“EKONOMI
rakyat selalu dikuyo-kuyo dan tak pernah digubris (ditekan
dan tak pernah dipedulikan)”, demikian salah satu ungkapan Prof.
Mubyarto yang sering dilontarkannya dalam berbagai kesempatan, baik dalam
seminar-seminar maupun di media massa. Ekonom senior dari Universitas
Gadjah Mada ini sejak dulu menaruh perhatian serius tanpa henti untuk
memperjuangkan ekonomi rakyat atau
ekonomi masyarakat lapisan paling bawah agar diberi perhatian yang wajar
dan dapat berkembang. Kenyataan di lapangan menunjukkan fakta yang
bertolak belakang dengan perjuangannya itu. Sekalipun sudah
terbukti bahwa ekonomi rakyat mampu menjadi penyangga (buffer) bagi
ekonomi nasional dan membantunya keluar dari krisis ekonomi, namun
perhatian terhadap ekonomi rakyat semakin jauh dari harapan, tetapi sebaliknya semakin “salah arah”.
Salah
satu wujud dari keprihatinan yang mendalam terhadap kenyataan seperti
itu, pada awal tahun 2002, Prof. Mubyarto merangkum beberapa
tulisan dan menjadikannya sebuah buku kecil berjudul Pemberdayaan
Ekonomi Rakyat dan Peranan Ilmu-Ilmu Sosial. Dalam pengantar buku diakuinya
bahwa ia ingin mengajak rekan-rekan ahli/pakar, terutama para pakar
ekonomi untuk mengkaji ulang dan mereformasi segala pemikiran tentang
strategi pembangunan nasional sejak tahun 1966, karena dianggapnya telah
mengabaikan nilai-nilai, lembaga, dan budaya bangsa Indonesia. Buku ini
juga merupakan salah satu cara untuk mengungkapkan “kegusarannya” yang
sudah mencapai titik kulminasi terhadap berbagai kenyataan dan
penyimpangan yang tidak disadari oleh para pemimpin negeri tercinta
ini termasuk para pakarnya.
Buku kecil (83 halaman) ini selanjutnya juga dipakai sebagai
"acuan utama" Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat yang diselenggarakan
secara berseri selama 6 bulan (12 kali pertemuan dari Januari – Juli 2002) yang
merupakan hasil kerjasama dari beberapa lembaga/ perhimpunan terkemuka di negeri ini.
Sebanyak 9 Bab dari buku ini pada saatnya nanti (Juli 2002) akan
digabungkan ke dalam sebuah buku yang lebih besar dan tebal (400 halaman)
dan akan diterbitkan dalam bahasa Inggris (dan bahasa Indonesia) berjudul A Development Manifesto
for Indonesia, meskipun judul ini menurut Prof. Mubyarto masih
“dirahasiakan”.
(*)