Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat
Notulensi Seminar Seri IV: Ekonomi Moral dan Etika
Bisnis
Oleh: Novita dan Widowati
Tanggal: 5
Maret 2002
Pembicara:
Prof. Dr. Mubyarto
Moderator:
Prof.
Mubyarto
Seminar berseri pendalaman ekonomi rakyat terselenggara atas
dukungan dan kerjasama dari Pusat
Pengkajian Pengembangan Perekonomian Rakyat (Pusat P3R)
Yayasan Agro Ekonomika dengan Komisi Ilmu-Ilmu Sosial- AIPI, Bina
Swadaya, PERHEPI, ISI dan Gema PKM. Serta
Bank Rakyat Indonesia yang telah memberikan bantukan pendanaan.
Dalam pengantarnya Prof. Mubyarto memberikan informasi jumlah
pengunjung website WWW. ekonomi-rakyat.org yang telah diluncurkan pada
tanggal 19 Februari 2002 sebanyak 160 pengunjung, bukan hanya dari
Indonesia saja tetapi ada yang dari Paris dan Ohio.
Hal ini merupakan tanda-tanda cukup menggembirakan.
Seminar dimulai jam 14.14 WIB dan berakhir 16.30 WIB.
Seharusnya sebagai pembicara dalam seri IV membahas ekonomi moral
dan etika bisnis adalah Prof. Mubyarto dan Pak Jakob Oetama (Kelompok
KOMPAS - Gramedia Grup). Akan tetapi Pak Jakob Oetama tidak bisa hadir
karena sakit flu berat dan tidak ada makalah yang disampaikaan.
Prof. Mubyarto membawakan dua makalah dengan makalah utama
berjudul Etika Bisnis Pancasila
serta makalah tambahan: Meninjau
Kembali Ekonomika Neo-Klasik. Makalah
tambahan ini rencananya akan diterbitkan dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Indonesia Untuk mengisi
ketidakhadiran Pak Jakob Oetama, disampaikan penuturan pengalaman (tanpa
teks) dua narasumber yang berkecimpung di bidang bisnis yaitu Soemargono
SE (Mantan.Direktur Utama Rajawali Grup,saat ini sebagai Bendahara Yayasan
Agro Ekonomika), dan Titus Kurniadi SE (40 tahun berkecimpung di bisnis
farmasi dan kimia khusus dan saat ini mendalami dan bergiat dalam bidang
mikrofinance)
Makalah Prof. Mubyarto
Pengalaman Soemargono SE dalam bisnis
Terima kasih Pak Mubyarto, Ass. Wr.Wb.
Saya memang sahabat kental, satu lichting dengan Pak Mubyarto.
Kalau Pak Mubyarto ke Amerika Serikat mengambil gelar Doktor dan
menjadi guru besar (Profesor), saya tidak demikian. Saya tidak pernah
membaca teori-teori kecuali menjiplak
saja. Jika Pak Mubyarto itu seorang Doktor Ilmu Ekonomi, saya ini dokter
gula dan perusahaan. Diserahi
tugas untuk menyehatkan perusahaan-perusahaan
kok ya bisa meski cuma seorang drs ekonomi
Tahun 1961 setelah lulus dari Ekonomi Perusahaan UGM, saya
mendapat tugas dari pemerintah untuk ikut “ merampas” harta kekayaan
Oei Tiong Ham. Tahun 1963
dengan surat keputusan pengadilan tinggi dan mahkamah agung maka
perusahaan itu dirampas untuk negara. Saya mendapat tugas untuk mendirikan
BUMN, Rajawali Nusantara Indonesia. Merupakan satu-satunya BUMN pada tahun
1963 yang berbentuk holding company, yang operating building company.
Pak Mubyarto benar, atasan saya para menteri, saya mendapat
julukan orang yang paling bahagia,pekerjaannya sangat enak, menyehatkan
badan yaitu olahraga, hobi-nya menjadi Direktur Utama selama 25 tahun di
Rajawali Nusantara Indonesia. Ajaran
Tionghoa dalam berbisnis
yaitu “ Kalau anda mau menjadi pemimpin sukses, harus mau
dan mampu belajar dari bawah.
Saya memulai bekerja tahun 1961 sebagai seorang pribumi, mendapat
pendidikan luar biasa yaitu pelajaran dari bawah, “ kalau anda meniti
karier dari bawah terus meniti ke atas seperti anak tangga itu akan
langgeng” .
Grup Rajawali terdiri dari 13 anak perusahaan dengan lebih
dari 50 ribu pegawainya, membuat saya harus keluyuran.
Hoby olahraga tersebut saya gunakan untuk silaturahmi,
ngomong-ngomong secara santai, saya katakan “ayo maju, anda mau makmur
sejahtera atau tidak? Kalau mau ayo mari kerja keras bareng saya supaya
perusahaan untung, dagang untung, keuntungan untuk bersama, saya yang akan
menjadi komandannya, karena bagaimanapun The
winner is the winning team”.
BUMN selain sebagai agent
of development, financial profit, juga harus ada social benefit-nya. Dalam melaksanakan tugas dibatasi kepentingan
para stakeholder,.harus
memperhatikan kepentingan pihak-pihak terkait. Untuk serakah kok
kayaknya.... seperti nenek moyang kita pernah berkata “jangan serakah nemen-nemen
(terlalu banyak), nanti pasti ada orang yang menghujat, mendoakan
negatif”.
Pengalaman menunjukkan pentingnya seorang komandan dari suatu
unit apapun, warna manajemen suatu perusahaan ditentukan oleh.behaviour
top manajemennya, mau diajak bekerja keras.
Sebagai orang timur saya merubah logo
perusahaan. Logo asal milik Oei Tiong Ham berupa gambar 7 penjuru
angin dirubah menjadi 5 saja, boleh terbang kemana saja asal tidal lepas
dari 5 sila (Pancasila). Tahun
1996 saya pensiun dan menjadi Oei
Soemargono.
Bagainapun seorang pemimpin, top figur harus mempunyai 3 - 5
kelebihan dari yang dipimpin. Saya mempunyai hoby olahraga dan itu
penting. Melalui olahraga
saya mempunyai kelebihan di bidang fisik karena ternyata keluyuran itu
perlu kesehatan yang baik. Kalau
pimpinannya loyo, yang dipimpin akan sontoloyo.
Dengan olahraga bisa membangun sportifitas, dibatasi dengan
sportivitas inilah menjaga stake
holder yang lain untuk tidak
serakah.
Saya memang dididik di kalangan Tionghoa, mulanya tidak
kerasan, akhirnya saya belajar sajalah, secara alamiah setelah guru-guru
saya meninggal, saya menjadi Direktur Utama.
Sejarah yang saya amati mencatat bahwa Oei Tiong Ham itu seorang
pekerja keras, dan kadang-kadang tumbuh indra ke-6 nya, dimana impian
menjadi kenyataan. Penting
sekali sebuah ungkapan “Pakailah jas merah, jangan sekali-kali melupakan
sejarah, jangan sombong, jangan serakah karena ini akan menjadi awal
kehancuran seseorang. Selama 25 tahun memimpin BUMN Rajawali Nusantara Indonesia
saya memakai semboyan Low profile,
high performance, high profit serta S3 (Sluman, Slumum, Slamet).
Keserakahan dalam dunia bisnis bagaimanapun itu ada
batasan-batasannya dan tidak semua bisnisman itu serakah..
Pengalaman Titus Kurniadi SE dalam bisnis
Saya teman sekelas Prof Mubyarto dan Pak Soemargono di UGM),
masuk tahun 1956, lulus paling belakang dibanding kedua rekan saya tersebut.
Saudara-saudara sekalian, Saya ada di bidang bisnis selama 40 tahun
(1962 - sekarang). Dalam
keterlibatan bisnis saya beberapa kali berada dalam kepengurusan asosiasi,
seperti asosiasi gabungan perusahaan farmasi dan produsen kimia khusus.
Sering terlibat dalam diskusi penyusunan etika bisnis di bidang
farmasi dan kimia khusus.
Dalam situasi sejak mundur dari kegiatan bisnis,
saya pada hari ini bertanya-tanya dari pengalaman yang saya miliki,
sebetulnya dalam bisnis apa memang betul ada
etika? Bagi saya sekarang ini merupakan pertanyaan besar sekali.
Kalau saya mencoba merefleksikan kegiatan saya dan teman-teman dalam
dunia usaha, rasanya yang disebut etika itu sebatas lips
service, sesuatu yang perlu dimiliki, perlu dikatakan, perlu disebarkan
tetapi sebetulnya tidak punya arti apa-apa.
Pak Mubyarto sepenuhnya benar bahwa semua gabungan
perusahaan, loby-loby yang dilakukan para pengusaha memang untuk kepentingan
usaha itu sendiri. Jadi kalau
begini apa ada etika bisnis itu, juga bagaimana dengan serakah? Berbicara
tentang serakah, para perilaku bisnis itu kadang-kadang
keserakahan tidak hanya timbul dari diri sendiri tetapi karena berada
dalam satu konstelasi dimana terjadi transaksi, ada yang menjual dan
membeli. Sebetulnya seorang pengusaha yang sukses itu menjadi besar
dan besar dan barangkali bukan menjadi keinginannya, tujuannya, tetapi dia
berada dalam situasi dimana ia
menjadi semakin besar, mampu membeli perusahaan lainnya. Jadi sebenarnya
yang disebut serakah itu bagaimana? Apakah orang yang membeli perusahaan
lain yang dalam kondisi kurang menguntungkan kemudian dijual kepadanya dan
dibeli, katakanlah dalam satu negosiasi yang sukarela, tanpa memaksa, tanpa
tekanan kemudian terjadi angka transaksi, apa ini disebut serakah?.
Nah usaha yang sukses menjadi makin besar dan sukar ditahan untuk
makin lebih besar lagi. Sedangkan
yang kecil ini bisa semakin kecil, dijual atau maksimum dipertahankan.
Nah keadaan seperti inilah yang sebetulnya ada dalam kehidupan
bisnis.
Jadi pertanyaan tentang serakah itu buat saya tetap menjadi
tanda tanya. Kalau Pak
Soemargono mengatakan “serakah ya serakah tetapi jangan kelewatan” kalau
demikian batasnya (serakah)
apa? Batasnya berapa rupiah? Juga apa itu etika bisnis? Masih menjadi tanda
tanya. Dalam satu sistem ekonomi yang disebut Pak Muby, perlu
diketahui bahwa kehidupan bisnis memang begitu.
Jadi kalau dibilang serakah yang ber-etika, kita menjadi tidak
mengerti, seperti apa? Yang tidak ber-etika seperti apa?
Sudah ada satu establisment, sudah terbentuk tatanan dalam
masyarakat ekonomi kita, yang terjadi di pemerintahan sudah seperti itu dan,
Kita bermain dalam establisment seperti itu, jadi apa yang bisa kita buat?.,
kita bisa sedikit ber- lips service
lalu ada sekian persen untuk kegiatan sosial, menolong yang miskin, tetapi
sama sekali tidak ada artinya hal-hal itu, walaupun ada juga yang tidak mau
melakukannya. Kalau toh itu
dilakukan bisa saja, tetapi itu terlalu kecil.
Jadi kalau sudah begitu Apa salahnya orang bisnis dalam situasi
seperti ini.? Kalau kita terus
berteori dan gigih memperjuangkannya seperti Pak Mubyarto, ini mau sampai
kapan? Sedangkan establisment-nya
begitu kuat.
Dalam 3 tahun terakhir ini saya banyak bergerak di kegiatan
mikro finance. Saya menjadi
menikmati keindahan-keindahan dalam hidup.
Apa betul begitu atau karena usia saya sudah 65 tahun, sudah mulai
bau tanah, hal itu (kegiatan mikrofinance)
terlihat indah. Ternyata menolong orang lain itu indah tetapi waktu
muda dulu apa saya melihatnya
seperti itu? Sebetulnya ini bagaimana Pak Mubyarto? Terima kasih.
DISKUSI
Muhtar Abbas, Yayasan
Mitra usaha
Saya mereplikasi grameen bank. Presentasi Pak Mubyarto memperlihatkan tentang etika bisnis
yang baik, yang bermoral. Fakta
yang kita lihat di Indonesia dimana secara aturan ada UUD 1945, GBHN, UU,
Pancasila semuanya bagus-bagus. Tetapi
dalam prakteknya tidak semuanya bagus dan konsisten.
Menurut Prof. Emil Salim dalam sebuah pertemuan dengan LSM
dikatakan tidak ada yang salah dengan kapitalisme, semuanya sesuai dengan
fitrah alam. Saat Orde baru,
Pak Harto Cs menyelewengkannya sehingga terjadi seperti
apa yang terjadi sekarang. Kalau
kita mau membandingkan normatif dan empiris bukankah dalam sejarah kita
lihat bahwa hal-hal yang normatif diangkat dari empiris apa yang disebut
deduktif dan induktif itu suatu siklus dimana deduktif diangkat dari
induktif, keserakahan kapitalisme dipaksa untuk di rem.
Misalnya kapitalisme direm karena faktor kerusakan alam, alam yang
akan menghentikannya, terdapat sosial
sustainibility. Pak Harto
pernah bilang kalau para konglomerat tidak memperhatikan rakyat kecil
nanti terjadi revolusi sosial. Jadi
ada 2 aspek sustainibility yaitu
dari lingkungan dan sosial. Secara
akal sehat kapitalisme harus melihat 2 hal itu, yang terjadi yaitu akal
jangka panjang dan jangka pendek. Kapitalisme
sepertinya tidak memikirkan itu, Indonesia (pemerintah) juga tidak
memikirkan, resiko terjadi berulang-ulang revolusi dan krisis terus saja
akan diambil.
Pak Muby, pernahkah ada dokumen, statemen resmi
mengenai pelajaran apa selama 32 tahun itu, apa konsep baru yang
bisa dilakukan berdasar pengalaman itu. Bila di India dan RRC, dengan 1
milyar penduduknya agak lebih berhasil, dimana tidak ada kelaparan,
bagaimana cara mereka (pemerintah) mengambil keputusan penting? RRC
memakai sistem ekonomi rangkap, dimana kapitalisme diadopsi dan sosialisme
juga diteruskan. Saya tidak
begitu tahu di India. Bagaimana
kita bisa belajar dari India dan RRC?
Saat ini saya (Yayasan Mitra Usaha) bergerak di bidang microfinance.
Kasus Pak Titus memperlihatkan karena sudah mulai uzur, mulai bertobat.
Saya baru saja berkeliling di beberapa daerah (Indramayu, Subang),
ada yayasan yang mengembangkan mikrofinance, dalam waktu 2 tahun sudah
memiliki 6000 anggota nasabah dan membajak tenaga lapang saya.
Ternyata mikro finance dikembangkan dengan sangat serakah.
Mereka tidak perduli darimana uang pinjaman itu bisa kembali.
Dalam sistem grameen bank walau tanpa agunan, tetapi tingkat pengembalian
mencapai 100%. Menurut saya,
bukan soal pengembaliannya yang berhasil tetapi apakah usaha si peminjam
itu berkembang atau tidak? apakah mengembalikan pinjaman itu uangnya dari
tempat lain?dari hasil menjual sesuatu?
Yayasan ini tidak perduli, “pokoknya pinjanan
harus kembali” .
Ternyata bisnis microfinance
di tengah rakyat miskin itu menguntungkan karena mereka mampu
mengembalikan. Hal ini menarik perhatian para konglomerat. Saat ini banyak
yayasan yang mengelola usaha semacam ini didirikan konglomerat bersaing
dengan LSM. Ternyata bisnis yang bergerak di bidang microfinance
tidak otomatis kapitalis.
Soni Harsono
(BPR Perbalindo)
Saya mau berbagi pengalaman, kebetulan saya duduk di komisi
etika Institut Bankir Indonesia (IBI).
Ada 9 etika yang harus didalami.
Dalam pertemuan setiap bulannya muaranya pada kepercayaan
masing-masing, nuansanya pada nurani dan muara terakhirnya pada agama.
Komitmennya semuanya ke kalbunya masing-masing.
Di Indonesia sudah banyak peraturan sampai luber sampai tidak bisa
melaksanakannya. Seperti kata
Pak Titus sebaiknya kita ini ingat bau
tanah, pesan ini mujarab. Kita ini selama tidak mensyukuri nikmat
Allah SWT, masih merasa kekurangan padahal
di Al Baqarah :152 dikatakan kalau kita makin bersyukur pasti akan
diberikan kenikmatan. Cuma
kita ini sayangnya bersikap nrimo, dimana
nrimonya itu diukur dari materi padahal nrimo itu bermacam-macam, ada yang
sifatnya materi dan non materi. Coba
para kawula muda yang masih bersemangat besar ini mbok merasa besok akan
dipanggil Khalik, menjadi sadar dan ingat bahwa
kita ini hidup di Indonesia.
Mari kita resapi bersama sejauhmana batas serakah itu
ternyata yang tahu dirinya masing-masing.
Tuhan itu dekat dengan kita, itu bisa kita rasakan.
Makin kita dekat dengan Tuhan saya rasa keserakahan, itu nanti bisa
terukur Mestinya semuanya
harus sadar, ekonomi Indonesia bangkit lewat ekonomi rakyat.
Dwi Riyanti (Unika
Atmajaya Jakarta)
Saya bukan dari ekonomi tetapi berusaha untuk memahami
ekonomi khususnya ekonomi rakyat. Kalau
mencermati pembicaraan Pak Mubyarto, Pak Soemargono dan Pak Titus
Kurniadi, seolah-olah etika bisnis hanya nuansa, atmosfirnya hanya berlaku
pada usaha-usaha besar, namun apakah di usaha kecil juga berlaku etika
bisnis? Yang saya tangkap dari pemahaman saya ketika memahami responden
yang bergerak di usaha kecil juga tulisan-tulisan bahwa pelaku usaha kecil
kadang-kadang tidak menerapkan etika bisnis yang baik, mereka dianggap
meng-eksploitasi para pekerja/karyawan..
Saya melihat contoh kasus di Yogyakarta dan Pulau Gadung Jakarta.
Kalau dilihat dari satu sisi etika bisnis itu mungkin kalau
ditinjau dari segi penghasilan yang kecil sehingga memungkinkan pelaku
usaha kecil mempraktekkan itu jika dilihat dari segi UMR.
Tetapi dilihat dari sisi lain bahwa para pekerja/karyawan bisa
belajar lebih terbuka, mereka juga diberdayakan sehingga mampu menjadi
wirausaha baru. Dari hasil
penelitian saya sebanyak 160 pelaku usaha kecil, sepertiganya itu bekas
karyawan. Jadi kalau saya
melihat dari segi etika, di usaha kecil itu barangkali etikanya kurang
bagus dalam hal penghargaan tetapi ada kesempatan lebih banyak untuk
menimba ilmu. Apa hal itu juga disebut kapitalisme karena disitu pemiliknya
memang mengejar keuntungan? Terima kasih.
Sumarno
(Ditjend Bina produksi Holtikultura Deptan)
Terima kasih Pak Mubyarto.
Saya awam dalam bidang ekonomi tetapi saya ingin komentar dari Pak
Muby tentang kapitalisme di Jepang dan Eropa, kok jarang mendapat kritik.
Apakah kapitalisme mereka lebih bermoral.
Kalau kapitalisme di Amerika Serikat dikatakan tidak bermoral
padahal disana berlaku adanya fair bisnis ada konsumer yang dilayani
sampai puas karena konsumen dianggap tuan.
Keuntungan itu untuk growth juga untuk efisiensi, better
service.
Kedua, fair bisnis saya
kira lebih penting dibandingkan dengan tiba-tiba membuat batasan-batasan
karena usaha besarpun nanti akan memberikan kesempatan kerja pada
masyarakat. Dalam ekonomi global saya kira tidak bisa dihindari bahwa
suatu perusahaan harus tumbuh. Jadi mungkin yang sangat tidak etis, tidak
baik itu perusahaan yang suka menipu, seperti menipu produksi, tidak
membayar pajak.
Eka Budianta (
Aqua Indonesia)
Saya ingin membantu mencari jawaban mengapa perjuangan Prof.
Mubyarto dkk selama 20 tahun sepertinya dilecehkan. Tapi saya rasa memang agak sulit. Saya ingin menawarkan 3 pendekatan yang bisa dilakukan.
Pertama,
masalah volume. Kita selalu
mencari perimbangan tapi saya belum tahu bagaimana kita mengukur
keberhasilan suatu upaya tanpa melihat volumenya meskipun
kita memuliakan ukuran kecil tetapi pada akhirnya Pak Muby tadi
menyebut Pak Titus berhasil setelah omset Koperasi BMM mencapai Rp. 8
milyar tetapi kalau dilihat dari Rp. 12 milyar apakah Pak Muby akan
mengatakan bahwa Pak Titus lebih berhasil lagi ? Jadi apakah dalam
perekonomian Pancasila itu bisa dicari ukuran lain diluar volume? Dan
apabila Pak Muby bisa memberikan ukuran ini saya kira tidak ada seorangpun
yang bisa melecehkan Pak Muby dkk.
Kedua,
Pak Muby menyebut pasar sebagai dewa.
Siapakah pasar itu ? Tidak bolehkah pasar dianggap Tuhan apabila
pasar itu ternyata rakyat, orang banyak, rakyat jelata. Saya kira setiap
kali orang memajukan perusahaan entah secara propaganda atau secara serius
atau sloganistis selalu ingin mengabdikan dirinya pada pasar. Jadi
keuntungan yg dikeruk sebesar-besarnya saya kira tidak akan transenden
tidak seperti memuja kepada Tuhan bahwa semuanya terus keatas tetapi
imanen dan balik di USA ada .Corporate
Philantrophi. Misalnya
kekayaan peusahaan Toyota itu membuat masyarakat Jepang bisa menonton
konser termahal secara gratis. Mungkin
bapak perlu jelaskan bahwa ekonomi Panacasila seandainya kita tidak keatas
terus balik lagi kebawah, bisakah dengan perekonomian yang bawah itu
memberikan keuntungan buat orang banyak?
Ketiga, uang
untuk uang. Sebulan yang lalu
saya menulis di Sinar Harapan yaitu suatu renungan bahwa uang untuk uang. Bila kita ingat ungkapan “seni untuk seni” maka mudah
sekali memaknai konteks uang untuk uang.
Jadi kalau saya boleh meletakkan diri saya termasuk di jajarannya,
saya akan mencari uang untuk uang itu sendiri.
Jadi dilain pihak ada progress
policy yaitu untuk uang untuk kemaslahatan bersama.
Menurut hemat saya uang atau juga ilmu pengetahuan, ilmu ekonomi
terlalu bersalah karena pada akhirnya tidak mengabdi pada kepentingan
rakyat banyak. Itu salah satu beban yang tidak fair
terhadap ilmu pengetahuan karena di Indonesia seolah-olah dikembangkan
dengan tugas yang begitu berat yaitu memakmurkan banyak orang.
Kita lupa memberikan semacam penghormatan kepada ilmu untuk
berkembang sebagai ilmu bukan memberikan beban moral yang seolah-olah
banyak pesan sponsornya.
Dalam tulisan itu saya
juga ingin memberikan semacam diagnosis mengapa orang Indonesia tidak
pernah mempunyai uang karena
memang orang Indonesia tidak membuat uang, kita ini mencari uang.
Implikasinya adalah uang itu sudah ada tinggal dicari, jumlahnya
berapa tidak tahu, dimana letaknya kita bisa cari, tugasnya mencari tapi
kita tidak menentukan jumlah tapi kita tugasnya mencari.Secara psikologi,
secara spiritual dibebani oleh satu masalah lagi bahwa seolah-olah uang
itu bukan milik kita, uang itu seperti titipan dari Yang Maha Kuasa, Yang
Maha Pemurah dan sewaktu-waktu bisa hilang entah karena terbakar, banjir
dll. Akibatnya penguasaan kita terhadap uang memang sangat lemah dan kita
tidak pernah membela uang sebagaimana uang itu sendiri.
Contoh yang paling jelas adalah mengapa rupiah begitu lemah
dibanding mata uang lainnya? Itu karena kita mempunyai pikiran itu tadi
yaitu kita tidak mengontrol uang dan memang bukan kita yang membuat.
Kalau kita mau sedikit ayem, kita tidak mau pegang rupiah kita
pergi saja ke timur tengah supaya mendapat real atau pegang dollar.
Saya kira sikap yang seperti ini membuat perekonomian rakyat yang
Pak Muby perjuangkan menjadi sangat lemah.
Rohadi (Ikatan
Sosiologi Indonesia)
Kami para sosiolog jika mengembangkan sesuatu atau mengukur
keberhasilan sesuatu itu ada indikatornya.
Tentang Ekonomi Pancasila yang membela rakyat miskin, perlu membuat
semacam ukuran, cara-cara, instrumen yang bisa dirumuskan para ahli
ekonomi supaya para pengusaha
itu jelas apa yang disebut suatu ukuran, instrumen, yang disebut
Ekonomi Pancasila. Di
jamannya Pak Harto, mengundang
para konglomerat kelompok Jimbaran untuk memberi sumbangan, kemitraan,
memberi kesejahteraan pada buruh misal dengan membeli saham.. Sekarang ada
ukuran-ukuran dari Barat yang mau tidak mau harus diadopsi
misalnya tidak melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), industri yang
tidak melanggar lingkungan. Itu
kan menurut ukuran mereka (dari barat).
Apakah sekarang kita, Indonesia mempunyai ukuran-ukuran yang
membela kerakyatan? Saya kira itu
harus dimunculkan dari para ahli ekonomi
Thoha (Puslit
ekonom)
Saya mempelajari buku-buku Prof. Mubyarto sejak tahun 1981.
Bagaimana bisa mengembangkan Ekonomi Pancasila karena menurut hasil
penelitian saya selama 20 tahun Pancasila ternyata belum lengkap
seharusnya Sapta Sila. Berdasarkan
metodologi filsafat, Ketuhanan termasuk dalam ontologi.
Sila kedua sampai ke-empat masuk dalam epistomologi,
sila ke-lima masuk dalam achievelogi. Ketiga hal tersebut belum cukup karena kemanusiaan itu cuma
aspek rasa. Kebangsaan itu
khan karsa, demokrasi itu
khan karya, jadi ciptanya belum ada, hati nuraninya belum ada.
Jadi mestinya tujuh sila, kalau itu lengkap baru bisa dirumuskan
sistem ekonomi.
Ridwan (
Bank Indonesia)
Hari ini diskusinya enak, menurut saya etika itu suatu yang
tidak riil dalam arti tidak ada suatu bentuk, kalau tadi
ada yang bilang kembali lagi pada nurani.
Nurani itu dalam pelaksanaannya bisa direkayasa.
Satu orang bilang nurani saya
hanya berhenti sampai disini,
nurani yang lain sampai disana..
Prof. Mubyarto bersekolah di Amerika Serikat, tetapi
diketahui di Amerika Serikat kapitalisme tidak kebablasan ada batasan-batasannya misalnya ada anti trust,
perlindungan konsumen. Untuk
Indonesia sebagai contoh kasus Indomart, mengapa tidak dihentikan, jangan
memakan retil yang ada. Etika atau apapun namanya, juga perlu penegakan
hukum. Jika bicara basa-basi,
seperti diskusi tanpa pegangan. Bagaimana
etika yang diterapkan, perlu ukuran atau batasan yang dipatuhi semua
pihak. Dari makalah Prof.
Mubyarto telah disinggung ada kapitalisme yang etis, seperti apa yang
tidak etis, Menurut saya yang penting sistem perekonomian yang bisa
membantu kesejahteraan orang banyak.
JAWABAN
Prof. Mubyarto
1.
Jadi secara
tidak sengaja, Pak Soemargono dan Pak Titus Kurniadi mencoba mengisi
ketidakhadiran Pak Jakob Oetama. Kedua
pebisnis ini berhasil dalam bidangnya masing-masing. Pertanyaan terakhir dari Pak Titus perlu kita tanggapi.
Kalu Pak Soemargono sedikit mengerti tetapi pak Titus mungkin
pura-pura tidak mengerti. Yang
namanya tidak
serakah, seperti apa, rasanya memang harus begitu.
Bisnis itu harus bisnis, tidak bisa dibatasi.
Kalau saat ini Pak Titus sudah lebih memikirkan menolong orang lain
di bidang mikro finance, sebenarnya itu suatu bukti bahwa keserakahan itu
ada batasnya. Jadi sekarang ini Pak Titus memang yakin dulu serakah tetapi
sekarang tidak lagi. Berarti sebenarnya mengerti tetapi mengertinya itu agak
telat.
2.
Kepada Pak
Muhtar Abbas, Kalau ada LSM-LSM yang berlomba-lomba menolong orang miskin
itu secara prinsip bagus. Saya minta tolong dicarikan surat dan ayatnya di
Alquran yang isinya mengenai berlomba-lombalah dalam kebaikan.
Menurut saya kita perlu meneliti bagaimana cara-cara pengembalian
pinjaman yang dilakukan LSM lain. Jadi,
Pak Titus, kita semua ini berlomba-loma menolong orang miskin, jadi saya
kira itu bentuk bertaubat. Jangan menunggu sampai nanti kalau sudah agak
mendekat ke bau tanah. Ternyata yang namanya serakah, tidak adil, tidak
ber-etika itu itu membesarkan sesuatu , mementingkan diri sendiri tanpa
memperdulikan apakah pada waktu usaha kita membesar ada pihak yang
menderita. Sustainibility-nya itu masyarakat Indonesia itu harus adil dan
makmur dimana adil perlu didahulukan.
Agar yang miskin semakin sedikit.
Jadi ekonomi rakyat harus kita bangun..Etika bisnis yang benar
adalah apabila sambil membesarkan usaha juga menarik yang kecil, yang
miskin, jangan sampai mereka tetap miskin.
Saya
tidak sependapat dengan Prof. Emil salim.
Kalau bukan salah jenderal-jenderal, lalu salah siapa?
Menteri-menteri ekonomi juga harus bertanggungjawab.
Ilmu ekonomi harus bertanggungjawab.
Saat Juli 1997 pakar-pakar ekonomi tidak menduga akan terjadi
krisis, berarti ilmu ekonomi itu keliru, tidak bisa melihat tanda-tanda
apa yang akan terjadi, dimana muncul komentar Thailand boleh krisis tapi
tidak untuk Indonesia. Tahun
1981 saya sudah katakan bahwa ekonomi Indonesia dari luar itu sehat
ternyata kena kanker, tetapi
tidak ada yang menggubris.
3.
Kepada Ibu
Dr. Dwi Riyanti, Etika itu ilmu yang membedakan baik dan buruk, antara
benar dan tidak benar antara good dan bad.
Memang tidak semua orang harus meninjaunya dan tidak hanya berlaku
pada bisnis besar, pada usaha kecil juga tidak boleh berlaku melakukan
pencurian. Etika benar atau
tidak benar itu bukan memakai ukuran boss atau teman tetapi yang melihat
itu Yang Maha Kuasa
4.
Kepada Pak
Soemarno, yang telah memakai
istilah fair, memang ada kaitannya dengan free
trade tetapi sekarang yang benar adalah fair
trade, perdagangan yang adil. Fair
itu dianggap adil tetapi kata adil itu sendiri
juga susah didefinisikan. Jadi memang tergantung pada nurani kita.
Banyak sekali kasus-kasus yang akhirnya tergantung pada diri kita sendiri.
Yang namanya fair, adil itu seperti apa, bagaimana memperlakukan orang lain,
memperlakukan mahasiswa, memperlakukan buruh.
Sekarang terjadi pergulatan antara pemerintah dan pengusaha dalam
membayar UMR. Pengusaha-pengusaha
betul-betul ngotot mengancam akan mengadakan efisiensi atau mem-PHK,
pemerintah nanti yang harus menanggung beban kalau pengangguran meningkat.
Padahal kita tahu para buruh itu sudah sekian puluh tahun upahnya
tertekan. Sekarang dengan
adanya reformasi tibalah waktunya untuk dibayar lebih adil.
Artinya mereka para buruh tidak bertambah miskin. Kapan dan
ukurannya bagaimana dan pemerintah harus berdiri dimana dalam menghadapi
seakan akan buruh kepentingannya berbeda degan majikan..
Untuk
kasus di Jepang, ketika para pengusaha disana bertanya jika Ekonomi
Pancasila berjalan bisakah mereka menanamkan modal di Indonesia? Saya
katakan jika mereka hanya memikirkan keuntungan sendiri tanpa
memperdulikan dampaknya bagi orang Indonesia ya kami tidak akan welcome.
Ekonomi Pancasila tidak mentolerir pengusaha hanya mengejar
keuntungan tanpa memperdulikan orang miskin. Mengenai kapitalisme di
Jepang saya tidak begitu tahu tapi katanya memang ada moral,. Humanistik
kapitalisme atau moral kapitalisme, dimana mem-PHK pekerja dikatakan tidak
bermoral. Sekali di-employ
dipekerjakan, berarti menjadi keluarga dari perusahaan tersebut..
5.
Kepada
Pak Rohadi dan Ikatan Sosiologi Indonesia yang mendukung kerjasama seminar
pendalaman ekonomi rakyat, penawarannya bagus sekali.
Jadi sebetulnya jangan hanya para ekonom, para sosiolog harus
terlibat memberikan semacam guidance, aturan main yang baik di Indonesia itu adalah Pancasila. Tetapi perlu dijabarkan. Bagaimana
seorang pengusaha bisa bersikap yang benar sesuai Pancasila, perlu
operasionalisasi dari kriteria keberhasilan seperti ini,
Prof. Sajogyo
Dalam kegiatan seri seminar pendalaman ekonomi rakyat, saya
sebagai dewan redaksi Jurnal Ekonomi Rakyat yang akan merekam kegiatan dan menawarkan kembali untuk mendapatkan
kritikan. Ilmu ekonomi yang
dikembangkan dari barat, aksiomanya memperhatikan kepada unsur individu,
kurang memperhatikan nilai-nilai sosial.
Untuk itu para sosiolog dan antropolog bisa membantu memecahkan
persoalan ini. Kita
mengembangkan sejak negara itu (Indonesia?) itu ada.
Sejak negara kita merdeka kita bisa hasilkan berbagai ragam
keadilan.
Jangan terus berpikir individu, tidak akan nyambung.
Perlu diangkat nilai-nilai sosialnya.
Membicarakan soal ilmu pengetahuan dalam artian as
a science diterjemahkan sebagai ilmu dan pengetahuan.
Saya melihat ilmu ekonomi yang dikembangkan oleh Adam Smith,
Marshal dkk seperti science lainnya, yang ada kaitannya dengan falsafah.
Bicara soal pengetahuan ekonomi setiap bangsa berkembang dalam kehidupan
bersama, setiap orang atau keluarga mempunyai pengetahuan ekonomi yang
beragam. Misalnya ahli hukum yang mampu membikin UU berkaitan dengan
ekonomi maka ahli hukum tersebut mempunyai syarat mengetahui tentang ilmu
ekonomi dan hukum sehingga bisa menjaga kesepakatan dalam mengatur aturan
main dalam bidang -bidang tertentu.
Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI) bisa berperan, bulan Juli
2002 akan mengadakan konggres memilih tema “ Bagaimana Sosiologi bisa
membantu pemikiran ekonomi yang makin jernih” .
Saya ini sebagai sosiolog khususnya
mempelajari sosial ekonomi. Pertama
kali belajar antropologi ekonomi, saya tidak pernah belajar ilmu ekonomi
dengan perhitungan matematikanya. Prinsip-prinsip ekonomi perlu
memperhitungkan arti kehidupan bersama, karena manusia bukan hewan yang
hidup sendiri.
Diakhir seminar, Prof. Mubyarto mengatakan dengan penjelasan
dari Pak Sajogyo, maka ilmu ekonomi akan dibuat lebih jernih.
Yang jelas ilmu pengetahuan terjemahan dari science,
apakah diterjemahkan sebagai ilmu saja! Pengetahuan saja!, tentu saja
tidak! Science itu meliputi ilmu dan pengetahuan.
Ilmu ekonomi berasal dari barat, dosen-dosen di fakultas ekonomi
itu mengecerkan pada
mahasiswanya. Padahal
sekarang ini ilmu ekonomi sudah berkembang jauh.
Walaupun kulakannya
begitu, masing-masing individu telah mengembangkan dilingkungan
masing-masing. Mereka tidak
diberi gelar Profesor, tetapi diberi gelar kekayaan orang-orang kaya.
(*)
|