Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat
Catatan Seminar Seri II: Ekonomi Rakyat dan Kemiskinan
Oleh: Mubyarto dan Bayu Krisnamurthi
Catatan
Mubyarto (Moderator):
PERTANIAN
DAN KEMISKINAN
Pada
pertemuan ke-2 Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat (5 Februari) berbicara
Prof. Sajogyo dan Dr. HS Dillon. Ke-2 pemakalah menguraikan bahwa sektor
pertanian yang tertinggal dalam teknologi produktivitasnya rendah sehingga
taraf hidup dan kesejahteraannya juga rendah. Faktor lain yang menyebabkan
kemiskinan pedesaan adalah struktur sosial yang timpang dan terabaikannya
sektor pertanian oleh kebijakan pemerintah. Dalam era otonomi daerah yang
sedang dimulai dan kini masih belum mantap, Dr Dillon menyatakan yang
penting adalah otonomi rakyat bukan otonomi daerah. Hal ini kami tanggapi sebagai perlunya diwujudkan demokrasi ekonomi sebagaimana secara
eksplisit disebutkan dalam penjelasan UUD 1945 “produksi dikerjakan oleh
semua untuk semua di bawah pimpinan dan penilikan anggota masyarakat.”
Seorang
pengusaha/ pedagang pupuk Mulia Tarigan mengingatkan kendornya perhatian
pemerintah terhadap pertanian mulai 1993 dengan penghapusan subsidi pupuk
dan subsidi atas pestisida dan insektisida. Akibatnya produktivitas padi
menurun sekitar 30% dari 6,3 ton/ha menjadi hanya 4 – 4,5 ton/ha.
Pernyataan ini didukung dari Kabupaten Bekasi yang melaporkan hasil per ha
padi hanya 30 – 40% di bawah yang seharusnya karena industrialisasi di
Bekasi yang sangat menurunkan perhatian terhadap pertanian.
Tentang
ekonomi rakyat Sajogyo mengusulkan mengundang Hernando de Soto dari Peru
ke Indonesia atau diantara kita menemuinya untuk mempelajari metodologi
penelitiannya. Mungkin ada perusahaan besar seperti “Kompas-Gramedia”
yang dapat mensponsori seperti saat mengundang Paul Ormerod penulis buku
The Death of Economics tanggal 15 Januari 1998.
Catatan Bayu
Krisnamurthi:
EKONOMI TERLALU PENTING
Dalam diskusi ke 2
dari seri seminar "Pendalaman Ekonomi Rakyat" kemarin (5
Februari 2002), kritik yang menyatakan bahwa ekonomi rakyat memang tidak
ada dalam textbook ekonomi dan tidak ada dalam kerangka teori ekonomi,
juga terlontarkan. Ada dua jawaban atas kritik tersebut yang sangat
menarik (setidaknya bagi saya) untuk direnungkan lebih lanjut dari dua
pembicara yang berbeda.
Prof. Sajogyo menyatakan bahwa "ekonomi terlalu penting untuk hanya
diserahkan kepada ekonom".
Pernyataan itu mungkin dapat saya elaborasi (ini interpretasi pribadi
saya) menjadi bahwa kondisi ekonomi masyarakat (tingkat pendapatan,
kesempatan kerja, daya beli, produktivitas, efisiensi, dll.) merupakan
hal-hal yang sangat penting karena sangat berkaitan dengan
kesejahteraan kehidupan manusia. Sedemikian pentingnya sehingga
begitu banyak aspek yang terkait, dan ilmu ekonomi memang perlu dilengkapi
dengan ilmu lain untuk menelaahnya, sekaligus juga mungkin ilmu ekonomi dan ekonom "tidak berhak"
untuk mengklaim bahwa persoalan ekonomi "hanya boleh" dipecahkan
oleh pendekatan ekonomi murni.
Dr. HS Dillon kemudian menambahkan bahwa "pasar tidak mengenal orang
miskin"
Mungkin
artinya (kembali ini interpretasi saya) bahwa bagi mekanisme pasar,
seseorang miskin atau tidak, tidak akan dibedakan sepanjang transaksi
permintaan dan penawarannya terjadi. Tetapi tentunya bagi kita semua
walaupun pasar tidak mengenal orang miskin (atau kemiskinan) bukan berarti
kemudian kita tidak peduli dengan kemiskinan kan? Dengan demikian
kemiskinan harus dilihat lebih luas dari sekedar cakupan sistem pasar.
Patut
pula dicatat bahwa teori yang dikembangkan dua peraih hadiah Nobel
ekonomi, Amartya Sen dan Gary Becker, sebelumnya sering dipandang sebagai
"bukan" pemikiran atau teori ekonomi. Tetapi toh mereka
menerima hadiah nobel. Atau mungkin sebenarnya, yang dimaksud dengan
"tidak ada dalam teori ekonomi" adalah "tidak ada dalam
teori ekonomi klasik dan neo-klasik"?
(*)
|