dengan
banknya. Kedua, pengertian mikro, kecil, dan menengah, itu campur aduk.
Jadi usaha yang membutuhkan kredit Rp.100.000,- dituntut dari bank besar,
itu suatu hal yang tidak logis. Masalah resiko merupakan kendala utama,
sehingga tidak match antara lembaga keuangan dan usaha mikro.
Contoh, PHBK adalah cara untuk memadukan sektor mikro dengan lembaga
keuangan mikro, yang tidak menangani sektor mikro. Jadi ini untuk
meluruskan masalah yang dikatakan traktiran tadi.
JAWABAN:
Sebelum
menjawab pertanyaan yang diajukan, Pak Mubyarto mengutarakan rencana
membuat web site khusus untuk ekora. Perkembangan dari sesi seminar satu
dan selanjutnya terus dicatat dan disebarluaskan, juga untuk menampung
usulan mereka yang tidak sempat mengikuti seminar, termasuk mereka yang
belajar dan berada di luar negeri. Jadi konsep itu makin lama makin
matang. Kemudian, ada juga pikiran apakah kalau mengikuti 12 sesi sama
dengan kuliah 1 semester dengan 3 SKS, lalu mereka yang aktif terus
menerus mengikuti seminar hingga 12 sesi akan perlu memperoleh sertifikat.
Ini hanya joke.
Mubyarto
Saya
tidak tergesa-gesa menjawab keluhan atau apa pun yang dikatakan Mas Bayu
karena itu suatu proses. Ekora sebenarnya sudah baku dikembangkan, so
what mengembangkan ekora itu.
Menanggapi
pernyataan economy has nothing to do with justice, saya juga pernah
dengar. Dikatakan, masalah keadilan itu urusannya pastor dan kyai, dan
ekonomi tidak ada urusannya dengan keadilan. Hal inilah protes saya waktu
baru lulus Ph.D ekonomi pertanian di Amerika. Waktu itu saya masih
muda. Something wrong bila keadilan dipilah-pilahkan. Indonesia
memiliki Pancasila yang sila kelimanya berbicara mengenai keadilan, maka
tidak tepat rasanya membicarakan ekonomi Indonesia tidak dikaitkan dengan keadilan.
Kalau sekarang ekora yang lebih banyak dibahas rasanya
kabar baik. Ternyata memerlukan banyak orang. Hal ini sekaligus mengoreksi
kepercayaan saya pada kelompok.
Bambang
Ismawan
Setuju
dengan pernyataan Pak Sumantoro, yaitu mencari lembaga keuangan yang pas.
Tidak mungkin kita meminta pada Bank Mandiri untuk melayani keuangan mikro
seperti yang dikatakan tadi. Tapi yang hadir saat itu adalah BPR-BPR dan
wakil-wakil BPR (2.400 buah), BRI (4.000 unit), dan Bukopin. Kita harus
menjaring lembaga keuangan yang pas. Kalau itu tidak bisa yah siapa lagi.
Memang kalau bicara lembaga keuangan mikro yang non-formal, lembaga
non-formal ini dianggap ilegal. Jadi sewaktu-waktu harus ditangkap polisi
karena tidak sesuai peraturan. Karenanya bagus sekali kita mendorong untuk
memperjuangkan UU lembaga keuangan mikro yang sedang diperjuangkan di DPR.
(*)
|