Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat
Notulensi Seminar Seri V: Sejarah dan Politik
Pertanian
Oleh: Anton Nomba dan Erni Herawati
Tanggal: 19
Maret 2002
Pembicara:
Prof. Dr.
Sediono M.P. Tjondronegoro
dan Ir. Siswono Yudohusodo
Moderator:
Prof.
Mubyarto
Moderator
(Bapak Mubyarto)
Sore ini kita
akan membahas hal yang penting (krusial) bagi ekonomi rakyat dengan judul
Sejarah Ekonomi Pertanian. Sejarahnya
kita ingin tahu lebih banyak diuraikan dalam makalahnya Pak.Tjondronegoro,
termasuk politik pertanian juga. Tetapi keduanya baik sejarah maupun
politik pertanian kita akan usahakan mengait pada apa yang dihadapi "ekora"
(ekonomi rakyat) yaitu petani kecil, pekebun, buruh tani atau
"perhutani" (perhutanan sosial).
Sehingga betul-betul kita mengetahui bagaimana cara-cara rakyat
kecil itu mengatasi masalah yang mereka selama ini hadapi.
Pak. Mubyarto juga melaporkan pertemuannya dengan
Ibu Presiden Megawati. Bersama
dengan Menteri Koperasi dan UKM selama satu jam, bertujuan membagi
(sharing) dengan Ibu Presiden (lihat makalah Pak. Mubyarto). Hal ini berkaitan dengan pendapat pimpinan nasional kita
mengenai ekora. Berkaitan
pemahan ekora oleh Ibu Presiden tadinya kita menganggap beliau tidak
mengerti, seperti dalam pidatonya pada tanggal 16 Agustus 2001 yang
mempertanyakan sistem ekonomi rakyat: "… ekonomi rakyat itu apa,
konsepnya belum jelas kok sudah disosialisasikan …" Tetapi kemarin
saya yakin, ternyata ibu memihak dengan ekora,
seperti saya duga dulu jangan-jangan ibu ini hanya membuat semacam
sandiwara, dan ibu Megawati mengiyakan "karena kalau dulu saya tidak
pertanyakan tidak akan ada orang yang membicarakan … supaya betul-betul
dibahas oleh para elit dan masyarakat luas".
Dan saya juga puas, bersama Meneg Koperasi kemarin menyimpulkan
ternyata ibu kita memihak pada ekonomi rakyat.
Meskipun Ia tidak melawan konglomerat karena takut "saya bukan
pakar karena menguraikan bahwa
ekora itu suatu topik yang harus diperdebatkan oleh pakar….
Saya bukan pakar sehingga lebih baik tutup mulut nanti yang
berbicara Pak. Alimarwan dan Pak. Muby yang menjelaskan" saya kira
kita senang sekali mendapat masukan seperti itu.
Lalu, kemarin saya pancing Ibu Megawati dengan berita Newsweek
(tanggal 11 Maret 2002) yang dikirim Pak. Sajogyo.
Terima kasih sekali Pak. Sajogyo.
Berita Nesweek hal. 31 Judulnya boom
in the gloom… yaitu peningkatan dalam kesuraman (kegelisahan).
Jadi judulnya itu sendiri sangat luar biasa. Saya pancing saat diberikan kesempatan bicara oleh Menteri
Koperasi "Ibu kemarin hari minggu saya baca berita Indonesia itu
selalu yang jelek-jelek korupsi nomor satu, teroris, … Ini berita
Newsweek saya kira tidak menyesakkan ibu tapi menyenangkan karena
Indonesia ternyata ada dua, yaitu: satu pemberontakan, kebakaran hutan,
perang etnik, dsb. Tapi
Indonesia yang lain kok booming"
Perusahaan iklan dari Hongkong … yang beroperasi di Indonesia itu
keuntungannya 2 digit (diatas 12%) dan tahun depan diharapkan
keuntungannya diatas 50%, ini kan luar biasa.
Lalu kepercayaan rakyat selama itu sudah pulih yang belum pulih
adalah sektor ekonomi moderen yang selalu meminta bantuan. Lalu Ibu Mega mengatakan saya
itu dari dulu percaya dengan ekonomi rakyat itu unik, makanya saya pakai
judul Ekora unik. Karena ekonomi Indonesia meski bolong-bolong
ada kemampuan untuk merajuk kembali katanya.
Kalau ekonomi itu bolong-bolong
dirajut tidak utuh kembali kembali, lain dengan ekora dengan
sendirinya akan membaik tanpa ditolong pemerintah. Hal ini sesuai dengan
pengamatan kami sebagi
simpatisan penggerak Ekora yang betul-betul sekarang berbeda dengan pakar
yang merasa ekonomi kita masih terpuruk/hancur-hancuran dan ini tidak
sedikit yang berbicara seperti itu. Ada yang mengatakan return
ekonomi kita kan belum kembali ketingkat seperti sebelum krisis.
Dalam makalah ini saya bantah.
Jangan hanya melihat pertumbuhan
tetapi dilihat juga distribusinya. Kalau
kita ingin kembali ketingkat sebelum krisis
dengan pembagian yang sama lagi dulu
yah podo wae. Tetapi
kalau sekarang kita tumbuh 3% per tahun tetapi pembagiannya itu lebih
merata atau sebagian besar dinikmati ekora bukan pengusaha-pengusaha besar
pasti lebih baik itu. Jadi don,t tolk about
reguler distribution, distribusi itu harus dilihat juga.
Banyak pakar-pakar kita terutama pakar-pakar mainstream ini
mengatakan pertumbuhan 6-7%
per tahun baru itu dikatakan tumbuh/pulih. Jangan pertumbuhan saja yang dilihat, jadi kalau pertumbuhan
kita sebesar 7% tapi sama seperti dulu yah podo
wae nanti akan menimbulkan krisis yang akan datang.
Jadi itu secara singkat laporan saya.
Secara singkat dapat dibaca kembali, dinikmati, dan ini masuk dalam
Jurnal Ekonomi Rakyat nomor 2
yang sudah kita terbitkan.
Saya juga sudah melaporkan kepada ibu seminar
pendalaman Ekora 2 mingguan.
Sudah banyak yang mengunjungi internet atau web site kita, hampir
200 pengunjung meskipun belum ada 100 orang tetapi sudah lumayan sekali.
Nampaknya orang Indonesia ini nyolong
petek istilah saya. Dengan
dulu-dulu hal-hal yang kok rasanya tidak mengikuti tapi dengan internet
kok mereka mengikuti. Entah
mengikuti terus ditutup lagi atau membuka dan membaca betul dan memberi
respons. Belum ada 10 orang
(sekitar 6-7 orang) dari 200 orang pengunjung yang menanggapi, Itu pun
pendek-pendek yang mengucapkan selamat pada JER.
Mudah-mudahan masalah ini dapat meningkatkan pemahaman kita tentang
Ekora dan seterusnya. Belum
ada yang secara serius mengomentari artikel-artikel yang ada dalam JER
kita itu.
Saya kira saya ingin mempersilahkan Bapak
Tjondronegoro yang adalah ketua Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI), anggota
AIPI komisi Ilmu Sosial bersama Pak. Sajogyo, Pak. Selo Sumarjan, dan
saya, yang ikut mendukung atau kerjasama 2 mingguan seminar berseri ini.
Nah sekarang kelihatan ini (papan seminar) seminar 2 minggu yang
lalu papan itu tidak kelihatan karena tertutup.
Sekarang sudah kelihatan. Ini
juga harus keluar (spanduk BRI) karena dari BRI mendukung kita sekali.
Jadi spanduk itu harus keluar terus kalau tidak uangnya ditarik
lagi. Saya kira kita
menginginkan pendukungnya lebih banyak lagi. Karena terus terang saja kami dulu mengharapkan setiap
peserta membayar Rp.100.000,- tapi setelah membawah undangan, "lho
ini saya diundang kok, tidak usah bayar", jadi kita tidak bisa buat
apa-apa, ya ini kan ekora. Sekarang
kita betul-betul memutuskan kesempatan kita ini betul-betul bukan mencari
uang. Yang penting dalam 6
bulan menghasilkan kesimpulan yang mentas,
yang betul-betul menjelaskan apa itu Ekora
dan bagaimana membantu mengatasi Ekora.
Menkop bersedia membantu seminar ini (belum tahu dalam bentuk apa)
tapi meminta satu pertemuan penutup (pertemuan ke-13) bersamaan dengan
hari koperasi. Hal ini sudah
disetujui oleh Pak. Muby,
penutupannya direncanakan akan dilakukan seminggu setelah tanggal 9 April
sehingga betul-betul akan klop. Pak.
Muby juga menjelaskan pada Menteri Koperasi, pada suatu kesempatan Pak.
Muby pernah ditanya wartawan mengapa pemerintah tidak dilibatkan dalam
seminar ini, lalu dijawab pertemuan ini membantu pemerintah
tapi pemerintah sendiri tidak membantu pertemuan ini. Lalu dijawab
Menteri Koperasi akan membantu pertemuan tersebut. Mudah-mudahan pemerintah Megawati juga membantu pertemuan ini
untuk merestui kita semua.
Acara selanjutnya mempersilahkan Pak.
Tjondronegoro membawakan/ membacakan makalahnya sebanyak-banyaknya tapi
tidak lebih 40 menit. Kemudian dilanjutkan dengan pembicara berikutnya
Pak. Siswono.
Pembicara I
(Bapak Tjondronegoro)
Terima kasih Pak. Muby, Ibu-ibu dan Bapak-bapak
yang saya hormati, saya mendapat kesempatan yang saya anggap terhormat
memberi masukan diskusi. Tadi
dikatakan moderator 40 menit waktu yang disediakan tapi di USA biasanya 50
menit. Tapi baiklah, jadi
sebagai penjelasan thema yang dipilih adalah sejarah dan politik pertanian
Indonesia. Saya menangkap
mula-mula sejarah itu seperti terlepas dari politik pertanian tetapi saya
mencoba menghubungkan sejarah dengan politik pertanian.
Semacam menengok kebelakang dari zaman kolonial s/d tahun 1990-an.
Jadi menyoroti secara preposisi sejarah ekonomi pertanian, dan ada
2 makalah lainnya yang ditulis beberapa tahun yang lalu
tentang sejarah politik pertanian dan mengenai warisan
ilmu sosial barat (lihat makalah Pak. Tjondronegoro). Kita coba
mengawinkan kembali setelah
terpisah lebih dari satu abad, ekonomi
dari sosiologi, dan antropologi. Sekarang
usaha kita mengumpulkan mereka (merger) kembali, karena memang ekonomi
tidak bisa lepas dari sosiologi
dan sosiologi pun kalau tidak mempertimbangkan
ekonomi juga pincang. Jadi
ini salah satu usaha. Kemudian
mengenai ekonomi Pancasila saya juga mempunyai karangan yang pendek yang
ditulis lebih dulu tetapi tidak perlu dikupas, karena Pak. Muby sudah
menulis berbuku-buku tentang ekonomi Pancasila yang saya telusuri sejak
tahun 1981, waktu pengukuhan guru besar Prof. Mubyarto di UGM. Saya
memilih politik pertanian bukan berarti membicarakan perkebunan,
pertanian, peternakan, hortikultur, dsb, tapi lebih luas (makro).
Karena itu yang lebih dekat dengan pembangunan
ekonomi dan istilah yang paling tepat untuk itu, kalau dalam bahasa
Jerman agrar
politik bukan land
Wirtschalf. Dalam ekonomi
pertanian lebih sempit
menggunakan land atau lahan. Saya
cenderung memilih cakupan lebih makro oleh karena itu agrarian
policy (politik pertanian) dalam artian yang lebih luas daripada agricultural
policy itu lebih sempit. Kalau
kita lihat sebenarnya di muka gerbang penjajahan, sebenarnya dimulai
perdagangan abad ke-17 di
Eropa. Kita mengetahui dalam
ekonomi dan kita mempelajari kaum fisiokrat yang urusannya
memang mengenai pertanian. Hanya
kelas (lapisan masyarakat) yang menguasai tanah, itu yang sebenarnya
dianggap produktif karena dia menghasilkan sesuatu.
Itu betul-betul diartikan pertanian yang lebih sempit yang
ditonjolkan. Kelas lain a.l.
pedagang disebut kelas steril, karena tidak mempunyai produksi apa-apa dan
hanya kelas yang berproduksi memang mempunyai tanah untuk berproduksi
hasil pertanian, karenanya merekalah yang dipajak karena mereka yang
mempunyai hasil produksi.
Berikutnya sebenarnya timbul gejala, oleh Ekonom
kaum Physiocrat itu tidak dianggap sebagai mazhab di bidang ekonomi,
Quernay (seorang Perancis). Dari
akhir abad ke-16 s/d akhir abad 17 Merkantilisme yang timbul yaitu juga
ada pertaniannya. Tapi ekspor gandum dan hasil-hasil pertanian yang
sebanyak-banyaknya untuk dapat menghasilkan emas.
Tukar-menukar yang dapat dinilai dengan emas.
Sehingga itulah dimulai adanya perdagangan yang meluas.
Di Eropah mulai merkantilisme
itu ternyata perdagangan perlu memperluas daerah produksi dan
daerah pasaran. Nah disitu
mulai timbul semacam ekspansi dari negara-negara Eropah ke negara-negara
Asia. Amerika saya tidak
bicarakan karena ekspansi Eropa ke Amerika sudah terjadi pada abad ke 15.
Abad 17-18 itu betul-betul terjadi ekspansi besar-besaran ke India,
Srilangka sampai ke Indonesia. Ada
orang Belanda juga di Pulau Desima di Jepang, itu lebih bercorak agamawi
daripada ekonomi. Seperti kita ketahui pada abad ke-17 memasuki abad ke-18
kapitalisme mulai tumbuh dan menyebar di Eropah dan Asia juga.
Sebenarnya ada juga orang-orang/ilmuwan yang menarik kesimpulan
bahwa sebenarnya sejak merkantilisme itulah timbul manajemen dan tata
buku (bookcliping). Mulai
dari pemikiran atau spiritnya merkantilisme mulai menghitung pengeluaran
dan pemasukan. Nah itu
katanya akar-akarnya pembukuan bisa ditelusuri kembali sampai ke
merkantilisme tersebut. Mengenai perluasan ekspansi ke negara-negara lain dapat
dibaca dalam bukunya Emmanuel Wallerstein, bagaimana ekspansi
negara-negara kapitalis ke Asia merupakan ciri ekonomi kapitalis.
Kemarin (2 minggu yang lalu) memang kita bicara etika bisnis,
disitulah kelihatan bagaimana keserakahan baik manusia pribadi maupun dari
negara-negara itu memang mencirikan pertumbuhan ekonomi atau
perluasan ekonomi. Malah ada
pertanyaan: kalau ada usaha kecil mencaplok usaha kecil lainnya… dan
kemudian menjadi besar, apakah itu ethis ?.
Katanya itukan sah-sah saja, kemajuan diukur bagaimana perusahaan
bisa mencaplok perusahaan lain. Keberhasilan diukur demikian.
Lalu ada pertanyaan sampai
dimana keserakahan seperti itu harus kita hentikan ? Nah itu pertanyaannya pada Pak Muby barangkali, dimana kita
harus berhenti supaya keadilan itu tetap terjamin ?
Ekspansi tersebut kecuali mencari rempah-rempah, Sumber Daya Alam
(SDA), juga mencari tenaga kerja yang murah
dan tentu saja juga mencari pasaran yang luas. Jadi 3 faktor itu dipentingkan dalam ekspansi sistem
kapitalis tersebut, ada sepenuhnya keserakahan yang tercakup didalamnya.
Tetapi sebenarnya belum ada betul-betul satu politik agraria itu
yang kami rasa di awal abad ke-19 di Indonesia waktu
Stamford Raffles datang sebagai gubernur.
Kita tahu saat itu Belanda dikuasai Napoleon.
Jadi mereka tidak bisa bicara banyak menghubungi Indonesia juga
susah tapi Inggris yang berperang dengan Napoleon masih memiliki kekuatan
militer dan angkatan laut yang cukup kuat dan besar itu berusaha
mempertahankan jalur perdagangannya.
Antara India dan jalur Timur Tiongkok, oleh karena itu Indonesia
dan Singapura menjadi jalur lewat. Itu
sebabnya mengapa Sir Stamford Raffles diminta Belanda yang dijajah
Napoleon untuk turut mengawasi koloni Hindia Belanda, waktu itu sudah
lepas dari VOC (perusahaan dagang Belanda).
Waktu itu sebenarnya belum ada politik pertanian atau agrarian
policy yang dirumuskan oleh VOC. VOC
itu merupakan organisasi dagang tipikal merkantilistis, jadi dagang yang
penting, pasar, dan tenaga kerja yang murah.
Tetapi tidak ada policy, itu sebenarnya baru mulai menurut kami
dengan Sir Stamford Raffles pada
tahun 1811 s/d 1816 dan Sir Stamford Raffles
yang mengadakan registrasi kadestral yaitu pencatatan pemilikan
tanah, luas tanah, ditangan siapa. Sebenarnya
tujuannya adalah untuk bisa lambat laun memajak si petani terutama di
Jawa. Saya kalau bilang Indonesia barangkali salah karena diluar
Jawa belum pernah ada registrasi
kadasteral. Jadi Sir Stamford
Raffles boleh dikatakan
mengacu pada teorinya David Ricardo.
Ini cetakannya agak salah disebutkan tahun 1972 seharusnya
1772-1823. David Ricardo the
rent of land yaitu pajak tanah yang
penting disana dan Sir Stamford Raffles
sebagai orang yang liberal juga mulai mengadakan Registrasi
Kadestral di India dan kemudian di Indonesia, terutama di Jawa.
Sejak itu ada semacam agrarian policy dalam artian yang luas karena
kemudian Van den Bosch, Gubernur Belanda yang menggantikan Sir Stamford
Raffles dikatakan itu bisa
memaksakan sistem tanam paksa. Sejak
tahun 1830-1970 karena sudah ada pencatatan luas tanah karena kalau tidak
ada pencatatan susah memaksakan luas
tanah petani (1/3 bagian …) harus ditanami tanaman tertentu entah kopi,
coklat, dan tanaman lainnya. Jadi
itulah kemungkinan yang ada pada Sir Stamford Raffles
dan kemudian dimanfaatkan oleh Van den Bosch.
Saya sedikit menyebut juga Robert Malthus itu yang masalah penduduk
dan satu lagi pengalaman di
Inggris yang dulu betul-betul mengalami kepemilikan tanah yang luas
dikuasai oleh landlord dan itu sistemnya tentunya landlord
agak feodal. Itu
sistem manorial (manorial system), manor-manor itu adalah penguasaan tanah
yang luas dan penduduk di dalam manor itu tergantung sekali dari landlord
tersebut (penguasaan tanah). Itulah sebenarnya tidak terlalu banyak
ditemukan oleh Sir Stamford Raffles.
Kemungkinan di DIY dan Solo pendeknya di eks kerajaan Mataram itu
masih ada tapi pada umumnya mungkin desa perdikan itu sudah mulai luntur
dalam perjalanan abad ke-19. Itu
semacam penjelasan saja. Jadi
kebijaksanaan agraria kami sebut supaya rangkuman makro itu tidak
terlupakan. Itu sebenarnya
baru mulai betul-betul pada tahun 1870, sebelumnya kan ada tanam paksa
yang didasarkan atas registrasi kadastral Sir Stamford Raffles.
Tahun 1870 ada UU Agraria pertama
Disitu mulai terasa liberalisasi karena pemerintah kolonial Hindia
Belanda itu berdasarkan UU itu bisa menyewakan tanah yang cukup luas
ratusan atau mungkin ribuan ha. Juga
kepada perusahaan-perusahaan asing terutama Belanda tapi juga ada Inggris
sedikit Amerika, Belgia juga ada, Perancis juga ada.
Menyewakan untuk beberapa tahun (70 tahun - 80 tahun) tanah negara
dan itulah sejarahnya. Sebenarnya
registrasi kadasteral dilaksanakan di Jawa tidak ada diluar Jawa, itu
pernyataan domain hak dan milik tanah negara
lahirnya disitu. Sebab tidak ketahuan diluar Jawa siapa yang
menguasai luas tanah. Akhirnya
diperlakukan seperti itu tanah negara.
Nah sekarang kita mengalami sedikit banyak kericuhan karena hukum
adat itu. Walau pun dikatakan dalam UU pokok agraria tanah ulayat harus
dihormati sama derajatnya tetapi dalam praktek tidak dianggap karena tidak
ada pembuktian mengenai kepemilikan, entah bukti sertifikat, petuk,
tepikir, semacam itu. Lalu
itu semacam tanah negara. Nah
sekarang setelah reformasi mulai bermunculan suku-suku bangsa yang
mempunyai dan masih merasa mempunyai hukum adat bahwasanya itu tanah adat
bukan tanah negara tapi sudah terlanjur 70% tanah Indonesia daratan ini di
klaim oleh Dephut. Nah sekarang ributnya bukan saja DepTan yang kebagian jauh
lebih sedikit tapi juga Dirjen Perkebunan itu mengeluh karena susah
mendapat perluasan tanah untuk perkebunan.
Itulah ceritera tahun 1870. Nah
kesadaran perlu adanya kebijaksanaan pertanian dalam artian yang lebih
luas dan menurut saya pentingnya menolong lapisan bawah/lapisan miskin
karena sudah banyak buruh tani dan petani kecil. Disitu lahirnya UU pokok
agraria no.5/1960 karena pemerintah di bawah Bung Karno, Bung Hatta,
Syahrir, dsb itu merasakan bahwa petani yang kecil, buruh tani,
harus dibantu sebelum mereka bisa menjadi warganegara yang bisa
turut berkembang dengan lapisan-lapisan lainnya.
Waktu itu semua kita memang ada yang miskin ada yang kaya tetapi
perbedaannya tidak sehebat seperti sekarang.
Ada yang punya milliaran dollar ada yang mencari Rp.5000,- per hari
saja susah. Stratifikasi kita
sekarang sudah begitu gawat menurut saya.
Karena boleh dikatakan setelah orde baru susah sekali sarjana
sosiologi untuk mengisahkan, menulis, mengomentari mengenai stratifikasi
sosial. Persepsi masyarakat kita egaliter ingin dipertahankan
Saya mencoba juga tetapi hampir tidak pernah dimuat dikoran.
Kecuali Pak. Kuntjaraningrat (Alm.) pernah menulis adanya buruh
tani, kuli kenceng petani yang kaya, dsb. Tidak ada studi mendalam tentang
stratifikasi sosial. Itu yang
punya tanah lebih banyak tetapi pada umumnya kalau kita sudah berurusan
dengan kota jarang-jarang ada yang ceritera mengenai stratifikasi.
Sekarang malah sangat banyak disoroti lapisan miskin, lapisan
menengah, lapisan yang di atas (konglomerat).
Memang menjelang berakhirnya zaman orde baru itu lebih banyak orang
mulai membahas kelas menengah dan katanya kalau mau lebih maju ekonominya
kelas menengah itu harus diperkuat. Malah
ada hitung-hitungan sekian persen harus kelas menengah dalam negara yang
moderen. Tapi masalahnya
sekarang menurut Pak Muby kelas menengah itu sebenarnya juga tidak terlalu
berperan, malah kelas yang di bawah yang tetap menumbuhkan ekonomi
Indonesia 3,3% dan harapannya kalau bisa lewat 5%, syuku alhamdunilah.
Jadi demikianlah sebenarnya
policy yang tumbuh setelah tahun 1945 memberikan harapan menurut saya
tetapi setelah ada gejolak G 30 S PKI 1965 praktis lalu masalah aset tanah
dan agrarian policy berhenti. Saya
selalu mengatakan UU pokok agraria itu dipeti-es-kan.
Jadi tidak ada landasan
hukumnya untuk mengurus aset sebenarnya.
Yang dipermasalahkan kemudian selama orde baru bukannya aset tanah
yang bisa meratakan antar kelas, bisa memperoleh keadilan tapi
yang ditekankan adalah produksi dan waktu itu memang tidak salah
betul. Menurut saya ekonomi
kekurangan pangan, berbagai gejolak politik yang tidak menentu pada tahun
1965/1966 itu memang demikian rupa sehingga kita bisa menerima juga kalau
tekanan kebijaksanaan pada produksi.
Tetapi produksi kemudian dengan revolusi hijau terlalu menekankan
pada teknologi dari pada policy agraria makro.
Saya kira kita semua tahu mengenai paket-paket Bimas yang
diantarkan ke daerah pedesaan tetapi yang bisa akses ke teknologi tersebut
justru bukan petani-petani yang
gurem yang miskin jatuhnya pada petani sedang ke atas dan dalam hal ini
Pak. Sajogyo saya kira pada tahun 1971 bersama dengan Dr. Collier...
karangan-karangan bagaimana hasilnya dari revolusi hijau tersebut.
Menurut saya memang revolusi hijau dilakukan
terlalu menekankan teknologi tetapi melupakan struktur sosialnya.
Sehingga karena itu
yang miskin bertambah miskin yang kaya bisa akumulasi tanah, karena itu
perbedaan kekayaan dan kemiskinan itu bisa makin melebar.
Dikatakan secara singkat karena ini saya juga tidak mau melebihi
waktu yang sudah dijatahkan. Sebenarnya
sudah cukup banyak karangan-karangan mengenai pengalaman di Meksiko,
India, Philipina itu karena tidak ada green policy yang berhasil akhirnya
revolusi hijau mengakibatkan yang kaya bisa menjadi kaya dan yang miskin
makin miskin. Kita dalam
pelita PJP I itu juga menekankan pada produksi pangan dan ingin menuju ke
industri dan saya kira Pak. Harto dulu sudah memperkirakan semestinya PJP
I itu yang 25 tahun lamanya cukup untuk memantapkan pertanian sehingga
bisa melangkah ke industrialisasi. Tetapi
susahnya industrialisasi itu tidak didasarkan pada suatu theori yang
klasik, yaitu: membangun industri berdasarkan surplus dari pertanian bukan
lebih banyak dari pinjaman. Dari eksport SDA yang ekstraktif, seperti minyak, tambang,
gas bumi, dari situ kita mencoba membangun industri. Sekarang kita terperosok yang bisa saya mengerti sekali:
kecuali minyak sudah hampir akan habis justru pertanian yang tersisa.
Justru yang miskin bisa bertahan karena pertanian itu, tetapi
disini juga semacam warning. Syukur kita masih bisa bertahan begitu sehingga pertumbuhan
ekonomi mencapai 3%. Saya
kuatir juga kalau kita terlalu mengandalkan dari sumber daya alam (SDA)
tak terbarukan bisa-bisa itupun terkuras.
Yang terbaca dari koran-koran kecuali ekspor tanah ke Singapura,
hutan-hutan itu ditebang dengan sangat rajin sehingga 1,6-2 juta ha per
tahun habis hutan ditebang. Sekarang
saja belum sampai bulan September kebakaran di Riau sudah mulai
terasa sehingga asap menutupi sebagian kota Medan.
Over -eksploitition SDA itu
juga harus hati-hati dalam keadaan krisis karena merusak lingkungan.
Kecuali itu bicara soal organisasi ekonomi selalu ditekankan sejak Alm. Muh.
Hatta melancurkan idea koperasi. Sebenarnya
sebelumnya Serikat Islam 1912-1916 itu sudah mulai dengan koperasi tetapi
akhirnya dibuat suatu model ekonomi di dalam Negara Indonesia yang
bersifat koperatif. Tetapi
koperasi disitu banyak juga yang diserahkan kepada bukan manajer. Saya masih ingat ketika kembali dari luar negeri tahun 1963
rajin didirikan koperasi pertanian (koperta-koperta),
tetapi banyak koperta yang dipimpin oleh lurah yang bukan enterpreneur,
orang yang bisa mengendalikan usaha, sehingga koperta juga tenggelam.
Tetapi koperasi dilanjutkan dan mungkin Pak. Siswono nanti dapat
menceriterakan lebih banyak mengenai koperasi. Tetapi
hasilnya juga belum berhasil sampai sekarang.
Karena kesenjangan yang menguasai teknologi, yang menguasai modal,
dsb. Itu sudah terlalu tinggi
berbanding dengan lapisan yang di bawah. Lapisan bawah yang dimaksud
dengan sektor informal itu sebenarnya.
Susah mendefinisikan apa itu yang dimaksud dengan sektor informal.
Tapi gampangnya
sektor informal adalah sektor usaha yang tidak tercakup sistem
ekonomi moderen. Jbarat radar
memerlukan parabola yang bergerak tetapi tidak menangkap sektor informal,
mungkin karena ketinggian parabolanya itu tidak tertangkap oleh sistem
ekonomi modern. Artinya
sektor informal tidak masuk dalam hukum, tidak masuk dalam pemasaran
internasional, dsb. Kecuali
melalui sistem perantara, preman-preman, dst.
Lihat saja di kota Jakarta pun, kalau kaki lima mau digusur.
Sebenarnya mereka juga membayar pajak dalam bentuk retribusi tapi
bukan kepada negara, tetapi pada oknum polisi, oknum preman atau preman
pada umumnya. Sehingga, mereka kalau mau digusur mereka merasa sudah
membayar retribusi tetapi tidak pada negara tetapi perorangan.
Jadi memang merupakan masalah di kota-kota besar yang tumbuh dengan
cepat dan jumlahnya juga akan banyak.Itulah yang terjadi dengan lapisan
kecil. Tadi sudah saya
katakan mengenai revolusi hijau bahwa kecuali teknologi
bisa dijangkau juga petani
kecil yang menguasai hanya 0,2-0,5 Ha
itu tidak bisa menanggung resiko banyak.
Kalau bicara kembali mengenai kebijaksanaan saya rasa waktu menteri Almarhum Sudarsono itu menghadiri konfrensi dunia mengenai reforma agraria di Roma
itu sudah menunjukkan beberapa kebijakan yang sehat. Tetapi sayangnya tidak pernah terwujud dalam sejarah republik ini, misalnya keswasembadaan: self
sufficiency on non-wheat carbohydrate food and improvement of nutritional
standard at the same time, the improvement of living standard of the
farmers and rural population, … ( dalam makalah hal.8). Nah disini kelihatan betul bagaimana seharusnya pertanian
surplus itulah yang menunjang
industrialisasi. Tetapi itu
juga sekali lagi tidak terjadi karena industri kita itu banyak tumbuhnya
karena meminjam uang dari luar dan mengundang investor modal luar yang
menanam modalnya di Indonesia. Kemudianada
efficient utilization of resources while at the same time conserving
environmental condition, srengthening integrated rural development
(makalah hal.9). Jadi pokok-pokok yang
disebutkan tadi itu sebenarnya sudah ada di dalam kebijaksanaan Almarhum
Prof. Sudarsono. Tapi entah
bagaimana ini tidak tercapai. Lalu
dalam periode reformasi 1997-2001
mungkin dirasakan sangat mendadak. Paling
tidak diduga sistem ekonomi pembangunan
didukung dan dilakukan oleh kelembagaan yang keropos.
Singkatnya digerogoti KKN sehingga banyak dana terhambur dinikmati
oleh lapisan atas …
Baru setelah reformasi timbul berbagai organisasi
tani di daerah sampai di bawah tingkat kabupaten, yang sebelumnya dilarang
dari atas. Akibatnya suara
petani tidak kedengaran di DPRD atau DPR
kecuali melalui HKTI. HKTI
buatan pemerintah yang hanya merupakan perpanjangan tangan kepada petani
yang tidak tergabung pada partai politik …
Pembicara II (Bapak Siswono)
Apakah selama ini politik pertanian kita cukup
jelas? Memang cukup jelas, tapi arahnya berbelok-belok, ganti pemerintahan
berbeda lagi, ini maksudnya. Saya seorang politisi bukan peneliti.
Pertanian kita maju tetapi negara lainnya lebih cepat sehingga relatif
kita tertinggal.
Adanya pertumbuhan penduduk yang
cepat tidak diimbangi oleh pertambahan produksi beras.
Akibatnya, pasar dalam negeri yang besar diincar produk luar
negeri.
Perubahan mendasar kebijakan perberasan nasional
tahun 1998: liberalisasi pasar beras dalam negri; STE (Bulog) dicabut; Bea
masuk beras 0% (tahun 2000 : 30%); Subsidi pupuk/benih dicabut;
Liberalisasi tata niaga pupuk.
Produk pertanian impor lebih murah karena hasil
rekayasa genetik. Misalnya,
kacang kedelai impor lebih
murah daripada produksi lokal karena
itu merupakan rekayasa genetika …
Harga produ pertanian rendah, profitabilitas
rendah, insentif investaso rendah, adopsi teknologi rendah, produktivitas
rendah, pendapatan petani rendah, sumber-sumber daya mengalir rendah.
Apakah kita akan membiarkan ini ?
Perdagangan beras dunia hanya dikontrol 12
perusahaan besar di dunia. Hanya 8 komoditi saja . Bagi negara kita setiap
devisa harus dihemat, maka kalau ada pikiran-pikiran, ternak yang dipotong
lebih banyak daripada yang lahir, ini merupakan bahaya besar. Pasar ternak
yang amat besar yang kita miliki harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya
untuk memperkuat peternakan rakyat. Jika salah penanganannya Indonesia
menjadi pasar yang empuk dari peternak-peternak dari luar negri.
Peternakan rakyat itu, 1 (satu) petani tidak lebih dari 150 ekor. Rumput
hawai 1 hekter untuk 600 ekor.
Dalam perkembangan ekonomi skill harus kita
perhatikan. Sesuatu yang mendasar harus kita lakukan dalam bidang
pertanian ini agar efektif
harga. Petani Jepang makmur karena produksi meningkat tiap tahun. Kita
tidak bisa meminta orang lain menyiasati kita, yang bisa bagaimana kita
menyiasati orang lain.
Kesimpulan
Kemampuan pertanian menurun; “the bush lake”;
Indonesia berada dalam keadaan “rawan pangan’’, bukan berarti tidak
ada pangan, tetapi karena pangan untuk rakyat sudah sangat tergantung dari
suplai luar negri; Pasar pangan Indonesia diancam produsen luar negri;
Produsen luar negri tidak ingin Indonesia mandiri di bidang pertanian.
Kita perlu pengkajian skala ekonomi. Kesalahan
mendasar, membiarkan petani/peternak bekerja di bawah skala ekonomi yang
dapat mensejahterakan dirinya.
Mari kita lihat
kedepan, konsumsi perkapita per tahun rakyat Indonesia beras 133 kg, ikan
12,5 kg, ayam 3,8 kg (Malaysia 23 kg), buah-buahan 40,06 kg, sayuran 37,94
kg (AS 95 kg). Untuk sayuran ini yang paling banyak orang Sunda. Tetapi
potensi untuk naik itu luar biasa besar. Tinggal untuk pangan penting,
daging 7,10 kg, Malaysia 46,96 kg, Telur Indonesia 3,48 kg, Malaysia 17,62
kg. Kalau kita tidak melihat usaha-usaha apa yang dapat kita lakukan ……. Ini merupakan persoalan besar bagi bangsa ini. …..
Sekarang ini kita setiap tahun mengimpor gula tidak kurang dari 1,8 juta
ton (tahun ini), produksi dalam negri hanya 1,9 juta ton, berarti perlu 10
juta ton dari tambahan 8,1 juta ton dalam 30 tahun.
Petani kita yang berlahan sempit, tersebar
kecil-kecil itu juga mengandung persoalan yang luar biasa, dilihat dari
aspek harga. Kalau bapak-bapak naik mobil dari Jakarta ke Bogor, di kanan
kiri jalan sampai stasiun singkong di kanan kiri jalan. Enam bulan yang
lalu singkong harganya Rp. 350,00, semua petani tanam singkong, sekarang
ini panennya hancur lagi. Karena kecil-kecil, kalau pilih ternak dan
singkong kenapa yang lain boleh saya tidak boleh ? Kalau semuanya singkong
kalau panen hancur semua. Begitu rugi semua nggak mau nanam singkong.
Fluktuasi seperti ini seringkali terjadi hanya beberapa bulan. Saya
pengusaha, hampir 30 tahu, saya tahu situasi krisis, ada fluktuasi, saya
belum pernah memberikan ada
komoditi dengan tingkat fluktuasi seperti ini. Ini menjadi malapetaka bagi
kita. Tetapi dilain pihak ini merupakan peruntungan bagi petani.
Contoh bawang merah pada bulan Juni 2001 panen harganya Rp. 500,00,
kasihan petani. Saya beli waktu itu 50 ton bawang X Rp. 500,00 hanay Rp.
5.000.000,00 saja. Bulan Oktober (hanya 4 bulan) sudah menjadi Rp.
2.000,00 jadi Rp. 100 juta. Agaknya ini sudah berkali-kali susah,
bagaimana bapak Bayu dapat membantu dari instansi pemerintah?
Saya baca dari bukunya Pak Mubyarto, yang juga
mengkritisi mengenai TRI. Komoditas kita menurun dalam beberapa komoditi.
Tanaman tebu kita dapat menghasilkan 12,5 ton per hektar. Akhir 50-an, 10
ton rasionalisasi. Akhir tahun 60-an, 8 ton lalu keluar Inpres 9/75,
sekarang 4,5 ton. Dalam kenyataan-kenyataan ini, saya ingin mengajak
hadirin, bagaimana organisasi melihat maslaha-masalah ini. Dalam laporan
terakhir FAO, disbutkan bahwa didunia ini peningkatan produksi pangan juga
lebih besar daripada pertambahan penduduk, sehingga masyarakat di dunia
ini akan membaik. Peningkatan produksi dari 2,1 % per tahun selama 20
tahun terakhir, menjadi 1,6 % per tahun antara tahun 2000-20150 dan
menjadi 1,3 % per tahun antara 2015-2030, sementara pertambahan penduduk
dunia antara tahun 2000-2015 sebesar 1,5 % per tahun dan 0.8. % diantara
tahun 2015-2030. Laporan itu menyebutkan bahwa pada tahun 2030 penduduk
dunia akan berjumlah 8 milyar, sekarang ini 6 milyar. Tahun 2015
diperkirakan 580 juta penduduk dunia akan kekurangan pangan, sekarang ini
200 juta. Walaupun produksi pangan naik lebih tinggi daripada pertambahan
penduduk, tetapi konsumsi pangan juga naik. Karena produksi berlangsung di
negara-negara maju, sedangkan pertambahan penduduk berlangsung di
negara-negara berkembang. Di negara berkembang, pangan itu semakin
tergantung pada bahan pangan impor. Ini sudah prediksi mereka juga. Impor
biji-bijian di negara berkembang naik hampir 2 X lebih besar, dari 170
juta ton tahun 1995 menjadi 270 juta ton tahun 2030. Disini disebutkan
bahwa negara-negara produksi pangan, yang disebut disitu adalah Kanada,
Amerika, Argentina, dan Australia perlu meningkatkan produksi pangannya
untuk memenuhi kebutuhan dalam negri. Jadi tidak direkomendasikan
Indonesia meningkatkan produksi pangannya.
FAO menyimpulkan bahwa lembaga-lembaga
internasional dalam membantu negara-negara berkembang, sangat diwarnai
oleh kepentingan negara-negara maju.
Oleh karena itu beberapa insur dari Keputusan
mendasar, yang saya sampaikan itu adalah: Perluasan areal pertanian (baik
oleh APBN maupun APBD); Perluasan areal pengusahaan/KK petani; Pengurangan
jumlah petani; Meningkatkan teknologi dari benih s/d pasca panen;Harga
yang baik Akses sumber daya ber…; Usaha beswasembada; Jangka panjang
menjadi exportir pangan; Peningkatan kualitas produk
DISKUSI
Moderator
(Bapak Mubyarto)
Terima kasih, ini kombinasi dari apa yang
disampaikan oleh Pak Tjondro, Pak Siswono dan pembukaan saya tadi itu lalu
menjadi anti klimaks. Saya begitu optimis setelah ketemu bu Mega, tapi Pak
siswono menjadi begitu optimis lagi setelah ketemu bu Mega. Kemaren sudah
disinggung mengenai pertanian. Bu Mega juga mengatakan prihatin mengenai
‘beras kok impor, gula impor, garam impor, padahal kita punya lautan
begitu luas’. Dari fotocopi ˙ang telah dibagikan, mengatakan bisnis
Indonesia itu fenomena, mengapa ? Karena dulu kita besar, mereka itu
menggunakan ilmu sebagai pasar yang empuk. Sebetulnya masalahnya adalah
kenapa kita sendiri tidak melihatnya sebagai pasar yang empuk ? lalu
dilihat oleh orang asing yang lalu melevel. Lalu ada masalah harga, karena
kita memberikan perangsang kepada petani, termasuk petani ekonomi kecil,
ekonomi rakyat, karena tidak memadai sehingga mereka mendapat disinsentif
dan bukan intensif untuk berproduksi. Dan dalam buku Moscher, awal tahun
60-an, sekitar tahun 63-64, getting agriculture moving secara mutlak
pembangunan pertanian, sarana pelancar pembangunan pertanian, waktu itu
semangatnya sangat tinggi di depan ilmu pertanian. Saya memang pernah
terlibat didalam kegiatan awal Revolusi Hijau itu.., harapan saat ini
berhasil swasembada, tetapi kok lalu suatu ketika kok habis, mampet. Hidup
di Indonesia ini ternyata kok ora
gampang urip ning alam dunia. Ini yang digambarkan oleh Pak Siswono,
tidak mudah hidup di Indonesia ini. Ternyata Ibu Mega menyebutkan “saya
menyadari Pak, di Indonesia ada sekelompok elit yang tidak mau, tidak
pernah mau melihat daerah, lebih-lebih datang ke desa ketemu orang miskin.
Nah, mereka itu kalau diajak ngomong tidak pernah ketemu, padahal
lebih baik saya diam, tutup mulut, bu Mega bilang begitu. Dan
memang ada sedikit…, bu Mega waktu menerima kami, 9 orang, termasuk Pak
Nur Sutrisno, itu sendirian, tidak didampingi oleh sekretaris, mentri,
siapapun sehingga itu tindak lanjutnya bagaimana ya….? Kalau Presiden
bicara bagus…., lalu tidak didampingi siapapun, ya … jangan-jangan
ya… sudah. Sudah ketemu, ya tidak ada lagi, menyenangkan saya, tetapi
sudah itu ya sudah.
Bayu Krisnamurthi (IPB)
Ada masalah mendasar
untuk melihat apa ekonomi rakyat, seperti ada kelanjutannya jaman kolonial
sampai sekarang. Kalau dulu mungkin kita mengistilahkannya ekonomi
pribumi, sekarang mungkin saya menyebutnya dengan ekonomi MKM (Usaha Mikro
Kecil), MNC (Multi National Coorporation), MDC (Multi Domestic
Coorperate), kayak main golf itu bukan MNC tetapi MDC, dia ada
dimana-mana, sama saja. Kalau kita lihat tadi mungkin agak berbeda dengan
Pak Siswono, kalau disana mungkin yang jadi kunci adalah perkembangan
klas, klasifikasi, tetapi kalau tadi rupanya bukan itu tetapi lebih kepada
masalah penguasaan. Kalau pakai bahasanya kolonial berarti penjajahan. Dan
Pak Siswono dengan data-datanya memberikan gambaran bahwa kita sedang
dalam proses penjajahan. Penjajahannya tidak melalui politik tetapi
melalui pangan, alangkah dasyatnya kok kita sampai bisa begitu itu. Disini
saya kira kuncinya, bahwa masalah dari situ kemudian timbul masalah
keadilan, masalah-masalah yang lainnya. Dan tanah/agraria adalah salah
satu cermin paling jelas dan bergerak masalah penguasaan penjajahan.
Mungkin penjajahan tidak dikonotasikan ada…. lagi, tetapi sebenarnya
kita tidak berdaya, tidak bisa berdaulat. Saya pikir ini warna lain dari
ekonomi rakyat, nuansanya bukan hanya sekedar ekonomi, kehutanan,ilmu
sosial, dan politik, kalau kita menghujat ekonomi rakyat adalah demi
supaya kita bisa berdaulat. Saya pikir kuncinya disana, tapi memang susah
negara yang ketua DPRnya dipenjara, gubernur bank sentral dipenjara, lalu
bagaimana ini? Agak susah membayangkan, agak repot ! (pemerintahannya
disandera). Jadi memang mungkin masalahnya penjajahan itu adalah bagian
dari keseharian kita, bisa tidak Pak Muby, hanya sekedar menampilkan apa
yang ada di koran? Ini satu hal. Artinya apa ? kalau kita bicara ekonomi
kerakyatan ya.. kita harus bicara usaha untuk mencoba keluar dari
penjajahan itu, bukan semata-mata perdagangan bebas atau tidak perdagangan
bebas atau bukan perdagangan bebas.
Kedua, saya lebih banyak ke Pak Siswono, atau
masalahnya saya bikin agak rumit. Menurut perhitungan kami, kita itu
membutuhkan sekitar 250.000 – 400.000 ha tambahan lahan per tahun untuk memompa dengan hanya membayangkan
pertumbuhan penduduk, padahal di Jawa
sudah hilang 50.000
ha/th tanah sawah produktif yang untuk diperuntukkan yang lain, Jadi kalau
kita ambil itu kita harus punya 500.000 ha/tahun. Berkaitan dengan pangan
juga, satu kuncinya saya prihatin kondisi di Bengkulu, beberapa yang lalu
menjadi headline di media masa mengenai “lapar”. Cadangan Bulog di
Bengkulu itu, salah satu yang paling baik di Indonesia. Itu menunjukkan
bahwa untuk bisa makan tidak hanya produksi tetapi mereka
juga harus punya pendapatan, bahkan untuk beras OPK pun (yang Rp.
1000) mereka bisa bayar. Jadi
kalau kita bicara pertanian, itu masalahnya bukan sekedar hilang logika
atau tidak, kita buka pun
mereka tidak bisa beli karena mereka akan mati. Kuncinya adalah kalau kita
memakai bahasa mereka, menginginkan Indonesia bisa katakanlah tebuka untuk
impor harus punya daya beli dan kalau punya daya beli harus punya usaha
punya usaha dan kalau kita pertahankan mereka punya usaha bukan
semata-mata karena kita anti perdagangan internasional, supaya mereka
punya pendapatan dan akhirnya bisa membeli produk-produk yang kualitasnya
lebih baik. Jadi kalau beras itu yang memasukkan adalah kualitas try
quality, silahkan, harus pakai segala macam omega 3, kristal atau apapun
yang harganya Rp. 10.000/kg, silahkan. Masalahnya bukan hanya sekedar
untuk proteksi tetapi konteksnya adalah “pendapatan”, kalau kita membela petani, bukan hanya
sekedar untuk proteksi, tetapi bagaimana membuat mereka bisa membeli ?
Saya agak berbeda dengan Pak Siswono mengenai skala ekonomi, apakah ya
kita harus mengejar skala
ekonomi? Kalau skala ekonomi, apa ya kita bisa mengejar? Kalau kita
berhadapan dengan Australia, Amerika dll, yang mereka by marger untuk
menang karena mereka hanya konfident, Indonesia itu by marger diciptakan
Tuhan berupa dataran-dataran yang luasnya sempit. Kalau kita menentukan
skala itu saya katakan ”being Sunatullah”, Tuhan menciptakan kita
pulau-pulau kecil. źang disebut skala itu berapa hektar?, kalau menurut
saya sebagai alternatif adalah bukan skala (efisiensi), saya lebih senang
memperjuangkan deferensiasi, ke perbedaan. Misalnya, Bali bisa unggul
karena dia sama skalanya dengan tempat yang lain. Justru banyak produK
Indonesia unggul dan nyata-nyata unggul dalam persaingan global justru
karena dia beda. Didalam dunia yang semakin modern, deferensiasi itu
menjadi yang paling penting, orang tidak akan pernah mau memakai seragam
yang sama, biar semakin berbeda, INI ALTERNATIF.
kalau skala usaha kita akan semakin sulit, kalau deferensiasi kita
akan pasti bisa bersaing. Contoh, sewaktu di Pleihari, sekarang anda kamu
bikin salak, kopi, karena sebentar lagi AFTA itu free untuk lebel, siapa
saja bisa masuk, kalau misalnya change hotel Sheraton, Hyatt, dll
syaratnya khan sama, Hyatt di New York dan di Jakarta sama.
Jadi akan masuk kualitasnya
adalah yang memenuhi syarat Hyatt-nya New York, kalau begitu jebol tenaga
kita tidak akan mampu. Kopi yang masuk ke Indonesia harus bisa bikin
sambal trasi, itu deferensiasinya. Terakhir, satu hal yang sangat penting,
masalah kecerdikan, dan kecerdikan itu inti yang dari cerita petani
singkong, itu berkaitan dengan masalah kebodohan.
Dengan segala berat
hati kita sudah mengatakan bahwa ekonomi rakyat kita sebagian itu
belum cerdik. Artinya kalau dulu ada mencerdaskan kehidupan bangsa, itu
merupakan salah satu fondasi yang paling dasar untuk ekonomi rakyat. Kita
harus tetap menghargai kelebihan-kelebihan kita itu, kita harus cerdik,
harus kita didik, harus kita cerdaskan.
Gunawan Wiradi (IPB)
Ada 3 butir besar yaitu :
Kita bicara sejarah sebelum Jepang memberikan
janji kemerdekaan kepada Indonesia. Thailand, Philipina, Malaysia semua
mau dimerdekakan kecuali Indonesia, kenapa ? Karena Indonesia mempunyai
sumber daya yang melimpah, Indonesia akan dijadikan Naipon Raya. Saya sependapat bahwa kita harus bisa menyiasati, jangan
sampai kita disiasati orang lain. Celakanya, kita selama 30 tahun tanpa
sadar sudah tersiasati. Kita sudah masuk era globalisasi kita belum berani
mengatakan go to hell, bagaimana
menghitungnya ? Kita membayar 2 trilyun biaya Belanda memerangi kita
menjadi hutang kita. Ketika dihitung tinggal 300 juta, baru go to hell
tidak mampu membayar, bagaimana kita go to hell ?, tidak usah bilang sudah
go to hell sendiri!.
Pak Siswono setelah memberi contoh Homestead
(tahun 1859), Tahun 1912 ada sejumlah 76 Homestead ( sekitar 160 ha),
tahun 1920, 4 Homestead meninggalkan, tak mampu mengerjakan, tahun 1940
tinggal 24 Homestead yang kaya, hanya cocok untuk sapi dan ternak,
petani-petani biasa tidak mampu. Saya kurang sependapat soal skala dan
skala ekonomi. Itu perdebatan lama di Eropa, selama 35 tahun perdebatan
tentang skala itu, mana yang
lebih efisien dengan model skala itu?
Untuk Pak Condro, tadi mengatakan 30 tahun
terakhir ini dari 7 kali lipat areal perkebunan dari '68 sampai '92,
hampir dari sekitar 2380, 10
% terlantar. Jadi kalau mereka mau tanam, ya silahkan.
Untuk Pak Mubyarto, setahu saya sekarang gerakan
neoliberal itu justru menyalahkan legal justice, karena itu maunya semua
campur tangan habis, malah institusi-institusi dimarginalkan oleh
kekuatan-kekuatan politik oleh gerakan neoliberal. Untuk ekonomi rakyat,
ada 7 yang membedakan ekonomi rakyat dan ekonomi pasar, tetapi ada 3 yang
saya ingat. Pertama, kalau ekonomi pasar, entry pointnya adalah
individual, pertanyaannya besok yang bisa saya jual apa? mungkin bikin
kreatif, kalau perlu air matang. Ekonomi rakyat, pertanyaannya besok apa
yang diberikan oleh rakyat? Kedua, ekonomi pasar, bagaimana besok saya
bisa menjual? Ekonomi rakyat, bagaimana membuat budaya konsumtif ? Acuan
saya ini hilang. (Pak Muby : Saya tidak setuju mempertentangkan ekonomi
rakyat dan ekonomi pasar, mohon bukunya nanti dicari!).
Reza
Primahendra (Bina Swadaya)
Pertama, sekarang sedang muncul isue besar,
terancam akan bubar karena Amerika menetapkan dan menaikkan secara
significant tarif impor baja dan ini sudah dikomplain oleh Jepang, dan
terutama Eropa juga Australia. Dan kemudian membuat mereka sekarang
cenderung sedang beramai-ramai untuk…., kalau maunya mereka begitu, ya
aturan mainnya dirombak semua, dan ini membuat menaikkan bargaining power
dalam pembicaraan-pembicaraan kemudian antara pihak Amerika dan
negara-negara berkembang. Karena Amerika sudah bisa lagi mengatakan bahwa
mereka konsisten lagi dengan ekonomi pasar bebas.
Kedua, beberapa waktu yang lalu, kami sempat
kembali dari Bangkok, pada waktu pembicaraan dengan Menteri
Keuangan di Pemerintahannya Taskin dan ternyata di Thailand itu memang
strategi yang pertama di dalam pemulihan ekonominya adalah pemulihan
ekonomi pasar domestik. Dan itu mereka kemudian menyediakan berbagai
skema. Pertama skema untuk penguatan ekonomi-ekonomi yang skala klausul.
Kedua dan ini sudah dilaksanakan secara konsisten dalam tiga dasa warsa
terakhir, yaitu yaitu raja intervensi terutama di dalam kebijakan
pertanian (komoditi pertanian termasuk beras), intervensi raja Thailand
sangat besar dengan petani-petani yang tidak punya lahan, raja langsung
turun dan menyediakan lahan. Dan kebijakan yang baru mereka tidak
menekankan pada ekspor tetapi menekankan pada pasar domestik yang mereka
anggap cukup significant. Kelebihannya, kalau lebih mereka baru bicara
tentang ekspor tetapi itu tidak diutamakan. Raja intervensi pada semua
pemerintah yang ada, karena lahan-lahan itu secara legal milik raja,
sehingga raja bisa memberikan pada rakyat.
Ketiga, kalau kita menengok kembali ke Indonesia,
persoalan pertanian dan ekonomi rakyat sangat dipengaruhi oleh keinginan
kebijakan perekonomian. Saya merasa bahwa sampai sekarang ini belum
terjadi perubahan yang significant dalan kebijakan perekonomian. Kalau
dalam surat kabar, dimana policy pemerintah tetap, yang dibicarakan
bagaimana mengejar pertumbuhan, dan pertumbuhan secara mekanistik dianggap
akan berarti, unsurnya dimensi employment, dengan sendirinya kemiskinan
akan menurun. Saya rasa kalau kebijakan-kebijakannya dirubah, seperti kita
tahu sekarang lebih banyak intervensi untuk mempermudah usaha-usaha besar.
Ini akan kontradiktif dengan uapaya-upaya yang dilakukan oleh Pak Siswono
maupun Pak Mubyarto karena kalau tujuannya adalah tetap mengundang
investasi luar negri, itu yang dikejar,
sebetulnya sama dengan jaman Pak Harto, agar investasi yang masuk
dari luar negeri ke Indonesia banyak, maka disini harus menarik, salah
satu elemen yang menarik adalah upah buruh rendah, kalau upah buruh rendah
maka harga bahan pangan harus murah, sehingga buruhnya bisa makan dengan
gaji yang minim, yang dapat diperoleh. Oleh karena itu di sektor pertanian
mengalami yang disebut double squise development (tidak tentu arah). Saya
rasa disini bertemu antara Pak Mubyarto dan Pak Siswono, ini kemudian
harus mengubah secara foundamental kebijakan pemerintah secara menyeluruh,
karena kalau tidak ya… tidak match.
Chaerul (Departemen Koperasi)
Salah satu variabel yang penting dalam pemikiran
sejarah, selain sejarahwan dan konteks sejarah, apa yang disebut
historis-grafis. Dengan asumsi, setiap masa lalu belum tentu sejarah, dan
ini bisa menjadi salah sangka. Misalnya hari ini Rendra mengatakan bahwa
ternyata Gadjah Mada itu bukan pahlawan, dengan mitosnya seperti yang kita
pahami selama ini. Konteks historis-grafis ini harus dipahami. Konteksnya
dengan paparan Pak Condro adalah yang beliau sampaikan itu dengan
pandangannya lebih banyak mengungkap mengenai
sejarah hegemoni kekuasaan negara. Walaupun itu di pertanian, maka
yang dibicarakan, bukan yang dipaparkan oleh Pak Condro, tetapi discoursus
mengenai sejarah pertanian itu di dominasi oleh sejarah hegemoni kekuasaan
negara di bidang pertanian. Saya punya pemikiran, ada baiknya bagi kita
untuk menelusuri sejarah yang lain di luar ekonomi kekuasaan negara,
apakah itu sejarah kehidupan pertanian Indonesia, atau sejarah komoditas
pertanian? Hal-hal ini diperlukan untuk menjawab tesis, apakah betul
Indonesia itu untuk masa depan tampil sebagai negara agraris ? Penulisan
sejarah rupanya sekarang sejarah tidak lagi digunakan untuk menceritakan
masa lampau tetapi juga harus mempunyai predikat power untuk ke depan.
Ketiadaan penjelasan ini menyulitkan kita untuk menjawab, apakah betul
Indonesia itu negara agraris, hanya karena 68% dari rakyat Indonesia itu
terlibat di dalam …………….pertanian ? Ini terkait dengan yang
disampaikan oleh Pak Siswono, saya melihat persoalannya lebih daripada
disinsentif (ketidakmampuan) produksi karena produksi rendah,…..policy
Menurut saya ini adalah sebuah keadaan inter……
kalau disinsentif (ketidakmampuan) dengan pesaing-pesaing yang ada
disekitar kita, maka kalau penyelesaiannya politic policy dan dengan
peningkatan skala usaha petani, ini adalah logika penyelesaian persoalan
yang agak sulit untuk ditangkap oleh….
Menurut saya ada dua hal yang perlu
ditambahkan/dipertimbangkan di dalam agrarian policy: Penguatan lobby
petani yang sekarang sangat lemah (dengan HKTI ada gunanya); Semua policy
peningkatan skala petani barangkali perlu diseleksi secara ketat, terutama
pada komoditas-komoditas yang mempunyai keunggulan kompetitif.
Titus Kurniadi (Gema PKM)
Saya tidak ingin berdebat dari pertanian, karena
saya tidak mengerti, saya baru hari ini mengerti dan kebetulan ketemu
dengan ketua umum HKTI, kapan lagi saya bisa ngomong dan didengarkan oleh
Pak Siswono, dan dicatat. Rakyat kecil, biar miskin, atau setengah miskin,
atau sangat miskin, banyak yang punya asset aset berupa tanah, kebun, atau
apa saja, tapi dia punya aset. Walaupun aset itu kecil-kecil, seberapapun
tapi itu asset mereka, yang mereka miliki, tapi mereka tidak punya
legalitas. Jadi aset mereka
itu tidak ada nilainya, bahkan haknyapun tidak diakui. Pak Siswono sebagai
ketua HKTI, apakah tidak lebih baik kalau ini diperjuangkan betul-betul,
supaya rakyat kecil ini asetnya/modalnya menjadi legal/diakui. Dengan itu
maka orang kecil ini, pertama dia kalau mau ke bank jadi bisa karena punya
serifikat yang bisa buat agunan, kalau mau jual harganya jauh lebih tinggi
kalau bersertifikat daripada cuma masih girik atau apa. Kalau dia mau kerjasama misalnya
tanahnya mau dibikin mall, dia bisa bertolak pinggang, saya minta
sekian…., kalau sekarang tidak bisa. Maksud saya, apakah tidak baik ini
masalah legalitas aset/modal yang dimiliki oleh orang kecil ini kita
perjuangkan agar supaya memperoleh status legal?
Nur Sutrisno (Departemen Koperasi)
Tanggapan kepada Pak Siswono, tadi Bapak
menganjurkan perluasan areal, padahal
didalam banyak hal kita ini sudah menghadapi tekanan di
daerah-daerah pertanian kita yang dinyatakan sebagai daerah yang
sebetulnya mengalami persoalan kekurangan air. Dan ketika kekurangan air
seperti di Jatim dan beberapa daerah lain, petani itu menjadi pilihan
terakhir, sehingga salah satunya bukan hanya perluasan areal tetapi juga
kita harus merubah paradigma cara bertani kita dari induktif agriculture
ke kreatif. Kalau itu tidak kelar, ya kita akan begini terus.
Mohon dipertimbangkan kata-kata swasembada,
karena justru dengan kata swasembada nanti akan melupakan tujuan kita
untuk mengangkat harkat petani, karena orientasinya pada produksi lagi.
Dan kalau kita lepaskan cara berpikir kita bahwa tiap hari impornya tambah
banyak, dsb. Kita lihat neraca perdagangan pangan kita dalam dolar
surplusnya dari tahun ke tahun sejak tahun ‘83 jauh lebih dulu daripada
swasembada beras. Itu selalu surplus dan meningkat. Dengan cara demikian
sebetulnya kita menyiapkan diri menjadi negri pertanian yang berwawasan
internasional. Dan kita tidak dijebak setiap kali
disalurkan, ini beras kurang, karena beras kurang nanti salah juga
tekanannya akan naik, di impor sayurnya tidak naik. Jadi saya lebih rela
impor beras dan petani kita tanam sayur. Dari pengamatan kami, sampai
sekarang itu neraca perdagangan pangan dalam dolar masih surplus, apalagi
kalau dalam kalori. Jadi mungkin kita sudah saatnya meninggalkan
cara-cara pengukuran dalam arti individual comodity dan konteks
swasembada. Demikian juga mengenai harga, dengan cara itu mungkin kita
tidak terlalu menuntut, untuk apakah harga itu? Kalau kita berpikir
kritis, misal andaikata kita berhasil merevisi dan pemerintah tidak takut
menurunkan 10% dari produksi kebutuhan, mungkin harga beras dalam negri
menjadi lebih baik. Jadi sekarang yang kasihan petani yang justru sekarang
meninggalkan padi karena pada saat panen, petani yang lainnya
harganya turun.
JAWABAN
Pak Tjondro
Memang itu tidak terlalu relevan dengan pemikiran
yang kritis ini. Pak Wiradi ada catatan mengenai perkebunan yang arealnya
berkurang atau kesulitan, mungkin saya juga kurang tepat, maksud saya
kalau dibandingkan perkebunan rakyat dengan perkebunan besar, perkebunan
rakyat yang banyak digeser oleh perkebunan besar, kadang dibeli atau
ditempati tanahnya, juga terjadi di luar Jawa, dalam artian itu petani
kecil terdesak dan justru areal pekebunan rakyatnya berkurang. Kalau
perkebunan besar tidak ada kesulitan dalam arti bisa meluaskan arealnya,
kadang-kadang dengan kehutanan bisa lebih kecil, tetapi dia telah
mengurangi perkebunan rakyat. Dan banyak ketua-ketua adat yang juga lepas
dari konteks adatnya dan menjual dan memberikan lahannya kepada perkebunan
asing. Ada study dari Toyota Foundation, dibandingkan Thailand, Philipina
dan Indonesia (di Sumbar), mengisahkan bagaimana kepala-kepala adat itu
tanpa masyawarah memberikan tanah kepada perusahan-perusahan besar.
Homestead memang justru karena Indonesia tidak bisa sama sekali lepas dari
peranan pemerintah. Jadi saya tidak setuju juga dengan neoliberalisme.
Globalisasi itu memang dicirikan oleh neoliberalisme, tetapi saya pribadi
berpendapat, Indonesia masih memerlukan negara untuk lebih mengatur. Dari
cerita-cerita pak Siswono, banyak peranan pemerintah yang masih harus
mengatur. Dalam artian itu saya melihat bahwa konsep homestead masih bisa
berjalan di Indonesia.
Mengenai Pak Chaeril, setiap penulisan sejarah
ada subyektivitas.
Pak
Siswono
Masukan-masukan yang sangat berharga dari :
Pak Bayu : dari data Dep PU, kita mempunyai
potensi perluasan lahan kira-kira 35 juta ha lahan kering yang cocok untuk
pertanian, ada 13 juta ha padang alang-alang yang telah kita uji coba di
Pleihari dalam waktu 4 tahun hingga 30 tahun. Pertama, alang-alangnya
dengan hestisida bisa untuk pakan ternak, untuk pelihara sapi selama 2
tahun, kotorannya bisa masuk kesitu, habis itu kacang-kacangan, kemudian
tahun keempat sudah bisa untuk pertanian. Kalau kebutuhan yang disampaikan
Pak Bayu 500.000 ha per tahun, potensi arealnya juga sekian.
Skala ekonomi yang juga disampaikan Pak Chaeril.
Dalam setiap pembinaan usaha itu revenue minus biaya sebaiknya lebih besar
dari biaya hidup, itu tidak bisa tidak. Kalau revenue minus biayanya lebih
kecil dari biaya hidup yang terjadi proses pemiskinan, kalau lebih besar
berarti lebih baik. Biaya itu kita anggap bisa fix, bisa dihitung. Jadi
untuk membuat surplus, hanya dari revenue, kalau revenue makin besar makin
bagus. Jadi peningkatan skala ekonomi antara komoditi yang satu tidak sama
dengan komoditi yang lain. Kalau untuk beternak domba, kalau seseorang
memelihara 30 ekor hanya cukup untuk
membiayai hidup saja, jadi harus dinaikkan (break evennya begitu), lebih
dari itu bisa meningkat. Kalau untuk petani padi berapa luas, untuk
menanam pisang berapa luas ? Jangan membiarkan seseoran, "kerjanya
apa pak ?", " beternak ayam" "berapa ayamnya ?"
ada 10 ekor. Ini tidak cukup. Jadi yang saya maksud peningkatan skala
ekonomi usaha rakyat dalam rangka menyaingi biaya surplus karena skalanya
meningkat hasilnya lebih besar daripada biaya hidup. Secara umum memang
bangsa kita ini, tidak cukup pandai, seseorang pandai kalau akalnya banyak
namanya cerdik. Pada tingkat pemikiran namanya cerdas, kalau sudah dalam
tindakan namanya cerdik. Cerdas dan cerdik itu lain, kalau akalnya
kebanyakan itu namanya lihai, selanjutnya namanya licik. Kita harus antara
cerdik dan lihai. Dalam diskusi saya dengan Bapak Wiranto di Jakarta,
Pontianak, saya mengusulkan, apakah sudah bukan waktunya Indonesia
mengeluarkan semacam Homestead? Di Amerika itu keluar tahun 1853, setiap
warga negara Amerika, kemudian menggarap lahannya yang sesuai tata ruang
politik pertanian, 3 kali musim panen, dia berhak atas tanah itu 100
hektar. Di Australia tahun 1907, 100 hektar, jadi kalau saya warga negara
Australia, saya garap, 3 kali panen tanah itu milik saya. Di Indonesia
peruntukkan tanah disimpan, jalur hijau tidak boleh. Coba kita lihat
petani-petani kita di Gunung Salak, hebat-hebat, tanaman
kopinya luar biasa, rakyat itu tidak tahu itu hutan lindung. Tata
ruang itu harus ada di kelurahan, mana yang boleh dibangun dan mana yang
tidak, disimpan. Saya condong kalau petani tidak punya lahan, ditanam
sendiri dalam tata ruang ada tanah negara 5 hektar saja. Kalau perusahaan
swasta boleh dapat ratusan hektar, mengapa petani tidak boleh dapat 5-10
hektar saja.
Untuk Pak Reza, saya membuat rancangan, Kebijakan
pangan RI karena penduduk kita kaya, Pak Chaerul memang kalau kita mampu
menghasilkan produk lain yang lebih mempunyai nilai tinggi, ok!, kalau
tidak ya "…", karena penduduk kita banyak, utang negara kita
besar, potensi pangannya tersedia, ada baiknya kita merancang swasembada
untuk akhirnya rakyat menjadi eksportir. Tetapi kalau kita punya
alternatif bisa menghasilkan produk yang lebih bernilai, mengapa tidak ?
Pak Chaerul saya sependapat penguatan lobby
pertanian. Di bidang perkebunan, kondisi Indonesia tidak menggembirakan
produktivitas kebun rakyat menurun……
Moderator
(Bapak Mubyarto)
Memang pemikiran kami, sebagai SC (pengarah)
setelah diuraikan kemiskinan, pertanian, Pak Sajogyo dan Pak Dillon waktu
itu sistem ekonomi, dan minggu lalu etika bisnis, Pak Titus dan Pak
Margono waktu itu memeriahkan suasana, seperti Pak Condro ini kalau
perusahaan besar itu melihat ada perusahaan kecil yang hampir mati lalu
dimasukkan atau dicaplok, apakah ini serakah atau tidak ? ini sebenarnya
tantangan ekonomi rakyat yang sekarang kita ingin bantu, apakah ini bisa
kita kawinkan dengan kultur bisnis Indonesia yang tidak jelas, apakah itu
teori atau tidak, pokoknya itulah yang kita kerjakan ? Pak Margono juga
menceritakan seperti itu. Sekarang didalam praktek pertaniannya, apakah
ada hal-hal yang perlu kita waspadai, sehingga kita ini jangan keliru
dalam memihak, membela ekonomi rakyat, jangan-jangan nanti malah
kontraproduktif, karena kita
ini berhadapan dengan praktek dari penjajahan sampai sekarang. Memang itu
diluar asing, perkebunan
besar, tetapi sekarang sudah nasional, BUMN yang sekarang sedang
diprivatisasi atau tidak ? Sebetulnya setelah kita dijajah selama 350
tahun, kita merdeka 56 tahun, apakah yang kita lakukan sesuai atau tidak?,
seperti yang tadi disinggung oleh Pak Siswono, ini bahaya besar. Kita ini
membiarkan banyak hal, yang jangan-jangan keliru? Jangan-jangan ini bukan
cerdas tetapi licik, sehingga pemerintah harus waspada, mengerti
masalahnya. Dan bukan hanya pemerintah, tetapi kita semua harus memikirkan
ini, memikirkan jangka panjang dalam 5 tahun dari yang dihadapi sekarang
ini. Sesi berikutnya mengenai krisis moneter (akan disampaikan oleh Pak
Frans Seda dalam sesi selanjutnya, 2 minggu yad). Ini memang kita lihat
setelah 32 tahun kita bebas membangun, kok akhirnya terjadi krisi tahun
1997? Ini akan memperkuat lagi bukti-bukti kenapa kok kita bisa akhirnya
memetik, memanen krisis itu, yang sebenarnya mungkin akibat dari perbuatan
kita sendiri yang tidak menyadari bahwa akan terjadi begini.
Sedikit mengenai swasembada yang ada masalah,
yang saya singgung dalam pertemuan dengan Ibu Mega kemaren sore itu. Kita
ini apa keliru, apa tidak kok kita ini segala-galanya sekarang harus
impor? Karena seperti yang dikatakan Bapak Wiradi, memang bu Mega
mengatakan dulu Bapak (tetapi tidak mengatakan Bapak Presiden), mengatakan “go to hell”. Karena ada pertanyaan seorang rekan:
bagaimana pendapat ibu tentang IMF ? Kalau jaman dulu hutang kita hanya
sedikit, kita masih punya potensi banyak, kita berani go to hell, tetapi
sekarang itu kita sudah dalam kubangan hutang, siapa berani go to hell
your aid?
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada Pak
Condro dan Pak Siswono yang telah menyumbang banyak sekali pemikiran kita
dan kami mohon agar dapat hadir pada sesi selanjutnya, karena itu semua
mengenai ekonomi rakyat.
(*)
|