Resensi Buku
 |
Resensi Buku:
Sejarah Ekonomi Rakyat Indonesia
Oleh: Mubyarto
|
Resensi Buku:
1. Dick, Howard, dkk. The Emergence of A National Economy. (Allen
& Unwin dan Univ. of Hawaii Press, 2002)
2.
Booth, A. The Indonesian Economy in the Nineteenth and
Twentieth Centuries. A History of Missed Opportunities (London:
Macmillan). 1998.
DUA
buah buku sejarah ekonomi Indonesia masing-masing
oleh Howard Dick dkk "The
Emergence of A National Economy (Allen & Unwin dan Univ. of Hawaii
Press, 2002), dan Anne Booth 'The Indonesian Economy in the 19th and 20th Century
(MacMillan dan St. Martin Press, 1998) tepat diresensi bersama dengan judul Sejarah Ekonomi Rakyat
Indonesia. Kedua buku dituilis dalam rangka lebih memahami ekonomi
Indonesia Modern dengan mendorong pakar-pakar ekonomi muda agar tertarik
membandingkan kondisi ekonomi Indonesia masa sekarang dengan kondisi masa
lalu, sejak sebelum Indonesia Merdeka, ketimbang dengan selalu
membandingkannya dengan ekonomi negara-negara lain yang sama-sama belum
berkembang.
Buku The Emergence of A National Economy yang ditulis oleh 2
pakar ekonomi dan 2 pakar sejarah dibagai dalam 7 bab:
1. State, nation-state and national economy,
2. The pre-modern economies of the archipelago,
3. Java in the 19th century: consolidation of a territorial state,
4. The outer islands in the 19th century: Contest for the periphery,
5. The late colonial state and economic expansion, 1900-1930s
6. Formation of the nation state, 1900-1930s
7. The Soeharto era and after; stability development and crisis 1966-200.
Kesimpulan dari buku
sejarah ekonomi 200 thn ini (1900-2000_ tidak meragukan lagi bahwa bangsa
Indonesia ditakdirkan mengalami ujian atau percobaan tak kenal henti
berupa krisis ekonomi, sosial, politik dan fisik dari waktu ke waktu.
Namun tetap saja ada trend sangat jelas bahwa dari 'benua kepulauan' yang
amat luas ini telah lahir satu negara-bangsa modern bernama Indonesia.
Melalui berbagai sistem ekonomi dan politik yg berbeda-beda terutama sejak
1966, kemajuan ekonomi telah terjadi dan dirasakan, meskipun belum secara
adil dan merata. Yang mencolok, transisi menuju demokrasi (atau
kerakyatan) jauh lebih sulit dan menyakitkan ketimbang pembangunan
ekonomi...
'the transition to democracy has therefore been even more
protracted and painful than economic development. This has in turn
retanded the emergence of institutions that would be appropriate to a
modern-state and able to sustain a large dispersed and technically
sophisticated economy.'
Setelah 3,5 tahun mengalami masa transisi
reformasi yang mengguncangkan sendi-sendi masyarakat negara-bangsa
(1997-2001), penulisnya mempunyai harapan sangat besar pada Megawati yang
menjadi Presiden pada Juli 2001....
'all in all after four years of
political turmoil, vloody ethnic and religious conflict and economic
deprivation, the Indonesia people could at last entertain soem hop that
the worst of the crisis was over and that the lesculian task of building a
strong, democratic, tolerant, socially just and economically prosperous
nation could finally begin' (epilogue, p.245).
Buku ke 2 oleh Anne Booth yang sudah cukup lama dikenal sbg
"spesialis" ekonomi Indonesia di Australian National University
(dan kini di School of Oriental and African Studies, University of London)
sudah terbit 1998 tetapi belum banyak dibaca ilmuwan Indonesia. Sub judul
buku ini adalah" A History of Missed Opportunities", artinya
seperti pernah dikatakan Clifford Geertz tahun 1963 (Agricultural
Involution), Indonesia (khususnya Jawa) pernah memperoleh peluang untuk
"take off" menuju pertumbuhan ekonomi pd tahun1870an setelah
dihapuskannya sistem tanam paksa dan dimulainya sistem ekonomi kapitalis
liberal melalui UU Agraria. Tetapi peluang ini terabaikan, tidak seperti
Jepang pada periode yg sama bersamaan dg Restorasi Meji.
Dari 7 bab buku
Anne Booth, yg paling relevan dg sejarah perkembangan ekonomi rakyat di
Indonesia adalah bab 7: Market and Entrepeneurs. Pertama-tama sistem tanam
paksa (1830-1870) yg merupakan sistem ekonomi "komando" telah
tidak memberi peluang berkembangnya ekonomi rakyat (undigineous economy)
bahkan ekonom atau perusahaan-perusahaan perkebunan yg dibuka mulai 1870an
telah menyaingi dan 'mematikan' perkembangan rakyat. Dalam perdagangan
peluang berusaha pada perusahaan-perusahaan dagang yg dimiliki "Timur
Asing" terutama Cina telah mendesak usaha-usaha dagang penduduk
pribumi. Pemerintah kolonial yg menyaksikan persaingan tidak seimbang
antara ekonomi rakyat dan usaha-usaha Cina dan perusahaan-perusahaan besar
konglemerat turun tangan di bidang keuangan dan kredit melalui pendirian
Bank-bank Rakyat (Voeks Bankeur), bank Desa dan Lumbung Desa yg berperanan
sangat besar.Bank-bank perkreditan kecil ini, bersama dengan Pegadaian,
meskipun mengenakan bunga relatif tinggi telah menjadi alat pemerintah
'melindungi' ekonomi rakyat. Sistem kredit pada zaman penjajahan ini
mempunyai daya tahan tinggi, bahkan pada masa depresi sekalipun tidak
memerlukan subsidi pemerintah. Demikian jika dalam krisis moneter tahun
1997-1999 Bank-bank modern bertumbangan, kredit-kredit rakyat (kredit
mikro) sepeerti BRI dan BPR, dan Pegadaian bertahan dan berkembang
membiayai usaha-usaha ekonomi rakyat.Artinya, daya tahan ekonomi rakyat yg
tinggi terhadap krismon di zaman modern akhir abad 20 sudah dibuktikan
pula pada depresi tahun 1930an.
Madison, 29 April 2002
(*)
|