Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat
Notulensi Seminar Seri II: Ekonomi Rakyat dan Kemiskinan
Oleh: Lilis Suryani dan Herry
Subagyo
Tanggal:
5 Februari 2002
Pembicara:
Prof. Dr. Sajogyo dan Dr. HS Dillon
Moderator:
Prof.
Mubyarto
DALAM
pengantarnya Prof. Mubyarto mengulang informasi
tentang kegiatan seminar yang direncanakan akan berlangsung 12 kali selama
6 bulan. Kalau selama ini kita hanya mengenal seminar sehari, seminar dua
hari, dsb. maka kali ini kita mengadakan seminar 6 bulan, setara dengan
kuliah satu semester senilai 3 SKS. Mereka yang rajin mengikuti seminar
ini akan mendapatkan sertifikat dari panitia, “kalau dikehendaki”.
Seminar berseri pendalaman ekonomi rakyat ini (SPER)
terselenggara atas dukungan dan kerjasama dari PERHEPI, ISI, AIPI, dan
Gema PKM yang dipelopori oleh Yayasan Agro Ekonomika dimana Prof. Mubyarto
sendiri sebagai ketua dan mempelopori seminar ini.
ISI merupakan counterpart
dari PERHEPI karena ilmu-ilmu ekonomi yang banyak diterapkan di pertanian
sejak awal merupakan kerjasama dari ilmu ekonomi dan ilmu sosiologi. Dalam
buku kecil yang dijadikan acuan SPER diingatkan bahwa ilmu ekonomi yang
diajarkan terpisah sama sekali dari ilmu sosiologi tidak akan mampu
mengatasi, menelaah, memecahkan masalah pembangunan pertanian dan
pedesaan. Prof. Mubyarto mengagumi sosiolog besar Max Weber yang pertama
kali menulis buku The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism (1904-1905)
dan buku-buku Economy and Society (1919) serta General Economic
History (1920) yang diterbitkan setelah meninggalnya Max Weber.
Buku-buku tersebut meyakinkan bagaimana ilmu ekonomi harusnya disebut economic
sociologi atau socio economics. Di fakultas-fakultas pertanian
kita jurusan ekonomi tidak disebut departemen ekonomi pertanian tapi
departemen sosial ekonomi pertanian.
Pada akhir pengantarnya
Prof. Mubyarto menegaskan bahwa pada pertemuan 2 minggu yang akan datang,
tepatnya 19 Pebruari 2002, pada
jam dan tempat yang sama akan dilakukan pertemuan yang ketiga. Pada
tanggal itu juga akan diluncurkan web site ekonomi rakyat edisi
pertama. Web site ini akan menampung bahan-bahan dan hasil seminar
sehingga bisa diikuti oleh mereka yang tidak saja berada di Jakarta atau
Indonesia tetapi juga oleh mereka yang berada di luar negeri. Mereka yang
berminat dapat berpartisipasi dalam seminar ini melalui internet.
Pada akhir pengantarnya Prof. Mubyarto mengucapkan
selamat datang kepada seluruh peserta seminar, “selamat berkenalan
dengan kami-kami dalam membantu masyarakat miskin, dalam bersikap terhadap
ekonomi rakyat, dan lebih lanjut bagaimana agar ekonomi rakyat diakui
eksistensinya dan diberdayakan.”
Sesi selanjutnya Prof. Sajogyo menyampaikan makalah
berjudul “Pertanian dan Kemiskinan”.
Makalah
Prof. Sajogyo
Selanjutnya waktu diberikan kepada Dr. HS. Dillon,
mantan Ketua Badan Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan. Pokok-pokok
penyampaian Dr. HS Dillon adalah :
- Anggapan bahwa orang-orang
yang menjabat di departemen pertanian pastilah memperjuangkan petani,
ternyata keliru, sangat sedikit sekali orang yang memperjuangkan nasib
petani. Kenapa pemerintah
dibentuk, tetapi kenyataannya
yang besar memakan/ mengalahkan yang kecil. Kita-kitalah yang mesti
memperjuangkan petani.
- Krisis telah memunculkan
persoalan baru yang selama ini kita nafikan. Pada tahun 1997/1998 ada
sekitar 5 juta tenaga kerja perkotaan yang ter-PHK, di sisi lain bank
tidak berfungsi. Masuknya tenaga kerja ini ke sektor pertanian
pedesaan pastilah akan menekan upah tenaga kerja di desa.
- Penting untuk diperhatikan
bahwa dalam growth versus equality, pertumbuhan, memperlebar
kesenjangan pada tahap awal.
Tetapi growth
through
equity akan menyebarkan pendapatan yang lebih baik dan selalu akan
mengurangi kemiskinan, karena memang orang miskin berada di pertanian.
- Petani memegang peranan
penting, petani adalah sumber daya untuk mengurangi kemiskinan. Tetapi
mengapa kita tinggalkan pertanian? Selama ini para elite tidak mau
dilambangkan dengan petani, elite selalu mengambil jubah/simbol-simbol
modern, misalnya pesawat terbang .Contohnya Habibie, dia tidak mewakili
bangsa Indonesia tetapi lebih mewakili pemikiran negara Jerman, BI sebagai
bank sentral mengikuti pola Bundes-bank tanpa menyadari bahwa demikian
banyak lembaga lain untuk memenuhi kebutuhan likuiditas sudah berkembang
di Jerman. Artinya modernisasi/ teknologi yang dikembangkan tanpa didukung
oleh kelembagaan lain (masyarakat) yang siap akan sia-sia. Dalam proses
pembangunan ada sequence yang mesti dipenuhi untuk mencapai sebuah
kemajuan. Kita tidak dapat
melompat dari satu fase ke fase yang lain tanpa mengikuti tahapan-tahapan
yang mesti dilalui. Kita hanya membangun
yang bagus, kokoh, baik, tetapi tidak dengan cara yang
konsisten.
- Pengkhianatan terbesar
dalam pembangunan sebenarnya ada pada partai. Political economy bangsa
belum menunjukkan keberpihakan. PDI Perjuanganpun belum tentu menghayati
apa yang diimpikan oleh Bung Karno pada saat mendirikan Republik ini.
Tentang otonomi daerah, semestinya otonomi rakyat dahulu barulah otonomi
daerah. Menggunakan istilah Martin Luther King “you are as strong as
the weakest of your
people”. Saya mengajukan paradigma “people driven“ dimana
semua kebijakan, kelembagaan, teknologi yang kita bangun didorong oleh
kebutuhan dan kemampuan rakyat. Selama ini pembangunan lebih sering karena
berdasarkan kebutuhan dengan mengabaikan kemampuan yang dimiliki oleh
bangsa.
- Ada 4 hal yang perlu
diperhatikan dalam pembangunan bangsa: (1) Peningkatan produktivitas
pertanian. Adanya peningkatan produktivitas pertanian disamping untuk
memenuhi kebutuhan pangan, juga akan meningkatkan pendapatan petani, yang
lebih jauh lagi akan meningkatkan permintaan barang-barang diluar
pertanian. (2) Kesehatan mesti terjangkau oleh masyarakat miskin.
Adanya puskemas, dokter masuk desa, subsidi obat-obatan adalah sebagian
dari kebijakan yang tepat di era orde baru. (3) Pendidikan. Hal
penting yang perlu diperhatikan dalam membangun pendidikan adalah muatan
lokal. Bagaimana sistem pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan
masyarakat setempat. Sehingga kalender pendidikanpun mestinya menyesuaikan
dengan kondisi lokal, misalnya libur pada saat
“panen “ di komunitas pantai (nelayan) dan sekolah bisa
dilakukan sekolah pada malam hari, dsb. (4) Infrastruktur. Bagaimana
mensenyawakan pembangunan infrastruktur perdesaan dan perkotaan. Untuk
menjawab besarnya arus urbanisasi mestinya kita bertanya apa yang
sebenarnya mereka cari di kota? Jika kebutuhan itu dapat dipenuhi di desa
tentu persoalan urbanisasi bisa dipecahkan.
DISKUSI
Muhtar
Abbas, Yayasan Mitra Usaha
Kami dari sebuah LSM yang saat ini sedang
mengembangkan program Grameen Bank di daerah Muntilan. Kita-kita yang di
LSM ini tentu sangat konsen terhadap ekonomi rakyat, tetapi masalahnya
istilahnya sendiri masih rancu. Saya melihat dari beberapa pakar ekonomi
rakyat termasuk anak muridnya Prof. Mubyarto sendiri memunculkan nama-nama
baru. Di kalangan LSM saya juga tidak lagi menyebut jaringan ekonomi
rakyat tetapi jaringan ekonomi kerakyatan. Bapak Revrisond Baswir
menganggap lebih tepat penggunaan ekonomi kerakyatan, kalau disebut
ekonomi rakyat, itu adalah sektor ekonomi riil yang terjadi di lapangan
dan itupun tidak kalah eksploitatifnya, banyak sekali perusahaan yang
tidak membayar dengan benar buruh-buruh mereka, sedangkan kalau ekonomi
kerakyatan adalah sebuah norma atau sebuah sistem berdasarkan UUD 1945.
Sebuah sistem ekonomi yang kita impikan yang langsung meng-counter
ekonomi kapitalis. Itu yang antara lain dikembangkan di group kami, yang
setiap bulan mengadakan pertemuan dengan Pak Sony. Kami juga mempunyai
agenda untuk berguru pada Pak Mubyarto dan Pak Sajogyo, kalau Pak Dillon
sudah sering kami undang hanya sering tidak datang juga. Maksud saya dari
segi istilah saja sudah menjadi kontroversi apalagi menghadapi lawan-lawan
seperti Pak Dr Sjahrir, berbicara soal ekonomi rakyat akan dilecehkan.
Sekarang kembali lagi pada hal yang konkrit, Pak
Dillon juga terlibat dalam diskusi di PBNU, ketika Pak
Harto baru jatuhpun Pak Emil pernah kita tanya, pelajaran apa yang Pak
Emil ambil dengan teman-teman terhadap jatuhnya orde baru dan runtuhnya
Soeharto ini. Apakah itu bukan bukti tanda jatuhnya ekonomi kapitalis di
Indonesia. Pak Emil, saat itu mengatakan, tidak! “Tidak ada yang salah
dengan kapitalisme, yang salah adalah Soeharto dalam melaksanakannya.
Kami, ekonom UI tidak akan bertaubat dan tidak pernah salah, untuk apa
bertaubat karena tidak pernah bersalah, yang salah adalah para Jendral
yang menyelewengkannya.” Pada saat itu Pak Dillon tidak setuju. Maksud
saya, sampai hari inipun Emil Salim Cs tidak merasa bersalah, artinya
masih banyak perdebatan panjang, baru dari dasar-dasar pemikirannya, dari
segi teori dan konsepnya, apalagi untuk menjadi sebuah gerakan. Para
pemimpin elitpun masih saling cegat mencegat dari konsep dan perdebatan
tak pernah selesai.
Apa yang dikatakan oleh Pak Dillon agar pemikiran ini
menjadi gerakan rakyat “people driven”, kan paling tidak
partai-partai juga harus sadar, jangan hanya jadi pendukung arus
globalisasi, mereka sepertinya tidak pernah memikirkan rakyat, sepertinya
saya tidak tahu siapa yang menjadi pemikir-pemikir di tiap-tiap partai
besar, apakah punya pemikir atau tidak? Yang ingin saya katakan bahwa
kalaupun ada pemikir-pemikir yang masih berpikir kepada kemaslahatan
masyarakat banyak baik dari PDI, Golkar, PPP ataupun dari PAN, apakah
sekarang masih bisa bebas? Pertanyaan berikutnya: kalaupun Megawati Cs
dengan menteri kabinetnya punya niat baik untuk membangun ekonomi rakyat
Indonesia, apakah mereka bebas untuk mengambil keputusan? Karena
penyelenggara negara baik itu kabinet, presiden, DPR, MPR sudah menjadi
budaknya IMF? Budaknya kekuatan kapitalisme global? Banyak sekali problem
yang dihadapi oleh departemen kita terutama menghadapi arus globalisasi,
MPR, DPR-pun sudah terjebak, terjajah, dan tidak merdeka dalam mengambil
keputusan.
Mulia Tarigan, Penyalur Pupuk
dan Pestisida
Kita melihat untuk mencapai self
supporting beras, pertama
merangkak dari tahun 1984, kemudian bisa dipertahankan sampai tahun 1993,
namun dari tahun 1993 mulai menurun, bahkan menjadi salah satu importir
beras terbesar pada saat ini. Sebetulnya kalau kita pelajari atau cermati
pada pelita pertama segala fund and process kita kerahkan pada
sektor pertanian, dimana seluruh tamatan SPMA kita kerahkan menjadi
penyuluh ke desa-desa, dan itu kita berhasil. Kemudian tahun 1993 kita
mencoba untuk menarik semua penyuluh-penyuluh termasuk subsidi pestisida
dan pupuk (dimulai 1993 penghapusan subsidi KCL). Dengan ditariknya semua
fasilitas dari pedesaan maka produksi mulai menurun dan terlihat jelas
setelah subsidi dihapuskan harga pupuk tidak stabil lagi.
Berdasar data statistik,
produksi padi sawah terakhir ini rata-rata 4-4,5 ton/ha/musim tanam. Kalau
kita kaji berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jawa Timur
oleh PT Petro Kimia Gresik yang mempergunakan pupuk majemuk
tercapai produksi sampai 6,3 ton. Artinya produksi masih bisa ditingkatkan
lagi dengan 2 ton per Ha per musim tanam. Kalau kita lihat data itu, kita
bisa buat paradigma baru sesuai UU 22 dan 25 tentang Otda. Kita tahu
selama ini sentralisasi penyaluran pupuk dan pestisida dan penyaluran
bibit terlalu banyak campur tangan mulai dari pusat, propinsi, kabupaten
sampai kecamatan bahkan sampai kepala desa. Mungkin dulu Pak Mubyarto
membayangkan KUD merupakan suatu alat yang baik yang ternyata sekarang
dimusuhi oleh rakyat. Jadi saya usul dalam seminar ini nanti supaya
diusahakan satu kesimpulan membentuk paradigama baru yang bergerak di
kabupaten dalam arti Bupati, bank Bukopin, Dolog, begitu juga dinas
pertanian di kabupaten diajak serta menjadi satu mitra terpadu. Kita ajak
semua unsur ini agar kalau nanti pembiayaan atau pendanaan itu bisa
dilaksanakan melalui Bukopin atau bank manapun ditingkat kabupaten, Dolog
di kabupaten akan bertanggungjawab untuk membeli gabah kering, sehingga
tidak terjadi harga gabah jatuh.
Aminudin
Daulai, Departemen Pertanian
Yang dimaksud oleh UU No. 22/1999 adalah pemberian
sebagian wewenang pusat kepada daerah, tetapi menurut Pak Dillon hal itu
belum apa-apa, yang semestinya didahulukan adalah otonomi rakyat. Otonomi
daerah saat ini tampaknya hanya berkutat pada kekuasaan yang tadinya
sentralistik, semuanya dari pusat, termasuk instruksi, dsb sekarang
diturunkan ke daerah. Kalaupun kemudian terjadi penyimpangan-penyimpangan,
itu sekarang hanya beralih ke daerah. Kemudian hari ini saya mendengar
istilah otonomi rakyat, binatang apa pula ini? Mendengar uraian Pak Dillon
tadi kalau memang “people driven” sudah berjalan, kemiskinan sudah
tidak ada masalah lagi. Karena yang menguasai adalah people, kalau kita
lihat scope kecil, misalnya petani, kalau otonomi rakyat ini bagus sekali
hanya formatnya bagaimana karena bukan kekuasaan. Kalau kekuasaan nanti
lain sekali terjemahannya. Kepada Pak Dillon kiranya dapat memberikan
contoh kira-kira negara mana yang telah menerapkan, mengimplementasikan
semacam otonomi rakyat ini yang benar-benar rakyat itu mempunyai
bargaining position yang lebih kuat dari institusi lainnya.
Piter Abdullah, Bank Indonesia
Kalau Pak Mubyarto seorang ekonom yang tertarik
pertanian, saya adalah anak petani yang tertarik ekonomi. Lebih lanjut
saya tertarik dengan perkotaan dan terakhir tertarik dengan “kekayaan”
yang mendasarkan pada moral dan etika. Menurut hemat saya persoalan utama
yang kita hadapi saat ini adalah masalah korupsi.
Kalau seandainya benar hipotesa saya bahwa persoalan
kita benar-benar hanya dikarenakan korupsi, pertanyaan saya, dengan asumsi
sistemnya tetap (apakah neoklasik, mekanisme pasar, atau apapun), apakah
dengan sistem yang sama itu kemiskinan bisa kita berantas, atau apakah
korupsi itu melekat pada sistem. Pertanyaan ini sangat penting, kalau
seandainya korupsi tidak melekat pada sistem, mungkin kita tidak perlu
berdebat panjang mengenai sistem, tetapi tumpuan perhatian kita
benar-benar hanya mengacu pada pemberantasan korupsi itu.
Saya pernah bertanya, bagaimana kita memandang korupsi
ini, ternyata jawabnya berbeda-beda, salah satunya kita melihat korupsi
itu semata-mata pada jumlah yang besar-besar, mengabaikan korupsi
kecil-kecil yang terjadi setiap hari, yang jika di akumulasikan akan
berjumlah besar. Korupsi di Indonesia sudah terjadi setiap hari, setiap
detik, mungkin kita seminar disini pada suatu tempat yang lain juga telah
terjadi korupsi. Sayangnya sampai sekarang ini tidak ada satupun dari
kita, para pemikir ekonomi ataupun pemerintah yang berusaha, berupaya,
mengatasi korupsi yang kecil-kecil yang menjadi budaya korupsi yang
kemudian menjadi korupsi yang besar-besar itu. Ini alur pemikiran yang
ingin saya sampaikan, minta pendapat dari bapak-bapak sekalian.
Noer Sutrisno, Sekjen PERHEPI
Tadi Pak Mubyarto mengatakan bahwa kalau melihat
kemiskinan itu letaknya di pertanian dan di desa, dan mungkin kita
lanjutkan lagi adanya di ladang padi. Yang kedua mau saya hubungkan dengan
Pak Dillon tentang otonomi petani, sebetulnya kalau dilihat dari
infrastruktur, otonomi petani itu sudah ada perangkat hukumnya, ajakannya
sudah ada dan saya kira dari perangkat itu hukumnya sudah ada. Tapi kita
sendiri sering berbalik-balik. Artinya, sebelum krisis kita pernah
menyatakan bahwa makanan itu adalah barang dagangan biasa oleh karena itu
kita masukkan dalam agenda perdagangan, sekarang balik lagi, ini
menyusahkan. Yang ketiga, seperti yang disampaikan Pak Dillon, ketimpangan
dalam penguasaan sumber daya. Kalau tidak salah sensus pertanian
menyebutkan 43% tanah dikuasai hanya 12% petani. Nah kalau mau
meningkatkan produksi pertanian, yang seharusnya kita ukur adalah petani
tapi kalau mau menanggulangi kemiskinan jawabannya tidak terletak di
ladang padi. Secara tradisional, dalam kebudayaan Jawa, padi itu tidak
termasuk raja, yang raja itu ternak, raja kaya, kalau emas disebut raja
brana.
Sebetulnya dari awal kita telah mengajarkan irrational
choise dalam memandang pertanian, irrational choise-nya begini.
Kita biasa mengajarkan bahwa tanaman itu padi dan palawija. Kalau di Yogya
dalam palawija menurut Emha adalah simbul daripada pengecualian, bukan
yang normal, jadi kalau padi palawija, kalau palawija itu isinya 5 macam
(jagung, kedelai, dll), 5 macam dihadapkan dengan satu, kita itu selalu
mengajarkan masyarakat kita untuk memilih satu yang menimbulkan kemiskinan
dengan probability yang lainnya lebih dari separuh. Ini lalu
berlanjut hingga tidak tumbuh keberanian petani. Kalau kita ingin
membebaskan petani supaya ada otonomi petani tadi harus dari sana. Saya
setuju sekali, sekarang ini paradigmanya, kalau memang mau meningkatkan
pendapatan petani, lalu kita masih berpikir harga harus demikian, padahal
kita sepakat bahwa dunia kita
semakin terbuka dan ketika kita keluar dari sistem pertanian pertama masuk
keluar itu kan sudah digambarkan bahwa dunia ini temporate
daripada produk-produk primer akan menurun, karbohidrat akan menurun lebih
cepat kalau protein agak lambat kalau barang-barang yang menghasilkan
untuk luxury akan bertahan lebih lama, seharusnya dengan cara itu
kita juga harus berpikir untuk melihatnya. Kalau kita berbicara masalah
pertanian selalu terbawa kepada pangan dan selalu kita meratapi, kalau
dulu pernah swasembada beras lalu sekarang tidak lagi. Padahal sebetulnya
Indonesia itu sudah berswasembada pangan kalau dari kacamata saya, saya
melihat dari surplus trade dari nilai impor barang-barang yang
dimakan dan nilai barang-barang ekpor pangan dan sejak tahun 1983 kita
sudah surplus. Dan surplus itu terus membesar meskipun kita dalam keadaan
krisis. Tadi disebut Indonesia mengimpor sebesar 6 juta ton, relative
dependency-nya menurun. Dulu kita tahun 1977 mengimpor 3 juta ton
sudah 33% dari pasar dunia, sekarang hanya 25%. Sebetulnya derajat
berbahayanya lebih rendah. Kemudian hubungannya dengan situasi pedesaan,
Pak Sajogyo menyebut Oshima, saya kira salah satu yang dikutip oleh Prof.
Oshima itu dalam theory of Monsoon Asia. Itu adalah bahwa persoalan
di Asia ini adalah sulitnya mengharapkan pertanian seperti yang dialami
oleh Jepang dan sebagainya. Sejak dekade 80-an itu upah buruh riil di
pedesaan itu sudah naik ketika pertanian belum mencapai titik
komersialisasi, seperti yang digambarkan oleh White dan Ranis.
Kita perlu merubah pikiran mengenai pertanian,
paradigmanya income petani dan yang kedua otonomi petani.
Kalau ada maksimisasi tingkat mikro berbeda dengan makro seharusnya policy
makro yang harus disalahkan. Jadi kalau petani mau kaya lalu terhalang
karena policy makro yang begini seharusnya disesuaikan policy makro, bukan
lagi petani yang harus tunduk pada policy makro. Yang kedua, kalau memang
kelebihannya tenaga saya sangat sependapat dengan Prof. Sajogyo, kita
harus sebanyak mungkin mengeluarkan penduduk itu dari pedesaan ke
perkotaan, tapi kalau sekarang, mungkin yang muda-muda kita persiapkan
untuk overseas worker yang memang kita masih belum cukup banyak
memanfaatkan itu secara sistematik dibandingkan dengan negara-negara lain.
TANGGAPAN
PEMBICARA
Prof. Sajogyo
Muhtar Abas, pertentangan antara masalah ekonomi
rakyat atau ekonomi kerakyatan
mudah-mudahan tidak hanya sampai disitu. Kalaupun kita berteori
nantinya mesti melihat kondisi empirik di lapangan. Seperti dikatakan Noer
Sutrisno tentang kondisi makro dan mikro, yang mikro itu ada dimana? Dan
yang menguasai makro itu siapa? Kita harus bisa menempatkan diri, kalau
saya punya karir sebagai guru dan peneliti yang banyak bergaul dengan
birokrat, tapi saya sendiri tidak pernah yakin apakah saya punya pengaruh
disitu, yang jelas saya lebih banyak memperhatikan mereka-mereka yang
lebih muda-muda, yang bisa memperjuangkan ide-ide. Kalau tadi Pak Abdullah
dari BI mempermasalahkan tentang kekayaan tapi dalam arti moral, saya
setuju hubungan kita terutama dalam ide, sedangkan mempersoalkan masalah
dana urusan kedualah. Yang bisa merombak adalah ide, dan mulai otonomi
rakyat, berbicara soal perbaikan ekonomi, bukan soal pendapatan saja tapi
soal keberdayaan diri, dan tergantung dari pendidikan. Suatu negara tidak
dapat memperbaiki diri kecuali dengan kemampuan dan kemauan kemampuannya.
Dan Ide Pak Tarigan untuk lebih banyak mempersoalkan apa yang terjadi pada
tingkat kabupaten dan otonomi daerah yang bisa membereskan, sebenarnya
saya setuju. Kami sendiri juga pernah bergerak di bidang itu dan
sekarangpun akan mulai mengajak LSM setempat untuk berbuat sesuatu
mempertemukan otda kabupaten dengan otonomi rakyat. Sebagian otonomi
rakyat itu disalurkan lewat desa, tapi kalau soal pertanian tidak cukup
hanya jalur itu, harus ada jalu-jalur lain. Mengenai ekonomi sebagai teori
tadinya saya bermaksud menyambung kepada pengertian sosiologi ekonomi atau
antropologi ekonomi. Di situ sebenarnya kita mempersoalkan
pengetahuan ekonomi “economic knowledge” yang bisa dan
sebaiknya melibatkan bidang ilmu sosial-sosial yang lain yang tadi saya
sebutkan sosiologi, antropologi, dan kalau bicara masalah teknologi nanti
kan akan diarahkan sampai mana teknologi itu membantu memecahkan entah
sosial atau ekonomi. Terakhir ikut dukungan ilmu hukum dalam mengatur
ekonomi. Jadi kalau ada yang mengatakan kalau belajar ilmu lain, apalagi
kalau di tangan jendral, kok ada yang menyalahkan jendral .
Tentang otonomi rakyat pada penutup makalah saya
disebutkan bahwa persoalan ekonomi tidak semata-mata pendapatan, tetapi
keberdayaan. Ide Tarigan soal kegiatan yang bisa dilakukan di era otonomi
daerah saya setuju. Saat inipun kami sedang mengembangkan suatu kegiatan
yang mengajak LSM lokal untuk mengkaji dan menemukan format otonomi
daerah. Mengenai ekonomi sebagai teori saya menyebutnya dengan sosiologi
ekonomi. Sedangkan bicara soal teknologi, sampaimana teknologi menyumbang
pada pemecahan masalah ekonomi.
HS. Dillon
Pertama,
sebetulnya pulau Jawa sudah lama tidak lagi menopang padi.
Semua kegiatan yang bernilai tambah rendah tidak bisa. Drivernya
itukan kita tahu, 2 drivernya satu adalah sewa kedua adalah upah.
Sebetulnya sudah keliru semuanya, tetapi itu satu sisi saja. Sedangkan
sisi kedua, saya lebih sependapat dengan Prof. Sajogyo daripada Mas Noer
untuk menjadikan mereka office boy. Sebetulnya The Agrarian Origins of
Industrial Japan yang ditulis oleh Smith 14 dasawarsa yang lalu dan
kemudian dicoba juga oleh kawannya Prof. Sajogyo yaitu Yoshiro Hayami
untuk melihat kita. Sebetulnya secara sederhana saya namakan itu petani
dan mereka di pedesaan itu harus naik kelas, kalau mereka keluar dari
pertanian bukan tergusur supaya jadi babu, TKW, kuli kontrak atau kuli
bangunan. Bukan itu, dia naik kelas. Untuk naik kelas dia harus mempunyai
kemampuan, maka yang penting adalah pendidikan. Sebetulnya Prof. Sajogyo
sudah tunjukkan bahwa kuli kenceng ini mempunyai akses yang luar biasa
besar. Gambaran kita tidak melihat masalah bangsa ini banyak sekali.
Pakar-pakar berpikir ahistoris, melihat negara-negara lain tanpa
mengetahui bagaimana tracee
negara-negara atau bangsa-bangsa tersebut sampai pada saat keadaan
sekarang. Jadi sebetulnya yang penting itu peningkatan produktivitas
tenaga kerja, sehingga kalau dia beralih dari pertanian dia masuk ke
bidang usaha yang memberikan dia tingkat pendapatan yang mengakibatkan
kesejahteraan lebih tinggi. Itu yang pada saat saya masih agak aktif di pertanian dinamakan
meaningful employment. Saya tidak pernah bilang employment saja.
Dan akhirnya Prof. Emil. Walaupun perlu saya jelaskan pada Prof. Muby dan
Prof. Sajogyo dan teman-teman disini pada waktu kita di Dewan Ekonomi
Nasional, pertengkaran dengan beliau sangat besar. Satu-satunya orang
yang berani dan menurut saya brilliant
itu adalah Sri Mulyani yang akhirnya bilang, wah ini berbeda
sekali apa yang dikatakan Pak Dillon dengan Pak Emil?
Dia Neoclassical economits
sebetulnya, tapi dia lalu mengatakan, menurut saya atau kita ikuti saja apa yang tadi
dikatakan pak Dillon atau kita minta berhenti.
Pertengkaran saya dengan Prof. Emil dan Prof. Sadli, adalah apakah
kita sedang membangun kembali perekonomian Soeharto pada saat-saat
terakhir? Atau kita mau membangun suatu tatanan masyarakat dengan muatan
keadilan yang lebih tinggi, yang menurut saya dituntut oleh krisis
sekarang. Jadi sebetulnya, itulah pandangannya. Saya tidak sependapat
dengan teman dari BI ini bahwa masalah yang terbesar adalah korupsi. Dan
korupsi tidak kita mulai dari kecil, pemberantasan korupsi itu mulai dari
besar. Jadi mestinya itu kita hadapi dan korupsi ini sebetulnya dimanapun
ada dan apabila kita lihat struktur masyarakat tatanan feodal, sebetulnya
telah terjadi penghisapan. Di kita juga begitu, dan dokumentasi paling
baik di Jawa ini, dimana rakyat jadi kecil. Masalahnya bukan korupsi saja,
tapi masalah utama adalah kita tidak memihak pada rakyat, tidak
memperdulikan rakyat.
Tadi sudah saya katakan Bung
Karno telah menjebol, membangun, menjebol lagi, membangun lagi. Jadi
beliau sudah tahu bahwa sekali revolusi saja tidak cukup. Kalau anda baca Santayana
dia bilang tidak ada revolusi. Yang ada hanya evolusi. Kenapa
orang-orang Khmer Rouge membunuh semua yang diatas umur 12 tahun,
istri pejabat juga dibunuh karena menganggap ini semua tidak bisa dirubah
sikap mentalnya. Kalau saya,
pandangan saya selama tokoh-tokoh Orde Baru masih berada di eksekutif,
legislatif, yudikatif selama itu bangsa tidak akan keluar krisis dan
terlalu banyak, saya berani bilang, misalnya Ginandjar yang menjabat
sebagai wakil MPR padahal dia yang bertanggung jawab atas krisis ini dan
sebagian besar negara ini, walaupun pada saat terakhir dia menghianati
Soeharto. Emil Salim sempat tergusur sebelumnya, dan Emil Salim waktu saya
kejar dia bilang kalau waktu itu sudah ada Habibie, Soeharto mengikuti
Habibie saat itu, itu suatu excuse.
Pasar tidak mengenal orang miskin,
kita harus melihat sesuatu dari fitrahnya/ hakekatnya. Harus menjadi tua
sedikit, tapi anda benar, kalau dari muda harus mempunyai pandangan dan
punya persoalan yang semuanya harus dipertanyakan, pasar tidak mengenal
orang miskin, pasar hanya mengenal orang mempunyai sesuatu atau dia
menawarkan atau dia meminta dengan kemampuan dia untuk menukarkan atau
membeli.
Kalau saya membela Bulog,
sebenarnya secara sederhana saja, sebelum kita mampu merakit instrumen
yang lama. Kalau dalam pertanian sederhana sekali, sebelum pasar faktor
bekerja dengan baik kita tidak bisa liberalisasi pasar produk.
Selesai diskusi, Prof. Mubyarto, sebagai moderator
menutup acara dengan harapan “apakah kita mampu menciptakan suatu forum
di Ibu Kota Negara?” yang sudah begitu maju dan canggih walaupun minggu
yang lalu terbukti lemah dengan terjadinya banjir.
Tadi ada yang mengatakan lho... kok masalah orang
miskin dibahas di tempat yang mewah seperti ini? Justru seminar ini ingin
menjawab pertanyaan saudara Piter Abdullah dan Pak Muhtar Abas, apa ini
tingkat intelek atau tingkat empirik lapangan? Kita membuat forum ini ke
sini karena orang-orang seperti kita ini tidak pernah didengar, tempat ini
sebetulnya adalah tempat diskusinya para orang-orang pintar yang canggih
dan konglomerat. Sekarang kita diterima diskusi disini, marilah kita coba
hubungkan antara tingkat pemikiran yang sangat tinggi dan pemikiran yang
sangat ndeso ini supaya bisa ketemu, karena masalah kita itu tidak
akan pernah selesai dengan hanya saling tuding.
Menjawab pertanyaan Pak Abas, kami akan berhenti untuk
membicarakan masalah ekonomi kerakyatan, hanya ingin bicara masalah
ekonomi rakyat saja. Karena ekonomi kerakyatan banyak membahas masalah
yang tidak benar daripada yang benar, tapi kalau ekonomi rakyat membahas
masalah yang konkrit. Kalau ekonomi kerakyatan merupakan sistem, dan
munculnya istilah ini karena by accident, karena tidak suka
ekonomi rakyat maka digantilah dengan ekonomi kerakyatan. Jadi saya
mengerti jalan pikiran Sony, memang sistem ekonomi kerakyatan itu
diada-adakan sebagai sub sistem ekonomi pancasila, sila ke-4 yaitu
kerakyatan.
(*)
|