Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat
Notulensi Seminar Seri VI: Krisis Moneter Indonesia
Oleh: Yusuf Krisnugraha
Tanggal: 9
April 2002
Pembicara:
Drs.
Frans Seda dan Dr. Bayu Krisnamurthi
Moderator:
Prof.
Mubyarto
Pembukaan : Prof. Dr. Mubyarto
Seminar
ini telah memasuki sesion ke 6. Jadi
Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat ini telah separuh jalan.
Sesi ini membahas Krisis Moneter di Indonesia.
Ada 3 orang pembicara yang direncanakan, yaitu Pak Sritua Arif,
Frans Seda, dan Bayu Krisnamurti. Pak
Sritua Arief sebenarnya sangat berminat.
Meskipun sakit-sakitan beliau bermaksud menyumbang makalah.
Sayangnya sampai saat ini makalah belum kita diterima.
Pak Frans Seda akan datang. Sampai pukul 11.00 WIB tadi makalah
katanya belum selesai. Kemudian
kami beritahukan, beliua hanya bisa sampai jam 4 karena ada appointment.
Sambil
menunggu Pak Frans, nanti kita akan mulai saja dari Pak Bayu Krisnamurthi.
Beliau ini termasuk anggota Stering Committee dan redaksi Jurnal
Ekonomi Rakyat (JER). Bagi bapak ibu yang belum tahu, kita sekarang punya
majalah yang bernama Jurnal Ekonomi Rakyat disingkat dengan JER.
Jurnal dapat bisa dilihat pada wetsite www.ekonomi-rakyat.org.
Sampai sekarang pengunjungnya sudah 200 orang.
Kami
mencatat seorang mahasiswa dari ITB mengomentari bahwa istilah ekonomi
rakyat dan ekonomi kerakyatan menurutnya tidak usah dipersoalkan lagi
karena keduanya harus dipakai dan keduanya saling mendukung. Ekonomi
kerakyatan adalah sistemnya dan ekonomi rakyat adalah sektor dan pelaku
yang kita pihaki, kita dukung dan kita kembangkan. Yang menjadi masalah
adalah istilah UKM. Menurut mahasiswa tersebut istilah UKM adalah istilah
yang ngaco. Kita memang belum mengenal istilah itu, dan kalau
dijejerkan dengan istilah ekonomi rakyat justru malah bingung. Sekarang
ekonomi rakyat akan diselundupi oleh perusahaan-perusahaan besar, untuk
misalnya minta potong utang sampai 50%. Ini merupakan cara licik,
berlindung pada UKM untuk pengusaha yang sebenarnya tidak kecil.
Saya
sempat mengomentari mahasiswa itu bahwa kalau kita tidak memiliki
kepribadian dan pendirian
itulah akibatnya. Istilah-istilah
asing sepertinya harus kita terima. UKM
sebenarnya istilah dari Bank Dunia dan IMF. Di luar negeri istilahnya Small
and Medium Interprises, dan ketika diberikan kepada Indonesia kita
bingung sendiri. Waktu JPS
dulu kita juga bingung karena Jaring Pengaman Sosial di Indonesia memang
belum ada. Tapi karena kita sedang repot dan bantuan itu harus menggunakan
konsep JPS, maka harus kita terima. Akibatnya
kita sendiri bingung, misalnya antara BKKBN dan Bappenas.
Saya sendiri terlibat di sana.
Jadi kalau istilah asing itu, Social Safety Net dan Small and
Medium Interprises, membuat kita bingung maril kita menolaknya
beramai-ramai. Jangan sampai kita menggunakan istilah yang kita sendiri
bingung. Ekonomi rakyat
adalah istilah yang lebih tepat.
Dari
Yogya saya membawa dua fotocopy tulisan sebagai bahan bacaan tambahan.
Pertama tulisan dari Naning Indratni, wartawan senior dari Suara
Pembaruan. Ibu Martha Tilaar
merasa bangga atas tulisan ini. Saya
tanggapi kalau memang bangga silahkan ibu mengikuti seminar.
Beliau lalu mengirim wakilnya hari ini, yaitu Pak Andreas. Bu
Martha salah satu pendukung kebijakan ekonomi rakyat dan kerakyatan
merupakan sistemnya. Bu Martha sendiri mempunyai program membantu
pengrajin di Sleman yang akan diresmikan bulan Juni yang akan datang.
Kita semua saya kira sangat setuju dengan kegiatan semacam ini.
Tulisan kedua berjudul "Perjalanan Panjang Ekonomi Indonesia
Dari Isu Globalisasi Sampai Krisis Ekonomi".
Ini merupakan paper mahasiswa S2 yang saya ajar di UGM.
Makalah ini lumayan bagus, saya beri nilai A, dan bisa dimuat di
JER tanpa banyak perubahan. Ini merupakan contoh baik. Kadang-kadang
seperti begitu-begitu saja. Kita
bangga karena ada juga mahasiswa yang 'mletik" pemikirannya. Tidak kelihatan tapi ujuk-ujuk (menyala, tiba-tiba muncul).
Tulisan ini membahas masalah globalisasi yang banyak dirisaukan.
Globalisasi tidak hanya tidak mendukung tapi malahan mematikan ekonomi
rakyat.
Bayu
Krisnamurthi
Saya
sangat bangga atas apresiasi yang besar, terutama dari pak Mubyarto, Pak
Sajogyo, guru saya untuk menyampaikan pemikiran kecil di sini. Pada
undangan dituliskan agar saya menjelaskan Krisis Moneter di Indonesia.
Ajakan itu sudah diberikan kira-kira bulan Januari lalu. Sejak lama saya
sudah menuliskan paper dengan pendalaman Teori Moneter dan itu sudah
hampir 35 halaman. Tetapi seminggu yang lalu, paper itu saya buang. Saya
menganggap Indonesia tidak kekurangan ahli dan doktor dari perguruan
tinggi yang paling terkemuka di dunia ini sampai krisis terjadi. Mereka
juga tak kurang memiliki kemampuan merancang kebijakan moneter. Tetapi toh
krisis juga. Lalu saya berasumsi bahwa
kalau hanya melihat teori moneter yang dikenal dalam textbook ilmu
ekonomi, jawabannya tidak akan ketemu.
Sebab masalahnya memang tidak di situ.
Minggu
lalu Pak Bambang Ismawan memberikan buku 'Institution of Economic
Development" kepada saya untuk menegaskan kembali kepada saya
(seperti sering dikatakan pak Sajogyo) bahwa (ilmu) ekonomi tidak bisa
dipisahkan dari (ilmu) sosial. Jadi
jawabannya ada pada horizon sosial ekonomi, bukan di ekonomi saja.
Akhirnya baru dalam 3 hari saya
mencoba membuat paper, 10
halaman saja, sekedar sebagai pengantar diskusi. Di sini saya merangkum
sedikit pemikiran yang timbul dari sekian kali seminar seri ekonomi rakyat
ini. Jika kita mencarinya
dengan perspektif ekonomi rakyat, kita akan tahu, kenapa kok krisis
terjadi? Dimana salahnya?
Dengan teori moneter akan sulit dicari salahnya. Di samping itu. saya
bukan ahli moneter. Jadi
kesulitan juga.
Saya
mencoba keluar dari pendekatan ini, dan memakai pendekatan yang lain dalam
membangun perspektif ekonomi rakyat. Sebenarnya kita juga jangan hanya
berhenti pada definisi. Friedman
pernah mengatakan "Money is what money does".
Itulah definisi paling baik soal uang.
Jadi definisi yang baik tentang ekonomi rakyat mungkin juga adalah
apa yang dilakukan oleh ekonomi rakyat sendiri.
Tidak usah dicari definisi lain.
Yang ada adalah perspektif.
Dalam
paper saya menggunakan dua perpektif untuk melihat macam-macam masalah
ekonomi rakyat dalam kaitannya dengan krisis moneter. Pertama, sempat saya
kemukakan di CSIS tahun lalu, bahwa ekonomi rakyat adalah ekonomi orang
banyak, atau kegiatan berekonomi yang banyak terdapat pada masyarakat
kita, yaitu mereka yang kecil, industri kecil, industri rumah tangga,
pedagang kecil, eceran, informal, dsb. Itulah rakyat kita yang banyak.
Mereka yang di luar itu bukan berarti bukan rakyat.
Tapi yang saya maksud rakyat disini adalah rakyat banyak itu. Kalau
kita membangun definisi dari rakyat banyak tadi, maka kita memilki jumlah
yang sangat besar. Ada
perspektif lain, yaitu saya menggunakan jargon "dari, oleh dan untuk
rakyat".
Mari
kita bedah jargon itu dengan pisau yang mungkin lebih up to date. Dari-rakyat
saya artikan dengan penguasaan sumberdaya oleh rakyat. Rakyat harus
memiliki hak atas sumberdaya produktif. Seorang petani tentunya harus
memiliki pengusaaan dan sumberdaya pertaniannya, atau seorang pedagang
juga demikian, industriawan, seorang pengrajin. Mereka harus memiliki
akses pada sumberdaya reproduktif. Kalau
berekonomi bisa dilakukan dengan sumberdaya produktifnya, itu merupakan
satu akses bagi ekonomi rakyat. Yang termasuk sumberdaya bukan hanya yang
konvensional, seperti alam dan tenaga kerja tetapi juga keterampilan,
pengetahuan, jaringan informasi, reputasi, dan lembaga.
Oleh-rakyat. Oleh-rakyat berarti mereka mempunyai kemampuan
bagaimana harus menghasilkan dan berapa banyak. Rakyat berdaulat atas
keputusan produktif atau konsumtif, tidak dilakukan oleh orang lain. Untuk-rakyat
berarti pemanfaatnya adalah rakyat juga.
Itulah
yang sebenarnya yang disebut ekonomi rakyat; ekonomi dari, oleh dan
untuk rakyat. Kalau
kita mengunakan pengertian di sini saya membuat statistik yang sangat
sederhana, antara lain : (a) 99% dari total bisnis entati di Indonesia
adalah ekonomi rakyat;(b) 80%
kesempatan kerja disumbang oleh mereka yang sesuai dengan pengertian
tadi;(c) 65% dari kegiatan distribusi (dari angkutan sampai tukang sayur
di rumah-rumah) dilakukan mereka;(d) 65% bergerak di bidang pertanian; (e)
63% menjadi basis konsumsi domestik; 63% total konsumsi di Indonesia
datang dari orang yang berpenghidupan
seperti ini. Maka dapat dikatakan ekonomi di Indonesia adalah ekonomi
rakyat.
Kalau
perspektif ini dapat disepakati, atau paling tidak bapak dan
ibu bisa melihat prospek kita yang demikian, baru kita menjelaskan
mengapa terjadi krisis moneter. Dengan perspektif ini maka krisis yang kita alami adalah
karena akses mengelola sumberdaya itu dipasung, dikebiri, dicederai terus
sekian lama. Rakyat hampir tidak pernah mendapatkan perlindungan yang
cukup dalam pengelolaan sumber daya, seperti hak atas lahan dan
hak atas tempat berusaha. Begitu juga pengakuan terhadap kekayaaan
intelektual, kekayaan sosial, dan modal sosial tidak terlindungi.
Perlindungan atas kemampuan dari rakyat itu sangat lemah dan cenderung
untuk diambil alih. Begitu mudah lahan produktif milik rakyat diganti
dengan real estat, lapangan golf, dsb. Begitu mudah hak ulayat diambil
oleh negara dengan kepentingan apapun namanya. Jadi dari rakyat begitu
rapuh. Sekarang oleh-rakyat, apakah rakyat mempunyai kemampuan
untuk mengambil keputusan dari kegiatan ekonomi produktif? Tidak!
Program dibikin serba seragam. Lembaga yang mestinya bercirikan lokal,
dibikin seragam seluruh Indonesia. Contohnya KUD. Semua daerah harus
menghasilkan beras; beras dijadikan kriteria keberhasilan pembangunan.
Sekian lama Credit Union tidak diakui keberadaannya sebagai badan usaha,
dsb. Jadi karena semua semakin dibatasi untuk mengambil keputusan
produktif. Ketiga, yang lebih
parah lagi, sebagai pemanfaat. Ekonomi
rakyat dikuras. Uang yang
disedot dari desa, dari ekonomi rakyat, umumnya 3 kali lebih besar dari
uang yang masuk ke desa. Gejala
ini mudah dilihat dari rasio Simpedes dan Kupedes.
Simpedes kira-kira 2-3 kali lebih besar dari Kupedes.
Itu artinya uangnya disedot. Belum lagi
rakyat yang harus menyediakan pangan dan buruh murah untuk
mendongkrak industri. Dengan pangan murah seorang petani hanya bisa
menyekolahkan anaknya sampai SMU. Si
anak akhirnya hanya mampu menjadi buruh murah di pabrik-pabrik, dengan
alasan keunggulan komparatif demi relokasi.
Jadi
ketiga aspek yang seharusnya menjadi dasar dari ekonomi rakyat saling
menciderai. Gambar 1 pada halaman 5, saya membuat skema bagaimana struktur
hubungan antara yang disebut ekonomi rakyat dan apa yang saya sebut
sebagai non ekonomi rakyat. Ekonomi rakyat kita mempunyai arus
moneter/finansial yang sangat besar ke non ekonomi rakyat, ke perusahaan
besar. Bentuknya seperti squeezing yang berlangsung pada kredit. Sistem
mana membuat arus uang dari ekonomi rakyat mengalir jauh lebih besar
daripada uang yang masuk bank. Kedua, desa-kota, kegiatan ekonomi rakyat
diminta untuk membeli produk-produk dari perusahaan besar. Ketiga, upah
buruh yang murah. Keempat, pangan yang murah. Semua itu merupakan bentuk
dukungan ekonomi rakyat ke non ekonomi rakyat. Imbal baliknya sangat
sedikit, hampir tidak ada investasi yang masuk ke desa,
timpang sekali.
Pada
saat yang sama, kira-kira 5 sampai 10 tahun sebelum krisis terjadi,
hubungan antara non ekonomi rakyat dengan kapitalisme global berada pada
situasi, sehingga arus uang masuk di Indonesia begitu besar. Saya tidak
bawa datanya, tapi Bapak bisa cek bahwa memang uang yang masuk ke
Indonesia begitu besar. Masalahnya kapitalisme global pada era itu sedang
gamang, sedang bertanya-tanya tentang dirinya.
Pada saat itu isu yang berkembang WTO dan Euro. Pertanyaannya
“uang yang ada mau dikemanakan?”
Karena buku terkenal "The East Asia atau The Asia
Miracle" menunjukkan bahwa Asia begitu produktif, maka mengalirkan
uang dari kapitalisme transnasional ke negara-negara
seperti Indonesia. Yang menerima uang itu terutama adalah mereka
yang bergerak di non ekonomi rakyat.
Kapitalisme transnasional menawarkan kreditnya door to door,
dan banyak yang konsumtif. Akibatnya
sektor yang produktif ketika itu terus dibanjiri cashflow dan sebagian
belum sempat diproduktifkan. Itu gejala yang terjadi sebelum krisis. Pada
saat yang sama banyak studi-studi yang mengarah pada kesimpulan bahwa
kapitalisme global yang seperti sebenarnya sangat rentan, mudah diganggu.
Ambil contoh, jika saya punya
1 juta US dollar dan saya belikan rupiah. Tiap hari saya jual 10 ribu US
dollar untuk membeli rupaih. Dampaknya
pada pasar uang tidak akan terasa, sampai saya mendapatkan rupiah senilai
dengan 1 juta US dollar. Kemudian
kalau saya bernama George Soros misalnya, pada hari tertentu uang 1 juta
dollar saya lepas ke pasar sambil membuat lunchment.
Di media massa akan tersiar George Soros, sang panutan bagi money
trader, sedang melepas cadangan rupiah 1 juta dollar.
Begitu ada berita ini, orang-orang akan bertanya, "ada apa
ini?”. Reaksinya orang akan ketakutan memegang rupiah.
Mereka lalu melepas rupiah begitu saja.
Mungkin tidak 1 juta tapi lebih misalnya 10 juta, 100 juta atau 1
milyar. Secara makro itu
bukan volume yang besar, tetapi jika dilepas begitu saja hancurkan
perekonomian kita. Kapitalisme
yang rentan itu begitu mudah terpicu oleh isu dan sentimen.
Posisi
yang membuat ekonomi jeblok bermula bank. Tapi pada saat itu kegiatan
ekonomi rakyat tidak mengalami banyak masalah, bahkan banyak booming,
terjadi surplus akibat perbedaan kurs. Tadinya Sony menjadi Suni, tadinya
motor bebek (Jepang) jadi bangau. Rakyat bisa survive. Tapi yang parah
adalah pada pilihan kebijkan mengatasi krisis. Kebijakan yang diambil
justru menolong bank, merekap bank, mengeluarkan uang bagi suatu sistem
yang justru menjadi biang krisis sebelumnya. Pada saat yang sama
mengorbankan yang tadinya menjadi penyelamat.
Ekonomi rakyat yang kecil ini diminta untuk berkorban.
Kebijakan BBM, listrik, tingkat suku bunga, dan pajak mengenai
semua aktor. Tidak secara spesifik pada
sumber masalah tetapi semua harus menanggung beban. Disitu rakyat kita
makin dirugikan.
Inilah
menurut saya mengapa krisis berlanjut dan makin berlanjut. Kalau kita
membawa format ekonomi kita ke konsep: dari rakyat, oleh rakyat dan untuk
rakyat dengan kebijakan yang mengarah, krisis itu saya kira tidak akan
sedasyat ini. Kalau ditanya
apa kebijkannya, maka kembalikan ke format itu.
Di
sini ada beberapa catatan, seperti kebijakan harus diarahkan untuk rakyat
banyak. Jangan paksa kebijakan itu pada kebijakan lain. Kita jatuh pada
kebijakan bank yang katanya baik, kok rakyat harus ikut itu. Undang-undang
perbankan justru dibikin untuk itu. Sekarang rakyat yang memang dalam
kondisi alamiah tidak bisa akses ke sana dipaksa akses kesana. Kita
bertanya untuk kepentingan siapa sebenarnya kebijakan ini? Kebijakan juga
jangan hanya dalam konteks regulatif saja, seperti yang terjadi selama
ini, tetapi perlu format lain yang sifatnya lebih insentif. Kebijakan juga
hampir selalu bersifat adhock. Kita
seharusnya grand strategy dalam jangka panjang, tidak parsial. Juga
delivery mechanism harus apresiatif. Yang paling menonjol adalah
bidang keuangan. Berurusan dengan ekonomi rakyat selalu berurusan dengan
kebijakan yang sangat mikro, bantuan ini, SKIM ini, dsb. Padahal kebijakan
makronya selalu diarahkan pada non ekonomi rakyat. Memang tidak mudah,
manakala Indonesia saat ini sedang kesulitan menetapkan kebijakannya
sendiri, tanpa minta izin pada orang lain. Itulah kesulitan
yang kita hadapi. Jadi kalau Ibu Mega menyerukan merdeka dalam
pidatonya, mungkin kalau saya di situ saya akan berkata:
"belum". Memang
sulit, kalau merdeka juga diartikan berdaulat dalam ekonomi dan politik
serta berkepribadian dalam budaya.
Frans
Seda
Krisis
moneter di Indonesia dimulai dari anjloknya nilai Bath di Thailand dan
terjadi devaluasi. Gejala itu
kemudian menjalar ke seluruh ASEAN, termasuk Indonesia. Pada saat awal,
bulan Juli 1997, kita mencoba mengatasi dengan memperluas 'band",
mengambangkan nilai uang. Depresiasi rupiah cukup besar, dalam tiga bulan
turun sampai 30%. Dalam kurun waktu 1 tahun sejak Juli 1998 depresiasi
mencapai 90%, dalam periode yang sama juga diikuti oleh saham gabungan.
Masalah menjalar begitu cepat. Kenapa?
Menurut saya karena sektor modern kita sangat rapuh.
Keadaan ini disebabkan oleh (1) Sebelum krisis kita mengenal dekade
pertumbuhan yang sangat cepat. Pendapatan perkapita meningkat
dua kali lipat. Semua orang terkagum-kagum. Saya ingat ini
merupakan kejadian kedua, setelah kejadian serupoa pada pertama Tahun
1950. Sebelum krisis, rejeki sepertinya datang terus menerus. Pembangunan
berjalan terus, sehingga memancing pihak luar negeri menawarkan kredit.
Tanpa dilihat proyek apa, pokoknya untuk Indonesia.
Juga dari dalam negeri, para konglomerat ditawari kredit tanpa
batas. Seperti saya lihat
pada Salim Group, anak muda yang baru lulus kemarin sore mendapat gaji 20
juta per bulan. Gejala ini tidak sehat bagi perekonomian kita. Mau
diapakan ekonomi Kita?
Pada
masa ini keteledoran kebijaksanaan terjadi.
Tanpa pengawasan dana ratusan juta dollar ditawarkan dengan bunga
yang rendah dan tekanan besar dari pihak tertentu, sehingga bank menyerah.
Optimisme pembangunan disatu pihak dan keteledoran dari bank dan kelakuan
dari sektor modern inilah yang paling mendalam dan paling lama dirasakan.
Jadi pembangunan begitu cepat jalannya, hal itu dikarenakan
prosesnya memang dibantu oleh berbagai tekanan, kelakuan mental dan moral,
sehingga krisis yang kita alami cenderung paling dalam.
Pada tahun 1998 pertumbuhan ekonomi jadi minus 13,7% dari tahun
1997 sebesar 4,9%. Jadi Turun sekitar 18%. Mengapa jatuhnya begitu dalam,
ya karena kelakuan tadi. Tapi dalam 2 tahun kemudian, Tahun 2000 ekonomi
bertumbuh lagi 4,8% hampir seperti sebelum krisis 4,9%. Mengapa
pertumbuhan bisa begitu cepat naik? Saya
kira pak Mubyarto yang suka menghitung itu dapat menjelaskan. Kalau
mengacu pada teori “untung”, seperti banyak dianut masyarakat
Indonesia, maka “Untung bisa bisa jatuh sampai 13%” sehingga
pertumbuhan bisa terpantul lagi ke atas. Dalam dua tahun ekonomi sudah
bisa kembali ke posisi sebelum krisis, tak lain akibat ekonomi rakyat
(plus). Bahkan seperti kata orang Menado, bahwa ketika itu orang di Manado
resepsi, orang di Jakarta
resesi, karena harga cengkeh naik. Ekonomi rakyat ini
memberikan kontribusi besar, sehingga ekonomi tidak terpuruk benar.
Jika yang tumbuh pesat adalah eksport, investasi, dan konsumsi, maka
menurut saya ekonomi rakyat berperan dalam ekspor dan konsumsi. Ekspor
ekonomi rakyat terpacu, seperti cengkeh dan kakao yang harganya naik luar
biasa. Konsumsi juga meningkat yang disertai oleh impor, sebagian besar
oleh kegiatan ekonomi rakyat di dalam negeri.
Mengapa
ekonomi rakyat dirongrong selama ini? Jawabannya sejak Tahun 66 ekonomi
kita adalah ekonomi negara. Bukan karena sosialisme tapi karena pragmatis
saja. Tidak ada kekuatan lain
di negara selain negara itu sendiri. Swasta tidak ada, koperasi kacau
balau. Yang berkuasa saat itu tentara. Jadi negara yang berkuasa atas
ekonomi kita. Sejauh Tahun 1993 (deregulasi) ekonomi kita beralih dari
negara ke swasta. Pertanyaannya,
mengapa peralihan ke ekonomi swasta, bukan ke ekonomi rakyat.
Jawabannya karena pada saat itu negara belum percaya bahwa
rakyat bisa menjadi pelopor pembangunan. Juga ada anggapan bahwa
rakyat itu perlu diberdayakan dan pemberdayaan itu melalui swasta. Jadi
ekonomi bersifat top down, dari ekonomi negara tidak langsung ke rakyat
tapi melalui medium, yakni swasta. Yang terjadi adalah midle-up dan
midle-down, Pemberdayaan
swasta atas rakyat berarti memperdayai. Si midle diberdayakan oleh up dan
keberdayaan midle didayagunakan memperdayai rakyat (down).
Krisis lalu makin parah. Intinya pemerintah kurang mempercayai
rakyat, tercermin dari kebijakan pemerintah terhadap rakyat.
Ekonomi
rakyat sekarang mulai mengambil peran karena daya tahan rakyat terhadap
krisis ternyata lebih baik. Ada resistensi, daya-cipta, dan juga nilai
kekeluargaan. Jadi, kalau ada orang yang tak percaya pada azas
kekeluargaan, suruh saja dia pulang ke kampung. Di kampung azas
kekeluargaan begitu kuat dan menjadi daya tersendiri bagi rakyat untuk
menentukan nasibnya sendiri. Jadi krisis terjadi tak lain karena sektor modern
ambruk, sementara sektor tradisional, ekonomi rakyat, punya daya tahan
sendiri.
Tantangannya
apakah dengan kondisi ekonomi rakyat yang demikian kita dapat akan dapat
maju ke depan. Dikalangan pemerintah dan banyak ada anggapan ekonomi
rakyat hanya ekonomi subsisten, ekonomi “form hand to mouth".
Apa yang diproduksi langsung dihabiskan. Mereka punya image
demikian, akibat kurang percaya tadi.
Kalau ini benar, maka kita perlu memberdayakan rakyat itu sendiri.
Disini
ada dua pengertian antara ekonomi rakyat dan ekonomi kerakyatan. Dalam
ekonomi rakyat ada dua aspek, yaitu orientasi pada rakyat banyak dan
rakyat sebagai subyek ekonomi. Kerakyatan memiliki orientasi pada
kepentingan rakyat banyak, tapi belum tentu rakyat diikut sertakan sebagai
subyek. Ekonomi rakyat artinya semua dilakukan rakyat sendiri, sehingga
dengan sendirinya semua kepentingan rakyat terjadi. Sama seperti pemuka
agama, kalau semua rakyat punya moral dan beragama, bukan berarti semua
rakyat bermoral dan beragama. Masih diperlukan lagi institusi untuk
menjaga ekonomi rakyat itu. Pendekatan instisional ini diperlukan untuk mengatur agar
kepentingan rakyat bisa menjadi kepentingan nasional juga. Akibat krisis
juga mengenai rakyat, seperti pengangguran, kemiskinan, dan hutang
yang meningkat.
Dalam
jangka panjang tiga hal ini harus diatasi dengan cara memberdayakan
rakyat. Rakyat juga diberi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan,
tentunya juga harus memperhatikan kualitas mana yang perlu ditingkatkan.
Kalau di Jakarta semua digali dengan tenaga orang, perlu dihitung berapa
lama, mungkin jadi lebih mahal, karena hujan galian jadi longsor semua.
Jadi kualitas tenaga kerja rakyat harus kita perhatikan. Yang kedua
memerangi kemiskinan melalui program yang benar.
Dengan hutang yang bertambah maka kebutuhan akan pembangunan
penting juga diwaspadai. Kemampuan rakyat untuk meningkatkan produksinya
tidak selamanya bisa menunjang kebutuhan dana pembangunan. Walaupun rakyat
sendiri juga memerlukan hutang. Sebab peran "lintah darat" besar
juga dalam ekonomi rakyat.
Kalau
ekonomi rakyat sebagai kekuatan dalam pembangunan kita akan melihat
sampaiman terjadi jarak antara kemampuan dan kebutuhan. Apa yang mesti
kita lakukan? Ada yang bilang to be reduce pembangunan disesuaikan
dengan kemampuan rakyat dan perekonomian kita. Akan tetapi untuk itu kita
harus berhadapan dengan kekuatan-kekuatan pembangunan. Selanjutnya
bagaimana menghadapi pengangguran, kemiskinan dan hutang?
Dalam jangka pendek prediksi sudah jelas, yakni terjadi kemerosotan
dalam investasi dan ekspor, termasuk pariwisata.
Kalau
kita mau maju sebenarnya masih bisa.
Ada dua keuntungan menurut saya, yakni bahwa dana sesungguhnya
tersedia tapi masih berkeliaran dimana-mana.
Misalnya Resort baru senilai 2,5 milyar yang akan dibangun di
Kemayoran sejak diumumkan sudah terjual 30%. Uang yang berkeliaran
dimana-mana itu tidak masuk kecuali untuk invetasi tertentu. Alasananya
faktor keamanan yang belum kunjung membaik.
Kedua kenapa
pemerintahan tidak menciptakan sendiri permintaan dalam negeri, dengan
mendorong kepastian hukum dan keamanan.
Dalam penciptaan permintan dalam negeri,
peran bagi dunia usaha skala besar mestinya juga diberikan. Rakyat
difokuskan ke arah itu dan di"upgrade". Kembali ke
belakang, mengapa pada tahun 80-an pemerintah tidak percaya pada ekonomi
rakyat? Itu karena peorganisasian ekonomi rakyat sendiri campur aduk.
Koperasi di kampung saya
ditolak keras. Mereka bilang
mau berorganisasi apa saja kecuali koperasi.
Sebab koperasi dianggap sebagai kepanjangan tangan dari penguasa:
semua dikoperasikan. Pengurusnya adalah keluarga sendiri, dan pada akhir
tahun uang sudah habis. Lain dengan sekarang justru banyak pengusaha yang
ditawari uang berapa saja.
Kembali
ke krisis belakangan ini semua sudah dikerahkan, mulai dari modal,
kebijakan pemerintah, bantuan luar negari.
Akan tetapi kita belum dapat keluar dari situ. Saya kira penyebab
utamanya adalah masalah fundamental politik dan budaya. Di satu pihak ada
yang beranggapan semua trouble harus diselesaikan dulu baru maju,
di lain pihak ada keinginan untuk segera maju ke depan.
Sebagian mengatakan terus maju maju ke depan tetapi tetap
menyelesaikan krisis ini. Ini saya kira dapat kita lakukan dalam
menyelesaikan opsi politik.
Saya
kira “Frans Seda" harus kembali ke platform di mana kita harus
menyelesaikan opsi politik ini atau kita hanya kembali ke belakang.
Misalnya, ada yang mengajurkan agar semua dirjen diganti, tapi
apakah Anda kalau yang kita yang hadir di jadi dirjen keadaan akan
berubah? Jangan-jangan kita lebih korup dari pada dirjen sekarang.
Pilihan lain kita tetap maju ke depan sambil membenahi. Itulah
tantangan kita sebagai bangsa, dalam waktu singkat harus mengatasi masalah krisis yang
begitu rumit.
Tanggapan:
Maryanto
Kalau
tadi diuraikan bahwa krisis moneter ii dimulai sejak tahun 1997. Saya
berbeda pendapat. Sebagai
seorang pelaku yang pernah bekerj di Bank Indonesia, saya melihat krisis
moneter dimulai sejak geger diregulasi perbankan Tahun 1983. Ada kebebasan
yang karu-karuan dalam dunia perbankan. Pada hal pada saat itu BI belum
memiliki instrumen moneter yang memadai mewadahinya.
Yang kedua kemudian diadakan Pakto yang malah bikin hancur. Ada
istilah belandanya (………..) tapi
bahasa Jawanya sebab lan dadakan (pemicu). Kita hancur karena Pakto
itu. Kalau Pakto tidak ada
kita tidak akan kena. Ibarat kalau daya tahan tubuh kita baik, maka kita tidak akin
kena wadah flu.
Evie
Ganis (JKPM)
Pak
Frans mengalami dua kali krisis, yaitu
Tahun 66 dan sekarang. Mungkin anggapan ini salah, tapi saya
melihat ketahanan rakyat berbeda, padahal kondisinya relatif sama.
Masyarakat belum mencapai kemakmuran/kesejahteraan. Tahun 66 dan sekarang
masyarakat miskinnya sama, mungkin miskin di Indonesia miskin absolut,
ayah ibu miskin, maka anaknya juga miskin, dan banyak yang mengalami
seperti itu. Pertanyaan saya apakah sekarang banyak orang yang mengetahui
ekonomi rakyat atau karena kondisi perekonomian lebih buruk dari tahun 66
atau sebenarnya kondisinya sama
Frans
Seda
Saya
mulai jawab dari pertanyaan terakhir. Kalau soal ketahanan, rakyat kita
tahun 1966 lebih punya ketahanan. Itulah sebenarnya jawaban mengapa orang
makin kaya makin kurang ketahanannya. Tahun 66 kemiskinan itu merata.
Waktu itu jalan dari Dukuh Atas ke Kebayoran masih penuh lobang.
Karena ketahanan itu pula mengapa kita berhasil lebih cepat keluar
dari krisis tahun 66. Sekarang kita sudah cukup sejahtera, tapi ketahanan
kita justru berkurang. Yang kedua tahun 66 kita lebih enak kerjanya
daripada sekarang. Mungkin
karena dulu kita masih sama-sama miskin, sekarang sudah banyak yang kaya.
Orang miskin itu mau bikin apa?
(Pak
Frans Seda meninggalkan ruang, karena harus segera ke Paris, menghadiri
Paris Club)
Tambahan dari pak Mubyarto
Mungkin
tidak sempat disampaikan pak Frans Seda tadi, bahwa waktu saya menjadi
pembantunya Prof. Sumitro dulu, para menteri itu kalau makan itu nasi
bungkus, nasi Padang, walau mereka tidak miskin betul, tapi mereka nrimo
betul. Saya juga akan
menyinggung paper yang tadi saya bawa, pada halaman 8.
"Sampai titik inipun pemerintah tampaknya belum juga bangkit
kesadarannya dalam menyelamatkan
sektor modern dengan cara habis-habisan, all out and at all cost,
seperti yang terus dilakukan selama ini mengadung konsekeensi yang teramat
riskan. Pemerintah masih percaya dan tersugesti seakan-akan hanya dengan
sektor modern itulah, Indonesia bisa segera bangkit dari
keterpurukannya". Pemerintah kok juga ngak sadar,
“nrumangsane" sektor modern saja alat untuk maju,
padahal ada sektor ekonomi rakyat yang jelas tahan banting
dilupakan.
Tambahan
Bayu
Saya
tadi mengatakan bahwa dampak langsung dari pembenahan yang tidak dimulai
dari ekonomi rakyat, itu
tidak sebesar dampak langsung dari pilihan kebijakan yang dilakukan
pemerintah untuk mengatasi krisis. Jadi dampak langsung pilihan kebijakan
ini ternyata jauh lebih besar.
Saya
sedikit memberikan nuansa dari apa yang dikatakan pak Frans tadi. Saya
sedikit berbeda pendapat dengan Pak Frans Seda soal pertumbuhan yang
dianggap pesat tadi. Saya
melihat belum optimis. Pertumbuhan
dari 4,9% menjadi minus 13,3% itu kita dari bawah sini. Kemudian tahun
1999 pertumbuhan nol dan itu baru naik menjadi 4,8% dari 3 koma sekian
pada tahun 2000. Belum naik ke posisi semula. Jadi bukannya loncat ke
atas. Ini masih berat dan kecenderungannya justru malah turun lagi. Kalau
dihubungkan dengan apa yang dikatakan Pak Mubyarto tadi, masalahnya sense
of crisis dari pemerintah belum ada. Mereka yang ada di pemerintahan
memang tidak merasakan lagi, karena mereka tidak makan nasi bungkus dari
warung Padang lagi.
Kemudian
yang kedua saya ambilkan contoh dari perkebunan. Saya tahu dan mohon tidak
dianggap sebagai contoh dari keberhasilan. Karena teman-teman Kita di
Menado yang pesta tadi hanya karena perbedaan kurs, tidak ada peningkatan
kualitas, peningkatan produksi, serta peningkatan kesadaran untuk
investasi apapun. Begitu kurs selesai dan cost naik, mereka mengalami
kesulitan. Itu semu, sehingga mereka juga butuh bantuan. Saya setuju
dengan pendekatan institusional yang disebut Pak Frans Seda. Ekonomi
rakyat memerlukan hal-hal yang berkaitan dengan pengaturan,
tapi kalau saya melihat apa yang dinyatakan oleh Pak Frans (boleh
dikatakan sebagai buku sejarah ekonomi berjalan) kata kuncinya adalah rakyat
tidak dipercaya, sehingga akses mereka pada sumberdaya tidak
dilindungi. Mereka tidak diberi keleluasaan untuk mengambil keputusan,
seolah-olah Jakartalah yang lebih tahu apa yang harus dilakukan oleh
rakyat. Yang ketiga, manfaat dan kegiatan ekonomi mereka tidak untuk
mereka, karena dianggap akin dipakai pada hal-hal
yang tidak produktif. Intinya
tidak ada keadilan untuk rakyat.
Tambahan pak Mubyarto
Terima
kasih. Rakyat tidak dipercaya, tidak di"uwongke", padahal mereka
justru benar-benar membantu ekonomi ini dari kehancuran. Kalau tadi pak
Frans suka menggunakan istilah krisis ekonomi, tapi di sini kita tidak
menggunakan istilah itu tapi krisis moneter. Saya membedakan krisis
ekonomi dengan krisis moneter. Tapi
di massmedia biasanya tidak dibedakan, bahwa mereka mengatakan yang
terjadi saat ini krisis ekonomi. Padahal ukuran krisis moneter dan krisis
ekonomi itu bisa berbeda. Kalau kita kembali pada tahun 30-an, banyak
pabrik tutup dan banyak pengangguran, inflasi tinggi sekali.
Itulah krisis ekonomi. Kalau
sekarang inflasi bisa dikurangi dari 77% tahun 1998 dan sudah turun 10%
pada tahun berikutnya. Mengenai
employment yang mengatakan bahwa ada 40 juta penganggur itu omong kosong.
Karena diantaranya disguish employment yang sebenarnya dari dulu sudah
ada, tapi sekarang dijadikan satu.
Anik
(Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita)
Saya
tadi mendengar bahwa kebijakan-kebijakan ekonomi rakyat masih sangat
adhock dan tidak aspiratif. Saya melihat upaya sekarang ini, mungkin dapat
menimbulkan opini publik tentang ekonomi rakyat dan HAM.
Akan tetapi upaya yang lebih sistematis untuk mengubah opini publik
menjadi kebijkan publik itu masih kurang (terjadi opinisasi, berkembangnya
opini). Walaupun kita fokus pada pengembangnya, opini masih harus
ditindaklanjuti agar opini itu bisa dikembangkan menjadi kebijakan publik.
Tapi selama ini kebijakan justru tidak memihak rakyat. Misalnya tidak ada
upaya untuk tidak menunda KPKN, kenaikan BBM dan listrik. Kemudian tentang
kapitalisme global, kapitalisme global sudah banyak tantangan, tidak
memberi manfaat seperti yang dijanjikan. Banyak kelompok-kelompok di dunia
yang menolak, mulai dari gerakan fundamentalis, nasionalis, sampai anti
globalisasi sendiri. Mereka mengatakan tidak ada tempat bagi kapitalisme
global. Lantas apa yang bisa dilakukan oleh kita yang konsen pada ekonomi
kerakyatan? Mungkin perlu suatu kebijakan yang mendukung ekonomi rakyat.
Misalnya gerakan koperasi. Kita
dari PPSW mendampingi kelompok di 7 provinsi, dan kita menghadapi hambatan
setelah koperasi itu berkembang. Kebijakan mensyaratkan bahwa koperasi
ternyata harus berbadan hukum dan harus ada modal disetor.
Rakyat di desa tidak bisa mengakses ini. Kalau tidak berbadan
hukum, akan bisa tetap jalan, meski tidak diakui oleh pemerintah. Banyak
anggota yang justru akan keluar kalau harus berbadan hukum. Kalau
kelompok-kelompok itu keluar, maka akan permasalahan ekonomi akan terus
mengemuka karena mereka jadi tidak dapat lagi tambahan modal. Jadi itulah
yang mestinya kita sama-sama kritisi untuk bisa bersama-sama membantu
rakyat.
Jawaban
Bayu
Yang
pertama, dari opini publik ke kebijakan publik, saya kira kita telah
mendapatkan gambaran bahwa para pengambil keputusan tidak percaya pada
rakyat. Untuk itu kita harus membangun trust itu dulu. Ini menurut saya merupakan logika yang salah kaprah.
Seharusnya rakyatlah yang tidak percaya pada para pengambil
keputusan. Jadi kalau ditarik ke sana, maka kita mempunyai maslah yang
sangat serius dengan sistem politik. Kalau kita harus melakukan kampanye untuk perbaikan, maka
yang harus dikampanyekan adalah perbaikan politik. Misalnya kampanye
pemilihan langsung. Begitu
pun bukan berarti seluruh masalah akan terselesaikan. Terus kita mau apa?
Menurut saya “lakukan sesuatu yang terbaik menurut kata hatimu”. Dalam
situasi rakyat yang seperti saat ini, kita harus melakukan sesuatu tanpa
syarat. Kita sekarang berhadapan dengan kapitalisme global yang besar dan
berkuasa. Celakanya kalau mereka kalah dalam medan pertempuran, mereka
akan jauh lebih ganas lagi.. Seperti harimau, kalau dia terpojok , maka
dia akan jauh lebih ganas. Apalagi sudah terpojok, lagi terluka.
Maka, tidak perlu heran kalau mereka sekarang melakukannya seperti
kesetanan. Tantangannya menjadi jauh lebih berat. Hubungan langsung
ekonomi rakyat dengan kapitalisme global relatif kecil, karena
institusinya tidak memungkinkan. Ini
merupakan blessing in disguish. Sementara ini masih sulit untuk
mereka jangkau. Misalnya agennya sedang kolaps, maka mereka akan
kesulitan. Mau pakai internet sulit, bahkan telopon dan listrikpun tidak
punya. Sedangkan kapitalisme
global sudah masuk melalui TV, membangun image, promosi, konsumerisme,
dst. Secara relatif ekonomi rakyat sebenarnya masih punya ruang untuk
bergerak. Kita lakukan apa yang bisa, disamping bikin kegiatan seperti
ini, juga bikin buku. Saya sendiri agak kaget juga karena tulisan Pak
Mubyarto bisa dimuat dikolom
1 Suara Pembaruan. Jadi kemajuan-kemajuan walaupun kecil sangat berarti
bila bisa diikuti oleh yang lain.
Tambahan
Pak Mubyarto
Untuk
mBak Anik yang mengkritik kita sekarang baru sampai pada gembar-gembor dan
belum sampai menukik pada pada kebijakan publik? Kritik ini sering sekali
saya dengar. Waktu era Adi Sasono lebih hebat lagi, dimana ada kritik yang
mengatakan bahwa populisme sebenarnya tidak ada gunanya lagi. Kita sendiri
sebenarnya sangat sulit menghasilkan kebijakan publik karena kita sendiri
bukan policy, bukan orang pemerintah. '"Wong untuk ngomong begini
saja angele ra jamak". (sulitnya bukan main).
Tolong kita jangan dibikin patah hati. Hanya gembar-gembor tapi
nggak kongkrit.
Sutedjo
(alumni UGM tahun 1956)
Mengenai
ekonomi rakyat, kita pernah memanggil Pheni Chalid bersama pak Rusdido,
bersama Pak Sanusi, dan hadir pula Emil Salim. Dalam forum itu ada
pertanyaan pada Emil Salim:
"Bung Emil, saudara diangkat menjadi (penasehat ekonomi pemerintah?),
itu hasilnya apa? Jawabanya pertama-tama menyelamatkan para konglomerat.
"Jadi bung masih percaya pada mereka?” Jawabnya "Iya".
Jadi kapan rakyat mendapat giliran untuk dibantu. Dari dulu, sejak
jaman kemerdekaan rakyat selalu membantu perjuangan. Mereka memberi makan
pada para tentara. Pada saat merdeka yang lebih menikmati justru pada para
tentara. Rakyat sendiri sampai sekarang belum pernah menikmati. Kapan
rakyat diberi kesempatan menikmati kemerdekaan. Saya datang kesini, merasa
gembira sekali, karena rakyat menjadi subyek pembahasan. Sementara itu
saat sekarang banyak anak
muda ikut tergerak untuk berpihak pada rakyat. Karena pada pemerintah
sendiri tidak dipercaya oleh rakyat. Mereka punya niat besar untuk
menyelamatkan ekonomi rakyat. Mari kita
dukung bersama.
Lalu
mengenai krisis, saya jadi teringat tentang krisis di tahun 1930, karena
saya sudah sekolah HIS. Memang pada saat itu betul-betul krisis ekonomi.
Sekarang betul-betul krisis moneter. Pada saat itu ada upaya mencetak
uang, akhirnya krisis dapat diatasi. Tapi sekarang belum ada gambaran
kapan krisis moneter ini berakhir? Hutang-hutang menumpuk, sudah 144
milyar US dollar itu, hutang swasta berapa, dan hutang
pemerintah berapa? Jumlahnya kira-kira 220 milyar US dollar. Sampai
sekarang belum ada konsep mengatasinya. Sebenarnya Indonesia mempunyai
kekayaan yang luar biasa. Apakah kekayaan ii tidak bisa untuk membayar
hutang. Bagaimana ekonomi rakyat dapat diopeni?
Yoyok
(Unika Atmajaya)
Saya
ingin melanjutkan peristilahan yang disampaikan Pak Frans Seda yang perlu
didiskusikan lebih lanjut menganai institutional. Sebenarnya kita sudah
tahu permasalahnya, tapi belum tahu menyelesaikannya. Saya akan cerita
sedikit. Saya melakukan
pendampingan terhadap pedagang kaki lima. Lalu mereka tergusur oleh Agenda
Pak Sutiyoso. Ada seseorang yang sebelum digusur berjualan kue pancong di
depan Bank Muamalat Jalan Sudirman. Dengan 20 hari kerja dia bisa membawa
uang 2 juta rupiah. Ketika digusur penghasilan turun, 50 ribu per hari
sudah lumayan. Suatu hari ada dilema bagi dirinya, antara berjualan kue
pancong atau ikut demo Buloggate. Kalu ikut demo bisa dapat Rp.100 ribu.
Bagaimana menyelamatkan mereka, antara lain
dengan menggandeng dunia usaha, misalnya dengan PT Bogasari
(penghasil terigu) atau produk lain milik pengusaha lain. Pertanyaan saya,
bagaimana kita menyelamatkan sektor ini
ketika pemerintah gagal mengambil peran, dan apa upayanya?
Atka
(Bank Indonesia)
Saya
masih belajar tentang ekonomi rakyat dan tertarik dengan data dari pak
Bayu. Ekonomi yang jatuh dengan angkanya dan dikaitkan dengan ekonomi
rakyat. Saya lebih mengerti bila dengan angka.
Prof.
Dr. Rudolf Sinaga (YAE)
Hasil
pertanian dengan harga dolar pada waktu itu memang masih bisa bertahan.
Tapi kemudian petani justru jadi korban, karena ada kebijakan agar harga
beras jangan naik dan gaji juga tidak naik. Kalau naik maka biaya produksi
juga naik. Pak Sajogyo, saya ngak tahu bagaimana kelanjutan dari pertemuan
di Salabintana. Sebuah pertemuan yang diawasi oleh intelegen, tapi setelah
dua hari mereka tidak datang lagi. Mungkin karena mereka tidak mengerti
Bahasa Inggris. Tanah
tanah pun mulai digerogoti, seperti di kampung saya, sudah habis. Apakah
hal ini masih dipertahankan. Kebijakan lain bidang pertanian, seperti
traktor mulai masuk, buruh-buruh kita ngak bisa bersaing lagi. Upah di
jepang setara dengan 3 mangkok bakso (Jepang), sedangkan di sini 1 mangkok
saja tidak cukup. Jadi kebijakan pertanian zero.
Hal ini perlu kita lihat lagi, apakah memang berkiblat pada ekonomi
rakyat atau tidak?
Mutharom (Direktorat
Pengembangan Usaha Holtikultura Dep Pertanian yang ditugaskan oleh Aspos
Agribis bidang Holtikultura dari Kadin)
Saya
tertarik pada kata keberpihakan. Saya
melihat prosek agribisnis dalam
bidang holtikultura bagus dan potensi petani besar, namun ada
kelemahan-kelemahan yang
perlu didukung bersama oleh pemerintah dan dunia perbankan. Di negara maju
perbankan sangat mendukung bidang pertanian. Di Indonesia pemerintah
kurang memberikan dukungan. Kami berupaya untuk mencari orang-orang masih
mempunyai hati yang bisa membantu
petani kecil untuk mengakses ke pasar baik domestik (swalayan) dan juga
ekspor. Seperti di Aceh, petani Tangengon bisa mengekspor ke Jepang karena
ada pengusaha yang punya hati untuk membantu petani. Ada juga pengusaha
swalayan yang mau membantu
petani, dalam bentuk menerima hasil pertanian untuk dijual. Dalam hal ini
perlu ada penghela, penarik untuk mengakses ke pasar, karena mereka
sendiri belum bisa. Pada saat ini saya senang karena banyak yang berpihak
pada rakyat kecil. Saat ini sedang dihimpun potensi dari mana dapat
mendukungnya dan menyelesaikannya.
Maryanto Danusaputro
(mantan pejabat di BI)
Saya
mengetahui ada seminar ekonomi rakyat dari Dr. Sumantoro dan saya tertarik
mengikuti sesion tentang Krisis Moneter di Indonesia, tapi bagaimana
kaitannya dengan ekonomi rakyat? Kalau
tidak salah ada 3 strata di Indonesia, yakni
ekonomi rakyat, UKM dan konglomerat. Kalau mau diuraikan dari atas
ke bawah ada 2 dosa dari konglomerat. Pertama karena mereka diglontor
oleh Bank-bank Pemerintah (terutama), seperti diungkap oleh Kwik Kian Gie
dalam tulisannya "Saya mimpi jadi Konglomerat". Kemudian ada kebijakan Pakto yang kebablasan setelah mereka
dapat uang banyak dan digebrak oleh Sumarlin (Januari 1991) karena besaran
moneter sangat berbahaya, kredit naik sekian ratus persen, tingkat suku
bunga naik akibat ditariknya dana yang ada di perbankan (15 trilyun) untuk
dijadikan SBI. Untuk pengawasan banyak
pejabat BI yang didrop ke Bank-bank pemerintah. Sudah begitu dosa kedua
adalah diperbolehkan pinjam ke Luar negeri. Ini merupakan blunder, mengapa
masih diperbolehkan pinjam? Mungkin untuk mengejar pertumbuhan.
Pada saat itulah krisis moneter sebenarnya dimulai. Dana pihak
ketiga juga ditarik sekali
uang banyak sekali.
UKM
juga ada dosanya, tapi tidak begitu besar dibanding dosa konglomerat,
karena UKM dulu dilayani oleh KIK KNKP yang dipicu oleh Malari.
Upaya rekapitalisasi bank besar dan bank pemerintah dengan mencari
hutangan dari dalam
negeri jauh lebih berbahaya. Kalau dari luar negeri masih bisa dijadwal
ulang, suku bunga bisa dikurangi. Bank-bank ini mendapat dana
rekapitalisasi 650 trilyun dan setiap tahun dari bunganya saja 60 trilyun.
Dapat bunga tengok-tengok. Kalau di RCTI ada kwis 'Who want to be millionare"
mungkin dapat dibuat kwis "Who want to be trilyunare".
Kemungkinan yang
menang adalah Bank Mandiri karena tiap tahun mendapat 20 trilyun.
Kalau
dulu Bung Karno dikritik, karena untuk menutup defisit dilakukan dengan
mencetak uang, tapi dalam dua tahun hilang (selesai). Mungkin karena dulu
dosanya belum begitu banyak. Bagaimana
menghilangkan hutang 650 trilyun, di'jlentrehkan" ngak bisa, bunga
atas dasar SBI. Kalau
ekonomi rakyat saya rasa tidak ada dosanya, tapi perlu diperkuat aspek
finansial, misalnya dengan BPR dan koperasi-koperasi lainnya, seperti
pengaturan lembaga keuangan makro. Hanya sayangnya saya mendengar bahwa
RUU tentang lembaga keuangan macet, saya ngak tahu macetnya.
BPR pada saat puncak krisis tahun 1997 ada 2400 dan sampai sekarang
ditutup sudah 300 sedangkan bank umum dari 239 bank saat ini tinggal 145,
masih sekitar separohnya. BPR dalam pengembangannya susah, sampai ada
ungkapan BPR singkatan dari Bank yang Prospeknya Rekoso. Pemerintah
sendiri kurang menberikan dukungan pada BPR dan gerakan-gerakan keuangan
mikro. Maka saya sangat setuju kalau seperti di Minang ada gerakan Gebu
Minang, dan di Wonogiri ada WNA (Wonogiri Asli) dan lain-lain gerkan
kedaerahan untuk menghimpun dana. Kalau kemudian dana itu untuk membentuk
BPR, karena BPR ternyata prospeknya baik. BI sendiri mempunyai perhatian
yang baik terhadap BPR hanya saja BPR kurang "ngeh" dengan
ekonomi rakyat. Sehingga dalam hal ini Pak Mubyarto bisa menelusuri dari
keadaan riel perkembangan lembaga keuangan. Sehingga dosa-dosa bisa
diselesaikan secara tepat. Mengajak kembali pihak perbangkan dapat
menyalurkan kredit, karena ada ketakutan dari pihak bank untuk memberikan
kredit. Kalau macet maka CAR akan turun.
Andreas (Grup Martha
Tilaar )
Di
sini saya mengajak untuk sharing. Ada sedikit cerita, dalam sebuah survei
yang dilakukan oleh ibu Martha Tilaar dalam bidang kosmetika, dilihatnya
kehidupan rakyat di situ susah sekali.
Beliau kemudian bepikir untuk bisa membantu mereka. Di situ
dilihatnya ada pengrajin-hanya belum terkoordinir dengan baik, sehingga
mutu dan pemasarannya kurang. Beliau kemudian mengajak kawan-kawannya
untuk bisa membantu mereka, yakni membantu peningkatan mutu dan pemasaran.
Hasil produk kerajinan tersebut kemudian dibeli, ada beberapa kontainer
untuk diekspor ke Perancis. Disitu beliau direkomendasikan oleh PBB dan
diundang dalam contact forum oleh Kofi Annan. Beliau menjadi lebih
termotivasi lagi, sehingga ada proyek di Sleman itu. Dihimpun lebih dari
3000 pengrajin, mereka diberi pendidikan. Yang disebut pengrajin di sini
sebenarnya adalah petani, pada saat tertentu mereka ke sawah mencangkul,
dan part time menjadi pengrajin. Dalam hal ini pendekatan fungsional
seperti yang dikatakan pak Bayu betul. Mereka tidak hanya dikelola secara
profesional tapi juga ada unsur sosialnya, ada toleransi. Kemudian
ditingkatkan menjadi pendekatan struktural. Dibentuk kelompok-kelompok dan
mereka menjadi pemiliknya, bukan hanya
sekedar sebagai pengrajin. Hasilnya (berupa tas tangan) mereka
ekspor ke Itali, Jepang dan Thailand dan kami hanya membantu menfasilitasi
saja. Jadi sebenarnya banyak peluang untuk membantu ekonomi rakyat. Sangat
disayangkan tidak ada institusi pemerintah yang bisa membantu, disini kami
single fighter menghadapi pasar ekspor. Kami kemudian juga mencari peluang
untuk pasar domestik dan itu cukup lumayan perkembangnya. Masyarakat sudah
mulai menghargai kerajinan rakyat kita, karena mutunya kita tingkatkan,
harga cukup bersaing, bahkan ada yang mengira barang import. Ternyata
banyak peluang kalau kita bisa manfaatkan. Kita tak bisa meminta bantuan
kredit, dan harus mandiri dengan kemampuan yang ada. Ini merupakan sharing
untuk bisa mengajak teman-teman meningkatkan ekonomi rakyat, terima kasih.
Sediono Tjondronegoro
(IPB)
Slentang-slenting
sebenarnya ada istilah yang perlu dihubungkan. Tadi Bayu mengatakan
tentang pemberdayaan rakyat dan aset. Kemudian Frans Seda mengatakan
tentang dulu kita lebih egalitarian dibanding sekarang, dulu kelemahan
lebih pada itu ketahanan kita turun. Rudi Sinaga mengatakan struktur yang
perlu diubah, transformasi dan sebagainya. Menyebut tahun 1989 ada
konverensi Institute Social Study mengenai
pertanahan di Salabintana tahun 1989. Disitulah saya mengkaitkan
komentar saya.
Saya
setuju dengan pendapat Bayu bahwa aset perlu diatur lebih baik. Tahun 1965
membicarakan agraria dianggap tabu. Politik menimbulkan kesulitan pada
waktu itu. Ada peraturan agar orang-orang tidak bisa memiliki, menyewa,
dan menjual tanah sesuka hatinya. Tahun 1978, saya bersama pak Mubi dan
pak Sajogyo duduk dalam suatu forum di bawah pak Sumitro yang menasehati
Menteri Pertanian dan pemerintah tentang pertanahan. Kami bersama di bawah
Prof. Sumitro dan Prof Wijodjo memberikan saran, entri report mengenai
pertanahan pada pemerintah, itu Februari 1978 masuk di pemerintahan.
Harapan saya akan ada tindakan melalui GBHN.
Buku Repelita memuat masalah agraria tapi tak ada apa-apanya.
Agraria betul-betul acak-acakan. Dimana-mana orang tidak berani bicara
agraria dan landreform karena
akan langsung dicap komunis. Hal ini
menyebabkan ketimpangan yang
bukan main. Mungkin yang menyebabkan banjir di Jakarta belum lama ini .
Ada 123 villa yang perlu dibongkar tapi tak bisa dilakukan karena dijaga
preman, seperti berita koran.
Apa
yang perlu diberdayakan? Bila ada 60-70% rakyat masih agraris, menurut
saya aset tanah perlu diatur lebih baik. Mungkin tidak langsung
redistribusi tanah, tapi termasuk itu, nanti kepemilikan, penyewaan perlu
dibatasi. Hak ulayat perlu
diperjelas karena di luar Jawa tanah hak ulayat diperjualbelikan.
Individualisasi kepala adat misalnya sudah terjadi.
Kebetulan akan terbit sebuah buku dari Toyota Foundation yang
membandingkan studi suku bangsa di Filipina. Thailand dan Minangkabau,
berupa comparative studi tentang kekacauan hak ulayat, karena kepala adat
sudah mulai jual beli tanpa musyawarah dengan kepala adat yang lain. Kalau kita
biarkan akan semakin kacau. Distansi antar masyarakat akan semakan
melebar. Itu sebabnya penjarahan di perkebunan terjadi dimana-mana. Ada
perkebunan yang mengerti dan ada yang melawan 'penjarahan' tanah itu
dengan preman-preman. Itulah sekedar gambaran kalau saya ditanya apa yang
perlu dibereskan dari masalah krisis, antara lain dengan membereskan
masalah agraria. Lucunya pada
waktu Pelita I banyak ekonom yang mengacu pada pemikiran W.W. Rostow bahwa
landreform atau masalah pertanahan perlu dibereskan dulu, dan kalau ada
surplus When you go the next state? Mungkin UKM dsb. Jadi kemacetan
kredit-kredit sejak Bimas, mungkin pak Sajogyo lebih paham tentang itu,
bukan pada petani kecil tapi petani menengah ke atas.
Mungkin UKM juga demikian karena tukang tadahnya ada di situ. Dari
studi-studi dan juga pengalaman pak Bambang Ismawan, justru yang
kecil-kecil lebih rajin membayar. Mungkin karena kecil itu pula mengapa
mereka tetap kecil. Tapi P4K yang dimulai sejak 1975 dengan BRI di desa
dan penyuluh pertanian dan
relatif berhasil baik. Jadi
institutional building itu perlu.
Tambahan
dari Bayu
Jadi
yang pertama saya ingin menanggapi pak Maryanto tentang dampak negatif
dari rakyat akibat kebijakan yang keliru. Mungkin perlu kita mengadakan
seminar dengan mengundang orang yang tidak sepaham. Tapi karena kita masih
perlu memperkuat pemikiran maka seminar ini diselenggarakan, supaya kita
solid dulu.
Demi
terjadi diskusi, mungkin sedikit beda dengan Pak Maryanto dengan membuat
strata, menurut saya ekonomi rakyat ada pada setiap strata. Buruh pabrik
milik konglomerat itu juga ekonomi rakyat, karena
kegiatan mereka terkait erat dengan kos-kosan kecil, tukang bakso,
seperti cerita masa Yoyok tentang penjual kue pancong di Jl. Sudirman
dimana seluruh bangunan itu milik konglomerat dan menghidupi juga
buruh-buruh yang ada di situ. Juga pegawai negeri golongan I dan II,
mereka punya pola kehidupan yang sama. Jadi, strata mungkin bisa dipakai
sebagai analisis mungkin juga tidak. Mereka punya konteks yang vertikal,
tidak hanya horisontal. Itu
yang pertama.
Yang
kedua saya pernah bicara dengan salah seorang konglomerat, dan saya tanya
" Kau gimana sih sampai begitu banyak uang yang kau pakai tanpa studi
kelayakan” Tapi justru
dijawab bahwa “saya akan sangat bodoh jika disediakan didepan saya, kok
tidak saya ambil” Kalau tadi ada dosa konglomerat mungkin ya,
tapi yang lebih dosa mengapa ada keputusan demikian.
Dalam
teori kelembagaan ada the policy of position. Misalnya, Pemerintah
sebenarnya ingin menolong pada si A tapi tidak bisa khusus pada si A.
Supaya si A terbantu kemudian dibuatlah kebijakan yang gegyah uyah,
baik itu yang positif atau yang negatif. Maksud sebenarnya hanya ingin
memberikan fasilitas kepada anaknya, tetapi supaya tidak telanjang maka
policy dibikin sedemikian sehingga semua orang mengambil kesempatan itu.
Sama seperti KUT, maksudnya mungkin supaya ada restrukturisasi.
Tetapi karena dihamtam semua malah jadinya tidak karuan. Sulit
sekali membuat kebijakan yang kena pada the real problem. Rasanya
keahlian membuat policy-lah yang harus dibangun diantara pengambil
keputusan kita.
Kemudian
pak Tjondro saya kira selain soal tanah tadi, kata kunci yang lain adalah political
will. Kita tidak
bisa membereskan masalah tanah kalau kita tidak membereskan soal
politiknya. Susah, nonsense, karena proses akhirny toch ada pada
pengambilan keputusan. Mungkin pak Mubi lebih mengerti bagaimana suasana
di MPR, betul-betul seperi jual sapi.
Saya
kira kalau cerita
tentang the real story, saya juga akan memberikan sharing. Saya
menemukan pengusaha tambak yang gagal di Belanakan, Subang.
Ia mengatakan akan bunuh diri kalau tidak dibantu mencarikan
solusinya. Kemudian saya tanya '"Pak cari di sini apa yang
gratis!" Yang gratis itu ternyata ikan busuk.
Lalu saya ajak teman dari IPB ahli tehnologi pengolahan ikan.
Ikan busuk ini dibikin jadi tepung. Tehnologinya sederhana, pakai
sarung bantal. Ikan busuk ini dibikin jadi tepung. "'Tapi pak
bagaimana, tepung ikan ini buat apa?". Saya kemudian mengajak dia ke
Jatiluhur menemui para petambak karamba. Tepung ikan ini bahan yang paling
baik untuk pakan ikan. Tapi bagaimana caranya? Tepung ikan ini harus
dipikin pril, butiran. Saya kemudian telpon teman di IPB untuk mencarikan
alat-alat bekas yang tidak terpakai untuk membuat butiran tepung. Alat itu
ada, dan dipakai dan jadi. Usaha
ini kemudian tumbuh besar. Produksinya tidak dapat ditampung lagi di
Jatiluhur. Kemudian saya ajak dia ke Garut. Di Garut ada peternakan sapi
yang mengalami kesulitan karena harga pakan sapi mahal.
Saya tanya " Anda punya apa?" "Saya punya daun dari
petani-petani sayur, tapi ngak cukup, proteinnya ngak ada". Kemudian
daun dan tepung ikan dicampur dan jadilah pakan ternak. Di sini ada tigas
3 pihak yang menjadi sirkel ekonomi rakyat. Mereka berkembang dan praktis
tidak membutuhkan apa-apa. Investasi dan tehnologi sederhana dari
dosen-dosen yang “geblek punya idealisme” membantu.
Kita bisa dan kita punya. Terima kasih.
Sylvia
Ismawan
Saya
genduk-genduknya ekonomi rakyat. Melihat perkembangan perjuangan kita
muaranya adalah ekonomi rakyat bagaimana rakyat bisa hidup layak
dan ada banyak cara, antara lain microfinance. Ini tadi di sebelah
saya keburu pergi, dosen dari Universitas
Muhammadiyah. Beliau tadi bicara macam-macam tentang BPR, karena
Pak Maryanto bicara tentang BPR. Saya bilang BPR itu, BPR yang mengandung
idealisme harus dibedakan dengan BPR yang banyak sekali di sepanjang jalan
raya Ciputat. BPR jenis yang terakhir ini adalah tukang kredit yang
diinstitusionalkan. Kemudian bicara tentang microfinance, bicara tentang
tokoh di Bank Indonesia, yakni pak Abdul Salam dan bicara tentang
Undang-undang keuangan mikro, yang sekarang macet. Saya pikir kita harus
punya tim untuk membantu orang-orang di BI, karena orang-orang di BI yang
saya baca, ada orang-orang yang understand the problem tapi ada
yang stand under the problem. Jadi kasihan itu pejuang-pejuang yang
berjuang di dalam. Nah, How we do our group yang sama-sama gendeng
ini membantu mereka membicarakan hal ini. Kebetulan ada orangnya pak Abdul
Salam yang duduk di sini. Yang ingin saya tanyakan tentang rencana
Undang-undang keuangan mikro: " Bagaimana kok bisa macet rancana UU
itu?
(Disambung
oleh staf pak Abdul Salam). Terima kasih. Tentang Kemacetan Rancangan
Undang-undang keuangan mikro sebenarnya sudah disampaikan ke Departemen
Keuangan pada tanggal 30 September 2001. Kemudian saya dengar kabar, bahwa
yang macet itu disana. Bahkan belum dibahas di sana. Kemudian pak Abdul
Salam menyampaikan usulan bagaimana dibuat tim kerjasama antara BI dan
Depkeu. Tapi belum ada tanggapan sama sekali dari sana. Jadi Kita masih
menunggu, karena kewenangan lembaga keuangan mikro ada di Departemen
Keuangan, bukan di BI.
(*)
|