Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat
Notulensi Seminar Seri VII: Utang Luar Negeri
Oleh: Sri Husniati dan Herry Subagyo
Tanggal: 23
April 2002
Pembicara:
Drs.
Revrisond Baswir, MBA dan Prof. Dr.
Didik J. Rachbini
Moderator:
Dr. Bayu Krisnamurthi
Dalam
pengantarnya Bayu Krishnamurti mengatakan merasa ada yang kurang dalam
seminar kali ini karena Prof. Mubyarto sedang ke luar negeri. Namun
demikian topik seminar kali ini akan cukup menarik karena akan membahas
persoalan utang luar negeri dan pembangunan. Dua pembicara yang hadir
yaitu Revrisond Baswir akan menyampaikan makalah berjudul “Utang dan
Imperialisme” dan Didik J. Rachbini akan menyampaikan makalah berjudul
“Utang Luar Negeri dan Ekonomi Rakyat”.
Selanjutnya
moderator meminta kepada kedua pembicara untuk menyampaikan makalahnya.
Diskusi I :
Bayu
Krishnamurti (Moderator)
Kalau
kita ingat dari awal, memang seminar ini lahir dari suatu pemikiran bahwa performance
ekonomi kita tidak seperti yang diharapkan, tidak seperti yang kita
idealkan. Adanya hutang, adanya krisis, dsb., kondisinya memang seperti
itu dan hal itu lahir dari behavior
dan culture. Perilaku para pengambil keputusannya dan struktur
perekonomiannya yang lebih ke arah konglomerasi, pengusaha besar dsb. Dari
diskusi ini tadi juga terlihat bahwa behavior
dan culture ekonomi kita itu
sebenarnya lahir dari institusinya, kelembagaannya, tata aturannya,
normanya, cara berfikirnya, dsb. Mas Sony mengangkat lebih tinggi lagi,
bahwa hal itu sebenarnya datang dari paradigmanya. Kalau kita ingat
seminar sebelumnya, pada saat kita bicara ekonomi rakyat, kita juga berada
dalam kerangka itu, mengapa ekonomi rakyat ditinggalkan, padahal dia
justru sumber kekuatan selama ini, itu karena institusinya tidak
menjangkau mereka, akses tidak dibuka oleh mereka, dan itu lahir dari
paradigma itu. Kemiskinan terjadi, itu juga demikian, sumbernya ada pada
paradigmanya. Sistem ekonomi Indonesia, waktu Pak Sri Edi ngomong,
persoalannya juga sama, paradigmanya yang salah. Kemudian tidak adanya
moral dan etik, bagaimana moral dan etik bisa bekerja dalam suasana yang
amoral dan sangat steril seperti itu. Pak Siswono dan Pak Tjondro bicara
soal pertanahan dan sejarah pertanian, kesimpulannya juga sama. Dua minggu
yang lalu Pak Frans Seda dan saya menulis krisis moneter, kira-kira
kesimpulannya juga seperti itu. Nampaknya yang jadi problem kita ada di
level performance, kemudian bisa kita lihat sebab-sebabnya di level behavior
dan culture, tapi sebenarnya itu sumbernya ada di institusi, dan lebih
tinggi lagi ada di paradigma. Kalau kita angkat lebih tinggi lagi,
penyebabnya adalah ideologi. Dua hal diatas itu belum pernah kita
bicarakan, tetapi kalau kita mendiskusikan soal paradigma saja, saya kira
kita sudah mengalami kemajuan.
Dua
minggu lalu saya sudah mengatakan bahwa nggak enaknya diskusi kita karena
dibicarakan oleh orang-orang yang sudah seguru seilmu, susah dan nggak ada
gregetnya. Kalau Mas Sony ketemu Sri Mulyani mungkin ceritanya bisa lain.
Tetapi anyway, setelah seri
seminar ini selesai rencananya akan di launch
keluar. Baik, sekarang mari kita matangkan diskusinya, silahkan kepada
peserta untuk memberikan pendapat, usul dan saran.
Titus
Kurniadi
Kalau
perusahaan itu mau hutang, lalu perusahaan sudah menghitung bahwa hutang
itu nanti bunganya akan dibayar kembali bersama pokoknya, lalu Bank-nya
juga ngecek, utangnya berapa, aliran dananya gimana, dan layak lalu
dikasih. Jadi sebenarnya hutang dalam bentuk yang seperti itu, atau
istilah yang ada di surat kabar disebut hutang yang “recovery
rate”-nya tinggi sebenarnya aman-aman saja, dan itu juga wajar-wajar
saja. Sekarang ini masalahnya akan jadi lain kalau banknya itu, misalnya
minta uang hangus 10%, pengusahanya bilang, oh ya baik…, tapi ya kalau
perlu ndak usah dibayar, malah hutangnya diperbesar lagi, kasih lagi,
diperbesar lagi. Jadi nggak karuan semua. Kalau demikian, bukankah utang
perusahaan dengan bank ini juga merefleksikan utang negara dengan negara
lain atau badan internasional lain, apakah kira-kira juga seperti itu?
Yang kasih utang dan yang menerima utang itu sama-sama senangnya, dan yang
ndak seneng itu ya yang bayar, dan itu langgeng berlangsung. Perusahaan
dengan bank juga langgeng.
Luar negeri itu kan jelas-jelas dalam memberi utang itu kan
untuk kepentingan mereka. Jadi keliru sama sekali kalau dikira mereka itu
membantu, tidak ada cerita membantu itu. Ya kalau suku bunganya 5 milyar
terus ada bantuannya 200 juta itu normal saja, tetapi kita sering terpukau
dan menganggap utang itu sebagai bantuan. Sebenarnya kalau mau diurut
sumbernya, karena hutang itu tidak dimanfaatkan dengan benar kan,
dikorupsi. Korupsi inilah yang membuat negara jadi salah semua. Kalau
sudah seperti sekarang ini ya memang bingung lho, mau bicara apa. Terima
kasih.
Bambang Ismawan
Baru-baru ini saya ketemu teman saya, salah seorang pegiat
LSM di Jepang dan menanyakan pada saya, apakah saya bisa menyusun atau me-list,
kalau ada smart subsidi, dumb subsidi, smart loan, dumb loan, apakah kita bisa
memisahkan itu. Mereka ini sangat pro aktif mengajak, marilah kita gempur
sama-sama yang dumb loan itu.
Apakah dimungkinkan kita membuat kriteria dan me-list-nya?.
Yang kedua saya mendengar dan mendapat kesan bahwa Mas Sony
mengatakan banyak hutang yang tidak masuk dalam proses persetujuan DPR.
Kalau kita mengadakan persetujuan internasional biasa selalu ada
ratifikasi. Nah, kalau dalam hal hutang ini tidak pernah diratifikasi,
bukankah kita bisa mengatakan itu tidak sah, dan itu diakui oleh hukum
pergaulan internasional. Kalau tidak sah sebenarnya kita juga bisa secara
sah tidak mengakui yang tidak sah itu. Apakah proses utang ini tidak kita
buka lebar-lebar, terutama dikalangan teman-teman LSM yang memiliki agenda
soal ini.
Sebenarnya Pak Muby pernah menulis satu artikel mengenai
membangun tanpa berhutang. Bisakah kita ini sebenarnya membangun tanpa
berhutang, kalau benar apa yang dikatakan Pak Muby bahwa di Lamongan
ternyata PDRB yang diperoleh dari sektor formal dan informal itu 1
berbanding 50. Berarti ada kekuatan luar biasa di sektor informal. Kalau
kita lihat BRI mampu memobilisasi dana sebesar 59 triliun dan berkemampuan
menyalurkan 10 triliun berarti ada kekuatan untuk memobilisasi dana dengan
sangat nyata. Tidak hanya BRI tapi juga best
practices di Semarang, Bank Purba Dana Artha. Kalau model-model
mobilisasi dilakukan dengan lebih baik, kelihatannya kemampuan kita untuk
membiayai pembangunan juga tinggi. Ini dikuatkan dengan apa yang ditulis
oleh Hernando de Soto dalam buku Mistery
of Capital. Sekali lagi pertanyaan saya adalah, mampukah kita
membangun tanpa berhutang, itu ke depan. Ke belakang, ya lebih baik tidak
usah bayar hutang.
Evie Ganis
Pertama, berbicara soal hutang rasanya sudah sulit untuk
menghitungnya, berapa yang benar-benar dipakai untuk pembangunan?. Kedua,
sejak seminar pertama hingga hari ini dan juga di tempat lain, sebenarnya
banyak pembicara yang bersuara cukup bagus dalam forum-forum seminar,
namun demikian mengapa gemanya tidak pernah bisa merubah perilaku
pengambil kebijakan.
Husein Sawit
Yang menarik bagi saya adalah kedua pembicara ini sama-sama
mengenyam pendidikan di Amerika. Pertanyaan saya selanjutnya kalau memang
DPR memegang peran penting, mengapa tidak memasukkan konsep-konsep melalui
parta-partai. Yang kedua, adakah contoh satu negara yang mengambil
keputusan minta haircut, dan apa akibatnya?
Sumantoro
Saya tidak ingin berbicara sebagai kubu yang mana, tetapi
saya ingin menempatkan pada proporsi yang agak seimbang. Dari nada kedua
pembicara itu seolah-olah hanya menyalahkan lembaga dana, menyalahkan IMF.
Setahu saya setiap proses project aid selalu minta persetujuan kedua
pihak, syarat dan mekanismenya.
Tanggapan Pembicara :
Revrisond Baswir
Begini, ya wajar ada transaksi hutang, bank kasih hutang,
perusahaan berhutang, kalau recovery
rate-nya bagus, semuanya oke. Itu betul, tetapi tetap masih ada reserve, nggak ada yang tanpa reserve.
Kalau pengusaha hutang kemudian beli mesin untuk keuntungan yang lebih
besar, tetapi dengan melakukan rasionalisasi, ceritanya lain bagi mereka
yang di PHK. Pak, kami masih bisa kerjakan itu dengan 10 orang, mengaapa
harus beli mesin dan saya harus berhenti? Keuntungan pengusaha memang
bertambah besar, perusahaan bertambah maju dalam arti labanya meningkat,
omsetnya meningkat, tetapi bahwa kemudian 9 orang kehilangan pekerjaan,
bagaimana?. Jadi tetap saja ada kepentingan
lain yang harus ikut kita pikirkan. Sama saja kalau kita bicara
dalam konteks negara, cuma yang susah, ini bukan soal orang itu dumb
atau fool, sama sekali bukan,
sejak awal saya sudah mengatakan ini persoalan paradigma, kalau
paradigmanya lain sudah jelas hasilnya akan lain. Sebaliknya, paradigma
lain jelas akan mengatakan bahwa pemikiran saya salah. Karena cara
memandangnya sudah berbeda. Nah, apakah ini masalah dumb
and fool, jelas bukan, sama sekali bukan. Saya kira semua smart, hanya seperti yang diceritakan Pak Titus tadi, apakah
pengusaha yang pinjam untuk beli mesin itu bodoh? Nggak bodohlah, dia
sudah hitung, dia bisa bayar, ndak bodoh dia, tetapi ketika dia melupakan
yang 9 orang itu, lantas mau kita sebut apa? Saya kira kita bicara ekonomi
rakyat. Jadi kalau pengusaha tadi berfikir smart
menurut paradigma saya, dia nggak perlu beli mesin, jadi smart-nya ekonomi rakyat beda dengan smart-nya yang lain. Sama-sama smart,
cuma karena different school.
Jadi kalau menurut saya, pengusaha yang smart
ya yang usahanya bagus, kalau hutang ya recovery
rate-nya bagus, tetapi juga tidak sampai mengorbankan pekerja. Ngono
ngono ning ya aja ngono, gitu lho.
Kedua soal korupsi, tadi Pak Sumantoro juga mengatakan,
sebetulnya yang salah itu kita. Saya kira kalau logika itu kita turuti,
memang ya wajar-wajar saja sebagai otokritik, yang akhirnya blaming your self. Kalau itu terjadi hanya pada satu atau dua
keluarga, satu suku, satu negara sih nggak apa-apa. Saya setuju. Tapi mari
kita buka peta dunia, apakah yang kita alami ini hanya terjadi di
Indonesia? Apa yang terjadi di Argentina?, Meksiko, Brasil, Rusia, belum
lagi kita bicara Amerika, apa yang kita bicarakan tadi terjadi di all other the world. Semua penduduk dunia bodoh kalau begitu. Nah,
seandainya ada satu orang pintar, tetapi ada 9 orang bodoh yang menderita,
yang bodoh siapa? Salahnya sendiri kok bodoh, begitu kira-kira kata yang 9
orang, tetapi kira-kira yang satu orang itu pintar apa bodoh? Nah itu dia,
different school jawabannya,
balik lagi kesana ceritanya. Makanya di makalah saya itu kan ada data. Di
dunia ini sekarang ada 890 juta penduduk negara industri maju dengan
income perkapita US$25.000,- per tahun, tetapi di belahan dunia yang lain
ada 5 milyar penduduk dengan income perkapita US $1.250,- dan itu
terbentang dari daratan Amerika sampai ke Eropa Timur. Negara yang
memiliki income perkapita US $25.000,- itu tidak memiliki utang luar
negeri, utang dalam negeri barangkali punya. Tetapi negara yang income
perkapitanya 1.250, memiliki utang luar negeri 500 dengan netto tinggal
750, jadi masih ada sisa. Indonesia impas. Inilah gambarannya, jadi ada
satu dunia yang sangat senjang. Nah sekarang kita bertanya, apakah ini
karena pintarnya orang Amerika, Perancis, Jerman, Jepang, atau karena
bodohnya orang Mesir, Nigeria, Nikaragua, Zambia, Indonesia, dsb. Saya
melihatnya tidak
begitu, mungkin benar orang Amerika pintar, mungkin benar orang Indonesia
bodoh, tetapi kalau kita coba lihat dunia itu menjadi sangat senjang dan
tidak berkeadilan, something wrong
in this world, itu yang ingin saya katakan. Kalau benar orang Amerika
pintar, orang Perancis pintar, orang Jepang pintar, mestinya mereka bisa
memimpin dunia yang lebih berkeadilan. Bahwa yang terjadi tidak seperti
itu, saya masih meragukan kepintaran mereka. Lebih-lebih kalau kita bicara
peran lembaga-lembaga internasional, jelas itu lembaga dunia, PBB, IMF,
World Bank, WTO, dan peran mereka dominan. Seperti saya katakan, misalnya
IMF itu kalau mengambil keputusan maka 85% harus setuju, cuma Amerika
punya hak veto. Walaupun semua sepakat 85% kalau Amerika bilang tidak, ya
gugur. Karena itu kita harus minta pertanggungjawaban dia, mengapa dia
dengan hak vetonya itu yang kemudian muncul adalah dunia yang tidak
berkeadilan, dunia yang semakin panas, dunia yang penuh dengan kemiskinan.
Jadi yang kita tanya disini adalah tanggungjawab dia sebagai sesama
komunitas dunia.
Itu yang sudah terjadi, akhirnya
dunia internasional dipaksa untuk mengeluarkan sejumlah paket kebijakan
dalam rangka meringankan beban utang, ini resmi, yang bikin itu IMF dan
World Bank. Selain yang rescheduling dengan macam-macamnya itu, ada yang
namanya NYBC. Ini diluncurkan persis seperti bank bank kita yang
meluncurkan program haircut UKM,
kira-kira seperti itu. Di IMF juga ada program seperti itu dan sudah 41
negara yang menikmati. Dan haircut-nya
itu bisa mencapai 60-70%. Jadi tidak ada yang aneh dari cerita itu, bahwa
hutang bisa di hapuskan. Ya kalau negara seperti Angola yang sudah babak
belur gitu, masa mau ditagih, ya enggak dong. Tetapi tentu saja ada
kriterianya, misalnya perbandingan antara beban hutangnya dengan ekspornya
berapa %, dengan anggaran berapa %, dsb. Indonesia memang belum memenuhi
kriteria itu, kalau memenuhi kita bisa langsung meminta itu, belum cukup
miskinlah kira-kira, baru mendekati itu. Saya pernah berdebat panjang
lebar dengan Bank Dunia mengenai masalah ini. Indonesia itu saya bilang
juga sudah pantas mendapatkan haircut,
oh belum katanya, kriteria ini masih bagus, diatas sedikit, kurang
sedikit, kira-kira begitu. Saya bilang, kalau soal kriteria kan bisa
didiskusikan, bukan harga mati. Akhirnya dia bilang, kita-kita ini kan
hanya pelaksana, anda kalau ingin merubah kriteria langsung saja ke
Amerika, jelas kan. Jadi orang Bank Dunia mengatakan kami nggak bisa
ngambil keputusan, kalau ada masukan ke Amerika sana, ketemu Ministry of
Finance, selesai. Kalau mereka bilang cut ya cut. Jadi sebenarnya ini
hanya merupakan proses biasa saja, lobi, negosiasi.
Sebenarnya kawan-kawan NGO itu
sudah melakukan banyak hal, lobi-lobi, ke Tokyo, Paris, Jerman, IMF,
menemui partai-partai yang oposisi, yang berkuasa, semua sudah dilakukan,
bahkan sejak beberapa tahun terakhir, teman-teman NGO itu punya site di
CGI dan Paris Club. Jadi sudah bisa ikut disana meski sebagai observer.
Tapi kalau bicara hal yang bebas bisa kita lakukan ketika lobi, ketika
kita menemui mereka langsung. Itu proses biasa, tapi memang kata akhir
tetap harus dalam forum tertutup. Disitulah peran-peran negara G7 sangat
menentukan, kalau bilang tidak ya tidak, dalam konteks Indonesia yang
paling berperan kan Jepang, karena lebih dari 1/3 utang luar negeri kita
berasal dari jepang. Makanya pernah saya ngomong dengan Mark Baird,
sebenarnya pernah dia usulkan haircut
untuk indonesia, namun delegasi jepang mengancam, anda ngomong begitu
sekali lagi, kami walk out. Ya
sudah akhirnya tim yang lain tidak berani karena diancam oleh tim Jepang.
Jadi seperti inilah prosesnya.
Cerita-cerita mengenai utang,
imperialisme, haircut, utang najis ini perlu untuk mengimbangi cerita yang
mengatakan kalau kita minta haircut kita
kembali ke jaman batu, diembargo, itu yang nggak bener. Ini hal yang
normal saja, bisa didiskusikan, bisa dibicarakan, ada program resminya.
Tetapi citra atau image yang dikembangkan di masyarakat adalah kalau kita
berpikir minta haircut, kita akan diembargo, kita akan kembali ke jaman
batu, nanti investor lari semua. Ini yang saya kira tidak proporsional.
Jadi biasa-biasa sajalah, kalau memang bisa dibicarakan, kenapa tidak.
Dari Mas Bambang, saya kira mudah
untuk membedakan antara dumb loan
dan smart loan. Semua utang yang
dilakukan selama ini tercatat, proyek apa, untuk apa, berapa besarnya,
semua tercatat. Tinggal kita sekarang perlu melakukan studi. Saya kira
studi yang dimuat di Kompas hari ini, Bappenas sendiri bilang 80% utang
kita itu tidak berguna (dumb). Kalau menurut Bank Dunia yang namanya utang
najis (utang yang disalahgunakan) yaitu antara 20-30% (resmi dokumen Bank
Dunia). Makanya tidak aneh ketika James W (Direktur Bank Dunia) ke
Australia mengatakan, sebenarnya nggak pantas pemerintahan Megawati masih
terus membayar utang haram itu. Kalau Direktur Bank Dunia sudah ngomong
seperti itu, mengapa kita masih dihantui dengan ketakutan terus? Disitulah
permasalahannya, lalu saya curiga bahwa yang berkuasa di dalam itu adalah
kaki tangan dari sebuah kepentingan tertentu. Makanya ketika ketemu Ibu
Mega saya tanya, “Bu, sebenarnya gimana sih posisi Indonesia di mata
IMF”. Bu Mega jawabnya begini “sebenarnya kalau pada masa Bung Karno
itu kalau kita bilang go to hell itu kondisinya mendukung, sekarang ini
sebenarnya kondisinya tidak mendukung”. Mestinya tinggal kita yakinkan
saja. Tetapi kalau mendapatkan informasi yang salah terus dari orang-orang
disekitarnya, penasehat ekonominya, ya nggak nyampai-nyampai. Saya baca
wawancara Sri Mulyani di suatu majalah, ini bukan soal pengecut atau
berani, tetapi taktik, bahwa taktik minta rescheduling jauh lebih efektif
dibandingkan haircut. Itu menurut kalkulasi dia. Sangat rasional saja,
bahwa taktik ini akan lebih efektif.
Mengenai peran DPR, saya
informasikan sudah ada 92 anggota DPR yang ingin mengajukan IMF ke
peradilan internasional. Mereka sudah bikin surat pengaduan dan sudah
dikirim. Mereka ingin IMF diadili karena turut bersalah menyebabkan krisis
di Indonesia. Ini dilakukan oleh lintas fraksi, jadi ya cukup, meski tidak
terlalu kuat. Saya pernah juga diskusi mengenai utang luar negeri ini di
DPR dengan Pak Sri Edi waktu itu, jadi sebenarnya sudah banyak yang tahu.
Jadi kalau di DPR sudah ada 92 orang, tetapi tidak mampu membawa yang
lain, berarti kan ada masalah, tentu yang lain tidak tertarik, tidak
begitu berminat.
Negara pertama yang jadi preseden munculnya utang najis
adalah Amerika. Itu terjadi tahun 1898 ketika Amerika membantu masyarakat
Kuba untuk merdeka dari penjajahan Spanyol. Ketika Amerika berhasil
membebaskan rakyat Kuba dari Spanyol, pemerintah Spanyol bilang, karena
Kuba sekarang sudah diluar kekuasaan Spanyol, maka utang-utang yang dibuat
oleh rejim Spanyol menjadi tanggung jawab masyarakat Kuba atau Amerika
Serikat yang ikut-ikut membantu. Amerika jawab, tidak bisa, Spanyol waktu
itu memerintah secara fasis, dimana utang dibuat tanpa sepengetahuan
rakyat, maka tetap menjadi tanggung jawab pemerintah Spanyol.
Untuk Pak Sumantoro, persoalan ini juga dialami oleh AS, di
makalah saya tertulis mengenai distribusi penguasaan aset. Kalau kita
lihat di AS struktur penguasaan Stocks, Bonds dan Business Assets, untuk
Stocks 10% orang Amerika terkaya menguasai 84%, Bonds 90%, Business Assets
92% yang lebih menakutkan adalah kalau kita lihat 1% terkaya, 1% orang
Amerika terkaya menguasai
Stocks 42%, Bonds 55%, Business Assets 71% akibatnya 90% penduduk Amerika
yang lain hanya menguasai Stocks 15%, Bonds 9% dan Business Assets 7%. Ini
bukan soal dumb and fool kan?. Cuma ini problem apa tidak, kalau
ditanyakan kepada kawan-kawan dari sekolah lain ini bukan problem, ya
wajar-wajar saja. Tapi kalau sekolah saya mengatakan ini problem. Kalau
penguasaan aset dan distribusinya sudah seperti itu berhentilah bicara
demokrasi nggak akan ada demokrasi kalau aset sudah dikuasai seperti itu,
buat apa pemilu? Semua media sudah dikuasai, lalu opini dibentuk, calon
presiden juga sangat tergantung pembiayaannya pada sumber dana. Demokrasi
sejati sudah tidak ada lagi, maka cerita di forum ini, saya yakin dan
percaya akan sangat sulit sekali menembus space di media massa, mengapa?
Karena lagi-lagi siapa yang punya media, siapa yang pasang iklan, ini
sudah global sifatnya. Saya kemarin ngetes, waktu ada demo serikat pekerja
BUMN, saya kira ini hal yang fantastis karena tidak lagi atas nama
perusahaan tapi atas nama seluruh BUMN, federasi serikat pekerja BUMN
turun ke istana hingga mencapai 3000 orang. Namun ternyata nggak semua
media memuat. Mau bilang apa. Jadi persoalannya bukan didengar atau tidak,
soal diperhatikan atau tidak, di follow up atau tidak, soal mencari
perhatian mereka saja sudah susah, bahkan media juga tidak memberi space.
Itulah hal yang biasa terjadi, karena pengalaman saya sebagai penulis juga
begitu. Kalau misalnya saya menulis mengenai bisnis dan kebetulan media
itu banyak mendapat iklan dari perusahaan-perusahaan tertentu, dia bilang,
kalau artikel-artikel mengenai mereka jangan deh nanti iklan kita
berhenti. Itu bisnis yang biasa, cuma saya nggak tahu itu smart enough
apa dumb enough.
Didiek
Rachbini
Saya ingin sampaikan, bahwa yang disampaikan Pak Titus tadi
adalah hutang perusahaan/hutang swasta, jadi kalau hutang swasta itu ada
institusi yang mengatur yaitu pasar. Pertama kita harus mengukur dalam
keluarga kita, individu kita, untuk melakukan hutang. Tentu saja kalau
kredit itu ya maksimumnya 1/3 dari pendapatan kita, kalau sudah mencapai
80% siap-siaplah mati. Itu ada yang ngatur, yang ngatur ya pasar itulah.
Itu yang ada di domain swasta, pasar yang ngatur. Nah ini bertolak
belakang dan berbeda sangat jauh dengan hutang publik, kalau Pak Titus
menjadi Ketua Bappenas kemudian melakukan transaksi hutang, itu bukan Pak
Titus yang membayar, orang lain yang membayar, siapa? Pajak rakyat. Jadi
sama sekali lain dan sangat berbeda. Binatangnya sama sekali lain. Tetapi
kalau tadi disebut hutang swasta secara kolektif nanti jadi hutang publik,
seperti hutang swasta yang besar jadi publik dan sudah diatur oleh Bank
sentral agar hutang tidak berpengaruh terhadap dolar atau valuta tidak
terlalu tinggi, ini sudah bukan pasar lagi. Hutang publik masuk domain
publik bukan pasar, kalau saya jadi Ketua Bappenas mengambil hutang ada
syarat yang harus saya penuhi yaitu transparansi, akuntability, dan
prosesnya harus dengan persetujuan DPR. Seperti sembahyang syaratnya wudhu
kalau sembahyang tidak pakai wudhu ya batal. Jadi Pak Sumantoro, hutang
ini seperti sembahyang tanpa wudhu jadi batal semua, memang sholat dan
diperiksa lewat proyek segala macam karena prasyarat dia efisien itu ada
tekanan pengganti pasar, siapa itu? DPR, sebab kalau tidak terjadi ini
akan luar biasa berat. Itulah yang terjadi sekarang di daerah-daerah yang
mereka punya anggaran besar walaupun tidak dengan hutang tapi dia beli
rumah-rumah di menteng ini problem dari institusi publik yang saya lihat
dari orde baru. Jadi orde baru sebenarnya melakukan suatu proses politik,
hutang publik itu bukan proses pasar ia proses politik
atau lebih ke proses political economy jadi ada syarat-syaratnya.
Karena itu ketika saya pertama kali sekolah di Filipina ada tulisan besar
dari para aktivis jangan kasih hutang negara kami karena negara kami
korup, nah itu syarat, kalau hutang swasta atau hutang perusahaan dia
tidak perlu disyarati apa-apa, kan kalau Pak Sumantoro punya gaji 5 juta
harus hutang BTN atau kredit rumah di Pondok Indah 5 juta per bulan kan
langsung mati pak, kan tidak perlu ada transparansi kan tidak perlu saya
urus, itu urusan Pak Sumantoro sendiri dan tidak terpengaruh kepada saya,
tapi di domain publik ini berpengaruh, padahal saya tidak ikut-ikutan
urusan hutang itu, tetapi sekarang harus bayar pajak. Jadi ini binatang
yang lain sama sekali. dan hukum ekonomi sudah mengatakan bahwa kalau
konsumsi lebih besar daripada pendapatan siap-siaplah menggali
lubang kubur sendiri.
Nah dalam perusahaan itu ngitungnya seperti yang Pak Titus
katakan gampang, recovery ratenya berapa, kita untungnya berapa, hutang
harus berapa tidak boleh lebih dari recovery rate itu ada ukurannya tapi
kalau hutang publik karena ini suatu negara yang besar menghitungnya
relatif lebih susah tapi jelas ada tekanan-tekanan kalau itu tidak
dilakukan maka sekarang konsumsi lebih besar dari pendapatan atau cost
lebih besar dari income itulah yang disebut besar pasak daripada tiang,
sehingga sebenarnya hutang
ini juga adalah bagian yang kita lakukan bersama-sama dengan loan pusher
birokrat asing itu bersama-sama bersama birokrat Kita, sehingga saya sebut tadi ini kan
gabungan dari demand dan penawaran hutang itu bisa kita lihat penawaran
dan permintaannya sehingga proses ini sebenarnya dipandu oleh
tekhnokratisme mainstream tadi yang sekarang terbukti gagal dilaksanakan
karena kita juga tidak melakukan kontrol bahkan Pak Husein Sawit ngarahin
kalau kita terlalu liberal sebenarnya kita ini ilmuwan para penganjur
kebijakan-kebijakan yang merakyat itu kan korban dari liberalisme, kan
kita bodoh sekali kalau menganjurkan beras itu diproteksi hanya 0 % atau
malah dinaikkan sedikit 20%, 30 % itu
juga terlalu naif, di Perancis yang sangat kuat ekonominya pertanian itu
diproteksi dikecualikan dari persaingan di UU persaingan usahanya
mengatakan, kecuali pertanian titik. Pertanian boleh apa saja, ini
rekayasa negara untuk melindungi petani-petaninya padahal petaninya
sedikit. Di kita petaninya puluhan juta tidak diproteksi. Kenapa? karena
yang berkuasa ekonomi-ekonomi mainstream, seolah-olah kalau petani dibuka
akan action, padahal tidak, banyak problem. Studi-studi yang
dilakukan oleh SAE, PAE, SosEk IPB jauh lebih bermutu daripada studi-studi
mereka, mereka kan cuma ngomong doang, dan banyak studinya di atas meja,
ini satu problem yang luar biasa. Soal paha ayam juga, kalau dengan
pandangan liberal ya udah nggak apa-apa, mati ya mati, kan kita bisa dapat
lebih murah, tetapi kan nggak bisa begitu. Paha ayam itu kan sudah divonis
mati oleh publik Amerika, oleh dokter Amerika, bahwa itu kolesterolnya
tinggi, itu sebenarnya sampah, kalau sampah dibuang kesini kita kan jadi
rusak semua, pasar ayam rakyat ikut rusak. Ini problem, yang sebenarnya
kita ini berhadapan dengan satu mukjizat pikiran yang dia berjalan dalam
satu kebijakan, dalam satu pengambilan keputusan yang kita tidak terlalu
mampu untuk melakukan koreksi-koreksi terhadap semua itu, jadi musuh kita
itu pikiran. Ini yang jadi soal dan sampai sekarang tidak selesai apalagi
presiden tidak mempunyai opini sama sekali terhadap hutang luar negeri
dst. Sebenarnya Ibu Megawati itu partainya wong cilik memberikan cek
kosong lagi kepada tekhnokrat dan dia sudah tidak jadi partai wong cilik
lagi, semuanya kalau macam-macam di persoalkan jadi soal. Jadi kira-kira
itulah masalah yang saya kira sangat krusial dan menjadi isu-isu kampanye
juga belum tentu dimengerti masyarakat, masyarakat yang sudah ngerti itu
masalah korupsi, tapi liberalisme belum tentu dimengerti masyarakat
kecuali diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dimengerti.
DISKUSI
II
Sajogyo
Pertanyaan:
§
Peluang
yang riil untuk debt swap
§
Mengusulkan
mengundang Hernando de soto
Silvie
Ismawan
Let’s do something, karena kalau menunggu launching buku
dari seluruh seri ini, seri ini baru selesai pada minggu pertama Juli,
lalu diolah baru selesai akhir Juli, masuk percetakan baru selesai akhir
Agustus, September baru launching. Persis September kita harus siap-siap
membantu pemikiran saudara-saudara anggota DPR kita mengenai APBN, kalau
anggota DPR kita mau memikirkan mengenai nasib bangsa kita, tapi
kelihatannya saya pesimis kalau sudah mau terjun anggota DPR kita tidak
memikirkan rakyatnya sendiri yang dipikirkan hanyalah kenaikan gaji
anggota DPR dsb. Ada G-7 sementara kelompok yang menyelenggarakan ekonomi
rakyat ini adalah kelompok 6,
kita sebut saja G-6, saya mengharapkan kelompok G-6 ini bisa mempunyai
frame make up yang kuat bersama dengan Corruption Watch dari saudara Teten
lalu yang masih perlu dibentuk adalah Financial Watch ini belum ada,
financial watch ini yang harus meneliti lalu lintas uang di BI yang saya
ngeri, seminar lalu pernah menyebut uang merah dan itu exist. Yang banyak
terlibat sebenarnya orang-orang Bank Indonesia itu sendiri. Apalagi kalau
BI itu sendiri sudah berdiri terpisah dengan pemerintah. plus watch-watch
yang lain dan pers. Pertanyaan saya kapan G-6 bersama watch-watch yang
lain bisa terbentuk?
Ibu Retno Triyani Djohan (Fraksi Utusan Daerah, MPR)
Tidak kurang pemikir dari ekonom, tidak kurang pemikir dari
politisi tapi sebetulnya
permasalahan di negara ini tidak hanya bisa diselesaikan dengan
ngomong, tapi harus diselesaikan dengan cara komprehensif. Saya tadi sudah
melihat mengarah sebetulnya, sebetulnya siapa yang salah? Saya kira
manusianya, jadi manusia Indonesia ini yang harus diperbaiki itu tidak
lain memang psikolog, sayangnya psikolog kita tidak pernah ngomong,
psikolog yang terkenal seperti Pak Sarlito dsb., kalau saya dari Surabaya
yang tidak masuk pusat percaturan problem, jadi saya tidak didengar,
kenapa psikolog kita tidak mau ikut-ikut ngomong politik, memang dijawab
ada keengganan, itu yang salah sebetulnya. Tadi kalau saya mendengar
mengenai blaming your self atau myself memang kita tidak bisa secara penuh
menyalahkan kita tapi saya rasa lebih baik daripada menyalahkan orang
lain. Karena di dalam ilmu psikologi ada
lupus of control, kalau internal berarti kita yang bertanggungjawab
terhadap apa yang terjadi pada diri kita itu adalah internal lupus of
control daripada eksternal, contohnya misalnya kalau kita gak lulus ya
yang nggak bener ngajarnya padahal kita tidak belajar, manusia Indonesia
ini bagaimana sekarang contohnya seperti itu. Nah kalau tadi dikatakan
kita minta haircut dan sebagainya diperjuangkan jangan sampai mau
mengorbankan diri masuk pada satu predikat bahwa miskin, ya rasanya kalau
memang kita masih punya harga diri, memang sulit bukan saya tidak setuju
makanya tadi ada cara lain yang re-scheduling seperti yang diberikan oleh
Jepang, karena Jepang kan sudah bilang uangnya yang saya pinjamkan bukan
uang saya tapi uang rakyat, saya tidak bisa meminjamkan begitu saja. Saya
mohon kepada Bapak-bapak yang ahli ekonomi kalau tadi disebut-sebut ada
golongan kiri dan golongan kanan saya pun juga mungkin dalam istilah
psikologi tidak sepenuhnya benar karena semua bergerak dalam kontinum jadi
tidak ada yang ekstrim kanan, kiri, dan sebagainya mesti ada yang
ditengah-tengah. Tolonglah Bapak-bapak ini, Pak Didiek dan sebagainya yang
saya lihat punya visi yang sangat bagus yang masih peduli dengan hal ini,
yakinkan dulu golongan tadi yang mempunyai pemahaman yang salah yang
kira-kira nanti mau menjual negara kita dsb, kalau itu bisa diyakinkan
saya kira lebih kecil goalnya daripada merubah atau memperbaiki masalah
Indonesia yang sangat kompleks ini. Bagaimana kalau ekonom ini bisa
bersatu. Nah sekarang ini yang pinter, kita yang orang awam yang bingung.
Yang satu bilang begini yang satu bilang begitu. Mengenai media yang sulit
ditembus memang saya sangat maklum, karena merekapun alasannya kalau itu
menyerang satu pihak dsb tidak akan dimuat. Tapi ada satu media yang
disebut media gossip tapi gossip politik, bukan saya mempromosikan adalah
“Rakyat Merdeka” saya lihat disitu semua diserang, jadi ini kemana
arahnya juga tidak tahu. Kalau mengenai DPR yang 92 orang sudah mempunya
itikad baik dengan Kalla, perlu diketahui memang sulit menembus karena
tiap fraksi mempunyai kebijakan sendiri jadi walaupun 90 orang dari lintas
fraksi tergantung sekarang bagaimana pimpinan dari partainya mungkin Bapak
dan Ibu sudah tahu bahwa ada penandatangan
di atas materai yang mengatakan kalau itu berbeda dengan policy partai
silahkan out itu yang sulit memang dan kemungkinan saya mungkin juga tidak
yakin mengajukan satu solusi untuk jangka waktu yang relatif pendek tolong
kepentingan rakyat itu dipenuhi, misalnya angkutan untuk rakyat bis,
kereta api, untuk rekreasi dsb. diberikan, mereka-mereka yang menengah
kebawah itu lebih bisamenikmati tidak perlu punya mobil dsb. Bagaimana
caranya? Sekarang kebetulan ada Otonomi Daerah tolonglah Bapak-bapak yang
punya nama ini mencoba meyakinkan Kepala Daerah yang daerahnya kaya tolong
itu dilaksanakan dulu sehingga rakyat kecil yang nggak tahu teori yang
mulus itu bisa merasakan sesuatu yang enak paling tidak kebutuhan
biologisnya terpenuhi. Dan yang kedua bagaimana hukum diberlakukan, ada
dalam teori kami seperti tadi disebut semuanya ini adalah karena korupsi
untuk memberantas satu perilaku harus ada punishment itu teori security,
kita nggak punya punishment makanya nggak bisa jalan. Itulah kesimpulan
saya.
Budi
Memang kalau kita lihat misalnya setelah ada mainstream,
permintaan bagus, nilai bertambah, demand juga. Development studies yang
ada memang sangat mengkeramatkan hutang luar negeri tapi kalau kita
misalnya melihat studi yang dilakukan oleh Sritua Arief itu ternyata
hutang luar negeri itu sebenarnya tidak menguntungkan bagi rakyat negara
yang diutangkan. Ternyata diteliti oleh dia dari satu wilayah yang
diutangkan ternyata 1,2 ini
masuk ke negara …… karena seperti dikatakan Mas Sony bahwa itu
ternyata menimbulkan ketergantungan soal
technical assistance kemudian
soal peralatan. Kemudian tentang investasi asing, investasi asing juga
ternyata dari penelitian Sritua Arief dan Adi Sasono tidak menambah
pertumbuhan ekonomi, tidak menunjang, bahkan lebih kecil apakah negatif
walaupun tidak terlalu besar, kemudian kalau
kita melihat hutang luar negeri yang diberikan oleh IMF saya
membaca Comparative Political Studies tahun 1997 hutang itu ternyata
menimbulkan referendum, referendum cukup besar. Kalau di Indonesia mungkin
kita melihat Kedung Ombo. Karena kebijakan-kebijakan liberal akhirnya
rakyat yang jadi korban, kalau kita melihat mainstream yang
ada memang itu sangat pinggiran yang mencoba melawan itu. Kalau
kita melihat studi dari Rizal Malarangeng disana dikatakan komunitas
epistemis liberal yang berperan besar. Apa yang dikatakan Mas Didiek itu
benar bahwa kita perang pikiran, oleh karena itu memang sulit kalau
misalnya kita berfikir referendum tapi mainstreamnya mainstream yang lain.
Menurut saya pada saat ini memang begitu, perang fikiran itu perang
paradigma. Saya minta tanggapan jalan untuk masuk perang paradigma.
Didiek
Rachbini
Saya setuju dengan usulan Pak Sajogyo untuk mengundang
Hernando de Soto, saya kira sangat penting dan untuk ekonomi kita itu
betul-betul riil. Kalau Pak Sajogyo memperhatikan infrastruktur irigasi
kita, kemudian sawah-sawah kita sebetulnya lumayan …..kalau saya
hitung-hitung sebenarnya dari produksi beras kita yang dijadikan taruhan
gak karu-karuan oleh orang liberal yang ngaco valuenya besar-besar kalau
hitungan kasar kira-kira produksi kita 33 juta ton artinya sama dengan 33
milyar kilogram kalau harganya tahun depan nanti 3000 atau masih 2500 itu
antara 75 trilyun sampai
value dari orang ekonomi rakyat yang memilih hutan agriculture itu 33
milyar kg X 3000 = 99 trilyun. Masalahnya adalah ekonomi kita itu tidak
tertransformasikan keluar jadi mengalami stagnasi, jadi pertanian ini gak
keluar orangnya kan harusnya dalam transformasi keluar sehingga
penduduknya itu makin lama makin berkurang. Sehingga re-distribusinya
menjadi kecil itu yang disebut poverty share harusnya ini menjadi teori yang besar tapi juga jadi
masalah karena tidak tertata mereka juga tidak punya sertifikat sehingga
tidak bisa ditukar kan ekonomi
bergulir karena bertukar, bertukar itu kalau jelas ownershipnya. Kalau
tidak ada ownership gak bisa sehingga pendekatan Hernando de Soto itu
pendekatan itu dan karena itu saya setuju dan tidak terlalu mahal untuk
mengundang Hernando de Soto bisa bekerja sama dengan USAID. Untuk Ibu
Silvie action saya setuju juga. Untuk Ibu Retno
saya tadi mengatakan 2 kunci persoalan kaitannya dengan Pak
Sumantoro yaitu institusi dan behavior, behavior yang ibu katakan tadi
behavior individual tapi dalam ekonomi politik ada kolektif behavior yaitu
yang dikaitkan dengan kebijakan misalnya saya ingin behavior orang Jakarta
untuk menggunakan bensin itu
sedikit, saya pajakin saja pajak hijau persentase pasti behavior mereka
makin lama makin hemat. Jadi kait mengait tidak hanya individu tapi juga
dengan policy. Tapi juga
psikolog harus berperan terutama seorang pemimpin, kalau pemimpin nggak
tahu asal-usulnya,
pemikirannya, ayahnya, ibunya gawat itu, dan jadi misteri. Jadi seperti
Hitler, kalau tidak tahu psikologinya, tidak terbuka, itu sangat gawat karena itu psikolog itu memang harus ngomong, yang behavior
seperti itu tidak cocok, harus ada syarat-syarat di dalam DPR itu harus
ngomong. Asal-usulnya kalau perlu dijabarkan ke pers itu soal psikologi.
Dan bagaimana satu orang yang memimpin behaviornya jadi misteri, itu
repotnya luar biasa.. Karena itu saya dukung psikologi ngomong juga untuk
bicara tentang bagaimana behavior di publik yang cocok untuk masyarakat.
Toh nanti orang tersembungi tiba-tiba jadi presiden padahal dia dulu
maniak di dalam keluarga atau punya behavior yang ekstrim tetapi
tersembunyi, biasanya orang yang pintar kemudian behaviornya ektrim wah
gawat di keluarga bisa jadi penindas
dan di dalam negara bisa jadi penindas tapi secara tertutup walau itu demokratis tapi secara tersembunyi dia melakukan
sesuatu. Kan
Hitler juga dipilih dengan pemilu, hanya dia mobilisasi dengan
cara-cara dia. Karena itu behavior penting sekali. Yang terakhir mengenai
perang fikiran, Mas Sony yang akan menjawab.
Revrisond
Baswir
Saya coba sederhanakan dari pembicaraan hari ini, mungkin
juga masih banyak ada akumulasi dari pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Mungkin saya kira memang kita
harus merencanakan suatu tindakan yang lebih konkret daripada sekedar
bicara, apakah itu yang sifatnya segera, agak menengah sampai ke soal
bikin buku dsb. Tadi saya kira mungkin harus ada enam Tim Inti, lalu kita
bikin position paper untuk loby ke Kwik, loby ke DPR atau kemanapun dan
kemudian bukunya silahkan jalan terus. Tapi pikiran-pikiran yang sudah ada
sementara ini coba disarikan lalu dasarnya dibutuhkan Tim Inti untuk loby
kesana-kemari baik untuk Kwik dan DPR. Ini yang dalam waktu dekat untuk
segera dilakukan. Saya setuju dan akan sangat mendukung bahkan tadi saya
fikir karena sudah biasa aksi saat ini apakah G-6 juga akan ikut turun ke
jalan. Untuk Pak Sajogyo, German
baru saja menawarkan 50 juta untuk debt swap. Dia serahkan kita untuk
bikin proposal, kalau kita bisa mengusulkan satu proposal saya kira bisa
masuk kesana, pemerintah belum masukkan sampai sekarang jadi kembali lagi
ke kita tim, agendanya konkret, usulkan mungkin lewat Pak Kwik kita masih
bisa ngejar. Untuk Ibu Retno,
memang dalam konteks individu lupus of control itu ada di kita. Termasuk suatu bangsa kalau memang
entitas yang namanya bangsa itu memang ada itu bisa dia punya lupus of
control di dalam, tapi dengan syarat itu tadi. Apakah yang namanya bangsa
itu ada? Ini kan jati diri suatu bangsa, seberapa kuat dia? Ini kan
menyangkut begitu banyak kepala di dalam, saya juga bertanya sebenarnya
lupus of control kita dimana gak jelas dalam konteks bahasa. Kalau
individu mungkin agak lebih jelas kalau bangsa nggak jelas. Namanya saja
mungkin masih ada Republik Indonesia sekarang dengan Undang Undang,
Presiden dsb. Tapi bahwa LOI dapat ditandatangani tanpa persetujuan DPR,
saya kira ndak ngerti kita, dimana lupus of controlnya. Begitu juga kalau
kita bicarakan soal hutang, Paris Club, kita bertanya begini, waktu babak
mana banyak sekali negara dunia ketiga yang dijajah jaman dulu itu yang
salah siapa negara yang dijajah apa yang menjajah. Saya kira kalau dalam
konteks bermasyarakat, internasional bagaimanapun juga harus mencoba
bertanya soal peradaban dunia, dan ini masih akan terus berkembang. Kita
bukan akan memblame mereka, tapi how kita bisa participate
dalam proses pembentukan peradaban dunia itu yang lebih fair, lebih
transparan, lebih berkeadilan. Disamping kita terus-menerus juga koreksi
ke dalam, tapi bukan berarti kita harus banyak mengurus diri kemudian
dunia berubah, nggak mungkin. Kenapa karena tiap-tiap individu orang
Indonesia, satu kita warga negara Indonesia pada saat yang sama kita warga
dunia. Kita harus ikut juga dalam proses pembentukan peradaban dunia. Saya
kira kritik-kritik terhadap pelaksanaan pembangunan, terhadap
peran IMF, peran World Bank tidak hanya terjadi disini. Bahkan
waktu saya ke Thailand saya terkejut, pejabat IMF (Stanley Fisher)
dilempari kue Tart, yang melempar bukan orang Thailand, orang Amerika
juga. Jadi pengawasan dari warga di Eropa seperti terjadi di Seattle,
Praha, Itali dimana-mana itu sama. Pengawasan ini bisa negara dunia ketiga
dengan negara maju, tapi bisa juga antara satu school dengan school yang
lain, bisa juga kelas kalau mau masuk kesana. Antara borjuis dengan
proletar macam-macam itu semua ada. Yang
namanya statenya itu bisa macam-macam, bisa statenya wilayah geografis
Indonesia, bisa macam-macam. Dan saya tidak bermimpi terus terang saja
dalam konteksnya Indonesia, sama sekali tidak bermimpi bahwa kita bisa
seragam. Saya ambil contoh yang paling baru, bagaimana respon kita ketika
Le Pen di Perancis menang mengalahi Lionel Jospin apa pendapat kita.
Perancis sebuah negara, sebuah bangsa yang mungkin peradabannya sudah
lebih maju dari kita dengan sejarah macam-macam tapi pada tahun 2002
seorang pemimpin yang sangat kanan anti imigrasi bisa dimenangkan oleh
warganya. Jadi ada momentum sejarah yang kadang-kadang bangsa itu
mengambil keputusan yang juga susah diterima, yang dikalahkan itu siapa?
Lionel Jospin, dia sosialis. Jadi hari-hari ini di Perancis orang sosialis
kalah pamor sama Le Pen. Kita tidak tahu apa yang mendorong para pemilih
di Perancis sana menjadi sangat anti migran-migran, para pengganggu,
banyak copet. Tapi di Australi juga Hudson bisa naik daun beberapa waktu
yang lalu di Australia. Jadi masih banyak problem. Jadi kalau rasa
kelompok, kesukuan, kebangsaan sempit itu juga masih hidup di dunia saya
kira kecenderungan-kecenderungan untuk melakukan ekspansi, eksploitasi,
aneksasi dsb masih terus-menerus terjadi di seluruh dunia. Dunia sampai
hari ini saya rasa belum waras betul dan apakah bisa waras atau tidak saya
belum tahu juga. Biarkanlah begitu, tapi kita kembali ke diri kita. Jadi
sebenarnya pertanyaan terakhir, kepada tingkat individu. Kembali ke
tantangan Ibu Silvie tadi. Kalau kita suatu ketika harus bentuk tim dan
menjadi pressure group, siap gabung apa tidak? Itu yang harus dijawab oleh
tiap-tiap individu.
Silvie
Ismawan
Agar kita mencapai pressure group tidak cuma yang muda-muda
tapi pejuang juga harus diikutsertakan.
Bambang
Ismawan
Saya rasa sangat relevan dengan apa yang sudah dirumuskan
steering committee ada 3 tim tindak lanjut, tim pemberdayaan, tim
pengajaran ekonomi di universitas-universitas, tim kebijakan, saya rasa
urusan utang luar negeri tidak dimasukkan dalam tim kebijakan.
Penutup
Bayu
Khrisnamurti
Perjuangan kita mirip perjuangan Pandawa menghadapi Kurawa,
itu bukan perjuangan 1 hari, dalam salah satu episodenya Pandawa harus
bersembunyi di tengah hutan 12 tahun lamanya untuk menempa diri dsb. Saya
kira diskusi yang kita lakukan ini 12 tahun dipercepat menjadi 12
pertemuan. Di akhirnya Pandawa harus menyamar tidak boleh ketahuan selama
1 tahun itu perjanjiannya, menurut saya itu bentuk simbol yang sedang kita
lakukan. Yang kita lakukan tidak sederhana, kita hanya kelompok, kita
sudah menggebu-gebu tokh yang datang cuma 20-25 orang. Yang diluar sana
yang menikmati gedung seperti, yang di luar jendela itu saya kira lawan
pemikiran. Terima kasih.
(*)
|